"Ini pesanan tuan." Ucap Ana saat meletakkan piring di depan Reymond di iringi senyum keduanya.
"Terima kasih." Jawab Reymond singkat melihat Ana tersenyum. Saat Ana hendak kembali meninggalkan mejanya Reymond mencekal pergelangan tangannya.
"Tunggu! Bisa temani saya makan."
"Hah!? Maaf tuan saya tidak bisa, pekerjaan saya masih banyak."
"Ok." Reymond tersenyum melihat Ana yang sedikit bingung dengannya. Kemudian Ana meninggalkan Reymond dan menuju kebelakang. Reymond tidak habis akal agar bisa mendekati Ana lalu ia pun memanggil kepala waiters restauran yang sudah sangat ia kenal.
"Bu...!" Panggil Reymond pada Bu Rini seraya mengangkat tangannya, Bu Rini sudah paham dengan Reymond pun bergegas menghampirinya.
"Tuan Reymond. bisa saya bantu tuan?"
"Bu... Buatkan saya seratus lima puluh boks makanan, seperti biasa untuk anak anak panti asuhan saya. Dan aku minta satu karyawan Ibu untuk membantu saya di panti, tentunya ibu tahu kan karyawan mana yang saya maksud?" Bu Rini tersenyum lalu mengangguk, Bu Rini sudah tahu siapa yang di maksud Reymond, sudah pasti lah Ana.
Reymond sengaja melakukan berbagai cara agar bisa dekat dengan Ana, karena ia tidak mau Ana di dekati pria lain. Hem.. Rizal sepertinya kalah start.
"Saya akan Persiapkan Semua tuan." Balas Bu Rini, kemudian ia menuju belakang untuk memberitahu bagian pemesanan.
Reymond terus melihat Ana sambil melihat Ponselnya. sesekali ia memotret Ana diam diam, dan sukses mendapatkan gambar Ana saat tersenyum sambil melayani pelanggan restauran bersama rekannya.
jam Reymond menunggu pesanannya, dan dalam satu jam tersebut ia mencuri-curi pandang Ana. Tak lama Bu Rini datang untuk memberitahu pada Reymond jika pesanannya sudah selesai.
"Tuan, pesanan anda sudah selesai, tinggal membawanya ke mobil.
"Ok. Bawa semua ke mobil saya." Titah Reymond diangguki Bu Rini, lalu Reymond menuju parkiran dan membuka bagasi mobilnya. Sementara itu Bu Rini menyuruh anak buahnya untuk memasukan Nasi boks tersebut kedalam mobil Reymond.
"Sudah selesai tuan!" ucap Bu Rini.
"Ok, Semua sudah saya bayar, dan mana gadis itu?"
"Sebentar tuan." Bu Rini berjalan menghampiri Ana.
"Ana!" panggil Bu Rini.
"Ya bu."
"Kamu hari ini ada tugas di luar, membantu tuan Reymond membagikan nasi boks ke panti asuhan miliknya."
"Baik Bu,"Jawab Ana patuh.
"Ya sudah. Tuan Reymond sudah menunggu mu di parkiran." Jelas Bu Rini kemudian Ana melepaskan apronnya dan memberikannya pada Bu Rini lalu menuju parkiran.
"Kamu sudah siap," tanya Reymond pada Ana.
"Siap tuan!" Ana sekilas tersenyum. kemudian mengikuti langkah Reymond membuka pintu mobilnya dan menyuruh Ana duduk di samping kemudi. Reymond tersenyum bahagia akhirnya ia bisa mempunyai banyak waktu bersama Ana.
"Kamu udah makan?" tanya Reymond.
"Sudah tuan." jawab Ana singkat dan masih menunduk.
"Sepertinya kau lupa padaku?" Cicit Reymond membuat Ana menolah melihat Wajahnya dan mengingat ingat di mana pernah bertemu dengan pria di sampingnya itu.
"Tuan Reymond?" Tanyanya memastikan bahwa pernah bertemu Reymond.
"Hem."
"Maaf tuan. Saya hampir tidak mengenali Anda,"
"Ya. Tidak apa-apa, santai saja." Jawab Reymond santai sambil mengemudi.
"Tuan, apa panti asuhan anda jauh?" tanya Ana basa-basi.
"Eum... Tidak terlalu jauh, hanya setengah jam dari restauran tempat kamu kerja. Oh ya, jangan formal ngomongnya. santai aja," tutur Reymond.
"Tapi nanti kesannya saya tidak sopan tuan?"
"Hais...! Di bilang jangan gitu ngomongnya! Aku juga bukan tuan kamu, panggil aja yang lain. Abang, mas, nama lebih bagus." Jelas Reymond tidak suka Ana berbicara seperti orang-orang di kantornya, menurutnya begitu kaku dan seperti saudara kembarnya jika bicara terlalu formal.
"Iya, terserah tuan aja, eh eum..., panggil apa ya? Abang aja deh he...."
"Nah gitu dong, Santai." Kemudian kedua tertawa kecil mencairkan suasana yang kaku.
"Oh ya, kamu kerja di restaurant Rizal udah berapa lama?"
"Eum..., baru dua mingguan Bang."
"Oh, pantas aja aku baru liat kamu di sana, ternyata karyawan baru."
"Memang sebelumnya pernah liat Ana di mana Bang, kok kayaknya Abang tahu Ana?"
"Di kampus tempat kamu kuliah dulu,"
"Ya begitu! Oh iya Abang kenal Bang Rizal?" Balas Ana yang tidak ingin tahu kelanjutan cerita Reymond bagaimana mengetahui tentang dirinya.
