Ana duduk termenung di sofa ruang tengah setelah selesai mandi. Ana memikirkan ucapan Reymond agar lebih baik dirinya tinggal di ruko tersebut, setelah dipikir memang benar apa adanya, dirinya bisa berhemat untuk uang sewa rumah dan tempat ruko tersebut juga termasuk kawasan yang ramai dan strategis untuk membuka usaha. Namun Ana juga bingung memulai usahanya di sana bagaimana? Sementara di lingkungan kontrakannya sudah lumayan banyak peminat kue-kuenya. Akan tetapi jika terus memikirkannya kapan dirinya akan maju.
“Kenapa jadi bingung begini sih,” gumamnya sambil menggaruk kepalanya.
“Siska!” serunya mengingat jika siska lah yang bisa ia minta jalan keluar saat ia sedang kebingungan menentukan pilihan.
“Yah…, tapikan dia lagi di singapore,” ucapnya sendu mengingat Siska masih di singapore.
“Ana aku datang!!” suara siska tiba-tiba terdengar dari luar.
“Siska,” gumam Ana memastikan suara yang ia dengar benar-benar suara sahabatnya.
“Ana! Lo gak mati kan?!” teriak Siska seketika Ana beranjak berlari membuka pintunya.
“Siska!!”
“Ana!!”
Mereka saling berteriak lalu berpelukan melepaskan rasa rindu mereka.
“Aku kangen sama kamu,” ucap Siska yang masih memeluk Ana.
“Sama aku juga,” balas Ana lalu keduanya melepaskan pelukannya.
Sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu karena mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing. Ana sibuk bekerja dan Siska sibuk study banding di luar negri.
“Eh…, bagaimana kabarmu?” tanya Siska saat mereka sudah duduk di sofa.
“Baik.”
“Bagaimana pekerjaanmu di restoran Bang Rizal?” tanya Siska lagi. Ana menghela nafas panjang lalu tersenyum.
“Aku udah mengundurkan diri, Aku mau fokus jualan.” Ana melihat Siska yang begitu menyimak apa yang Ana sampaikan padanya.
“Gue pasti bantu, Lo jualan apa?” tanya Siska yang belum mengetahui jika Ana berjualan Risoles.
“Risoles,” jawab Ana lalu tersenyum.
“Baiklah apapun usaha kamu aku kan tetap mendukungnya.”
“Terima kasih Siska kamu memang sahabat terbaikku,” ujar Ana memeluk Siska.
Siska memang sahabat terbaik Ana, ia selalu hadir di saat Ana kesusahan. Persahabatan mereka tidak diragukan lagi, terbukti disaat Ana terpuruk di situlah Siska selalu ada.
Sahabat dan teman itu sangat kontras berbeda, karena tidak semua orang bisa menjadi sahabat. Seorang sahabat akan selalu ada dan mempunyai ikatan batin sendiri, dan teman adalah orang yang hanya kita kenal dan tidak mempunyai emosi yang sama. terlebih di zaman sekarang sangat sulit menemukan seseorang yang benar-benar tulus dan bisa kita jadikan sahabat.
“Oh iya, ini gue bawain oleh-oleh dari singapore.” Siska memberikan bingkisan yang isinya jaket yang sudah lama Ana inginkan.
“Wow, kamu memang tahu apa yang aku inginkan Siska, terima kasih banyak ya.” Ana mencoba mengenakan jaket pemberian Siska dengan hanya menempelkannya di dadanya.
“Ets…, gue juga beli loh. jadi kita samaan. Biar kayak anak kembar.”
“Kamu bisa aja.”
Mereka pun tertawa bersama, bercerita saat masa awal bertemu dan satu kampus. Siska juga menceritakan pengalamannya saat sedang di singapore, begitu juga Ana ia juga menceritakan pekerjaannya selama bekerja di restoran milik Kakak sepupunya ,Rizal. Serta menceritakan bagaimana Rizal menembak dirinya.
“Gila ya, gue gak sangka Bang Rizal nembak lo na, terus lo terima?”
“Gak Sarah, Kamu tahu aku kan. Gak mudah jatuh hati kecuali sama orang yang benar-benar aku juga suka,” jawab Ana kemudian tersenyum.
Sebenarnya Ana ingin menceritakan hubungannya dengan Reymond akan tetapi ia malu.dan memilih untuk menyimpan lebih dulu. Dan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Siska tentang hubungannya bersama Reymond.
