Lapangan festival itu penuh sesak ketika Ratri tiba—ribuan orang berdesakan di depan panggung megah yang berkilau oleh lampu LED warna-warni, pedagang asongan berseliweran, asap rokok dan asap sate bercampur di udara malam, dan dari pengeras suara raksasa, dentuman koplo menggetarkan dada. Ini panggung terbesar yang pernah Ratri lihat dalam hidupnya. Dan di latar belakang panggung, terpampang raksasa, poster wajah palsunya.
Ratri masuk lewat samping, mengenakan kebaya sederhana berwarna biru tua, rambut disanggul rapi tanpa riasan tebal, hanya bedak tipis dan gincu samar. Di belakangnya berjalan orkesnya—Yusuf membawa peralatan, Cak Salim, Dul, Pak Kasdi, Pak Hari dengan sulingnya. Selvi berjalan di sisinya, juga berbaju sederhana. Orang-orang yang melihat mereka lewat menatap bingung—di mana bintang goyang yang dijanjikan poster?
Hendra menyongsong di balik panggung, dan wajahnya, untuk sekejap, menampakkan keterkejutan sebelum kembali ke topeng tenang yang biasa. Ia tampak lebih kurus dari terakhir kali Ratri melihatnya, ada kantung gelap di bawah matanya, dan senyumnya tegang.
"Ratri," katanya, suaranya licin seperti biasa. "Akhirnya. Aku tau kamu orang yang menepati kontrak." Ia melirik kebaya Ratri, dahinya berkerut. "Tapi—kostumnya ada di ruang ganti. Yang sesuai konsep. Yang—"
"Aku nggak pakai kostum itu," potong Ratri tenang.
Senyum Hendra membeku. "Ratri, kita punya kontrak. Posternya udah keluar. Penonton udah bayar buat liat—"
"Buat liat apa, Pak?" Ratri menatapnya lurus, tak lagi gentar seperti gadis dua puluh tahun yang dulu menandatangani halaman kedua tanpa membaca. "Buat liat tubuh saya? Atau buat denger suara saya? Saya naik. Saya nyanyi. Tapi saya naik sebagai saya. Bawaan saya. Lagu saya." Ia berhenti. "Kalau Bapak maksa saya pakai kostum itu, goyang itu, di depan ribuan orang yang lagi nonton dan di depan kamera siaran langsung—silakan. Tapi semua orang bakal liat Bapak maksa perempuan jadi sesuatu yang dia tolak. Dan itu bakal jadi bukti, Pak. Bukti yang lebih kuat dari apa pun yang Bu Wening punya."
Hendra terdiam. Ratri melihat perhitungan cepat di matanya—lelaki itu sadar ia terjepit. Jika ia memaksa di depan kamera, ia mengubur dirinya sendiri. Jika ia membiarkan, ia kehilangan kendali atas panggungnya sendiri. Untuk pertama kali sejak Ratri mengenalnya, Hendra tampak seperti orang yang kehabisan langkah.
"Kamu bakal nyesel," desisnya akhirnya, topeng tenangnya retak. "Penonton ini datang buat hiburan. Mereka bakal cemooh kamu. Mereka bakal lempar kamu turun. Dan aku—aku bakal pastiin kamu nggak pernah naik panggung manapun lagi."
Ratri tidak menjawab. Ia hanya menatap Hendra sesaat lebih lama, lalu berbalik menuju panggung.
MC sedang membangun antusiasme di atas sana, suaranya menggelegar, menyebut-nyebut "bintang yang ditunggu-tunggu", "goyang yang bikin heboh", membakar kerumunan yang sudah setengah mabuk dan haus sensasi. Ratri berdiri di sisi panggung, menunggu, dan jantungnya berdebar keras. Ia merasakan tangan Yusuf menyentuh bahunya sekilas. "Suaramu bakal sampai, Nduk," bisik Yusuf. "Aku jaga itu."