"Kenal! Rizal itu anak rekan bisnis Abang, pak Alex Diego dan juga Mantan pacar adik Abang." Jelas Reymond seraya membelokkan mobilnya ke. halaman panti Asuhan miliknya.
Mereka turun dari mobil dan di sambut kepala panti serta pengurus panti. Panti milik Reymond masih tergolong baru, karena baru berdiri beberapa bulan terakhir. Penghuninya juga belum begitu banyak hanya bekisar 30 anak termasuk anak bayi di tambah beberapa pengurus panti.
Reymond menyuruh sebagian pengurus panti untuk menurunkan nasi Boks dari mobilnya serta s**u dan bahan makanan lainnya dari mobil. Rupanya Reymond sudah dari kemarin menyiapkan s**u dan kebutuhan lainnya di dalam mobil miliknya, ia sengaja membawa mobil mewahnya yang di dalamnya ia modifikasi agar bisa membuat barang barang kebutuhan anak-anak panti.
"Selamat datang tuan, nyonya." sambut kepala panti menganggap Ana adalah istri Reymond.
"Eh..., bukan Bu! Saya bukan istri Abang Rey!" elak Ana cepat. Rey hanya tersenyum saat Ana menyebut dirinya "Abang".
"Segera Bu." bisik Rey pada kepala panti. Kepala panti hanya tersenyum, dan mengangguk.
"Baiklah. Mari masuk." Balas kepala panti. kemudian mereka masuk bersama. Ana melihat lihat panti lalu melihat ruangan Balita bersama Rey dan kepala panti.
seorang anak balita merangkak menghampiri Ana. Ana begitu gemas menyambutnya.
"Mamama" seru balita itu seraya meminta gendong Ana. Ana menggendong bayi tersebut dengan rasa gemas lalu mencium pipinya.
"Hai..., kamu manggil aku mama, tapi sayang aku bukan mama kamu. tapi gak papa deh. habis kamu lucu kayak aku waktu bayi." jawabnya di iringi tawa kecil kepala panti serta Reymond.
"Kalau kakak ini mama kamu, Abang mau deh jadi Papanya," saut Reymond bercanda, sedangkan Ana sedikit cemberut mendengar ucapan Reymond yang ingin menjadi Papa dari bayi yang ia gendong, memang suami istri. Oh tidak! Ana belum siap jika harus menikah dan mempunyai anak di usia muda.
"Apaan sih Bang. ikut ikutan aja," balas Ana tidak terima.
"Bercanda...."
Canda tawa menghiasi ruangan yang ada di pantai asuhan milik Reymond. Mereka bermain bersama anak-anak panti. Ana juga menidurkan beberapa bayi yang sedikit rewel begitu juga Reymond. Reymond semakin jatuh hati saat melihat sisi keibuan Ana.
Tidak terasa sore pun tiba, ponsel Ana pun tiba-tiba berdering. Ana segera mengangkatnya setelah mengetahui yang menghubunginya adalah Rizal.
"Ya Bang?"
"Kamu di mana?" tanya Rizal di sambungan ponselnya.
"Tugas di luar Bang."
"Tugas Apaan?" Tiba-tiba Reymond mengambil alih ponsel Ana.
"Tugas bantuin gue nganterin makanan ke anak panti, mau marah lo?" Ucap Reymond, Rizal sangat mengenali suara Reymond pun menjadi sungkan bercampur kesal.
"Eh..., Bang Rey.... Gak bang, gue mana bisa marah kalau udah menyangkut anak panti, tapi cepat kembalikan karyawan gue."
"Bawel lo!" Dengan sepihak Reymond memutuskan sambungan ponselnya, tanpa mengetahui Rizal mengumpat di sebrang sana.
"Katanya gak papa kamu bantuin aku di panti."
"Serius Bang?"
"Iya masak aku bohong!" Ana tertawa kecil kemudian mereka bermain Kembali bersama anak anak panti.
Jam menunjukkan jam 5 sore, Reymond pun mengantarkan Ana ke restauran. karena masih jam kerja. Saat hendak turun dari mobil Reymond mengajak Ana berbicara sebentar.
"Na, jangan kapok ya. kalau aku minta bantuin untuk urusan panti."
"Iya bang. santai aja, lagian atasan Ana juga nyuruh Ana buat bantuin Abang,"
"Ya udah ini tips buat kamu." Rey memberikan lima lembar uang seratus ribuan.
"Eh, bang. Ini banyak banget, kebanyakan ini Bang!"
"Udah gak papa ambil aja, lagian kamu tadi capek kan mandiin bayi-bayi di sana,"
"He..., iya sih. Ya udah Ana ambil ya Bang. Terima kasih!" Jawab Ana senang lalu tersenyum dan melihat wajah Reymond sedikit lama. Ia tidak ingin melupakan wajah orang yang hari ini begitu baik padanya karena Ana juga sedikit kesulitan mengingat wajah seseorang jika tidak begitu kenal dekat.
"Oh ya, nanti kamu pulang jam berapa?" Tanya Reymond saat Ana hendak turun.
"Jam sebelas malam Bang, seperti biasa."
"Ok." Ana tersenyum lalu ia turun dari mobil dan menuju Restauran. Setelahnya Reymond pulang untuk bersiap-siap nanti menjemput Ana pulang bekerja walau Ana belum mengetahui jika dirinya berniat menjemputnya.