Kamu kenapa malah ikut ke apartemenku pagi-pagi,” ucap Rizal pada Sarah yang ikut pulang ke apartemennya setelah dari rumah sakit.
“Kan aku cinta sama kamu,” jawab Sarah santai sambil duduk di sofa seolah di rumahnya sendiri
“Ngomong sama kamu dari dulu susah ya,” sengit Rizal kemudian ia duduk di samping sarah dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Sarah melihat ke arah Rizal dengan menopang kepalanya menggunakan tangannya yang ia tumpukan di sandaran sofa. Sudah tiga tahun mereka berpisah, namun di antara mereka berdua masih betah menyendiri dan tidak menjalin hubungan asmara dengan siapa pun, masing-masing fokus dengan pendidikannya serta bisnis mereka masing-masing.
Tampaknya disini sarah yang memang tidak bisa move on dari Rizal, padahal dahulu ia yang menginginkan putus hubungan karena Rizal type yang sangat posesif . Kini disaat Rizal mulai menaruh hati pada Ana, Sarah justru datang kembali. Entah Rizal memang benar-benar menaruh hati dengan Ana atau hanya rasa kagum sesaat. Entahlah?
“Rizal…, aku mau ngomong serius sama kamu!” Seru Sarah menatap Rizal dengan serius.
“Apa?”
“Aku masih cinta sama kamu.”
“Sarah…! Udahlah! Hubungan kita sudah berakhir tiga tahun yang lalu, aku sudah tidak cinta lagi sama kamu, sekarang kamu pergi!” Bentak Rizal yang sudah tidak tahan dengan Sarah yang belakangan ini terus mengganggunya.
Sarah kali ini benar- benar sakit hati dengan bentakan Rizal, keyakinannya seakan runtuh bahwa rizal masih mencintainya. Memang dahulu ia bodoh memutuskan Rizal hanya hal sepele, nyatanya ia tidak bisa move on dari Rizal.
Perlahan air mata itu meleleh seperti lelehan rasa sakit hatinya mendapat bentakan dari Rizal. Rizal sendiri juga sebenarnya tidak bermaksud untuk membentaknya, ia hanya refleks karena ia risih.
Sarah perlahan menghapus air matanya lalu meraih tasnya dan tidak mengucapkan sepatah katapun, kemudian ia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Sadar dengan kesalahannya Rizal buru-buru meraih lengan Sarah.
"Sarah maafkan aku, aku tidak bermaksud membentak kamu." Sarah diam dan melepaskan tangan Rizal dari lengannya tanpa melihat wajah Rizal sedikit pun, lalu ia benar-benar keluar dari apartemen Rizal.
"Sial! Kenapa gue lupa kalau dia itu paling nggak bisa di bentak," gerutu Rizal merutuki dirinya sendiri.
Rizal kemudian menyusul Sarah. Ia berlari mengejar sarah yang hampir masuk ke lift. Rizal menahan Sarah agar tidak masuk lift dengan cara menghalangi pintu lift dengan tangannya. Rizal melihat Sarah yang masih meneteskan air mata dan melihatnya tajam.
“Minggir!” Seru sarah sambil menarik tangan Rizal, namun tangan orang yang ia tarik tidak ada pergerakan sama sekali dan terus menatapnya dengan rasa bersalah.
“Minggir!!” Teriak Sarah di hadapan Rizal. Tanpa kata Rizal menarik tengkuk sarah dan menciumnya. Sarah sempat memberontak dan memukul-mukul pelan d**a Rizal. Apa maksud Rizal yang tiba-tiba menciumnya, bukankah laki-laki yang sedang menciumnya itu mengatakan dengan tegas tidak lagi mencintainya.
“Jangan menangis lagi, aku tidak bisa melihatmu menangis, apalagi penyebabnya adalah aku,” ucap lirih Rizal di telinga Sarah. Rizal memandangi wajah sarah yang masih memejamkan matanya.
“Maafkan aku,” ucap Rizal menangkup kedua pipi Sarah.
“kau masih mencintaiku?”
Rizal terdiam saat mendengar pertanyaan sarah. ia juga tidak tahu harus menjawab apa, yang jelas Rizal tidak bisa melihat Sarah menangis. Rizal menarik Sarah kedalam pelukannya lalu mencium pucuk rambutnya. perlahan Rizal membawa Sarah masuk kembali ke dalam apartemennya . Rizal mengajak Sarah duduk di kursi meja makan dan membuatkannya sarapan. Sarah terus melihat Rizal penuh arti.
“Rizal…, kamu belum menjawab pertanyaan ku,” tanya Sarah.
