Bu Wening membaca kuitansi-kuitansi itu satu per satu, kacamatanya melorot di hidung, jari telunjuknya bergerak di sepanjang baris angka dan tanggal. Pak Sahlan duduk kaku di kursi tamu kantor LBH, topinya dipegang di pangkuan, sesekali melirik tumpukan map di sekeliling ruangan seakan map-map itu bisa menggigit. Ratri di sebelahnya, menahan napas.
Setelah lama, Bu Wening meletakkan kuitansi terakhir dan menyandarkan punggungnya. "Ratri," katanya, "Hendra bikin kesalahan."
"Kesalahan apa, Bu?"
Bu Wening menata kuitansi-kuitansi itu di atas meja seperti orang menjelaskan kartu. "Ini kuitansi pinjamanmu ke Bu Yati. Bunga dua puluh persen sebulan. Itu sendiri sudah melanggar—bunga setinggi itu bisa dianggap riba yang mencekik, dan dalam beberapa hal bisa dibatalin atau dikurangin pengadilan. Tapi itu urusan Bu Yati." Ia mengangkat kertas dari Pram. "Yang ini lebih penting. Hendra ngaku udah beli utangmu dari Bu Yati. Dalam hukum, mengalihkan utang dari satu orang ke orang lain itu ada aturannya. Yang berutang—kamu—harus dikasih tau secara resmi. Ada pemberitahuan. Ada persetujuan dalam hal-hal tertentu. Nggak bisa cuma diam-diam beli, terus tiba-tiba ngirim orang ngancam."
Ratri mencondongkan tubuh. "Jadi caranya salah?"
"Caranya nggak sah," kata Bu Wening tegas. "Pertama, kamu nggak pernah diberi pemberitahuan resmi. Kedua—dan ini yang bikin Hendra benar-benar masuk lubang—dia pakai pembelian utang itu buat maksa kamu naik panggung. Itu bukan nagih utang. Itu pemerasan, Ratri. Dia bilang, naik festival atau gerobak disita. Utang sama kewajiban panggung itu dua hal yang dia campur jadi satu alat tekanan. Di mata hukum, itu jauh lebih berbahaya buat dia daripada buat kamu."
Untuk sesaat Ratri tak percaya. Selama ini Hendra selalu satu langkah di depan, selalu lebih licin, selalu menguasai medan yang tak ia pahami. Dan kini, dalam kepanikannya, dalam keputusasaannya setelah kehilangan Selvi, ia melangkah terlalu jauh.
"Tapi, Bu," kata Ratri pelan, "bunga dua puluh persen itu... aku memang minjem. Itu memang utangku. Apa nggak kelihatan jelek kalau aku nggak bayar?"
Bu Wening menatapnya dengan sesuatu yang menyerupai kebanggaan. "Itu pertanyaan yang bagus, dan itu sebabnya kita nggak akan main kotor. Kita nggak bilang kamu nggak punya utang. Kamu punya. Tapi kita bilang dua hal: utangmu yang sah itu cuma pokoknya, bukan bunga mencekik dua puluh persen yang nggak masuk akal. Dan pengalihan utang oleh Hendra plus pemaksaan naik panggung itu cacat dan melanggar." Ia mengetuk meja. "Kita bayar yang memang adil. Kita lawan yang memang curang. Itu cara bersih, Ratri. Dan cara bersih itu justru senjata paling kuat di tangan kita, karena Hendra nggak punya itu."
Maka mereka menyusun langkah. Bu Wening akan mengirim surat resmi—menuntut bukti sah pengalihan utang, mempersoalkan bunga mencekik, dan mencatat upaya pemerasan yang dilakukan utusan Hendra di depan saksi, yaitu Pak Sahlan sendiri. Tapi Ratri tahu surat resmi saja tidak cukup. Senjata Hendra selama ini bukan hukum, melainkan citra. Dan citra hanya bisa dilawan dengan cahaya.
Ia menemui Laras malam itu di sebuah warung kopi pinggir jalan, lampu temaram, suara koplo dari pengeras suara warung sebelah. Ratri menceritakan semuanya—Pram, pembelian utang, ancaman gerobak. Laras mendengarkan dengan mata yang makin tajam, lalu menutup buku catatannya.
