Reynand berjalan keluar dari minimarket dengan membawa belanjaannya. Saat di dalam mobilnya ia melihat ke dalam minimarket memastikan gadis yang ditemuinya itu masih ada di sana dan memang masih di dalam sedang berada di kasir. Reynand mengingat suara yang tidak asing di telinganya saat menghubungi Reymond.
“Jadi itu pacar Reymond. Sial!”
Reynand terngiang kembali dengan suara itu terlebih Reynand sempat melihat wajah Ana dan melihat bola mata indah Ana dari dekat.
Ana keluar dari minimarket dengan membawa kantong plastik berisikan belanjaan. Reynand melihat Ana dari dalam mobil ia melihat dari atas sampai bawah. Ana yang memiliki tinggi semampai dengan body ideal, rambut panjang dan hitam serta bola mata dan bulu mata yang lentik alami ditunjang kulitnya yang putih mulus dari lahir tak ayal membuat setiap pria pasti terpesona melihat kecantikan Ana. Tidak hanya cantik fisik akan tetapi Ana juga memiliki hati baik serta tingkah dan tutur katanya yang sopan.
Reynand mengikuti Ana diam-diam dengan mobilnya dan melihat Ana masuk ke dalam ruko
“Jadi ini Ruko yang dimaksud Reymond,” batin Reynand lalu sekilas melihat Ana menutup pintu rukonya dan menghilang di balik pintu.
Ana masuk dan naik ke lantai atas dan meletakan beberapa minuman dan cemilannya di dalam lemari pendingin. kemudian ia melihat Siska yang berada di kamarnya. Rupanya Siska sedang tertidur dengan posisi melintang dengan tangannya memegang ponselnya.
“Dasar kebo,” gumam Ana menggelengkan kepalanya lalu Ana memilih untuk turun kebawah dan membereskan apa yang belum beres di dapur perjuangannya nanti.
saat menyusun semua peralatannya, tiba-tiba ada yang menggedor pintu ruko Ana. Ana berjalan keluar untuk membuka pintunya.
‘Sreekkk.’
“Pak Rico,” sapa Ana dan melihat beberapa orang di belakang Rico
“Selamat siang Nona,” balas Rico.
“Siang pak, maaf ada perlu apa ya? Apa ada pesan dari Bang Reymond?”
“Iya nona, tuan Raymond memerintahkan kami untuk membantu nona membereskan apa yang belum beres di dalam.”
“Oh, tidak perlu pak, biar saya sendiri saja, tidak banyak kok,” tolak ana tidak ingin merepotkan Rico.
“Nona tidak boleh menolak, jika Nona menolak nanti kami yang dipecat tuan Reymond.”
“Hah?”
“Iya Nona tolong pengertiannya.” Ana mengangguk ia juga tidak ingin orang lain kehilangan pekerjaannya karena mencari pekerjaan di kota besar bukalah perkara mudah.
Ada lima pekerja yang akan membereskan dan merapikan toko milik Ana, Ana hanya duduk diam mengawasi mereka karena Rico melarangnya untuk turun tangan. Ana hanya menunggu hasilnya saja. Ana melihat para pekerja sepertinya tidak ada air minum pun berinisiatif ingin membelikan air minum, namun saat hendak keluar Rico melarangnya.
“Maaf Nona, nona mau kemana?”
“Mau ke minimarket sebentar, mau membeli minum dan makan siang untuk mereka, saya juga mau membeli makan siang,” jelas Ricoa yang sebenarnya sedikit kesal.
“Biar saya saja Nona, Nona istirahat saja.” Ana menghela nafas panjang dan pasrah ia tidak bebas melakukan apapun.
“Ya sudah, terserah tapi makananku dua porsi ya, karena ada sahabat ku di atas.”
“Sahabat?” tanya Rico mencurigai Ana membawa pria lain selain Bosnya.
“Iya! Bapak pikir saya bawa laki-laki lain. ya sudah sana laporan sama bos Bapak biar kalang kabut dia di korea.” Ana kemudian menghentakkan kakinya karena kesal dengan Rico lalu memutuskan menuju lantai atas.
