Ana bangun tidur lebih pagi. Jam 2 pagi ia sudah berkutat di dapur kecilnya, ia memulai membuat risolesnya. pertama ia membuat isian risoles, kemudian adonan kulitnya. Setelah itu ia menggorengnya sampai selesai. Ana membungkus satu persatu didalam plastik kecil lalu meletakkannya di boks. ia juga membuat Varian rasa risolesnya mulai dari isian coklat pisang dan isi keju lumer.
Ana membuat Seratus risoles dan ia kerjakan sendiri. Ana sudah biasa membuat risoles maka dari itu ia tidak kesulitan dalam membuatnya, walau lelah ia tetap menyelesaikannya Jam menunjukkan pukul lima pagi, Ana mandi dan bergegas pergi ke warung-warung yang ia datangi kemarin untuk menitipkan risolesnya.
"Selamat pagi Bu!" Sapanya dengan senyum ramahnya.
"Pagi Neng Ana!"
"Ini Bu, saya titip dua puluh biji dulu ya, semoga nanti habis, untuk harga sesuai kesepakatan kemarin dan uangnya saya ambil besok paginya, sekalian besok nitip lagi." ibu tersebut mengangguk tanda setuju.
"Kalau begitu saya mau nitip ke warung sebelah sana ya bu," pamit Ana
"Iya neng. hati hati," balas Si Ibu. Ana kemudian melanjutkan menitipkan risolesnya ke warung-warung yang kemarin ia datangi.
Akhirnya Ana selesai mengantarkan boks kuenya kemudian ia pulang ke rumah kontrakannya. Sesampainya di rumah Ana sarapan yang tadi ia beli di warung tempat ia menitipkan kuenya, setelah selesai sarapan Ana membereskan dapur dan seluruh ruangan rumahnya.
Tidak terasa jam menunjuk pukul sembilan pagi. Masih butuh lama untuk masuk bekerja. Ana berbaring di sofa tanpa sadar ia pun tertidur.
Disisi lain Reymond baru saja bangun dari tidurnya. pria tiga puluh dua tahun itu meraih ponsel di meja nakas dekat tempat tidurnya dan melihat pesan beruntun di layar ponselnya. ia membuka satu persatu pesannya yang masuk. Reymond terkejut saat melihat pesan dari orang kepercayaannya yang mengawasi dan menjaga Ana selama ini.
"Apa? gadis itu berjualan kue risoles?" gumamnya. kemudian ia menghubungi orang kepercayaannya tersebut.
"Rico. Apa maksud informasi mu itu?" tanya Reymond di balik sambungan ponselnya.
"Iya tuan. informasi itu benar, tadi pagi saya melihat sendiri, gadis itu menitipkan kue risolesnya di lima warung,"
"Baiklah. beli semua risolesnya, antarkan ke rumah!" tegas Reymond. kemudian mematikan sambungan ponselnya secara sepihak tanpa memberikan waktu Rico bertanya lagi.
Akhirnya Rico membeli semua risolesnya di semua warung yang Ana titipi kue risoles.
"Sepertinya aku harus mencari tahu lebih dalam kehidupan pribadinya." Batin Reymond lalu memutuskan untuk keluar kamar dan turun ke lantai bawah rumahnya.
Reymond tinggal bersama kedua orang tuanya dan adik bungsunya, Sarah. Orang tuanya sangat baik dan ramah dengan siapa pun, dan membebaskan anak-anaknya untuk masalah pasangan hidup, Akan tetapi Sang mama akhirnya juga tidak tahan dengan sikap anaknya yang terlalu lama membujang sampai usianya tiga puluh dua tahun belum memiliki pendamping.
"Pagi ma!" Sapa Reymond pada sang mama yang sedang membaca majalah di sofa ruang tengah. Sang mama sekilas melihat putra sulungnya itu yang sedang berjalan menghampirinya.
"Siang pangeran kesiangan. ini bukan pagi, udah siang," Reymond hanya tertawa kecil lalu mencium pucuk rambut mamanya.
"Mama bisa aja. Oh ya, mana papa sama Sarah?"
"Mereka lari pagi, tapi belum pulang. biasalah papa mu kalau hari libur gini cuci mata di taman komplek, " Reymond tertawa keras mendengar kalimat Mamanya yang seolah cemburu dengan suaminya yang sering berpenampilan seperti anak muda dan menggoda gadis gadis bahkan ibu-ibu di lingkungan komplek, walau yang dilakukan suaminya itu hanya candaan semata akan tetapi sukses membuat dirinya cemburu.
"Papa cuci mata liat apa? Lihat ibu-ibu senam pagi di taman komplek?" Balas Reymond yang masih tertawa.
"Iya kali. Mama mah gak ambil pusing, yang penting mama gak liat." Balasnya yang seolah tidak perduli.
"Oh ya Rey, kapan kamu nikah? Kamu masih sama Bella kan?"
"Mama...! Rey udah lama putus sama Bella."
"Loh kenapa?"
"Gak apa-apa ma, udah ngerasa gak cocok aja, terlalu manja dan suka ngatur gak jelas." Balas Reymond sambil meminum jus milik Mamanya.
"Kamu itu terlalu banyak milih, Bella kayak gitu mungkin ingin kamu lebih baik!" jelas Sang Mama.
"Permisi Tuan." Sapa Rico tiba-tiba dengan membawa 5 kantong plastik berisikan risoles.
"Rico! Bagaimana?" tanya Reymond.
