Mereka berkumpul di gudang ikan milik bapak Yusuf pada malam sebelum festival—malam yang terasa panjang dan padat, dengan udara yang bau ikan asin dan laut, dan satu lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit. Tapi malam ini gudang itu tidak sepi. Ratri menatap orang-orang yang datang, dan untuk sesaat ia harus menelan haru.
Ada orkesnya sendiri—Cak Salim, Dul, Pak Kasdi, Yusuf, dan Paman Darto yang dipapah duduk di kursi plastik, keyboard tua di pangkuannya. Pak Hari, yang akhirnya datang membawa sulingnya yang tak tega ia jual, duduk di sudut, menyatakan tanpa kata bahwa ia ikut. Ada Selvi, yang datang naik bus dari kabupaten sebelah, duduk dengan tenang di antara mereka, biduan bintang yang kini memilih kembali ke gudang ikan. Ada Bu Wening dengan map-mapnya, dan Laras dengan kamera dan buku catatannya. Dan ada orang-orang dari orkes sekutu—Pak Munir dari Cahaya Bahari, Mbak Yanti dari Nada Pantai, Nining, dan dua-tiga personel dari orkes Banyuglugur dan Jangkar yang ikut sirkuit bersama.
Mursid bisa mencekik satu orkes, kata Cak Misnan dulu di warungnya. Tak bisa sepuluh.
Dan kini, di gudang ikan ini, ada lebih dari sepuluh.
"Kita nggak punya panggung sebesar Hendra," kata Ratri, berdiri di tengah mereka. "Kita nggak punya lampu LED, nggak punya sound mahal, nggak punya nama besar di kota. Tapi kita punya sesuatu yang dia nggak punya." Ia menatap wajah-wajah lelah tapi keras itu. "Kita punya kebenaran. Dan kita punya satu sama lain."
Mereka menyusun rencana sampai larut. Bu Wening menjelaskan batas-batas hukum: Ratri boleh naik panggung jika diizinkan, tapi tak boleh dipaksa mengenakan apa pun atau melakukan apa pun di luar kehendaknya—dan jika dipaksa, itu justru bukti kuat di pengadilan. Laras akan menyiarkan langsung lewat ponselnya, sebagai jaring pengaman: jika ada yang menutupi atau memotong, masih ada rekaman jujur yang tak bisa dipelintir. Yusuf, yang punya kenalan di antara operator sound—banyak dari mereka pekerja lepas yang juga muak diperas—akan mencoba memastikan suara Ratri tetap mengalir apa pun yang terjadi.
"Tapi yang paling penting," kata Selvi, ketika rencana teknis selesai, "adalah apa yang kamu nyanyiin, Ratri. Dan gimana kamu naik."
Ratri mengangguk. Ia sudah memilih lagunya—bukan lagu yang dibuat Hendra untuk menjual, bukan lagu koplo panas yang ditulis untuk mengundang saweran. Lagu lama, lagu yang ibu pamannya dulu nyanyikan, tentang nelayan yang pergi melaut dan menunggu pulang, tentang laut yang memberi dan mengambil, tentang sabar dan nasib. Lagu yang membumi, yang ia tahu di tulang-tulangnya, yang bisa ia bawakan dengan cengkok yang adalah caranya menangis tanpa menangis.
"Aku naik pakai baju biasa," kata Ratri. "Kebaya yang dijahitin Bu Wening dulu. Sederhana. Bersih. Aku naik sebagai Ratri Wulandari, anak penjual rujak dari Ketapang. Bukan 'bintang goyang' di poster itu."
Malam semakin larut. Satu per satu orang mulai mengantuk, bersandar di tumpukan jaring, mendengkur halus. Tapi Ratri tak bisa tidur. Ia keluar dari gudang, berjalan ke tepi pantai yang dekat, dan duduk di pasir yang dingin.
Di sana, di bawah langit yang penuh bintang dan suara ombak yang tak pernah berhenti, ia membuka ponselnya dan menatap dua gambar bergantian.
Yang pertama: poster festival, wajah palsunya, riasan tebal, BINTANG UTAMA, tubuh yang dijepret untuk menjual. Wajah yang dibuat Hendra. Ratri yang tak pernah ada.
Yang kedua: foto yang diambil Laras beberapa minggu lalu, di panggung pasar, Ratri dengan baju biasa, memegang pengeras suara butut, mata terpejam, mulut terbuka menyanyikan sesuatu, dan di sekelilingnya orang-orang pasar yang berhenti berjualan untuk mendengar. Wajah yang lelah, berkeringat, tanpa riasan. Tapi wajah yang nyata. Ratri yang sesungguhnya.
Dua poster. Dua perempuan. Satu palsu, satu nyata.
Dan untuk pertama kali sejak ia berdiri mematung di depan poster vulgar itu berbulan-bulan lalu, Ratri tahu jawabannya dengan jernih. Dulu, ketika ia pertama melihat wajah palsunya, ia tak mengenali dirinya sendiri, dan ketidakkenalan itu menghancurkannya. Sekarang ia tahu persis siapa dirinya. Dan besok, di hadapan ribuan orang dan kamera siaran langsung, di panggung yang Hendra bangun untuk memenjarakannya, ia akan menunjukkan yang mana yang nyata.
Ia mendengar langkah di belakangnya. Selvi, yang juga tak bisa tidur, datang dan duduk di sebelahnya di pasir.
"Kamu takut?" tanya Selvi pelan.
"Takut," aku Ratri jujur. "Aku takut Hendra bikin sesuatu. Aku takut penonton kecewa karena nggak ada goyang. Aku takut suaraku nggak cukup." Ia menarik napas. "Tapi aku lebih takut kalau aku nggak naik. Lebih takut hidup sambil tau aku diem aja pas ada kesempatan jadi diriku sendiri di depan banyak orang."
Selvi tersenyum di kegelapan. "Itu yang aku rasain pas mutusin keluar dari Hendra. Bukan berani. Cuma lebih takut nyesel daripada takut hancur." Ia menatap laut. "Besok, kita berdiri sama-sama. Dua biduan yang lepas. Apa pun yang terjadi."
Mereka duduk diam, dua perempuan di tepi pantai yang sama, di bawah langit yang sama, mendengar ombak yang sama. Di kejauhan, di pusat kota, panggung megah Hendra sudah berdiri dengan lampu-lampu yang dipasang separuh, menunggu hari esok. Dan di gudang ikan di belakang mereka, orang-orang yang menolak tunduk tidur lelap, mengumpulkan tenaga untuk satu malam yang akan menentukan banyak hal.
Ratri menyimpan ponselnya, memandang kedua gambar itu untuk terakhir kali sebelum layar gelap. Lalu ia berbisik, lebih kepada laut daripada kepada Selvi, "Besok aku rebut panggung itu. Bukan buat ngalahin Hendra. Buat ngebuktiin yang layak dijual itu suara, bukan tubuh." Ombak menjawab dengan deburnya, dan Ratri merasakan, untuk pertama kali, bahwa ia siap.