“Hai...! Namaku Sarah, kamu pacarnya Kak Reymond ya?”
Sarah memperkenalkan diri pada Ana. Ana sedikit salah tingkah saat Sarah menyebut dirinya kekasih Reymond. Mereka belum saling menyatakan cinta akan tetapi gelagat keduanya sudah seperti kekasih pada umumnya.
“Ana, Saya….”
Ana ragu harus menjawab apa, jika mengaku-ngaku kekasih Reymond, Reymond sendiri belum mengatakan apapun padanya, dan tidak mungkin juga dirinya menyatakan cinta lebih dulu pada Reymond, dimana harga dirinya yang menjunjung tinggi bahwa wanita itu dikejar bukan mengejar.
“Ana pacar kakak, tapi jangan bilang mama dulu, Ok!” Bisik Reymond pada Sarah. Reymond hanya malu jika harus menyatakan cinta pada Ana, takut terlalu cepat dan membuat Ana menjadi ilfeel.
“Oh...,Ok!”
Ana tampak bingung dan heran melihat Reymond berbisik pada Sarah, apa yang dikatakan Reymond sehingga Sarah juga tersenyum melihatnya.
“Kalian ngomongin apa?” selidik Ana.
“Ah tidak katanya, kamu pacar dia?”
Seketika Reymond membulatkan matanya melihat Sarah yang begitu jujur, mengatakan apa yang di ucapkan Reymond padanya.
“Pacar?”
Ana melihat Reymond meminta penjelasan tentang dirinya yang di anggap pacar, padahal Reymond belum menyatakan apa pun.
“Eum...,”
Sarah terkekeh melihat kakaknya yang tidak dapat mengungkapkan perasaannya pada Ana, yang ia tahu Kakak itu paling cerewet dan suka berdebat dan baru kali ini tidak bisa berbicara di depan wanita yang ia sukai.
“Oh jadi kalian belum jadian, Astoge...!”
“Kamu bisa diam gak?” Reymond membekap Sarah yang masih tertawa.
“Abang...,” panggil Ana agar berhenti bercanda.
Reymond melihat Ana dengan menahan malu. Dan menghindari tatapan Ana yang meminta penjelasan. Sarah kini beralih duduk di brankar berdampingan dengan Ana. Sementara itu Reymond duduk di kursi dan menghadap Ana. Reymond meraih kedua tangan Ana dan melihatnya mata Ana begitu dalam
“Ana..., aku sudah lama jatuh hati padamu, bahkan saat kamu masih di bangku kuliah. Sebenarnya aku salah satu dosen tempat kamu kuliah dulu, tapi tidak mengajar mata kuliah kamu, aku juga tahu kamu mempunyai sahabat bernama Siska dan Siska itu juga Adik dari Devan Diego rekan bisnis Abang.”
‘PLAAKK’ Sarah memukul lengan Reymond karena Reymond terlalu berbelit-belit mengutarakan cinta pada Ana.
“Kakak mau nembak Ana atau mau cerita silsilah dan teman bisnis kakak.” Sela Sarah yang gemas dan gregetan dengan Reymond yang malu-malu mengungkapkan cinta.
“Bisa diam gak?” Balas Reymond.
Reymond kembali melihat Ana, Ana sebenarnya malu, tetapi ia memilih diam.
“Ana apa kamu mau menjalin hubungan serius denganku, dalam arti mau menjadi pacarku,” tutur Reymond penuh harap Ana menerimanya.
Ana terdiam memikirkan jawaban tepat. Ia juga menyukai Reymond akan tetapi ia tidak ingin pacaran, menurutnya pacaran hanya membuang waktu. Ia juga belum siap jika harus menikah muda, karena ia juga ingin meraih cita-citanya lebih dulu.
“Bang, Jujur Ana juga menyukai Abang, em.... Tapi untuk pacaran Ana tidak mau, bagi Ana pacaran hanya membuang-buang waktu.”
“Ya udah nikah aja langsung!” Sela Sarah antusias.
Reymond melihat tajam ke arah Sarah agar jangan ikut campur. Ana sedikit menunduk dan sekilas melihat Reymond yang kini tertunduk. Ana menangkup kedua pipi Reymond dan menatapnya.
“Untuk menikah, jujur Ana juga belum siap karena ada hal yang harus Ana perjuangan sebelum menikah. Tapi aku pastikan hati Ana hanya untuk Abang.”
