Ana bersiap pulang bersama teman-temannya, sebagian mereka mengendarai sepeda motor. Hanya Ana yang tidak memiliki sepeda motor, kesana kemari setia naik kendaraan umum. Saat Ana hendak berjalan menuju halte, tiba-tiba Rizal menghampirinya.
"Na! Abang antar pulang ya."
"Ana pulang bareng gue!" Saut Raymond tiba-tiba datang.
"Bang Rey. Kok Abang disini?" tanya Ana heran.
"Jemput kamu..., tadi Abang janji kan mau jemput pulang kamu." Ana heran karena Raymond tidak mengatakan ingin menjemputnya. itu sudah pasti akal-akalan Reymond agar selalu bisa dekat dengan Ana. Akan tetapi Ana tidak menyadari jika Reymond mempunyai modus mendekatinya.
"Kapan Abang bilang gitu sama Ana?"
"Pelupa kamu ya!, ya tadi Sore pas dari Panti"
"Masak?"
"Heum."
"Ya udah ayok!" Ajak Raymond seraya menarik pergelangan tangan Ana menuju mobilnya. Rizal hanya diam dan tidak berani menyela, ia hanya pasrah jika berurusan dengan Raymond.
"Kamu udah makan?" tanya Rey saat di dalam mobil.
"Udah."
Sejenak suasana menjadi hening, hanya suara deru mobil yang terdengar. Ana sebenarnya merutuki dirinya sendiri di dalam hati, kenapa ia mau di antar dengan orang yang baru saja ia kenal. Sedangkan Raymond begitu senang bisa dekat dengan gadis yang sukai.
"Besok kamu berangkat kerja jam berapa?" tanya Raymond memecah keheningan.
"Kebetulan besok Ana libur bang,"
"Oh..., libur rencana mau kemana?"
"Gak kemana-mana bang, di rumah aja."
"Oh ya, di mana alamat rumah mu!" tanya Raymond pura-pura belum mengetahui rumah Ana.
"Jalan Bersama No 15 Bang."
"Ok."
Selang setengah jam mobil Raymond sudah sampai di depan rumah Ana. Rumah kontrakan kecil sederhana, namun asri dan nyaman.
"Bang makasih ya, udah nganterin Ana, tapi maaf Ana gak bisa ngajak Abang mampir, udah malam." Raymond tersenyum dan mengangguk. Ia paham Ana seorang gadis baik-baik tidak mungkin memasukkan pria di malam hari.
"Iya gak apa-apa, jadi kamu besok di rumah aja? "
"Iya."
"Ok." Ana tersenyum kemudian keluar dari mobil.
"Hati-hati Bang." Reymond mengganguk kemudian mereka melambaikan tangan. setelahnya Reymond melanjutkan mobilnya.
Ana masuk kedalam rumah kontrakannya dengan rasa malas, rasanya tubuhnya remuk bekerja seharian, kakinya juga kram karena berjalan ke sana kemari mengantarkan pesanan pengunjung. Ana meletakkan tas di tempatnya kemudian menjatuhkan tubuhnya di kasur yang sangat ia rindukan ketika pulang bekerja.
"Capek banget hari ini," gumamnya, sejenak ia merasakan empuknya kasur dan nyamannya bantal yang mungkin sudah bercampur aroma ilernya. Tak lama ia memutuskan untuk menuju kamar mandi dan membersihkan badannya lalu mengganti bajunya dan kemudian menuju dapur untuk membuat Risoles.
"Cari duit gak mudah ternyata. Ayo Ana kamu pasti bisa." Batinnya seraya membuat kulit risoles.
Setelah selesai membuat kulit beserta isiannya. Ana menggulung dan melumurinya dengan tepung panir. ia mengerjakan itu sampai jam 3 pagi. setelahnya ia memutuskan untuk tidur satu jam, tak lupa ia memasang alarm jam di pukul empat pagi.
Alarm berbunyi, dengan rasa kantuk yang luar biasa, Ana bangun lalu menuju dapur. dan menggoreng Risolesnya sampai selesai. Setelah selesai ia membungkusnya satu persatu kedalam plastik dan memasukkannya kedalam boks seperti kemarin.
”Ya Allah ngantuk banget." Batinnya saat selesai meletakkan Risolesnya kedalam boks.
Ana tidak menyerah dan melawan rasa kantuknya. Perlahan ia membereskan perkakasnya, lalu ia mencuci wajahnya. Jam menunjukkan pukul 05:30 . ia bergegas menuju warung-warung yang kemarin ia titipi.
“pagi ibu," sapa Ana pada penjual warung.
"Pagi neng Ana. Wah...! Semangat bener pagi-pagi udah nganterin." balas si ibu warung. Ana tersenyum kemudian meletakkan boks risolesnya ke tempatnya.
"Harus dong Bu. Oh iya, yang kemarin habis gak Bu?" tanya Ana.