"Mbak," katanya hati-hati, "ini cerita yang kuat. Manajer kota beli diam-diam utang rentenir seorang biduan kampung, terus pakai itu buat maksa dia naik panggung yang merendahin dia. Ini—ini bisa ngebongkar topeng 'pelindung biduan' yang dia bangun di wawancara dulu." Ia menatap Ratri. "Tapi aku mau tanya dulu. Kamu yakin mau ini diterbitin? Ini bakal nyebut soal utangmu. Orang bakal tau kamu pernah minjem rentenir. Sebagian bakal nilai kamu."
Ratri memutar gelas kopinya. Ia teringat pelajaran lama, ketika artikel pertama Laras dibajak jadi gosip, ketika kebenaran bisa dibelokkan jadi sensasi. Ia tahu risiko membuka aibnya sendiri ke publik. Tapi ia juga tahu—diam tak akan menyelamatkannya. Diam hanya membiarkan Hendra terus memakai bayang-bayang sebagai senjata.
"Tulis," kata Ratri akhirnya. "Tapi tulis jujur. Aku memang minjem rentenir. Itu bodoh, itu nekat, dan itu salahku. Aku ngelakuin itu buat nolong istri Topo yang sakit, tapi tetep aja itu jalan yang salah. Tulis itu apa adanya." Ia menatap Laras lurus. "Karena yang aku lawan bukan rasa malu. Yang aku lawan adalah cara Hendra ngubah pertolongan jadi rantai. Orang boleh tau aku salah minjem. Tapi orang juga harus tau, salahku yang kecil itu dibeli orang yang lebih besar buat maksa aku jadi barang."
Laras menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Itu," katanya, "adalah cara nulis cerita yang nggak bisa dibajak jadi gosip. Karena kamu duluan yang jujur."
Artikel itu terbit tiga hari kemudian, ditulis dengan martabat, tanpa sensasi, dengan judul yang sederhana dan menusuk: tentang utang yang dibeli untuk membuat sandera. Kali ini akun-akun gosip lama tak bisa membelokkannya, karena tak ada yang disembunyikan untuk digali—Ratri sudah mengakui sendiri sisi gelapnya, dan justru itu yang membuat ceritanya tak bisa dijatuhkan.
Reaksinya datang cepat. Rekanan-rekanan Hendra, yang sudah goyah sejak Selvi keluar, kini menjauh dengan lebih nyata. Seorang pengusaha penyumbang festival menarik dukungannya diam-diam. Komentar publik, yang dulu pernah dipelintir Hendra untuk menyerang Ratri, kini berbalik. Topeng "pelindung biduan" yang dibangun Hendra dengan susah payah retak di hadapan satu fakta sederhana yang tak bisa ia bantah: ia membeli utang seorang perempuan kecil untuk memaksanya tunduk.
Dan untuk pertama kali sejak Pram datang ke gerobak rujak bapaknya, Ratri merasakan rantai itu mengendur. Bukan putus—belum—tapi mengendur. Bu Wening menelepon malam itu dengan nada yang langka, hampir gembira. "Ratri," katanya, "pengacara Hendra baru kirim surat. Mereka mundur dari urusan utang. Mereka nggak berani lanjutin. Pemerasan itu terlalu jelas, dan publikasinya bikin mereka kalah sebelum mulai." Ia berhenti. "Senjata jebakan finansial terakhirnya udah dilucutin, Ratri. Dia nggak bisa lagi ngancem gerobak bapakmu, nggak bisa lagi pegang kamu lewat utang."
Ratri menutup telepon dan duduk lama di teras. Untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, ia tak lagi tersandera uang. Tapi ia tahu Hendra masih punya satu medan lagi, medan yang ia anggap miliknya sepenuhnya: panggung. Festival itu tinggal beberapa hari lagi, dan posternya masih memajang wajah palsu Ratri. Rantai uang telah putus. Tapi pertempuran di atas panggung baru akan dimulai.