“Siska kamu tidur di sini?”
“So pasti. gue mau dua hari disini, di rumah juga Mama Papa gak ada. Semua lagi ada urusan di luar negeri.”
“Oh…, begitu. Bagus dong aku ada temennya.” Keduanya pun tertawa bersama
Disisi lain Reynand duduk termenung di balkon kamarnya setelah selesai makan malam bersama keluarganya. Reynand terus memikirkan nasib hubungannya bersama kekasihnya yang tidak ada titik terang tentang permasalahan mereka. sampai-sampai Reynand memilih pulang ke indonesia lebih dulu untuk menenangkan pikiran, padahal pekerjaannya juga masih menumpuk. Mungkin saja dengan pulang ke indonesia pikirannya sedikit tenang dengan berkumpul dengan semua keluarganya terlebih Sang Mama.
Sarah yang melihat salah satu kakak kembarnya pun sepertinya merasakan apa yang dirasakannya. Sarah berjalan mendekati Reynand dan berdiri di sampingnya.
“Lagi mikirin apa kak?” Reymond melihat ke arah Sarah dan sekilas tersenyum.
“Noting.”
“Tell me your problem, maybe i have solution for you,” ujar Sarah yang tahu Reynand sedang ada masalah.
“Apa kegalauan kakak ada hubungannya dengan Miranda, pacar bule kakak itu.”
“Tidak usah membahasnya,”
“Kak, ayolah jangan tertutup denganku, aku tahu kakak tidak menyukai jika kehidupan pribadi kakak aku tanyakan. Tapi setidaknya dengan bercerita perasaan kakak bisa lega. kalau kakak tidak ingin saran dari ku tidak apa-apa, Kakak cerita saja nanti Sarah menjadi pendengar saja.”
Reynand melihat Sarah dengan tatapan dan sorot mata tajamnya, tapi bukan berarti marah dengan Sarah yang sudah memaksanya untuk bercerita tentang masalahnya. Reynand hanya mencoba menerima saran dari adiknya.
“Kakak sedang ada masalah dengan Miranda. Kakak ingin melamarnya, menikah dan tinggal di Indonesia. Tapi sepertinya dia tidak mau ikut dengan Kakak.”
"Kakak yakin hanya itu permasalahannya? Setahu Sarah jika memang Miranda mencintai Kakak dengan tulus sudah pasti dia mau ikut kemana kakak berada, beda jika dia hanya memanfaatkan Kakak. Siapa tahu dia mempunyai pria lain. Tapi ini menurutku saja, tidak usah diambil hati, Sarah hanya menduga dan menerka saja."
"Kamu benar, akhir-akhir ini dia sedang dekat dengan pria lain, tapi kakak tidak berpikir sejauh seperti apa yang kamu pikirkan Sarah. Dia bilang padaku jika pria itu hanya temannya."
Reynand tanpa sadar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kali ini ia ingin mencoba bagaimana rasanya di berikan solusi dari orang lain mengenai hubungannya dengan Miranda.
"Jangan naif Kak, curiga itu perlu. Kakak laki-laki dan punya harga diri, jangan mau dimanfaatkan atau di injak-injak harga diri kakak. Kelak Kakak itu seorang pemimpin dalam rumah tangga dan Kakak harus bersikap tegas,dan satu lagi tidak ada pria dan wanita dewasa dekat hanya sekedar teman, pasti ada sesuatu yang tidak kita tahu,” jelas Sarah mengusap lengan Reynand.
“Terima kasih, rupanya adik Kakak ini bisa bijak dan pandai menasehati." Reynand kemudian mengusap lembut kepala Sarah dan tersenyum.
"Kakak bisa saja."
Akhirnya hati dan perasaan Reynand sedikit lega setelah menceritakan semuanya pada adiknya. Perasaan yang mengganjal di hatinya kini menemukan jawabannya.
“Ya sudah Kak, kalau begitu aku mau tidur dulu. Udah ngantuk." Reynand mengangguk kemudian Sarah keluar dari kamar Reynand.
Reynand merenungi apa yang dikatakan adiknya jika wanita dan laki-laki dewasa saling akrab kemungkinan sudah pasti ada sesuatu. Namun sesuatu itu tidak pernah Reynand pikirkan,Karena pada dasarnya prinsip Reynand adalah saling percaya.