”Habis! Di borong sama orang." Kemudian Ibu warung memberikan uangnya pada Ana. Ana heran karena jumlah yang di berikan terlalu banyak.
"Loh kok! Ini kebanyakan Bu?
"Gak tahu Neng, kemarin yang beli kasih uangnya sama ibu seratus dua puluh ribu, nah yang seratus katanya suruh kasih ke Enang di borong sama boks boksnya.” jelas ibu warung.
"Oh alah! Gitu ya Bu." Balas Ana tersenyum senang. Ana tidak mengetahui jika anak buah Reymond yang memborong semua risolesnya beserta boksnya dan itu semua atas perintah Reymond.
"Kalau begitu makasih ya Bu, ini saya nitip lagi sama seperti kemarin. Semoga aja ada yang borong lagi." Ana dan ibu warung pun tertawa tanpa mereka sadari Reymond mendengarkan percakapan mereka. Kali ini Reymond memastikan sendiri melihat Ana berjualan risoles. Reymond duduk di atas motor layaknya tukang ojek dan menggunakan jaket dan masker.
Ana melanjutkan menitipkan ke warung lainnya dan warung lainnya juga mengatakan hal yang sama. risolesnya di borong dan memberikan uang yang sama seperti di warung pertama. Ana heran dan juga senang karena uangnya sudah terkumpul lima ratus ribu, di tambah uang tips dari Reymond lima ratus ribu.
Ana begitu bahagia, ia tersenyum melihat hasil dagangannya, rasa kantuknya yang ia rasakan sepertinya hilang untuk sementara, mata berbinar melihat uang hasil jerih payahnya. kemudian ia berjalan pulang ke rumah. Sementara itu Reymond sudah berada di rumah Ana. ia duduk menunggu Ana di kursi teras rumah, entah kapan manusia Bucin ini sudah berada di rumah Ana? Mungkin Reymond teleportasi, haha.
Ana mengerutkan dahinya saat melihat ada seorang pria yang duduk di kursi terasnya. ia bahkan mengira Reymond adalah penagih hutang orang tuanya, karena Reymond masih menggunakan masker.
"Aku belum gajian Bang, aku belum punya uang buat bayar hutang, tapi ini ada sedikit hasil jualan kemarin." ucap Ana seraya menyodorkan uang pada Reymond. Reymond menatap Ana begitu intens. hutang apa yang di maksud Ana. apa ia mempunyai hutang?
Reymond berdiri lalu mengambil uang tersebut. Reymond sengaja agar Ana berbicara lagi.
"Tulis ya Bang. jadi hutang ku sisa sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta ya.” Reymond terkejut mendengar nominal hutang yang diucapkan Ana kemudian Reymond membuka maskernya.
"Bang Rey?"
"Hutang apa?”
"Eum..., bukan apa-apa Bang. Abang kesini ngapain?" elak Ana mengalihkan pembicaraan. lalu Ana masuk kedalam rumah di ikuti Reymond.
"Na...! Kamu belum menjawab pertanyaan ku?" cecar Reymond.
"Udahlah Bang, itu urusan ku." Ana melihat Reymond, mengembalikan uang yang tadinya di berikan padanya.
"Terus Abang kemari mau ngapain?" Tanya Ana sambil berjalan ke dapur. Lagi-lagi Reymond mengikutinya lalu duduk di kursi meja makan sedangkan Ana membuat teh hangat untuk Reymond, dan untuk dirinya sendiri.
"Abang gak ngapa-ngapain, cuma main aja."
"Maaf Bang. Hanya ini yang Ana punya." Ana memberikan segelas teh hangat dan lima risoles yang masih tersisa. Reymond sekilas tersenyum melihat Ana yang sepertinya menahan ngantuk.
Ana duduk di kursi sebelah Reymond. mereka duduk sambil menikmati risoles dan teh hangat bersama. Ana menghabiskan dua risoles dan minum setengah gelas teh manis hangat. lalu ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ana melihat Reymond begitu menikmati risolesnya, tanpa terasa ia tertidur dan menjatuhkan kepalanya di pundak Reymond.
Reymond tersenyum lalu mengambil tisu yang ada di depannya, Kemudian mengelap tangannya. setelahnya membopong Ana menuju kamar Ana. Reymond tidak kesulitan mencari kamar Ana, karena rumahnya hanya satu kamar. Jadi Reymond mudah menemukan kamarnya.
Ana benar-benar tidur begitu pulas. Ia begitu kelelahan, Sampai-sampai Reymond membopongnya pun ia tidak merasakannya.
"Kayaknya kamu kecapean." Batin Reymond lalu menyelimuti kaki Ana. Sejenak Reymond memandangi wajah Ana yang terlihat jelas rasa lelah dan letih.
Reymond keluar dan membereskan sisa makan risoles di dapur. Sadar di dalam lemari pendingin Ana tidak ada apa-apa Reymond kemudian berinisiatif pergi ke supermarket dan membeli bahan-bahan makanan.