Kabar itu datang lewat Laras, yang kini punya jaringan di kalangan wartawan dan pengacara kota. Ia menelepon Ratri di sore yang gerah, suaranya menahan sesuatu yang antara kabar baik dan peringatan.
"Pengacara Hendra mundur dari perkara," kata Laras. "Yang berjas mahal itu. Resmi. Dia ajukan pengunduran diri ke pengadilan."
Ratri yang sedang membantu bapaknya mengupas mangga muda hampir menjatuhkan pisau. "Mundur? Kenapa?"
"Reputasi," jawab Laras. "Sidang kemarin diberitakan luas. Aku sendiri yang nulis salah satunya—tentang biduan-biduan yang berbaris bersaksi, tentang pola jebakan yang terbongkar. Setelah itu, beberapa media kota ngangkat juga. Nama Hendra mulai diasosiasikan sama penipuan terstruktur talenta perempuan. Pengacara sekelas dia nggak mau namanya nempel di kasus yang udah jelas mau kalah dan udah jadi sorotan publik buruk. Buat dia, klien satu kalah nggak sebanding sama reputasi yang rusak di mata klien-klien lain yang lebih besar. Jadi dia tinggalin Hendra."
Ratri terdiam, mencerna. Lelaki berjas mahal itu—yang selama berbulan-bulan mematahkan setiap senjata mereka, yang membuat rekaman Selvi gugur, yang membuat sidang demi sidang miring ke pihak Hendra dengan ketenangan yang membuat Ratri putus asa—kini meninggalkan kapal yang ia tumpangi. Bukan karena ia berubah hati. Karena ia menghitung, dengan dingin, bahwa Hendra sudah jadi beban, bukan aset.
Malam itu Ratri datang ke kantor Bu Wening membawa kabar itu, mengira akan disambut kelegaan. Tapi Bu Wening, setelah mendengarnya, justru duduk lebih tegak dan wajahnya mengeras menjadi waspada.
"Bagus buat perkara," katanya. "Hendra sekarang harus hadapi sidang dengan pembela seadanya, mungkin pengacara murah yang nggak nguasain materi, atau bahkan tanpa pengacara sama sekali. Itu bikin posisi hukum dia lemah banget. Tapi—" ia berhenti, mencari kata yang tepat, "—aku justru jadi lebih nggak tenang."
"Kenapa, Bu? Bukannya ini berarti kita hampir menang?"
Bu Wening berdiri, berjalan ke jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala. "Selama ini, yang nahan Hendra tetap di jalur hukum adalah pengacaranya. Pengacara itu, secanggih apa pun liciknya, dia orang yang main di dalam aturan. Dia bikin Hendra ngelawan pakai pasal, pakai bukti, pakai prosedur. Ada batasnya. Sekarang batas itu hilang."
Ia berbalik menghadap Ratri. "Orang yang terdesak, dipermalukan di depan publik, ditinggal pengacaranya, dan ngerasa bakal kalah di pengadilan—orang kayak itu paling berbahaya, Ratri. Karena dia nggak punya lagi yang dijaga. Reputasi udah hancur. Bisnis udah goyah. Bintang-bintangnya udah kabur. Kalau dulu dia mainnya halus—poster, citra, formulir, beli utang diam-diam—itu karena dia masih punya banyak yang dipertaruhkan, dia masih hitung-hitungan. Orang yang udah nggak punya apa-apa lagi buat dijaga, dia bisa nekat dengan cara yang kita nggak bisa tebak."
Ratri merasakan dingin merayap di tengkuknya. Ia teringat malam Hendra menarik steker, wajah lelaki itu yang sudah tak punya topeng, murni amarah, murni keputusasaan, murni nekat orang yang kehilangan kendali. Itu Hendra ketika ia masih punya festival, masih punya nama, masih punya pengacara. Bagaimana Hendra ketika semua itu sudah hilang?
"Jadi kita harus gimana, Bu?"
"Kita tetap di jalur bersih," kata Bu Wening tegas. "Itu kekuatan kita dari awal, dan itu nggak boleh kita lepas sekarang justru pas hampir menang. Tapi kita harus hati-hati. Jangan rayakan terlalu cepat. Jangan kasih dia alasan buat bilang kita yang nyerang dia, kita yang menghina dia, kita yang ngerusak hidupnya. Karena begitu kita kasih dia alasan itu, dia bakal pakai—dan dia jago banget muter cerita." Ia menatap Ratri dalam-dalam. "Dan satu lagi. Jaga dirimu. Jaga bapakmu. Jaga orang-orang dekatmu. Aku nggak bilang dia bakal ngapa-ngapain. Tapi orang terdesak itu nggak bisa diprediksi. Lebih baik waspada dan nggak kejadian apa-apa, daripada lengah."
Ratri pulang malam itu dengan perasaan campur aduk. Ia ingin merasa lega—pengacara hebat lawannya menyerah, perkara berbalik, kabar baik dari segala arah. Tapi peringatan Bu Wening menggantung di dadanya seperti awan sebelum hujan. Ia melewati pasar yang sudah tutup, lapak-lapak kosong di bawah lampu temaram, dan tanpa sadar ia teringat perempuan penjual sayur yang bersaksi kemarin—perempuan yang dulu, seperti dirinya, mengira sudah menang ketika berhasil lepas, tapi membayarnya dengan dua belas tahun diam dan trauma yang tak terhapus.
Di rumah, bapaknya sudah tidur, tapi pintu depan masih ia kunci dua kali malam itu—sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia berdiri sejenak di teras, mendengar suara laut yang jauh dan gonggongan anjing di kampung sebelah, lalu masuk dan duduk di samping ranjang bapaknya, memandang dada tua itu naik turun dalam tidur.
Ia hampir menang. Ia merasakannya, seperti merasakan bait terakhir sebuah lagu mendekat. Tapi Bu Wening benar: bait terakhir adalah bagian yang paling berbahaya untuk salah nada. Orang yang sudah kehilangan segalanya tidak lagi bermain dengan aturan. Dan Ratri tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa Hendra belum selesai—justru karena ia sudah tak punya apa-apa lagi untuk kalah.