Ana duduk di sofa ruang tengah lantai atas sambil menahan kesalnya pada Rico dan juga kesal dengan Reymond yang seolah terlalu menjaganya. Tapi ia juga tiba-tiba merindukan kehadiran Reymond.
“Abang Ana kangen,” batinnya sambil melihat foto dirinya dan Reymond di ponselnya. Tapi apa boleh buat ia ingin menghubungi tapi takut mengganggu kesibukan Reymond di korea.
Ana tersenyum dan pikiran tenggelam dalam lamunannya memikirkan seseorang yang beberapa bulan ini membuatnya begitu bahagia. Tetapi ia juga berpikir apakah Reymond saat ini memikirkan dirinya karena Reymond belum mengabari keberadaanya saat ini di korea bagaimana.
Disisi lain rupanya Reynand merenung di mobilnya, dan melihat foto kekasihnya yang rupanya tadi menghubungi dirinya untuk memutuskan hubungan mereka. Rupanya sang kekasih berselingkuh dengan pria lain di london dan berterus terang padanya.
“Well.. if that's what you want.” Reynand kemudian menghapus semua foto kenangannya bersama Miranda kekasihnya.
Reynand akhirnya memutar balikan mobilnya dan menuju arah Ruko Ana dan duduk diam di dalam mobil sambil melihat ruko Ana, Reynand melihat beberapa pekerja yang keluar masuk untuk merapikan toko kue Ana. Reynand juga melihat Ana yang seperti mengawasi para pekerja dan sesekali berbicara dengan tukangnya.
Reynand merebahkan kepalanya di setir mobil dan melihat Ana dari dalam mobil, entah apa yang ada di pikirannya suara lembut dan mata indah Ana membuat dirinya tidak sadar sudah menjadi seperti penguntit melihat Ana dari kejauhan.
Tak lama Reymond melihat Sarah dan Rizal datang dan membawa beberapa peralatan kue. Reynand pun hanya menggeleng kepalanya tidak mau tahu apa yang mereka kerjakan dan memilih menurunkan sandaran jok mobilnya dan tidur.
Tampak kehebohan Sarah dan Ana ketika bertemu. Sarah seolah mendapatkan seorang Adik yang selama ia kecil impikan karena memang dia sangat menginginkan saudara perempuan, sedangkan Ana seperti mendapatkan sosok kakak dari diri Sarah.
“Ya Allah Mbak ini bawa apa, banyak banget?” tanya Ana melihat Sarah membawa peralatan kue bersama Rizal.
“Bang Reymond yang nyuruh bawa ini, buat kamu na,” balas Sarah sambil masuk ke dalam ruko bersama Rizal.
”Taruh aja di sini Mbak," ucap Ana lalu Sarah dan Rizal meletakkan peralatan kue tersebut di sisi tangga.
“Di atas aja yuk Mbak, Bang Rizal!" Ajak Ana lalu mereka naik ke lantai atas.
Di lantai atas rupanya Siska sudah bangun dan duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Ia tidak menyadari kedatangan Rizal dan juga Sarah.
"Hei…!!"sapa Rizal pada Siska seraya menoyor kepala Siska.
"Duh!!" Siska melihat ke arah ketiganya.
“Bang Rizal…!!” teriaknya lalu melempar bantal sofa ke arah Rizal.
Ana dan Sarah hanya tertawa melihat keisengan Rizal pada Siska. Ana dan Sarah menuju dapur mini yang ada di sudut ruangan untuk menyiapkan cemilan yang tadi sempat Ana beli dan Sarah bawa.
“Ngapain Abang kemari? Bukanya udah ditolak sama Ana. Kenapa kesini?” Siska mendorong-dorong Rizal agar jauh darinya.
“Ahem.” Sarah berdehem melihat Siska dan Rizal. Siska sekarang paham bahwa Rizal sudah kembali dengan Sarah, akan tetapi muncul pertanyaan baru kenapa Sarah sepertinya sudah sangat dekat dengan Ana, bukannya harusnya cemburu?
Sarah dan Ana berjalan menghampiri mereka dengan membawa minuman dan cemilan lalu meletakkannya di meja.