Reymond tersenyum kemudian memeluk Ana, Reymond bahagia sudah mengetahui isi hati Ana.
“Kita jalani apa adanya,” tanya Reymond.
“Yes!”
Reymond melepaskan pelukannya dan mengusap lembut pipi Ana.
“Auh...! Akhirnya kalian jadian, so sweet banget.” Saut Sarah memegang keduanya pipinya sendiri melihat adegan yang menurutnya begitu romantis.
Tanpa mereka sadari ada hati yang remuk mendengar Reymond menyatakan cinta pada Ana, terlebih saat Ana memastikan hatinya untuk Reymond. Sungguh itu sangat menyakitkan melihat itu semua. Tanpa sadar Rizal menjatuhkan gelas cup kopinya ke lantai membuat seisi ruangan terkejut dan melihatnya.
Sarah kini tahu siapa yang disukai Rizal yaitu Ana. Akan tetapi ia bersikap santai dan tidak cemburu pada Ana, karena Ana sudah ada pawangnya. Hem dipikir buaya kali ah pawang.
“Oh...! Jadi cewek yang kamu suka itu Ana!?” ledek Sarah lalu bangkit dari duduknya menghampiri Rizal.
“Tapi sayang, sebentar lagi Ana jadi kakak ipar aku, kamu balik lagi aja ya sama aku.” Goda Sarah memainkan kedua alisnya di depan Rizal. Ana dan Reymond hanya tertawa melihat tingkah konyol Sarah yang menggoda Rizal.
“Permisi..., selamat pagi?” Sapa dokter yang tiba-tiba masuk ke dalam untuk memeriksakan kondisi Ana sebelum pulang.
“Pagi dok.” Balas semuanya kecuali Rizal yang kini duduk di sofa sambil menatap Reymond tidak suka.
“Nyonya mari periksa dulu sebelum pulang, tuan tolong di bantu istrinya berbaring.”
Reymond membantu Ana berbaring dan membiarkan dokter mengira mereka suami istri. Sarah menahan tawa melihat Rizal di bakar api cemburu, karena Sarah yakin cemburunya itu hanya sesaat,
“Kondisi nyonya sudah membaik. Harus banyak istirahat saja di rumah, tolong tuan jangan biarkan istri Anda kelelahan.” Jelas Dokter pada Reymond sambil menepuk pundaknya.
“Pasti dok, terima kasih,” balas Reymond lalu menyalami dokter.
“Sama-sama tuan, dan semoga lekas sembuh nyonya.”
“Iya dok, terima kasih,” balas Ana lirih diangguki Sang dokter.
“Suster tolong lepas infusnya ya,” ucap dokter sebelum keluar dari ruangan.
Reymond membantu Ana untuk duduk di brankar kemudian Suster melepaskan jarum infusnya.
Reymond yang melihat Ana sedikit kesakitan lantas menarik tengkuknya membawanya ke pelukannya. Ana juga tanpa sadar melingkarkan satu tangannya ke pinggang Reymond.
“Sudah nyonya, dan sekarang boleh pulang,” ucap suster lalu tersenyum ramah.
“Terima kasih sus,” balas Reymond.
Setelah suster keluar Sarah tertawa terbahak-bahak melihat wajah merah padam Rizal karena menyaksikan Ana dan Reymond begitu mesra.
“Kau kenapa Munaroh!?” Tanya kesal Rizal melihat Sarah yang terus tertawa di sampingnya, walau ia tahu Sarah menertawakan dirinya yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Gak apa-apa, aduh...! Kayaknya gerah ya. Apa karena aku belum mandi ya. Eh gak juga, oh Iya..., rupanya ini yang panas. Aduh hawanya terasa sampai ke badanku dan hatiku,” Sarah meledek Rizal seraya memegang d**a Rizal di akhir kalimatnya.
Ana hanya tersenyum begitu juga Reymond. Mereka membiarkan Sarah menggoda Rizal hingga Rizal risih dan meninggalkan ruangan Ana begitu saja setelah menatap tajam Reymond. Tak ketinggalan Sarah juga mengekori Rizal keluar ruangan.
Setelah kedua kunyuk itu pergi salah satu suster masuk ke ruangan untuk mengantar Ana keluar ruangan sampai ke lobi rumah sakit. Ana duduk di kursi roda dan Reymond mendorongnya sampai ke pintu lift dengan dampingan suster.