Dengan rasa kantuk yang luar biasa Ana meraih ponselnya yang sedari tadi berdering yang membuatnya mau tidak mau ia harus mengangkatnya.
“Halo,” lirihnya tanpa tau siapa yang menghubunginya.
“Halo sayang,” jawab seseorang di seberang sana.
Ana membuka matanya dan melihat layar ponselnya dan membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
“Bang Rey,” ujarnya dalam hati. Ana kemudian bangkit dari tidurnya dan bersandar di sandaran tempat tidur.
“Iya Bang. Ada apa tengah malam telepon?”
“Maaf Abang ganggu ya?”
“Ah, gak Bang. Cuma Ana tadi baru tidur, keasyikan cerita sama Siska.”
“Siska?” Reymond mengerutkan dahinya mencoba mengingat nama Siska.
“Sahabat Ana Abang, sepupunya Bang Rizal.
“Oh iya, Abang baru ingat.”
“Siapa sih na, berisik!”
Seperti nya Siska merasa terganggu tidurnya dengan suara Ana. Tidak mau mengganggu tidur Siska Ana memilih untuk Keluar dari kamarnya dan duduk di sofa ruang depan.
“Siska tidur di rumah kamu?” tanya Reymond.
“Iya, dua hari Siska mau menginap di rumah. Katanya orang tuanya ada di luar negri.”
“Oh…, syukurlah Abang lega ada yang nemenin kamu, soalnya Abang hari ini mau ke korea ada pertemuan di sana.”
“Hah? Korea?”
“Iya, ini Abang sudah di bandara, maaf Abang gak bisa pamitan langsung karena mendadak.”
“Iya gak apa-apa Bang, Abang hati-hati ya.”
“Ok. See you. I love you.”
Ana tersenyum begitu juga Reymond di seberang sana lalu keduanya memutuskan sambungan ponselnya masing-masing. Ana memutuskan kembali untuk tidur di kamarnya bersama Siska.
Pagi harinya Ana bangun kesiangan begitu juga siska. Ana terburu-buru bangun dan langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sementara Siska sudah berulang kali Ana bangunkan namun tak kunjung bangun sampai Ana selesai sholat.
“Siska ayo bangun!” Ana mengguncang tubuh Siska beberapa kali.
“Berisik na, gue masih ngantuk.”
“Sholat dulu,” paksa Ana
“Gue gak se-alim lo, udah diam,” lirih Siska yang justru menarik selimutnya.
Ana hanya menggelengkan kepalanya melihat Siska yang terus tidak ada perubahan, tapi untuk yang satu ini Ana memang tidak bisa memaksanya, biarlah yang satu hal yang sangat sensitif tersebut menjadi urusannya dengan yang Kuasa.
Akhirnya Ana memilih untuk membereskan dapur dan ruangan lainnya.dan untuk beberapa hari ini ia masih libur untuk membuat kue risoles dan kue lainnya, karena ingin menyusun rencana baru di tempat barunya nanti. Akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke ruko setelah semalaman meminta pendapat Siska. Akan tetapi Ana tidak menceritakan dari mana ruko tersebut ia dapat ia hanya mengatakan menyewa ruko tersebut.
Jam menunjukan pukul 7 Ana sudah selesai memasak untuk sarapan sedangkan Siska masih tidur. Ana kemudian mencoba membangunkan Siska kembali untuk sarapan pagi akan tetapi tetap saja nihil, Siska tidak bangun. Akhirnya Ana membiarkan Siska tidur dan ia sarapan sendiri di ruang depan sambil menonton televisi.
Pikiran Ana melayang memikirkan semuanya rencananya setelah nanti pindah ke ruko. segudang rencana memenuhi otaknya yang pada akhirnya membuat ia bingung sendiri. Ana kemudian mengambil buku dan pulpen lalu menulis semua rencananya sebelum hilang dari ingatannya. Terlalu fokus dengan tulisannya Ana tidak sadar jika Siska sudah duduk di sampingnya dengan Wajah bantalnya.
“Lo lagi ngapain na?” Siska memperhatikan Ana yang sedang menulis.
“Lagi nyusun rencana buat besok kalau sudah pindah ke ruko.”
