Dua hari kemudian Ana sudah kembali masuk bekerja untuk terakhir kalinya. Ana juga sudah menyiapkan surat pengunduran dirinya untuk di berikan pada Rizal. Ana sudah memikirkan matang-matang keputusannya untuk berjualan kue risoles hanya berbekal keyakinan dan dorongan dari orang yang dicintainya, siapa lagi kalau bukan Reymond.
Ana masuk kedalam ruangan Rizal lalu menghampiri Rizal yang sedang fokus memeriksa laporan bulanan restoran miliknya. Ana sedikit takut dan gugup ingin menyampaikan niatnya yang ingin mengundurkan diri.
“Bang,” Panggil Ana hati-hati.
“Eh…, na kamu udah masuk?” Balas Rizal kemudian bangkit mendekati Ana.
“Iya Bang, em…. Bang maaf sebelumnya, mungkin hari ini hari terakhir Ana kerja di sini, ini surat pengunduran diri Ana.”
“Ngundurin diri? Maksud kamu apa? kamu gak mau kerja lagi disini?”
Ana mengangguk dan melihat Rizal yang sepertinya tidak terima jika dirinya mengundurkan diri.
“Bukan seperti itu Bang, Ana hanya ingin keluar dari zona nyaman, jujur Ana nyaman kerja di sini, teman-teman disini semua baik. Apalagi Abang, Bos yang jarang marah,” jelas Ana melihat Rizal sedikit tidak enak hati, karena selama ini Rizal sudah sangat baik padanya.
“Jangan bilang karena Bang Reymond kutu kupret itu,”
“Hah? kutu kupret? Abang ada-ada aja, gak lah Bang, ini murni keputusan Ana, Bang Reymond hanya mengarahkan Ana.”
Rizal meraih tangan Ana, dan melihat penuh arti. Rizal masih sangat penasaran dengan gadis di depannya. Kenapa sangat susah menaklukkan hatinya. Benar ucapan Siska jika Ana tidak mudah didekati kecuali dengan orang yang ia sukai.
"Ana…, mau gak jadi pacar Abang?"
Ana justru tertawa mendengar ucapan Rizal, sudah sering mengucapkan kata tersebut.
Ana perlahan melepaskan tangan Rizal dari tangannya lalu tersenyum melihat Rizal berharap Rizal memahami jika suatu hubungan itu tidak bisa dipaksakan.
"Bang…, Ana kan sudah bilang berkali-kali. Ana menganggap Bang Rizal hanya sebagai kakak, atasan Ana. Cinta itu tidak bisa dipaksakan Bang, ada yang lebih tulus mencintai Bang Rizal, Mbak Sarah. Dan di hati Ana sudah ada seseorang."
"Reymond?" Tanya Rizal diiringi anggukkan dan senyum Ana.
Rizal tersenyum dan mencoba memahami perasaan Ana dan perasaan dirinya sendiri yang ditolak, Rizal melihat sudut pandang dari dirinya sendiri yang memang cinta tidak bisa dipaksakan.
"Baiklah, Abang sudah tidak penasaran lagi, Abang hargai penolakan kamu. Semoga kau juga bahagia bersama Bang Reymond." Rizal menepuk pundak Ana dan keduanya tersenyum.
Rizal mengambil surat pengunduran diri milik Ana dari tangannya. Kemudian membacanya sekilas.
"Oh ya Bang, kabar Siska bagaimana?"
"Siska masih ada studi banding di Singapura."
"Oh…, syukurlah. Em…, kalau gitu Ana balik kerja ya Bang."
"Iya, tapi nanti kamu pulang jam 6 saja ya."
"Hah…? Kenapa begitu Bang?"
"Kamu kan baru pulih, jadi pulang lebih awal, nanti kalau terjadi sesuatu…,"
"Aku yang akan menghajar dirimu," potong Reymond tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Bang Reymond," lirih Ana tersenyum melihat Reymond menghampirinya.
"Hari ini tidak ada hari kerja terakhir, Ana langsung pulang jangan lupa transfer gaji terakhirnya."
Reymond kemudian merangkul Ana lalu membawanya melangkah keluar.
"Eh…, tunggu Bang. Ini restoran ku, aku masih Bosnya, jangan seenaknya begitu dong!"
"Diam, apa kamu mau tidak aku restui dengan Sarah," Ancam Reymond membuat Ana menahan tawa melihat ekspresi wajah takut Rizal.
