Ia datang sendiri, tanpa janji, di sore yang berawan tebal sebelum putusan dibacakan tiga hari lagi. Ratri sedang menutup lapak rujak bapaknya yang sudah ia ambil alih sore-sore akhir ini—membiarkan Pak Sahlan beristirahat—ketika sebuah mobil berhenti di ujung gang. Hendra keluar, sendirian, tanpa pengawal, tanpa pengacara, tanpa utusan seperti Pram yang dulu ia kirim. Hanya dirinya, dengan baju yang masih rapi tapi terlihat lebih kusut dari biasanya, wajah yang lebih tirus, mata yang lebih tua.
Ratri menegang. Ia teringat peringatan Bu Wening. Orang terdesak paling berbahaya. Tapi Hendra berhenti di jarak yang sopan, mengangkat kedua tangan sedikit seolah menunjukkan ia tak membawa apa-apa.
"Aku cuma mau ngomong," katanya. "Lima menit. Habis itu aku pergi."
Di sekitar mereka, kampung berjalan seperti biasa—ibu-ibu menjemur ikan, anak-anak main bola di gang, suara televisi dari rumah-rumah. Ratri tidak takut di tempat seramai ini. Ia mengangguk, dan mereka berdiri di samping gerobak rujak yang catnya mengelupas, dua orang yang telah saling menghancurkan selama berbulan-bulan, kini berhadapan tanpa panggung dan tanpa pengacara.
Hendra menatap gerobak itu, lalu menatap Ratri. Tak ada lagi topeng pengusaha tenang yang dulu ia pakai. Yang berdiri di depan Ratri adalah lelaki yang lelah, yang kalah, yang tahu ia akan kalah lebih besar lagi tiga hari lagi.
"Aku tawarin damai," kata Hendra langsung. "Sekali ini, jujur. Bukan trik. Kamu cabut semua gugatan. Aku cabut semua tuntutanku—wanprestasi, ganti rugi festival, semuanya. Kontrakmu aku bebasin, hari ini juga, hitam di atas putih. Dan aku kasih kamu uang." Ia menyebut angka. Angka yang besar. Angka yang bisa membeli sound milik sendiri untuk orkes, menebus gerobak dari rentenir berkali lipat, mengganti gerobak bapaknya yang reyot, membiayai pengobatan Paman Darto, dan masih bersisa. "Aku cuma minta satu hal. Jangan biarin putusan itu dibaca. Jangan biarin ada catatan resmi yang bilang aku nipu. Namaku—itu aja yang aku minta. Selamatin namaku."
Ratri terdiam. Ia menatap lelaki yang dulu datang ke kampungnya membawa kontrak dan janji studio, yang mengubah liriknya, yang menempelkan wajahnya di poster yang tak ia kenali, yang membeli utangnya diam-diam, yang menarik steker di tengah lagunya. Kini lelaki yang sama berdiri di samping gerobak rujak bapaknya, memohon.
Ada sesuatu di dadanya yang bergetar mendengar angka itu. Ia bukan orang suci. Ia tahu apa artinya uang sebesar itu bagi orkes yang masih disolder belasan kali soundnya, bagi bapak yang masih mendorong gerobak reyot, bagi rentenir yang masih harus ia bayar. Sesaat, sungguh, sesaat saja, ia membayangkan menerimanya—mengakhiri semua ini, pulang dengan kemerdekaan dan uang sekaligus, tak perlu lagi duduk di ruang sidang yang pengap.
Lalu ia teringat perempuan penjual sayur yang bersaksi kemarin, tangan kasarnya, dua belas tahun diamnya. Ia teringat talenta muda yang membawa foto formulir di ponselnya. Ia teringat biduan yang menghilang, yang menyerah total pada dunia panggung. Ia teringat gadis-gadis kampung pemalu di luar sana, yang sekarang ini, hari ini, mungkin sedang ditawari studio dan panggung oleh orang seperti Hendra, dan akan menandatangani formulir yang sama tanpa membaca.
"Kalau saya ambil uang itu," kata Ratri pelan, suaranya tenang, "nama sampeyan selamat. Putusan nggak dibaca. Nggak ada catatan resmi yang bilang sampeyan nipu. Dan besok, lusa, tahun depan, sampeyan datang ke kampung lain, ketemu anak perempuan yang suaranya bagus, yang lagi lapar, yang bapaknya jual rujak kayak bapak saya. Dan sampeyan sodorin formulir yang sama. Karena nggak ada apa-apa yang ngehalangin sampeyan. Saya udah ambil uangnya, saya udah diam."
Hendra membuka mulut, tapi Ratri belum selesai.
"Dulu saya lawan sampeyan karena saya marah. Karena sampeyan njebak saya, mempermalukan saya, ngerebut suara saya. Itu soal saya sama sampeyan. Kalau cuma itu, mungkin saya ambil uangnya. Capek saya, Pak. Sumpah, capek." Suaranya bergetar sedikit. "Tapi sekarang ini bukan soal saya lagi. Kemarin di sidang ada perempuan jual sayur dua belas tahun diam. Ada Selvi yang kehilangan panggung gara-gara berani ngomong. Ada banyak yang nggak berani datang. Kalau saya ambil uang sampeyan, saya khianatin mereka semua. Saya bikin keberanian mereka jadi sia-sia."
Ia menggeleng, pelan tapi pasti. "Saya nggak butuh uang sampeyan buat selametin nama sampeyan. Nama sampeyan, biar putusan yang ngomong. Biar tercatat. Biar besok kalau ada yang nawarin formulir lagi, anak itu bisa cari nama sampeyan dan tahu siapa sampeyan sebenarnya. Itu yang saya beli dengan nolak uang sampeyan. Bukan dendam. Perlindungan buat yang belum dijebak."
Hendra menatapnya lama. Sesuatu di wajahnya runtuh—bukan amarah kali ini, tapi pengertian, pahit dan terlambat, bahwa perempuan yang ia kira sudah ia kalahkan sejak awal sebenarnya tak pernah bermain di permainan yang sama dengannya. Ia mengira semua orang punya harga. Ia salah pada satu orang ini, dan kesalahan itu menghancurkannya.
Ia tidak membantah. Tidak memohon lagi. Ia hanya mengangguk sekali, sangat pelan, lalu berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya. Bahunya, dari belakang, tampak seperti bahu orang yang memikul sesuatu yang tak bisa lagi ia letakkan.
Ratri berdiri di samping gerobak rujak yang catnya mengelupas, menatap mobil itu pergi sampai hilang di ujung gang. Ia merasa gemetar, lelah, dan—anehnya—ringan. Ia baru saja menolak uang lebih banyak dari yang pernah ia lihat seumur hidup. Tapi ia tahu, dengan kepastian yang menenangkan, bahwa ia menolaknya bukan untuk dirinya. Idealismenya, yang dulu hanya soal harga dirinya sendiri, kini punya tujuan yang lebih besar darinya. Dan itu, ia sadari, membuatnya untuk pertama kalinya benar-benar tak terkalahkan.