Reymond mengajak Ana ke sebuah tempat, yaitu sebuah ruko. Rupanya diam -diam Reymond membelikan Ana ruko dan melunasi sisa hutang-hutang orang tua Ana tanpa sepengetahuannya. Reymond benar-benar mendukung apa yang Ana perjuangkan selama ini, tanpa Reymond sadari mungkin saja akan menjadi beban sendiri untuk Ana di masa depan. Reymond menutup mata Ana dengan sebuah kain dan menuntunnya ke sebuah Ruko.
“Abang, Abang mau ajak Ana kemana? Udah sampai belum?”
“Ok, sudah sampai. Sekarang siap-siap ya.”
Reymond membuka penutup mata Ana lalu merangkulnya. Ana sedikit bingung dan melihat ruko dan Reymond secara bergantian, meminta jawaban apa yang dimaksud Reymone membawanya ke sebuah ruko.
“Bang ini apa?” Tanya Ana melihat Reymond yang masih berdiri merangkulnya.
“Ini ruko untuk kamu sayang, ruko untuk bisnis kamu.”
“Apa? apa ini tidak berlebihan Bang? Ana baru ingin memulai dari yang kecil, di rumah Ana saja.”
“Iya Abang tahu, tapi suatu saat nanti kamu pasti akan mengembangkan bisnis kamu kan?, dan ini terserah mau kamu tempati kapan. Abang sudah membelinya dan atas nama kamu. Kamu bisa tinggal di lantai atas jadi tidak perlu lagi memikirkan biaya kontrakan rumah.” Jelas Reymond memandang Ana penuh cinta.
“Bang, Ana tidak bisa menerimanya, ini berlebihan Bang.”
Ana merasa tidak enak hati dengan semua kebaikan Reymond selama ini padanya. menurutnya Reymond terlalu dini untuk memberikan sesuatu yang sangat berharga untuknya. Terlebih hubungan mereka tidak ada status dan hanya komitmen saling menyayangi. Mungkin Ana tidak mengetahui betapa Reymond sangat menyayangi dirinya. Apapun itu pasti akan Reymond berikan padanya.
“Tidak Ana, mau tidak mau, suka tidak suka. Kamu harus menerimanya.” Reymond kemudian memanggil orang kepercayaannya yang mengurusi surat dokumen rukonya dengan isyarat tangan agar memberikan surat-suratnya.
“ini tuan,” ucap orang kepercayaan Reymond seraya memberikan surat-suratnya.
“Terima kasih,” balas Reymond.
Reymond tersenyum memberikan map ke tangan Ana lalu mengusap lembut pipinya.
“Terima ya, Abang gak mau menerima penolakan.”
Reymond memeluk Ana didepan Rico Sang bodyguard dan orang kepercayaannya.
“Tapi Bang!”
“Tidak ada tapi.”
Ana membalas pelukan Reymond dan tersenyum, mencoba menerima ketulusan yang diberikan padanya.
“Terima kasih ya Bang. Ana tidak tahu harus membalas kebaikan Abang dengan apa.”
“Dengan cinta kamu.”
“Maksa!”
“Biarin.”
Keduanya tertawa kecil lalu mereka berdua masuk kedalam ruko di ikuti orang-orang Reymond. Mereka melihat setiap sudut ruangan,lalu keduanya menuju lantai atas tanpa anak buah Reymond.
Ana melihat setiap sudut lantai dua dengan begitu antusias terlebih melihat kamarnya yang jendelanya menghadap ke arah jalan raya.
“Bagus Bang, Ana suka."
Reymond tersenyum melihat Ana lalu mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Reymond tidak ingin lagi melihat gadis yang dicintai kesusahan dalam hidupnya
“Jadi mau ya tinggal disini, nanti Abang siapkan semuanya, kalau disini Abang kan bisa menginap di kamar satunya.”
“Em…,Iya. Tapi Abang janji gak macam-macam sama Ana.”
Reymond tertawa kecil lalu melepaskan pelukannya dan berdiri di samping Ana.
“Abang akan menjagamu, tidak akan merusakmu.”
“Terima kasih Bang.” Ana tersenyum melihat ketulusan yang sangat jelas dari sorot mata Reymond.
Disisi lain Rizal duduk termenung di ruangannya pikirannya melayang terbawa oleh Ana. Namun secepat kilat ia menepisnya kemudian mengambil ponselnya dan mentransfer gaji Ana tak lupa ia juga melebihkan sebagai tanda terima kasih karena berkat Ana restorannya menjadi ramai pengunjung.