"Ini tuan, Sesuai perintah tuan!" Rico memberikan semua kantong plastiknya pada Reymond.
"Permisi tuan," pamit Rico.
"Tunggu dulu! Ini untuk kalian." Reymond memberikan dua kantong plastiknya pada Rico agar membagikannya pada rekan-rekan lainnya.
"Terima kasih tuan, permisi."
"Heum." Kemudian Rico keluar dan bergabung dengan yang lainnya, sedangkan Mama Reymond membuka kantong plastik tersebut.
"Ini kamu beli risoles banyak banget buat apa?"
"Di makan dong Ma...!" Mama Reymond mulai memakannya, sesaat Mamanya terdiam merasakan rasanya yang menurutnya sangat enak. Reymond juga memakannya lalu tersenyum setelah merasakan rasanya.
"Pintar juga dia membuat kue, padahal usianya masih muda," batin Reymond.
"Enak Rey, beli dimana? Eh..., ada juga yang isi keju lumer sama pisang coklat, pinter ini yang jualan, bervariasi." Puji Mama Reymond yang sudah mencoba satu persatu risolesnya.
"Yang jualan cantik Ma," Mama Reymond terdiam sejenak memperhatikan wajah bahagia anaknya.
"kenal dari mana kamu" selidik Sang Mama.
"Ada deh!" Balas Rey santai sambil memakan risolesnya dan tersenyum menggoda Sang Mama.
"Wah...! Enak ini, kue dari mana?" Tanya Sang papa yang baru saja datang bersama Sarah.
"Rey yang beli," saut Sang Mama.
"Eh..., enak banget ini!" Saut Sarah saat mencoba rasa keju.Reymond tersenyum lalu meninggalkan mereka dan menuju kamarnya. ia memutuskan untuk mencari tahu lebih dalam lagi kehidupan Ana.
Reymond menuruni anak tangga dan sudah berpenampilan rapi dan casual. Reymond mengenakan baju santai yang membuatnya ketampanannya bertambah seribu persen, ya elah lebay.
"Mau kemana kak?" Tanya Sarah melihat Reymond dari atas sampai bawah.
"Mau cari cewek!"
"Cari cewek? Cari istri sana!" Jawab Sarah sedikit lantang karena Reymond terus berjalan ke depan.
Di perjalanan Reymond tidak sengaja melihat Ana di dalam angkot. Reymond sudah menebak pasti ia akan menuju Restauran milk Rizal, lalu Reymond pun mengikuti laju angkot tersebut.
Ana turun dari Angkot kemudian langsung berjalan masuk ke dalam restauran. Sesekali ia menguap karena merasa masih mengantuk karena hanya tidur beberapa jam saja. Restauran baru saja buka dan menu baru saja matang, para waiters semua bersiap untuk menyambut penghujung untuk makan siang.
Reymond masih berada di dalam mobil ia menunggu jam 12 tepat untuk masuk kedalam restauran. Selang beberapa menit, Reymond memutuskan untuk masuk kedalam. Belum ada pengunjung yang datang dan Reymond adalah pengunjung pertama yang sambut Dita yang berada di bagian kasir.
"Selamat datang tuan, selamat datang di restauran kami " Sapa Dita dengan senyum ramahnya sedangkan Reymond tersenyum tipis.
"Mbak. Aku mau di layani waiters yang bernama Ana, Bisa?"
"Hah? eum..., bisa tuan, sebentar saya panggilkan Ana," Jawab Dita sedikit aneh dan heran melihat Reymond yang ingin di layani Ana. lalu ia bergegas ke belakang mencari Ana yang masih bersiap mengenakan apronnya.
"Ana!" panggilnya.
"Apa Dit?"
"Itu ada pengunjung nyariin lo!"
"Nyariin gue?"
"Iya! Buruan sana, orangnya ganteng!" Serunya. Ana sedikit mengerutkan dahinya lalu bergegas menuju ke depan. Ana mencari keberadaan pria tersebut dan ternyata Rey sudah duduk di meja lima belas seperti biasanya, Ana perlahan menghampirinya dengan senyum ramahnya.
"Selamat siang tuan." Sapa Ana ramah dan sopan walau sebenarnya ia merasa aneh dengan laki-laki di depannya itu, karena tiba-tiba laki mencarinya. Ana sepertinya lupa dengan Reymond yang baru kemarin mengantarkan makanan di kantor Reymond.
"Siang, saya mau pesan ayam goreng dan minumannya jus jeruk." Ana mencatat apa yang di pesan Reymond.
"Baik tuan, mohon ditunggu sebentar." Ucap Ana ramah di iringi anggukan Reymond.
Ana kemudian menuju ke belakang sedangkan Reymond terus melihatnya dari kejauhan, namun tiba-tiba suara ponselnya membuyarkan lamunannya. Diambilnya ponsel dari saku kemejanya, dilihatnya nama yang tertera layar.
"Reynand." Gumamnya sambil mengusap layar ponselnya kemudian meletakkan di telinga sebelah kiri.
"Hem..., ada apa lagi," tanya Reymond.
"Tiga hari lagi kemungkinan aku pulang, dan jangan memberitahu siapapun termasuk Mama. Aku ingin membuat kejutan untuk Mama." Jawab Reynand di balik sambungan ponselnya.
"Iya, nanti kau kabari saja aku. Nanti aku jemput di bandara."
"Hem." Kemudian Mereka berdua memutuskan sambungan ponselnya masing-masing seiring kedatangan Ana membawa pesanannya.