Ana dan Reymond kini berada restoran cabang milik Rizal mereka sedang makan siang setelah melihat ruko. Dengan dikawal satu bodyguard yaitu Rico. Mereka memilih di lantai atas sambil melihat pemandangan pantai, ditambah konsep restorannya bertema lesehan membuat suasana menjadi semakin intim jika untuk berkumpul
Ana dan Reymond sedang duduk berdua dengan posisi Ana berada di depan Reymond dan bersandar di dadanya. Mereka tampak begitu mesra tanpa memperdulikan keberadaan pengawalnya, Rico. Rico hanya bisa mengumpat dalam hati saat Reymond sesekali mencium pucuk rambut Ana.
“Ya Tuhan gini amat ya jomblo, lihat bos tiap hari sama pacarnya mesra terus,” gumam Rico dalam hati sambil membuang pandangannya.
“Gila ya naik tangga kau minta gendong!” Terdengar suara seseorang yang sedang kesal dari Anak tangga.
Ana dan Reymond menoleh ke arah sumber suara dan melihat yang ternyata Rizal yang tengah menggendong Sarah di belakang, dan Sarah tertawa di gendongannya.
“Turun!” suru Rizal menurunkan Sarah kemudian mengusap pingganganya.
Sarah tertawa melihat ekspresi Rizal yang menahan sakit pinggang.
“Sakit yah…! Ouh…, sayang ucuk-ucuk…!” canda Sarah memainkan jemarinya di pipi Rizal.
“Yang sakit pinggangku, bukan Pipiku,” kesal rizal seraya menepis tangan Sarah.
“Oh ya. Salah ya, hehe.”
Sarah tertawa kemudian tidak sengaja melihat kakaknya dan Ana sedang tertawa kecil melihatnya.
“Ana!” Serunya seraya menimpuk tasnya ke wajah Rizal sampai Rizal terhuyung ke belakang.
“Haduh!”Pekiknya sambil memegang tasnya.
“Gila ya!” Kesal Rizal melihat Sarah berpelukan dengan Ana lalu ia ikut bergabung dengan mereka.
“Ana aku kangen sama kamu, kamu itu ngangenin, pantas aja kak Reymond termehok-mehok sama kamu.”
“Apa sih Mbak termehok-mehok?”
“Udah pokoknya begitu, Oh ya kalian udah lama nunggu aku.”
Ana tertawa melihat sisi Sarah yang begitu humoris dan tidak merasa risih mengenalnya. Ana sangat beruntung dikelilingi orang-orang baik di sekitarnya.
“Kepedean lo!” saut Rizal duduk di samping Reymond.
Reymond dan Rizal hanya menyimak dua wanita di hadapannya itu sedang bertukar cerita, dan melihat mereka sesekali tertawa heboh. Terkadang Rizal harus menahan malu saat Sarah menceritakan masa lalunya ketika berpacaran, namun tidak semuanya Sarah menceritakannya, ia masih bisa menjaga satu rahasianya bersama Rizal yang tidak patut dicontoh. Apalagi jika Reymond terlebih Reynand mengetahuinya. Mungkin saja Rizal sudah dibunuh oleh keduanya, dan yang paling Rizal takuti adalah Reynand.
Reymond dan Rizal yang merasa bosan mendengarkan kedua wanita tersebut memilih untuk memainkan ponselnya masing-masing.
Merasa sudah puas bercerita Ana dan Sarah duduk di samping pasangan masing-masing. Sarah yang pada dasarnya suka usil pun duduk di pangkuan Rizal dan mengambil ponselnya tanpa permisi.
“Sarah…!” geram Rizal melihat Sarah kesal.
Sarah hanya terkikik lalu melihat layar ponsel Rizal yang ternyata memotret dirinya sedang tertawa dengan posisi yang menurut Sarah sangatlah jelek.
“Jahat banget sih kamu yang,” ujar Sarah mendorong wajah Rizal seolah penuh dendam.
“Aduh, kamu punya dendam Apa sih dari tadi sasarannya muka ku terus.”
“Kamu itu yang dendam sama aku! Masak foto aku kayak gini, giginya kelihatan semuanya,” protes Sarah sambil turun dari pangkuan Rizal.
