Hendra tetap menggelar festival itu. Itulah yang membuat Ratri terkejut—bukan karena ia berani, tapi karena ia nekat. Setelah kehilangan Selvi, setelah utang gagal jadi senjata, setelah rekanan menjauh dan artikel Laras mencoreng namanya, Hendra justru memutuskan maju terus. Festival Koplo Akbar tetap dipasang, panggung megah tetap didirikan di lapangan luas di pusat kota, lampu LED tetap dipesan, dan poster bercitra vulgar dengan wajah palsu Ratri tetap terpampang di sepanjang jalan masuk kota.
"Dia gila," kata Yusuf, ketika mereka berdua berdiri di depan salah satu poster itu, ditempel di papan reklame besar di perempatan. Wajah Ratri di sana—bukan wajahnya, riasan tebal, pose yang membuat perutnya mual—dengan tulisan besar BINTANG UTAMA dan tanggal festival.
Ratri menatap poster itu lama. Tak ada lagi rasa malu yang dulu membuatnya mematung. Yang ada sekarang adalah kemarahan yang dingin dan jernih, dan di bawah kemarahan itu, sebuah keputusan yang mulai mengeras.
"Bukan gila," kata Ratri pelan. "Dia putus asa. Ini taruhan terakhirnya. Dia tau perkaranya bisa kalah, citranya udah retak, Selvi udah lepas. Festival ini cara dia bilang ke dunia bahwa dia masih kuat. Kalau festival ini sukses, dia bisa pamer ke rekanannya. Kalau gagal—" Ratri menelan ludah, "—dia hancur total."
Laras meneleponnya sore itu dengan kabar yang memperjelas situasi. "Mbak, aku dapet info dari dalam," katanya. "Hendra ngaku ke MC sama panitia bahwa Ratri bakal tampil sesuai kontrak. Dia masih ngotot kontraknya berlaku, walau lagi disengketakan. Secara hukum dia salah—putusan sela udah meragukan klausa itu. Tapi dia nekat ngandelin fakta bahwa orang awam nggak ngerti hukum. Buat penonton, buat rekanan, poster itu berarti Ratri tampil. Kalau Mbak nggak muncul, dia bakal bilang Mbak ingkar janji, kabur, nggak profesional. Dia bakal balik narasi—lagi."
Dan di situlah jebakan Hendra yang sesungguhnya. Bukan lagi soal hukum—soal hukum, Ratri mulai menang. Ini soal citra, medan tempur Hendra. Jika Ratri diam di rumah, poster itu akan tetap memajang wajah palsunya, dan ketika ia tak muncul, Hendra bisa berkata pada ribuan orang dan kamera: lihat, biduan tak tahu diri ini ingkar janji, kabur dari tanggung jawab. Narasi yang sudah pernah ia putar, dan bisa ia putar lagi.
Malam itu Ratri tak bisa diam. Ia berjalan keliling kampung, menyusuri jalan setapak menuju pantai, duduk di atas perahu nelayan yang ditambatkan di pasir, mendengarkan ombak. Pilihan-pilihan itu berputar di kepalanya seperti gasing.
Pilihan pertama: diam di rumah. Aman secara fisik, tapi membiarkan poster palsu itu berbicara untuknya, membiarkan Hendra memutar narasi terakhir kalinya, membiarkan ribuan orang melihat wajah yang bukan wajahnya dan percaya bahwa itu Ratri yang sebenarnya.
Pilihan kedua: pergi ke pengadilan, minta penundaan paksa, melarang festival. Tapi Bu Wening sudah memperingatkan—proses itu lambat, dan festival sudah di depan mata. Hukum bergerak lebih lambat dari nekatnya Hendra.
Dan pilihan ketiga, yang mulai bersinar di kepalanya seperti pijar kecil yang menolak padam: hadir. Bukan menyerah. Bukan kabur. Hadir di tempat Hendra paling kuat, di panggungnya sendiri, di medan citranya, dan merebutnya.