“Sayang aku datang!”
Suara nyaring itu tiba-tiba menggema di ruangan Rizal yang membuatnya terkejut dan membuat ponselnya hampir terlepas dari genggamannya.
“Astagfirullah! Kau bisa ketuk pintu dulu kan! Udah kayak hantu blau ku tengok.”
Rizal sedikit geram dan menatap Sarah yang tertawa melihatnya. Sarah memang senang sekali menggoda Rizal dari zaman mereka SMA.
“Gak usah marah-marah sayang, ini aku bawakan kue kesukaan kamu, apem."
“Aku udah gak suka apem, sukanya risoles."
“Masak! Kamu gak kangen sama apem aku," goda Sarah memainkan kedua alisnya.
“Gak usah mancing,dan ingat-ingat masa lalu kita yang salah, kita sepakat tidak mengingatnya kan.”
Rizal dan Sarah memang mempunyai masa lalu yang tidak patut di contoh. Mereka melakukan hubungan suami istri saat baru lulus sekolah SMA. Mereka sepakat untuk menutupi semuanya dari keluarga masing-masing dan berjanji tidak lagi melakukannya. Hal itu juga membuat Rizal semakin posesif dan membuat Sarah tidak nyaman akhirnya mereka putus hubungan.
Mungkin kejadian itu pulalah yang membuat mereka masih betah menyendiri selama tiga tahun. Dan merasa ada beban di pundak mereka masing-masing.
"Ya udah itu di makan, aku sudah susah payah buatnya, sampai liat buku kak Reymond yang mau dikasih buat Ana."
Rizal memandangi Sarah yang berdiri di sampingnya, kenapa wanita di sampingnya ini tidak pernah berubah selalu ingin menyenangkan hatinya dengan cara apapun, walau terkadang caranya membuat Rizal gemas dan kesal.
Rizal mengusap lembut pipi Sarah kemudian mengusap bibirnya. Bibir yang dulu pernah ia cumbu mesra dan saat ini Rizal merindukan cumbuan tersebut.
“I love you,” lirih Rizal lalu mencium bibir Sarah.
Keduanya melepaskan rasa rindu yang telah mereka simpan selama tiga tahun, terlebih memang mereka masih saling mencintai.
Keduanya tersenyum saling menyatukan kening mereka. Keduanya bahagia bisa bersatu kembali.
“Kamu udah gak kepikiran Ana kan?" Selidik Sarah Ingin memastikan jika Rizal tidak membagi rasa cintanya.
“Tidak sayang, aku tidak bisa berpaling darimu.”
“Syukurlah, jika tidak aku akan…,”
“Apa?”
'PLAK!'
Sarah memukul kepala Rizal dengan tasnya membuat Rizal mengaduh kesakitan.
“Adu!! Sakit Oneng!”
“Biar Sadar kalau kamu itu cuma ditakdirkan untukku." Kekeh Sarah melihat Rizal mengusap kepalanya.
“Dasar Oneng!” Geram Rizal lalu ia duduk di sofa dan menikmati kue apem buatan Sarah.
Rizal terkejut saat menikmati kuenya dan seketika melepehnya karena rasanya bukan manis tapi asin.
“Kenapa dilepeh?" Tanya Sarah melihat Rizal minum air putih.
“Kami ngicipin gak sebelum kamu bawa kesini?”
“Enggak!"
“Ck! Ini kue apem atau martabak asin,"
Sarah melongo melihat Rizal yang mengatakan kuenya asin. Karena penasaran ia pun mencobanya.
“Wek!!!” Sarah pun melepehnya lalu membuangnya ke tempat sampah yang tidak jauh dari sisi sofa.
“Enak?" Tanya Rizal seolah meledeknya.
“Asin.”
Rizal bangkit dan mengambilkan air minum untuk Sarah.
“Ini minum, Setelah ini ikut aku,"
“kemana?"
“KUA!”
“Heh…? Beneran?” tanya Sarah Antusias.
“Ya nggak lah. Aku mau pergi ke restoran cabang. Mau ikut atau di sini aja?"
Sarah mengerucutkan bibirnya dan sedikit kesal sudah berharap apa yang diucapkan Rizal apa adanya. Tapi ia juga tahu bahwa itu hanyalah candaan semata. Karena menuju ke KUA juga butuh proses panjang.