Dan kemudian namanya dipanggil—nama panggung yang dibuat Hendra, julukan goyang yang membuat perutnya mual—dan lampu sorot mengarah ke sisi panggung.
Ratri melangkah naik.
Kerumunan riuh sesaat, lalu kebingungan menjalar seperti gelombang. Di mana goyangnya? Di mana kostumnya? Perempuan ini naik dengan kebaya biru sederhana, rambut disanggul, wajah tanpa polesan tebal, berjalan tenang ke tengah panggung tanpa lenggak-lenggok, tanpa lambaian menggoda. Beberapa orang di depan bersiul kecewa. Seseorang berteriak meminta goyang. Suara cemooh mulai terdengar di sana-sini.
Ratri berdiri di tengah panggung megah itu, di bawah ribuan mata dan lampu yang membutakan, dengan poster palsunya menjulang di belakang seperti hantu. Untuk sesaat, ketakutan hampir menelannya. Lautan manusia di bawah sana menunggu sesuatu yang tak akan ia berikan.
Lalu ia menarik mikrofon mendekat, dan dengan suara yang tenang—suaranya sendiri, bukan persona apa pun—ia berbicara.
"Nama saya Ratri Wulandari," katanya, dan suaranya, lewat pengeras suara raksasa, terdengar sampai ke ujung lapangan. "Saya anak penjual rujak dari Ketapang. Saya biduan orkes keliling. Malam ini saya nggak akan goyang. Saya nggak akan pakai baju yang ada di poster itu—" ia menunjuk ke belakang, ke wajah palsunya, "—karena itu bukan saya. Saya cuma mau nyanyi. Satu lagu. Lagu yang ibu-ibu kita nyanyiin pas nungguin bapak-bapak pulang melaut. Kalau setelah ini kalian mau lempar saya turun, silakan. Tapi dengerin dulu."
Kerumunan agak diam, lebih karena heran daripada tertarik. Di belakang, Ratri mendengar Paman Darto, yang sudah duduk di posnya, mulai memainkan intro di keyboard tua—nada yang sederhana, melankolis, sama sekali bukan dentuman koplo panas yang biasa menggetarkan festival. Pak Hari menyusul dengan sulingnya, suara yang melayang tipis di atas lapangan, dan Cak Salim masuk dengan gendang yang halus, bukan menghentak.
Dan Ratri mulai menyanyi.
Suara serak-basahnya, dengan cengkok yang adalah caranya menangis tanpa menangis, mengalir ke atas lautan manusia. Lagu tentang nelayan yang pergi, tentang istri yang menunggu di tepi pantai, tentang laut yang memberi dan mengambil, tentang sabar dan rezeki dan pulang. Ia menyanyikannya bukan untuk mengundang saweran, bukan untuk membangkitkan birahi kerumunan, tapi untuk sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam—untuk membuat orang ingat.
Di barisan depan, seorang lelaki tua yang mabuk dan tadi berteriak minta goyang, perlahan menutup mulutnya. Seorang ibu yang menggendong anaknya berhenti bergoyang dan mulai mendengarkan. Cemooh mereda. Lapangan yang tadi riuh oleh seruan dan siulan mulai tenang, satu lapis demi satu lapis, seperti air yang surut, seperti malam hujan di lapangan bola dulu—tapi kali ini di panggung terbesar dalam hidup Ratri, di depan ribuan orang dan kamera yang menyiarkan langsung ke ribuan layar lagi.
Ratri memejamkan mata, dan menyanyi, dan untuk pertama kali di atas panggung sebesar ini, ia tidak menjual apa pun selain suaranya. Di belakangnya, poster palsu itu menjulang, tapi di depannya, ribuan orang mulai mendengar—bukan wajah di poster, tapi perempuan nyata yang berdiri di tengah panggung dengan kebaya biru sederhana, merebut kembali setiap inci dirinya yang pernah dicuri.