Ruang sidang itu kecil dan pengap, dengan kipas angin tua yang berputar malas di langit-langit dan jendela yang menghadap parkiran berdebu. Tak ada lampu LED, tak ada sound megah, tak ada ribuan orang. Hanya kursi-kursi kayu yang berderit, meja hakim yang tinggi, dan bau kertas tua bercampur keringat. Ratri duduk di kursi tergugat, mengenakan kebaya yang sama yang ia pakai di panggung festival—bukan untuk gaya, tapi karena itu satu-satunya pakaian baiknya. Bu Wening di sampingnya, map plastiknya kini berganti jadi tumpukan berkas yang tebal.
Di seberang, Hendra duduk dengan pengacaranya—lelaki berjas mahal dengan jam tangan yang berkilat, yang dari sidang-sidang sebelumnya selalu tampak tenang, selalu punya jawaban licin. Tapi pagi itu, ada yang berbeda di wajah Hendra. Ia masih rapi, masih dingin, tapi matanya bergerak gelisah ke pintu setiap kali ada orang masuk—karena ia tahu, dari daftar saksi yang sudah diajukan Bu Wening, siapa saja yang akan datang.
Saksi pertama dipanggil. Seorang perempuan paruh baya, tubuhnya kurus, tangannya kasar oleh kerja. Ratri mengenalinya—biduan lama yang dulu mereka lacak, yang kini berjualan di pasar. Perempuan yang dulu menolak bersaksi karena trauma. Ratri menahan napas. Ia tak menyangka perempuan ini akan datang.
Perempuan itu duduk di kursi saksi, suaranya bergetar di awal, tapi mengeras saat ia mulai bercerita. Tentang bagaimana ia dulu, muda dan lapar, ditawari studio dan panggung oleh Hendra. Tentang formulir yang ia tanda tangani di studio yang pengap, dengan janji bahwa itu hanya "izin tampil." Tentang bagaimana kemudian wajahnya muncul di poster yang tak ia kenali, lagunya diubah jadi murahan, dan ketika ia menolak, ia diancam dengan denda yang tak mungkin ia bayar. Tentang bagaimana ia akhirnya menyerah, meninggalkan panggung selamanya, dan memilih jualan sayur karena itu lebih bermartabat daripada dipaksa jadi orang lain.
"Kenapa Ibu sekarang berani bicara?" tanya Bu Wening lembut. "Padahal dulu Ibu menolak."
Perempuan itu menatap Ratri sejenak, lalu menjawab. "Karena ada yang berani duluan. Saya lihat anak ini"—ia menunjuk Ratri dengan dagunya—"nggak nyerah kayak saya. Kalau dia berani, masa saya yang lebih tua diam terus. Saya capek diam, Bu. Dua belas tahun saya diam."
Pengacara Hendra mencoba mematahkannya—menanyakan apakah ia punya bukti tertulis, apakah ingatannya bisa dipercaya setelah belasan tahun. Tapi perempuan itu mengeluarkan dari tasnya selembar kertas lipat yang sudah menguning: salinan kontrak lamanya. Bu Wening mengangkatnya di samping kontrak Ratri, dan bahkan dari kursi penonton, kesamaan dua dokumen itu terlihat jelas. Klausa yang sama. Susunan kalimat yang sama. Pasal citra yang sama, kata demi kata. Hakim memintanya diserahkan sebagai bukti.
Saksi kedua: seorang talenta muda, masih dua puluhan, yang baru-baru ini menerima tawaran serupa dari Hendra tapi mundur sebelum tanda tangan. Ia membawa foto formulir yang sempat ia potret di ponselnya—formulir yang isinya, lagi-lagi, identik. Pola itu kini bukan dugaan. Ia tertulis, terfoto, terbukti, berulang lintas tahun.
Lalu nama yang membuat seluruh ruang sidang menoleh dipanggil: Selvi.
Selvi masuk dengan kepala tegak, mengenakan pakaian sederhana, jauh dari citra bintang Mutiara Pantura yang dulu. Ia duduk di kursi saksi dan menatap Hendra—orang yang dulu menghidupinya, yang membuatnya jadi bintang terbesar di sirkuit, yang kini ia hadapi sebagai saksi yang memberatkan. Hendra menatapnya kembali, dan untuk sesaat ada sesuatu di mata lelaki itu yang mirip pengkhianatan yang dirasakan orang yang mengira dirinya pemilik.
Selvi tidak goyah. Ia bercerita dengan tenang—bukan dengan kemarahan, tapi dengan ketepatan orang yang sudah lama menyimpan kebenaran ini dan akhirnya bebas mengucapkannya. Tentang sesi-sesi studio. Tentang bagaimana Hendra menjelaskan, dengan ringan seolah itu hal biasa, cara "mengamankan" talenta lewat formulir izin yang ditandatangani saat mereka belum sempat membaca. Tentang bagaimana ia sendiri terjebak bertahun-tahun, dibayar layak tapi tak pernah benar-benar miliknya sendiri, sampai ia melihat Ratri membuktikan ada jalan keluar.
"Saya kehilangan banyak karena bersaksi hari ini," kata Selvi di akhir. "Tapi saya kehilangan lebih banyak kalau diam. Saya cuma mau bilang ke hakim: yang dilakukan Pak Hendra ke Ratri, dilakukan ke saya, ke perempuan yang baru jualan sayur tadi, ke banyak yang nggak berani datang ke sini. Ini bukan satu kasus. Ini caranya kerja."
Dan saksi terakhir hari itu—yang paling tak terduga—adalah kesaksian tertulis dari Topo, yang tak bisa hadir karena terikat di Mutiara Pantura, tapi yang menyusun pernyataan bersaksi tentang jaringan calo, tentang bagaimana Mursid dan Hendra bekerja sama mengatur panggung dan menekan orkes-orkes kecil. Bukan bukti yang menghancurkan sendirian, tapi kepingan terakhir yang melengkapi gambar: ini bukan sekadar penipuan kontrak, ini sistem.
Ketika sidang ditutup hari itu, Ratri duduk di kursinya dengan dada yang penuh sesuatu yang tak ia kenal—bukan kemenangan, karena putusan belum dibacakan, tapi sesuatu yang lebih besar dari kemenangan. Ia tidak lagi sendirian di kursi tergugat. Di belakangnya, di kursi penonton dan di lembar-lembar kesaksian, berbaris semua yang pernah dibungkam Hendra. Perempuan penjual sayur, talenta muda, Selvi, Topo yang jauh di seberang. Suara-suara yang dulu dimatikan, kini berbicara di satu ruang yang sama.
Hendra duduk di seberang, dan untuk pertama kali sejak Ratri mengenalnya, lelaki itu tampak kecil. Ia datang ke ruang sidang ini mengira ia memindahkan perang ke medan yang ia kuasai. Tapi Ratri membawa pasukan yang tak ia sangka masih hidup. Dan satu per satu, mereka membongkar terang-terang apa yang selama ini ia kubur dalam formulir dan janji dan poster vulgar.
Di luar, Bu Wening menggenggam lengan Ratri. "Hakimnya dengar tadi," katanya pelan. "Aku lihat mukanya. Dia dengar."