Surat itu datang sepuluh hari kemudian, diantar petugas pos ke rumah Pak Sahlan, di pagi yang masih berbau ikan asin dari jemuran tetangga. Amplop coklat resmi, berkop pengadilan negeri, dengan nama Ratri Wulandari diketik rapi di bagian penerima. Pak Sahlan, yang sedang mengiris nanas untuk dagangan rujaknya, mengelap tangan ke celemek sebelum menerimanya, dan tangannya gemetar sedikit saat menyerahkannya pada anaknya.
Ratri membukanya di teras, ditemani Yusuf yang kebetulan datang membawa kabar job. Mereka membacanya bersama, dan wajah Yusuf perlahan mengeras.
"Dia nuntut balik," kata Yusuf. "Hendra. Bukan cuma wanprestasi kontrak lama. Dia tambahin gugatan baru—ganti rugi atas Festival Koplo Akbar yang katanya gagal gara-gara kamu."
Ratri membaca ulang baris demi baris, dan setiap angka di sana membuat perutnya turun. Ganti rugi atas pembatalan sponsor. Ganti rugi atas reputasi acara yang rusak. Ganti rugi atas biaya panggung, sound, dan promosi yang menurut Hendra menjadi sia-sia karena Ratri "merebut panggung secara tidak sah dan merusak susunan acara." Total tuntutannya, dijumlahkan, adalah angka yang tak pernah ia lihat utuh dalam hidupnya—angka yang bisa membeli beberapa rumah seperti milik bapaknya.
"Tapi kan dia sendiri yang matiin sound," kata Yusuf, suaranya naik. "Ribuan orang lihat. Ada videonya. Dia yang naik panggung nyeret-nyeret kamu. Mosok dia yang ngaku dirugiin?"
"Justru itu yang dia putar," sahut Ratri pelan. Ia teringat kata-kata Bu Wening di lapangan kosong itu. Orang terdesak yang dipermalukan publik bukan orang yang mundur. "Di versi dia, sound mati gara-gara aku nyambung sound liar ke genset yang nggak sesuai prosedur. Aku yang bikin acaranya kacau. Aku yang naik panggung pakai lagu yang nggak ada di susunan, ngerusak rundown, bikin sponsor kabur. Dia bakal datang ke pengadilan bukan sebagai orang yang njebak biduan, tapi sebagai pengusaha yang acaranya dirusak talenta nakal."
Mereka membawanya ke kantor Bu Wening sore itu juga. Pengacara muda itu membaca gugatan dengan kening berkerut, sesekali menandai kalimat dengan pulpen, dan ketika selesai ia meletakkan kertas-kertas itu dan menatap Ratri lama sebelum bicara.
"Ini cerdik," katanya akhirnya, nada suaranya campuran antara kagum dan waspada. "Dia geser medan perangnya. Selama ini kita yang nyerang—kita yang bilang kontraknya cacat, klausa citranya batal, ada penyalahgunaan keadaan. Sekarang dia balik jadi penggugat. Dia bikin kamu yang harus bertahan. Dan dia milih sudut yang paling mudah dijual ke hakim: pengusaha yang acaranya dirusak. Hakim lebih gampang ngerti angka kerugian acara daripada konsep abstrak kayak penyalahgunaan keadaan."
"Jadi kita bisa kalah?" tanya Ratri.
Bu Wening tidak langsung menjawab. Ia menyusun kertas-kertas itu jadi tumpukan rapi, lalu menatap Ratri dengan kejujuran yang sejak awal membuat Ratri mempercayainya. "Kalau kita main bertahan, iya, kita bisa kalah. Bertahan itu capek dan rugi terus. Tapi kita nggak akan main bertahan."
Ia menarik selembar kertas kosong dan mulai menggambar bagan kasar. "Strategi kita harus dibalik. Bukan kita yang njelasin festival itu. Biar dia yang njelasin kontraknya. Karena selama kontrak itu masih dianggap sah, semua tuntutannya berdiri di atasnya—wanprestasi lama, ganti rugi festival, semuanya. Tapi kalau kita bisa buktiin kontraknya itu sendiri batal demi hukum dari awal—bukan cuma cacat, tapi batal—maka semua yang dia bangun di atasnya runtuh sekaligus. Festival, wanprestasi, ganti rugi. Semuanya jatuh kalau fondasinya jatuh."
Ratri menatap bagan itu. Ia bukan orang hukum, tapi ia mengerti logika yang sederhana: kalau rumahnya dibangun di atas pasir, kau tak perlu merobohkan tiap kamar—cukup buktikan tanahnya tak pernah layak dibangun.
"Batal demi hukum," Ratri mengulang. "Caranya?"
"Penyalahgunaan keadaan yang sistematis," kata Bu Wening. "Bukan cuma kasusmu. Kalau kita bisa tunjukin ke hakim bahwa Hendra punya pola—formulir izin yang diakal-akali, tanda tangan yang dimanfaatkan saat talenta lagi terdesak, klausa citra yang disembunyikan maksudnya—maka ini bukan sengketa kontrak biasa antara dua pihak. Ini penipuan terstruktur. Dan kontrak yang lahir dari penipuan terstruktur, batal dari akarnya."
Ia menatap Ratri lurus. "Tapi buat itu, aku butuh saksi. Bukan satu. Banyak. Biduan lama yang dijebak. Talenta yang nerima formulir serupa. Selvi yang sekarang udah bebas. Bahkan kalau bisa, orang dalam yang tahu soal jaringan calo dan cara Hendra kerja. Kita harus bawa semua yang pernah dibungkam Hendra ke satu ruang sidang, dan biar hakim lihat sendiri: ini bukan Ratri yang ingkar janji. Ini sistem yang memangsa orang-orang kayak Ratri, dan kebetulan Ratri yang berani melawan."
Ratri merasakan sesuatu mengeras di dadanya. Bukan ketakutan kali ini. Sesuatu yang lebih mirip tekad. Ia teringat perjalanan melacak biduan-biduan lama, wajah perempuan yang kini menjual sayur di pasar dan menolak bicara karena trauma, kontrak-kontrak identik yang ia kumpulkan satu per satu. Semua itu, yang dulu terasa seperti kepingan yang berserakan, kini punya tempat.
"Kalau gitu kita kumpulin mereka," kata Ratri. "Saya tahu di mana sebagian dari mereka. Dan Topo—Topo di Mutiara Pantura tahu soal jaringan calo lebih dari siapa pun. Dia mungkin nggak bisa kembali ke orkes, tapi dia masih saudara saya."
Bu Wening tersenyum, lelah tapi puas. "Nah, itu. Dia geser medan ke pengadilan, kita ikut. Tapi kita nggak datang sendirian. Kita datang bawa semua yang dia kira udah dia bungkam."
Di luar jendela kantor, senja jatuh di atas Situbondo, jingga di langit yang berbau laut. Ratri keluar dengan map gugatan di tangan dan beban baru di dada—tapi juga arah yang jelas. Hendra telah memindahkan perang ke ruang sidang, ke medan yang ia kira aman setelah kalah di panggung. Ratri akan mengikutinya ke sana. Dan kali ini, ia tahu persis siapa yang akan ia bawa.