Mursid datang ke warung Cak Misnan pada siang yang terik, mengenakan kemeja batik yang lebih bagus dari biasanya, rambut disisir rapi, dengan senyum lebar yang dulu membuat Ratri waspada dan kini hanya membuatnya lelah. Ia memesan kopi, duduk tanpa diundang di meja tempat Ratri dan Yusuf sedang membahas jadwal job, dan langsung bicara seolah mereka teman lama yang baru terpisah sebentar.
"Ratri," katanya, hangat, "Mbak Ratri sekarang. Aku ikut seneng, lho, kamu menang. Beneran. Dari dulu aku ngerasa kamu beda dari yang lain. Punya suara. Punya nyali. Aku selalu bilang gitu ke orang-orang."
Yusuf hampir tertawa sinis, tapi Ratri menahannya dengan tatapan. Ia tahu permainan ini. Mursid adalah calo paling licin di kabupaten bukan karena ia jahat secara terbuka, tapi karena ia selalu bisa membaca arah angin lebih cepat dari siapa pun, dan selalu bisa menyesuaikan diri dengan siapa pun yang sedang naik.
"Ada apa, Pak Mursid?" tanya Ratri, suaranya datar tapi sopan.
Mursid menyeruput kopinya, lalu meletakkan cangkir dengan gerakan orang yang akan menawarkan sesuatu besar. "Begini. Hendra kan udah... ya, kamu tahu sendiri. Udah nggak ada apa-apanya. Jaringan dia bubar. Talentanya pada kabur. Nah, aku ini orang yang ngerti pasar. Aku tahu panggung mana yang bayar bagus, hajatan mana yang gede, festival mana yang lagi nyari bintang. Kamu sekarang lagi naik, Mbak. Namamu di mana-mana. Orang nyari kamu. Sayang kalau nggak dikelola yang bener."
Ia mencondongkan badan. "Aku tawarin jadi calo kamu. Tapi beda sama dulu, ya. Hormat. Kamu yang nentuin lagu, kamu yang nentuin gaya, nggak ada paket-paketan kayak dulu—aku tahu, aku tahu, itu salahku dulu, aku khilaf. Sekarang aku cuma carikan job, aku aturkan harga yang tinggi, aku jagain kamu dari orkes-orkes yang mau sikut. Potonganku wajar aja. Kamu nyanyi, aku yang urusin sisanya. Kamu nggak perlu repot. Gimana?"
Ratri menatapnya lama. Ia teringat Mursid yang dulu—yang datang menawar job dengan "paket" yang ia maksud bukan cuma menyanyi, yang memboikot orkesnya sampai kering, yang menggerakkan jaringan calo mengintimidasi tuan rumah yang berani memesan Bintang Samudra langsung, yang bersekutu dengan Hendra menekan orkes-orkes kecil. Mursid yang sama kini duduk di depannya, tersenyum, menawarkan diri menjadi pelayannya.
Ada godaan kecil, harus ia akui. Mursid memang tahu pasar. Dengan dia, job akan mengalir, harga akan tinggi, ia tak perlu repot mengurus jadwal dan negosiasi yang melelahkan. Jalan yang mudah.
Tapi Ratri sudah belajar terlalu banyak tentang jalan yang mudah.
"Pak Mursid," katanya, dan suaranya tenang, tanpa kemarahan, tanpa kebencian—dan justru karena itu, lebih tegas. "Terima kasih tawarannya. Tapi nggak."
Senyum Mursid sedikit memudar, tapi ia bertahan. "Jangan buru-buru. Pikirin dulu. Tanpa calo yang ngerti pasar, kamu bakal capek sendiri ngurusin semuanya. Job nggak bakal serapi kalau ada yang ngatur. Aku ini—"
"Saya udah punya cara sendiri," potong Ratri, lembut tapi pasti. "Sirkuit tanpa calo. Saya sama orkes-orkes kecil lain bikin sistem job bareng. Bayar langsung, transparan, dibahas di warung kayak gini. Nggak ada potongan calo. Tiap rupiah utuh ke yang main. Capek? Iya, capek. Tapi capek yang adil. Saya lebih milih capek ngurus sendiri daripada gampang tapi ada yang motong dari atas kepala saya dan kawan-kawan saya."
Mursid terdiam. Untuk sesaat, topeng hangatnya jatuh, dan yang terlihat adalah penghitungan dingin seorang pedagang yang baru saja kehilangan satu transaksi besar. "Sistem patungan kampung kayak gitu nggak bakal tahan lama," katanya, nadanya berubah. "Suatu saat kamu bakal butuh orang kayak aku. Pasar ini keras, Mbak. Idealisme nggak ngenyangin perut."
"Mungkin," sahut Ratri, tak terpancing. "Mungkin suatu saat sistemnya goyah. Mungkin susah. Tapi itu sistem yang saya dan kawan-kawan saya yang punya. Kalau goyah, kami yang benerin. Kalau jatuh, kami yang jatuh bareng. Itu beda sama digerogotin pelan-pelan dari atas sambil dibilangin itu demi kebaikan kita."
Ia berdiri, merapikan jadwal di mejanya. "Pak Mursid pinter baca pasar. Itu betul. Tapi yang Pak Mursid baca cuma siapa yang lagi naik, supaya bisa nempel. Hendra naik, Pak Mursid nempel. Hendra jatuh, Pak Mursid lupa. Sekarang saya naik, Pak Mursid mau nempel lagi. Saya nggak mau nempel sama orang yang setianya cuma sama yang lagi naik. Kalau saya nanti jatuh, Pak Mursid bakal jadi orang pertama yang lupa saya. Mending dari awal saya sama orang-orang yang tetap di sisi saya waktu saya nggak punya apa-apa."
Ia tidak mengatakannya dengan dendam. Justru itu yang membuat Mursid tak bisa membalas. Tak ada kemarahan untuk dilawan, tak ada penghinaan untuk dijadikan alasan. Hanya kebenaran yang diucapkan dengan tenang, dan kebenaran yang tenang adalah hal yang paling sulit dibantah calo licin mana pun.
Mursid menghabiskan kopinya, berdiri, dan tersenyum lagi—senyum yang kini terlihat lebih tipis. "Yo wis," katanya. "Kalau berubah pikiran, kamu tahu di mana nyari aku."
Ia pergi, dan Ratri menatap punggungnya melewati pintu warung. Yusuf, di sampingnya, menghembuskan napas. "Kupikir kamu bakal usir dia kasar, Mbak."
Ratri menggeleng. "Nggak perlu. Orang kayak Mursid nggak hilang, Suf. Dia bakal terus ada, nyesuaiin diri, nyari celah. Calo kayak dia selalu bisa hidup. Tapi yang penting bukan dia hilang. Yang penting dia nggak nguasain kita lagi. Dia masih ada, tapi dia nggak di atas kita. Itu cukup."
Mesin lama belum mati. Mursid masih akan mengatur panggung, masih akan menawar harga, masih akan menempel pada siapa pun yang naik. Tapi untuk pertama kali, Ratri bisa menolaknya tanpa takut—bukan dari posisi terjepit, tapi dari posisi orang yang punya jalan sendiri. Dan itu, ia tahu, adalah jenis kemerdekaan yang tak bisa dibeli calo mana pun.