Telepon dari Mas Gilang datang seminggu setelah putusan, di pagi yang cerah dengan angin laut yang segar. Suara produser dari Surabaya itu sama seperti dulu—tenang, tanpa janji manis, tanpa basa-basi industri yang berlebihan.
"Aku baca beritanya," kata Gilang. "Kamu menang. Kontrak Hendra batal. Berarti kamu bebas. Nggak ada lagi yang ngiket suaramu."
"Iya, Mas," jawab Ratri, dan menyebutnya terasa masih asing di lidahnya. Bebas.
"Tawaranku yang dulu masih sama," lanjut Gilang. "Bayaran kecil, jujur aku bilang dari awal. Tapi kebebasan penuh. Lagu milikmu sendiri. Lirik yang kamu mau. Cengkok yang kamu pilih. Nggak ada penyesuaian, nggak ada citra yang harus dijaga, nggak ada poster. Cuma suaramu, direkam bener. Kamu masih mau?"
Ratri menutup mata sejenak. Ia teringat studio rumahan pengap tempat ia merekam lagu pertamanya dulu, momen haru yang berubah jadi luka ketika Hendra mengubah aransemen dan lirik agar lebih "menjual," menggeser yang membumi jadi murahan. Ia teringat perasaan sedikit demi sedikit suaranya bukan lagi miliknya. Dan kini, seseorang menawarkan kebalikan dari semua itu.
"Mau, Mas," katanya, dan suaranya bergetar sedikit. "Mau banget."
Mereka mengatur jadwal rekaman bulan depan. Tapi sebelum itu, ada hal-hal lain yang harus Ratri bereskan dulu—utang-utang lama, finansial dan batin, yang sudah terlalu lama menggantung.
Yang pertama adalah rentenir pasar. Meski Bu Wening sudah membongkar bahwa pembelian utangnya oleh Hendra cacat hukum dan tekanan finansial itu sudah dipatahkan, masih ada sisa pokok utang asli yang Ratri pinjam dulu untuk menyelamatkan istri Topo—pinjaman dengan bunga mencekik, dengan gerobak rujak bapaknya sebagai jaminan. Itu utang yang lahir dari kebaikan dan kenekatan, dan Ratri ingin melunasinya bukan dengan trik hukum, tapi dengan tangannya sendiri.
Ia mengumpulkan uang dari job-job sirkuit tanpa calo yang mulai mengalir setelah namanya naik—uang yang utuh, tanpa potongan, hasil keringatnya sendiri. Tidak banyak, tapi cukup. Ia datang ke pasar pada sore hari, ke lapak rentenir yang dulu membuatnya gemetar, dan menyerahkan sisa pelunasan beserta tebusan surat gadai gerobak.
Rentenir itu, lelaki tua bermata dingin yang sudah melihat ratusan orang terjepit di lapaknya, menghitung uang itu, lalu menyerahkan kuitansi gadai gerobak yang sudah menguning. Ratri menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar—kertas kecil yang dulu hampir merenggut satu-satunya warisan bapaknya. Ia melipatnya hati-hati dan memasukkannya ke saku.
"Lunas?" tanyanya, memastikan.
"Lunas," jawab rentenir itu, datar. Lalu, tak terduga, ia menambahkan, "Kamu yang nyanyi di festival itu, ya? Yang sound-nya dimatiin tapi nyanyi terus?"
Ratri mengangguk.
Lelaki tua itu menatapnya sebentar, lalu kembali ke buku catatannya. "Bagus," gumamnya, nyaris tak terdengar. Itu saja. Tapi dari orang seperti dia, Ratri tahu, itu lebih dari cukup.
Malam itu, ia pulang membawa kuitansi gadai yang sudah lunas dan meletakkannya di atas meja makan, di depan bapaknya. Pak Sahlan menatapnya, lalu menatap anaknya, dan tak perlu kata-kata. Gerobak rujak yang dulu hampir hilang kini sepenuhnya kembali milik mereka—catnya masih mengelupas, rodanya masih berderit, tapi milik mereka, bebas, tak tersandera siapa pun.
"Bapak ganti gerobaknya, ya, suatu saat," kata Ratri pelan. "Yang baru. Yang catnya nggak ngelupas. Belum sekarang, tapi nanti, kalau rezeki ada."
Pak Sahlan menggeleng, tersenyum. "Gerobak ini masih kuat, Nduk. Bapak masih sayang sama dia. Dia yang nyekolahin kamu, ngasih kamu makan, ngangkut nanas sama bengkuang puluhan tahun. Nggak usah buru-buru ganti. Yang penting dia udah balik ke kita."
Ratri tersenyum, dan untuk pertama kali sejak lama, senyumnya tak membawa beban di belakangnya.
Utang berikutnya adalah utang batin. Ia datang menjenguk Paman Darto yang kesehatannya masih perlahan pulih, membawa kabar tentang tawaran Gilang dan tentang putusan. Sang paman, yang dulu menyerah saat orkes vakum, mendengarkan dengan mata yang berkaca, dan ketika Ratri selesai bercerita, ia menggenggam tangan keponakannya dengan jemari yang dulu menari di atas tuts keyboard.
"Bapakku dulu bilang," kata Paman Darto, suaranya serak, "panggung sejati itu dibangun, bukan dipinjam. Aku dulu nggak ngerti maksudnya. Kupikir dia cuma orang tua yang nggak mau berubah. Tapi sekarang aku ngerti. Kamu nggak minjem panggung Hendra. Kamu nggak minjem nama orang. Kamu bangun panggungmu sendiri, dari nol, dari pasar, dari sound butut. Itu yang bikin nggak bisa dirampas siapa pun."
Ratri menggenggam tangan pamannya, dan di kamar kecil itu, di antara bau obat dan suara televisi tetangga, ia merasakan lingkaran-lingkaran lama mulai menutup satu per satu. Utang ke rentenir, lunas. Gerobak bapak, kembali. Kontrak Hendra, batal. Tawaran jujur Gilang, diterima. Sound butut, masih disolder, tapi milik sendiri.
Malam itu ia duduk di teras rumah, memandang langit berbintang di atas laut Tapal Kuda, dan untuk pertama kali sejak sebelum video itu viral salah, ia merasakan sesuatu yang menyerupai damai. Bukan akhir—ia tahu masih banyak yang harus dibangun: rekaman, sirkuit yang masih ringkih, orkes yang masih kecil, mimpi-mimpi yang belum terwujud. Tapi babak yang gelap sudah lewat. Beban-beban yang lama ia pikul, satu per satu, mulai ia letakkan.
Besok ia akan mulai memikirkan rekaman bersama Gilang—lagu miliknya sendiri, lirik tentang nelayan dan pesisir, tentang genset yang batuk dan terpal yang bocor dan suara yang menolak dibungkam. Tentang cengkok yang sejak awal adalah caranya menangis tanpa menangis. Lagu yang tak akan ada yang mengubahnya, tak akan ada yang menjualnya jadi sesuatu yang bukan dirinya.
Ia memejamkan mata, mendengar laut yang jauh, dan untuk pertama kali, ia membiarkan dirinya membayangkan masa depan tanpa takut. Yang tertunda telah ia bayar. Yang dibungkam telah bersuara. Dan suaranya, akhirnya, sepenuhnya miliknya.