"Bisanya ngancem,"
"Kau!"
"Udah Bang…!" Lerai Ana menarik Reymond keluar dari ruangan Rizal.
"Abang kenapa sih? Kalau sama Bang Rizal kayak gak pernah akur," tanya Ana saat mereka sudah berada di luar dan duduk di kursi.
"Tidak apa-apa, ya sudah kita pulang ya."
"Tunggu Abang…, Ana kerja dulu ya."
"Tidak sayang…, pulang ya. Abang mau ngajak kamu ke suatu tempat, kan kamu juga udah ngundurin diri.”
“Baiklah, tapi Ana pamit dulu sama yang lainnya ya,”
Reymond mengangguk lalu Ana berdiri menghampiri teman-temannya yang sedang bersiap-siap untuk bekerja. Suasana restoran masih sepi dan belum ada pengunjung yang datang. Perlahan Ana menghampiri kepala Waiters, Bu Rini. Rasanya berat harus meninggalkan tempat kerja dan juga teman- teman seperjuangannya, Suka duka sudah mereka lewati selama beberapa bulan, Tapi hidup harus tetap berjalan dan Ana memilih untuk keluar dari zona nyamannya.
“Bu Rini, “ panggil Ana.
“Ana, sudah sembuh?”
“Sudah Bu.”
“Syukurlah, ya sudah ayo siap-siap?” Ana tersenyum lalu meraih tangan Bu Rini.
“Bu hari ini Ana sudah tidak kerja lagi, Ana ngundurin diri.”
“Ngundurin diri?” Bu Rini seketika menarik Ana agar lebih dekat dengannya.
“Serius kamu ngundurin diri?” Tanya Bu Rini memastikan sambil memegang kedua pundak Ana.
“Iya Bu. Maaf ya bu Ana pamit, kalau selama Ana kerja ada banyak kesalahan mohon maaf ya bu.”
Bu Rini tersenyum seraya melihat Reymond yang sedang duduk dan memainkan ponselnya. Ia tahu pasti semua karena Reymond yang menginginkan Ana keluar dari Restoran.
“Tuan Reymond ya yang menyuruhmu, kalian sudah jadian?” Selidik Bu Rini melihat wajah malu Ana. Ana tersenyum lalu sekilas melihat Reymond yang kini melihat dirinya dan tersenyum.
“Kami jadian tapi kami tidak pacaran,”
“Hah? terus statusnya apa?”
Ana hanya tersenyum dan tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Ana mempunyai prinsip sendiri jika tingkat tertinggi mencintai adalah saat berada dalam hubungan tanpa status, Ana juga mempunyai beberapa alasan kenapa tidak mau dan ingin mempunyai status pacaran dengan seseorang. menjalin hubungan tidak harus pacaran. yang terpenting bagaimana perasaan cintanya tersampaikan dengan tulus kepada orang yang ia cintai. Meyakini bahwa cinta adalah anugerah Tuhan.
“Status Ana hanya jalani saja sama Bang Reymond, kami berkomitmen saling menjaga dan percaya, dan juga Ana punya alasan sendiri kenapa tidak mau berstatus pacar Bang Reymond.
“Baiklah, terserah kamu, Ibu hanya bisa mendoakan kamu sukses di luar sana.”
“Iya bu, terima kasih. Kalau begitu Ana pamit sama yang lainnya ya Bu.”
“Iya.” Ana kemudian menghampiri satu persatu teman-temannya untuk berpamitan, Banyak teman-teman Ana yang tidak setuju dan bersedih, karena tidak ada teman kerja yang se-asyik Ana dan secantik Ana
“Yah Ana gak asyik,” Ujar ferry.
“Maaf ya fer…, tapi ini sudah keputusanku, kalian semua boleh main ke rumah atau nanti kita hangout bareng lagi ya.”
“Nyai pelet restoran Bang Rizal hilang dong,” celetuk Dita teman akrab Ana.
Semua tertawa dengan julukan Nyi pelet yang disematkan pada Ana ketika bercanda saat sedang tidak banyak pengunjung dan kini pasti tidak ada lagi julukan tersebut.
“Kamu bisa saja Dit.” Balas Ana lalu memeluk Dita dan mereka berdua menangis. Dita adalah sahabat kedua setelah Siska. Mereka berdua begitu paham bagaimana kehidupan Ana yang hidup sebatang kara di kota besar, jakarta.