“Makan ini, terus nanti mandi. Baju kamu masih aku simpan di lemari,” Balas Rizal seraya memberikan roti bakar pada Sarah dan juga s**u coklat kesukaannya.
“Rizal kamu belum menjawab pertanyaan ku?”
“Apa tindakanku selama ini kurang membuktikan cintaku padamu!” Balas Rizal melihat Sarah.
“Jadi kamu masih cinta sama aku.”
“Susah ya ngomong sama kamu!”
Sarah berteriak histeris kegirangan dan langsung memeluk Rizal. ia bahagia ternyata dalam hati Rizal yang paling dalam masih sangat mencintainya.
“Kita jadian lagi?” Tanya sarah melihat Rizal yang wajahnya masih datar.
“Hem, tapi dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Jangan menangis lagi.”
Sarah tertawa saat Rizal mengajukan syarat bahwa dirinya jangan gampang menangis, karena dari dulu Rizal takut terkena amuk oleh kedua kakak kembarnya jika membuat Sarah menangis.
“Heum…, kamu takut sama kakak kembarku ya, terlebih kak Reynand, hayo ngaku?” Goda Sarah.
“Sudah-sudah! Sarapan, Mandi. Bau tau!”
Sarah tersenyum kemudian makan sarapannya. walau sudah berbaikan tidak lantas Rizal melupakan Ana, ia masih penasaran dengan sosok gadis manis dan menyenangkan menurut dirinya. Ia akan terus berusaha mendekatinya lagi sampai benar-benar mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya.
Disisi lain Reymond masih berada di rumah Ana, Reymond benar-benar menjaga Ana seperti ia menjaga permata. Reymond membiarkan Ana tidur di kamarnya sedangkan dirinya memasak untuk Ana, setelahnya ia mengerjakan pekerjaannya dari rumah Ana. Semua meeting dan kelas kampusnya ia batalkan demi menjaga Ana.
Saat ini Reymond selesai mengerjakan pekerjaannya kemudian ia menghubungi saudara kembarnya Reynand lewat sambungan video call, ia ingin menanyakan kapan ia pulang ke Indonesia.
“Hai nand,” sapa Reymond pada Reynand yang sepertinya belum tidur malam, dan sama-sama mengerjakan pekerjaannya.
“Hem, ada apa?”
“Kau bilang mau pulang, jadi kapan?”
“Aku sudah bilang padamu, pekerjaanku sedang ada masalah. jadi aku menundanya lebih dulu. kau lihat aku masih mengerjakannya di tengah malam.” Balas Reynand memperlihatkan laptopnya ke arah Reymond.
“Ok i see,” jawab Reymond.
“Wait, where are you now?” tanya Rizal yang menyadari Reymond tidak di kantor.
“Di rumah seseorang,”
“Oh, your girlfriend?” tanya Reynand, Reymond hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Oh, ok. Congratulation!”
Tak lama Ana keluar dengan wajah khas bangun tidur dan langsung menghampiri Reymond tanpa melihat adanya kamera menyala. Ana pun langsung menghambur ke pelukan Reymond membuat Reynand mengumpat dalam hati.
“Abang, aku lapar,” serunya, kemudian Reymond mengakhiri panggilan dengan bahasa isyarat yang hanya dimengerti Reynand.
“Ya sudah. Ayo makan, Abang sudah memasak buat kamu,” balas Reymond mengusap punggung Ana.
“Abang masak apa?”
“Masak sayur buat mengembalikan stamina kamu.”
“Iya…, tapi abang masak apa? Tadi abang belanja? Kan di kulkas gak ada sayuran sama sekali.”
Reymond tersenyum kemudian mengusap pipi Ana.
“Iya tadi Abang belanja di warung depan.”
“Terima kasih ya Bang.”
Sementara itu Reynand yang berada di London sedikit penasaran dengan Ana, mendengar suara lembut milik Ana saja sudah sukses membuat Reynand penasaran dengan wajah Ana.
Reynand tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya lagi, suara lembut dan manja Ana terus terngiang di telinganya, seolah mempunyai daya magnet sendiri di telinga dan menggetarkan hati seorang Reynand. Itu semua membuat Reynand tidak nyaman dengan apa yang ia rasakan sendiri terhadap suara Ana. Reynand sendiri juga tidak habis pikir kenapa dirinya menjadi sangat gelisah mengingat suara Ana. Padahal ia sudah berusaha mengabaikan bayang-bayang suara Ana, tidak mungkin kan dirinya jatuh cinta hanya dengan mendengarkan suara saja. Hem…, bisa jadi.
“Sial!” Umpatnya sambil menutup laptopnya sedikit kasar. kemudian memilih untuk tidur.