Ana menatap raut wajah Reymond yang tampak datar saat mengemudi, apa memang seperti itu saat Reymond sedang mode on. Ana tersenyum dan meraih jemari Reymond dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Reymond tersenyum melihat Ana yang sedang memandangnya.
“Ada apa?” Tanya Reymond membalas genggaman tangan Ana.
“Tidak ada. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih sama Abang. Abang udah baik sama Aku.”
Reymond tersenyum kemudian mengecup punggung telapak tangan Ana. Sikap santun yang dimiliki Ana membuat Reymond benar-benar kagum. Ucapan tolong, terima kasih, dan maaf, menunjukkan bahwa Ana terdidik dari keluarga baik-baik. Dan dari rasa kagum itu tumbuh benih cinta di hati Reymond.
Cinta tumbuh di hati seseorang tanpa tahu alasan apa cinta itu bisa hadir, tapi apakah itu cinta atau rasa kagum semata? Entahlah.
“Iya, sama-sama. Abang akan selalu baik dengan semua orang bukan hanya dengan kamu saja.”
“Kita memang harus selalu baik dengan banyak orang Bang, sekalipun dengan orang yang membenci kita.”
“Ya kamu benar.” Reymond menepikan mobilnya di depan rumah Ana. Mengetahui Ana pulang dari rumah sakit tetangga sekitar Rumah Ana datang berbondong-bondong untuk mengetahui kondisi Ana.
“Ana..., Bagaimana kabarnya? Sudah sehat?”
“Sudah Bu, Alhamdulillah,” jawab Ana di iringi seulas senyum sopan.
“Syukurlah. Kamu beruntung na, Ada Mas ganteng ini, pacarnya ya?”
“Maaf ibu-ibu, biar Ana istirahat dulu ya. Kondisinya belum begitu pulih,” potong Reymond cepat karena Reymond melihat raut wajah Ana yang tidak nyaman disinggung masalah pacar.
“Halah pacar? Paling demenannya!” saut salah satu ibu-ibu yang memang tidak menyukai Ana dari awal ana mengontrak rumah di kompleks perumahan tersebut.
Ana dan Reymond saling pandang tidak tahu apa yang dimaksud Ibu tersebut.
“Maaf maksud Ibu apa ya?” Tanya Ana pada ibu tersebut dan masih bersikap sopan.
“Halah…! Gak usah polos deh, kamu paling open bo kan, sama pengunjung restoran tempat kamu kerja? Kamu sakit paling kecapean kan habis di gilir!” yakin Ibu seolah Ana wanita tidak baik dan suka gonta-ganti pasangan, pasalnya memang Ana sering di antar Reymond dan terkadang juga Rizal, atau temannya kerjanya Fery.
“Astagfirullah…! Maksud ibu apa?” Ana masih belum paham maksud dan tujuan Ibu tersebut berkata seperti itu.
“Berlagak polos.”
“Cukup bu!” Sela Reymond tidak terima dengan anggapan Ibu tersebut terhadap Ana.
“Abang sudah, biarkan saja.” Ucap Ana sedikit menarik lengan Reymond.
“Gak na! Ini gak bisa dibiarin, ini namanya pencemaran nama baik ” Reymond begitu emosi dan pasang badan untuk Ana.
“Anda bisa saya tuntut. Asal Anda tahu, saya yang setiap hari mengantar Ana pulang kerja. Jika saya tidak bisa, Ana pulang diantar bosnya dan temannya bernama Fery. Saya mengetahui semua kegiatan Kekasih saya. Anda paham! Oh ya satu lagi, jangan memfitnah anak yatim.” Geram Reymond menatap tajam Ibu tersebut yang sudah tampak ketakutan saat Reymond mengatakan ingin menuntutnya.
Ana meraih jemari Reymond dan menggenggamnya, Reymond melihat Ana yang menatap dirinya agar jangan berdebat dengan orang tua. Bagaimanapun orang tua harus tetap dihormati terlepas salah atau tidaknya.
“Udah Bang.”
Ana kemudian sedikit menarik dan menjauh dari kerumunan ibu-ibu lalu masuk ke dalam rumahnya.
Terdengar dari luar salah satu tetangga membela Ana dan menyalahkan Ibu yang menuduh Ana yang tidak-tidak.
Reymond duduk diam di sofa berdampingan dengan Ana. Reymond menghela nafas menetralkan rasa emosinya. Sedangkan Ana juga diam duduk bersandar, bohong jika ia tidak sakit hati dengan ucapan ibu tersebut. Akan tetapi ia tidak bisa berbuat banyak, dan biarkan saja orang beranggapan apa tentangnya.
“Jangan kerja lagi ya.” Seru Reymond menoleh ke arah Ana.
Ana tersenyum lesu dan memandang Reymond, Ana tahu maksud Reymond baik agar dirinya tidak kelelahan, akan tetapi jika tidak bekerja siapa nanti yang menanggung biaya hidupnya dan membayar sisa hutang orang tuanya.
“Ana butuh makan Bang, bagaimana Ana makan kalau gak kerja.” Jawab lembut Ana.