Reymond dan Ana hanya tertawa geli melihat Sarah dan Rizal seperti anak kecil yang rebutan permen. Ana dan Reymond memilih sedikit bergeser dan membiarkan dua sejoli itu bertengkar ala mereka. Ana dan Reymond kemudian membahas bagaimana kelanjutan bisnis kue tradisionalnya
Hari semakin sore Reymond mengantarkan Ana pulang ke rumah kemudian ia pun bergegas pulang dan tidak mampir seperti biasanya, karena tiba-tiba Mila Sang Mama mengabari jika Reynand pulang dari London.
“Mama!” teriak Sarah yang pulang bersama Reymond.
“Berisik!” saut Reymond yang berjalan di sampingnya.
Mila sang Mama keluar dari dapur bersama Darma diikuti Reynand di belakang mereka.Seketika Sarah histeris melihat Reynand kemudian berlari dan memeluknya sampai Reynand terhuyung.
“Ya Allah! Sarah kamu berat.”
Sarah hanya tertawa kecil lalu melihat wajah kakaknya yang tidak jauh beda dengan Reymond. Akan tetapi mereka masih bisa dibedakan dari postur tubuhnya. Reynand sedikit lebih tinggi dibanding Reymond, dan raut wajah Reynand juga jauh lebih garang dan dingin karena jarang tersenyum dan tertawa. Berbeda dengan Reymond yang masih suka bercanda dan gampang berbaur dengan banyak orang.
Reymond juga menghampiri Reynand lalu keduanya bersalaman dan sekilas berpelukan.
“Apa kabar?” tanya Reymond.
“Baik,” jawab singkat Reynand dan sekilas tersenyum dan menepuk lengan Reymond.
Mereka semua duduk di sofa ruang keluarga sambil menikmati kue buatan Mamanya. Reymond yang sedang menikmati kue risoles buatan Mamanya pun teringat kue risoles Ana. Semua menatap heran kenapa Reymond tersenyum sendiri melihat kue risolesnya. Bukanya di makan tapi justru diberi Senyuman, haha! dimakan dong biar kenyang, jangan diliatin Bang Rey.
“Kakak kenapa senyum-senyum?” tanya Sarah heran.
“Jangan pikiran ngeres ya!” ucap Sarah lagi.
“Enak aja, aku lagi kepikiran seseorang.”
Mila dan Darma saling pandang tidak tahu siapa yang dimaksud anaknya, sedangkan Reynand hanya diam mendengarkan sambil memakan kue risolesnya.
“Pasti mikirin Ana kan?”
“Ana? Ana siapa?” Tanya Mila mengerutkan dahinya, selama ini Reymond tidak pernah bercerita siapa Ana padanya.
“Itu loh Ma yang jualan kue risoles yang kemarin-kemarin di borong Rico!” jelas Sarah apa adanya. Mila mengingat tempo lalu saat Rico membeli banyak kue risoles.
“Oh…, cantik gak?”
“Cantik dong ma, Mama mau lihat fotonya.” Sarah kemudian mengambil ponselnya dan menunjukan foto dirinya dengan Ana saat berada di restoran Rizal.
Mila melihat foto Ana begitu juga Darma yang tidak kalah penasaran dengan wajah kekasih salah satu anak kembarnya.
“Anak Papa Memang pintar mencari calon pendamping, cantik pintar masak lagi,” puji Darma saat selesai melihat foto Ana.
“Kak Reynand mau lihat gak?” tanya Sarah
“Jangan!” Seru Reymond merampas ponsel milik Sarah, Reymond tidak ingin Reynand mengetahui wajah Ana.
Reynand seperti biasa tidak mau tahu, dan hanya memasang wajah datar. namun dalam hatinya ia juga penasaran, akan tetapi memilih untuk diam dan menghargai keputusan Reymond untuk tidak memperlihatkan Foto Ana pada dirinya.
“Nanti saja belum waktunya. Aku juga masih pendekatan.”
“Pendekatan udah di beliin ruko, itu bukan pendekatan lagi Bambang!” ledek Sarah.
“Heh…! Apa maksudnya? kamu gak di manfaatin cewek itu kan Rey!”
“Mama apa lagi? Ana itu gadis baik-baik Ma, dan masalah Ruko itu aku hanya membantunya agar bisnis dia berkembang, apa salahnya membantu anak yatim piatu.”
“Oh yatim piatu. ya gak apa-apa, Papa dukung,” saut Darma memberi dukungan.
Mila terdiam apa yang dikatakan Reymond itu tidak salah, justru Mila menjadi penasaran dengan sosok Ana. Gadis yang selalu membuat Reymond tersenyum saat mau tidur dan bangun tidur.