“Ngapain di tulis di buku laptop kan bisa. Di buku nanti hilang.” Ana menoleh ke arah Siska lalu melihatnya sedikit kesal lantaran Siska juga tahu Kalau laptop miliknya sudah di jual untung menambah sewa rumah kontrakannya.
“Gue udah gak punya laptop lagi markonah!”
“Oh iya lupa, ya udah nanti pakai laptopku aja yang nganggur satu di rumah.”
“Gak usah ini sudah selesai.” Ana kemudian menutup bukunya.
“Ya sudah sana sarapan, Aku masak nasi goreng, habis itu mandi, terus kamu mau ikut ke ruko gak? Aku mau ke ruko."
“Ikut dong! Aku mau lihat ruko Kamu.”
Siska kemudian sarapan dan Ana membereskan tempat tidur setelah itu Ana juga mandi dan tak lama siska pun mandi.
Keduanya pergi ke ruko dengan menggunakan taksi, sepanjang jalanan Siska tidak mau diam sedangkan Ana hanya diam dan melihat jalanan sesekali menimpali ucapan Siska.
“Pak berhenti di depan ya,” ucap Ana pada sopir taksi agar berhenti tepat di depan rukonya,
“Sudah sampai na?” tanya Siska.
“Sudah, itu.” Mereka berdua turun dan Siska yang membayar taksinya.
Ana dan Siska masuk ke dalam ruko betapa Ana terkejut melihat rukonya yang didalamnya sudah komplit dengan etalase kue dan semua interior pun sudah lengkap. Ana melihat dapur di sana juga peralatan sudah lengkap lalu ia menuju lantai atas. Saat sampai di lantai atas rupanya ruangan yang kosong sudah terisi sofa dan meja lemari bahkan ada dapur mininya. Ana juga melihat kamarnya rupanya sudah ada kasur dan lemari. Siska hanya melihat takjub rupanya ruko yang Ana tempati lumayan besar.
Ternyata Reymond diam-diam menyuruh orang-orangnya untuk mengerjakan semuanya agar Ana segera pindah ke ruko dan tidak ingin melihat Ana kesusahan lagi.
Ana hanya bisa tersenyum saat melihat kamarnya terlebih kamar yang di klaim milik Reymond.
“Bang Reymond kamu memang penuh kejutan,” batin Ana membayangkan Reymond.
“Gila ini ruko berapa sewanya satu tahun na, kamu punya uang dari mana?” Celetuk Siska sambil melihat kamar Ana. Ana sejenak terdiam dan memikirkan jawaban yang tepat.
“Bayarnya nanti kalau usahaku sudah jalan.”
“Memang ada orang yang mau di bayar di belakang?”
“Kan aku udah kasih uang muka dulu, kalau hanya uang muka aku ada,” bohong Ana.ia juga tidak tahu harus berkata apa.
“Oh begitu ya."
Ana tersenyum lalu menghindar agar Siska tak lagi bertanya dan curiga bagaimana Ia mendapatkan ruko tersebut. Jangan sampai Siska beranggapan dirinya menjual diri.
“Siska, gue keluar sebentar ya. mau beli minum sama cemilan.”
“Iya, gue di kamar ya, tiba- tiba gue ngantuk liat bantal,”
“Dasar kebo.” Keduanya tertawa kemudian Ana keluar untuk mencari minuman.
Saat di dalam minimarket Ana tidak sengaja menabrak seorang pria dan hampir terjatuh beruntung pria tersebut meraih pinggangnya dan pandangan mereka saling bertemu hidung mereka pun hampir saja bersentuhan.
“Bang Rey…” Pria itu mengerutkan dahinya melihat Ana memanggilnya Rey. Karena Ana melihat pria itu sangat mirip dengan Reymond.
“Maaf saya tidak kenal Anda, Permisi.” Ana hanya bengong melihat kepergian orang yang sangat mirip dengan Reymond. Seketika ia teringat jika Reymond mempunyai kembaran dan ia ingat Reymond sedang di korea.
“Ya Tuhan jadi itu kembaran Bang Reymond,” gumamnya dalam hati sambil memegang dadanya karena tiba-tiba dadanya berdebar.