“Abang akan menanggung semuanya.” Ana tertawa sambil meletakan keningnya di pundak Reymond dan memegang tangannya.
“Kamu ingin membuat ucapan ibu itu menjadi kenyataan, aku jadi simpananmu Bang.” Ana melihat wajah Reymond dari dekat.
“Bukan begitu, kamu fokus sama bisnis risoles kamu, bagaimana? Tunggu. Gaji kamu di restaurant berapa?” tanya Reymond yang kini menghadap ke arah Ana.
“satu juta lima ratus,”
“Ok, kita hitung dan bandingkan gaji dan pendapatan kamu, jika kamu fokus dengan jualan risoles. Kamu tenang sayang Abang akan bantu tanpa menjatuhkan harga dirimu, hem.”
Ana justru tertawa mendengar Reymond memanggilnya sayang. Ana terharu juga merasa geli mendengar dirinya dipanggil sayang oleh pria lain selain Ayahnya.
“Kenapa kamu malah tertawa, Abang serius sayang.”
“Iya Bang Maaf. Ana sedikit absurd dengar Abang manggil sayang.”
“Harus terbiasa,” tegas Reymond mengusap pucuk kepala Ana.
“Ayo kita hitung dan bandingkan. Gaji kamu satu bulan di restaurant si kunyuk…” Lagi-lagi Ana tertawa mendengar Reymond mengatakan kunyuk… karena ia tahu siapa yang dimaksud Reymond yaitu Rizal.
“ kunyuk! Abang ada-ada saja,” kekeh Ana.
“Iya bos kamu kan, kunyuk.” Mereka justru tertawa bersama mengingat tingkah konyol Rizal terlebih bersama Sarah.
“Udah Bang bercandanya, aku ambilkan air minum dulu ya.”
“Gak usah biar Abang aja, kamu duduk aja.” Cegah Reymond kemudian ia bangkit dan menuju dapur milik Ana lalu mengambil air minum. Sementara itu Ana berbaring di sofa. Sebenarnya dirinya juga masih lemas dan masih kurang sehat.
Reymond keluar dan membawa dua gelas air putih untuk Ana dan dirinya kemudian ia mengangkat kepala Ana agar tidur di pangkuannya.
“Mau minum?” Tanya Reymond sambil mengusap rambut Ana.
“Nanti aja,” balas Ana sambil melihat wajah Reymond.
“Jadi bagaimana Bang yang tadi?” Tanya Ana sambil melihat wajah Reymond.
“Dengar ya, gaji kamu satu juta lima ratus, ditambah tips kamu satu hari paling besar berapa?
“Lima ratus ribu, itu juga dari Abang.”
“Ok, jadi semua dua juta ya.”
“Hem.”
“Terus hasil kamu jualan risoles kamu setiap pagi berapa?”
“Satu box isi dua puluh, tapi Ana kasih harga per satu buahnya delapan ratus perak, Ana titip lima boks di warung jadi dua puluh kali lima sama dengan seratus risoles, jadi seratus dikali delapan ratus sama dengan delapan puluh ribu.”
“Di kali satu bulan jadi berapa?” tanya Reymond melihat Ana menghitung menggunakan kalkulator yang ada di ponselnya.
“Delapan puluh ribu dikali tiga puluh hari sama dengan dua juta empat ratus ribu.” Ana terhenyak melihat hasil jualannya jika di okulasi dalam satu bulan ternyata melebihi gajinya.
“Banyakan mana?” tanya Reymond tersenyum melihat ekspresi tidak percaya Ana melihat hasil jualannya yang ia kalikan sendiri.
“Jualan Bang,”
“Nah itu kalau ada yang kasih kamu tips banyak, kalau tidak? Belum dipotong kalau kamu sakit, kamu sudah dua hari gak masuk kan, tips kamu juga hilang
“Cuma gaji pokok aja satu juta lima ratus.”
“Sekarang kamu pikirkan, kamu pulang kerja malam, resiko tinggi, jadi lebih baik fokus kembangkan usaha kamu, kamu masih bisa istirahat dan tidak ada yang mengatur dirimu. Awalnya pasti kamu lelah menjalani usaha ini. Tapi yakinlah, usahamu nanti pasti akan berkembang, bahkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain, dan kamu masih bisa melanjutkan kuliah kamu yang sempat tertunda. Abang bicara seperti ini karena Abang melihat potensi kamu untuk jadi pebisnis.”
“Iya Bang tapi bisnis apa pun itu pasti ada naik turunnya kan?”
“Iya, kamu benar, tapi itu semua resiko, pekerjaan atau bisnis apapun pasti ada resikonya, dan itu sudah pasti, dan juga tergantung kita bagaimana mengatasi atau meminimalkan resiko tersebut.”
Ana bangkit dan tersenyum kemudian mengecup pipi Reymond sebagai tanda terima kasih. Reymond tersenyum dan membalas ciuman Ana dan sekilas mengusap pipi orang yang ia kagumi
“Terima kasih ya Bang ilmunya.”
“Sama-sama sayang. Abang mau kamu berkembang.” Ana tersenyum kemudian memeluk Reymond.