Ratri teringat malam hujan di lapangan bola dulu—penonton mabuk yang minta lagu panas, listrik korslet, dan dirinya yang menjaga garis, menaklukkan kerumunan lewat suara, bukan tubuh. Ia teringat panggung pasar tanpa lampu tanpa goyang, hanya suara, dan orang-orang yang diam mendengarkan. Ia teringat kata Selvi: kamu nunjukin ada pilihan ketiga.
Selalu ada pilihan ketiga.
Keesokan harinya ia mengumpulkan orang-orang yang ia percaya. Yusuf, Paman Darto yang sudah cukup pulih untuk duduk tegak meski masih lemah, Cak Salim, Dul, Pak Kasdi. Dan lewat telepon, Bu Wening, Laras, dan Selvi.
"Aku mau naik panggung festival itu," kata Ratri.
Ruangan—gudang ikan tempat mereka latihan—langsung riuh oleh protes.
"Itu jebakan, Nduk!" kata Cak Salim. "Begitu kamu naik, kamu ngakuin kontraknya berlaku. Kamu masuk perangkapnya!"
"Dia bakal maksa kamu pakai kostum itu, goyang itu," kata Dul. "Di depan ribuan orang. Disiarin langsung."
Ratri mengangkat tangan, dan mereka diam. "Dengerin dulu," katanya. "Aku nggak mau naik sebagai 'dia' di poster. Aku mau naik sebagai aku. Tanpa kostum itu. Tanpa goyang yang dia minta. Aku mau nyanyi lagu yang aku pilih sendiri. Di panggung dia, di medan dia, di depan kamera dia." Ia menatap satu per satu. "Selama ini Hendra yang nentuin gimana orang ngeliat aku. Lewat poster, lewat video yang dipotong, lewat wawancara yang dia plintir. Aku nggak pernah punya kesempatan nunjukin diriku yang sebenernya ke banyak orang sekaligus. Festival ini—dengan semua kamera dan ribuan penonton itu—justru kesempatan itu."
Di telepon, suara Bu Wening terdengar berhati-hati. "Ratri, secara hukum ini berisiko. Tapi—" ia berhenti, "—kalau kamu naik dan justru NOLAK semua yang ada di kontrak yang disengketakan itu, kamu nggak ngakuin kontraknya. Kamu malah ngebuktiin di depan ribuan saksi bahwa kontrak itu maksa kamu jadi sesuatu yang bukan kamu. Itu... itu sebenernya bisa nguatin perkara kita."
Suara Selvi menyusul, tenang dan mantap. "Aku ikut, Ratri. Aku berdiri di panggung itu sama kamu. Biar dunia liat dua biduan yang lepas dari Hendra, nyanyi sebagai diri sendiri."
Ratri merasakan dadanya menghangat. Ia menatap Paman Darto, yang sejak tadi diam. Lelaki tua itu, yang reyot dan keras kepala, yang dulu menyerah saat orkes vakum lalu bangkit lagi, kini menatap keponakannya dengan mata yang berkaca.
"Eyangmu pernah bilang," kata Paman Darto pelan, suaranya serak, "panggung sejati dibangun, bukan dipinjam. Tapi kadang, Nduk—" ia tersenyum lemah, "—kadang kamu harus naik ke panggung pinjaman orang sekali, buat ngerebut yang jadi milikmu. Buat nunjukin ke semua orang kamu siapa. Habis itu, baru kamu bangun panggungmu sendiri." Ia mengangguk. "Naik, Nduk. Tapi naik sebagai dirimu. Bawa cengkokmu. Jangan bawa goyang mereka."
Ratri menelan ludah, lalu mengangguk. Keputusan sudah diambil. Ia tak akan diam, tak akan kabur. Ia akan hadir, di tempat Hendra paling kuat, dan mengubah jebakan menjadi panggung pembuktian. Di luar gudang, laut berdebur, dan Ratri merasakan ketakutan dan keberanian bercampur di dadanya menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang menyala.