Studio Mas Gilang di Surabaya tidak seperti yang Ratri bayangkan. Bukan ruang megah berlampu warna seperti yang dijanjikan Hendra dulu, juga bukan kamar pengap berbau apek seperti studio rumahan tempat lagu pertamanya disunat dan dijual. Tempat ini sederhana: dinding dilapisi karpet bekas yang dijahit rapi, satu kabin kaca dengan mikrofon tergantung, dan di sudut, termos teh serta toples rengginang yang membuat Ratri merasa seperti bertamu ke rumah orang, bukan masuk pabrik suara.
"Santai aja, Mbak," kata Gilang dari balik meja mixer. Lelaki berkacamata itu bicara pelan, tangannya menggeser tombol tanpa terburu. "Di sini nggak ada yang ngejar setoran. Kita rekam sampai kamu ngerasa itu suaramu. Bukan sampai aku puas."
Ratri masuk ke kabin, menutup pintu kaca di belakangnya. Suara dunia luar lenyap. Ia memakai headphone, dan dalam keheningan itu, terdengar napasnya sendiri. Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena gugup panggung—ia sudah menaklukkan ribuan orang yang mabuk dan ribuan kamera siaran langsung. Ia gemetar karena di sini, tidak ada penonton untuk disembunyikan. Tidak ada riuh saweran untuk menutupi celah. Hanya suaranya, telanjang, dan orang yang sungguh akan mendengarnya.
Intro keyboard mengalun di headphone-nya—aransemen yang ia rancang sendiri bersama personel yang tersisa, lambat, basah, seperti pasang laut menjelang subuh. Lirik di hadapannya ditulis tangannya sendiri di buku tulis bekas anak SD, dengan coretan di mana-mana. Tentang nelayan yang pulang membawa jaring kosong. Tentang genset yang batuk di tengah lagu. Tentang terpal bocor dan suara yang menolak diam.
Ia mulai menyanyi.
Senggakan pertama keluar tipis, hampir ragu. Lalu cengkoknya menyusul—naik turun di tikungan nada seperti perahu kecil yang tahu betul bentuk ombaknya. Itu cengkok yang dulu dipaksa Hendra digeser jadi lebih genit, lebih menjual, lebih murah. Kini ia membiarkannya kembali ke bentuk aslinya: cara menangis tanpa menangis. Air matanya tidak jatuh. Tapi suaranya patah di tempat yang tepat, retak di tempat yang seharusnya retak, dan dari kaca itu Gilang berhenti menggeser tombol, hanya mendengarkan, dagu tertopang tangan.
Take pertama selesai. Hening sejenak.
Lalu suara Gilang masuk lewat headphone. "Sekali lagi?" tanyanya.
Ratri mengangguk, lalu menahan diri. "Mas," katanya, "yang tadi ada yang salah?"
Gilang tersenyum kecil di balik kaca. "Nggak. Aku cuma pengin denger lagi. Bukan buat dibetulin. Buat aku sendiri." Ia diam sebentar. "Tapi kalau kamu ngerasa udah, ya udah. Itu hakmu, bukan hakku."
Kalimat itu menohok Ratri lebih dalam dari yang ia kira. Itu hakmu, bukan hakku. Sepanjang hidupnya di sirkuit, tidak ada yang pernah mengatakan itu padanya. Calo memutuskan ia harus tampil di mana. Manajer memutuskan ia harus tampil bagaimana. Penonton memutuskan ia harus bergoyang seberapa. Tubuhnya, suaranya, namanya—semuanya pernah jadi milik orang lain. Dan sekarang, di kabin kaca berkarpet bekas ini, seseorang menyerahkan keputusan itu kembali ke tangannya, seolah memang sejak awal di situ tempatnya.
Ia merekam sekali lagi, bukan karena disuruh, tapi karena ia ingin. Dan kali kedua, ketika sampai pada bait tentang bapaknya mendorong gerobak rujak di pinggir kerumunan, suaranya nyaris pecah betul. Ia menahannya. Dibiarkannya getar itu tinggal, tidak disembunyikan, tidak dijual. Hanya jujur.
Ketika ia keluar dari kabin, Gilang menyodorkan segelas teh hangat. Keduanya duduk mendengarkan hasil rekaman dari speaker monitor. Suara Ratri mengisi ruangan—bukan suara yang menjual, bukan suara yang minta dikasihani, bukan suara yang dipotong jadi sensasi. Hanya suara seorang perempuan dari kampung nelayan yang akhirnya boleh menjadi dirinya sendiri.
"Liriknya tentang siapa?" tanya Gilang, menunjuk bait terakhir.
"Tentang banyak orang," jawab Ratri. "Bapakku. Pamanku. Personel yang udah capek tapi nggak mau berhenti main. Biduan-biduan yang dibungkam terus diam. Yang dijebak terus nyerah jualan sayur." Ia menelan ludah. "Tentang suara-suara yang dimatiin, Mas. Yang nyala lagi."
Gilang mengangguk pelan. Ia tidak memuji berlebihan, tidak menjanjikan ketenaran, tidak bicara soal jumlah pendengar. Ia hanya berkata, "Ini bakal nemuin telinganya. Pelan. Tapi yang denger bakal inget."
Di perjalanan pulang naik bus malam dari Surabaya, Ratri menatap kaca jendela yang dilumuri tetes hujan. Lampu-lampu kota berlalu, lalu menipis jadi gelap sawah, lalu jauh di kejauhan, baris cahaya perahu nelayan di laut Tapal Kuda. Ia memutar lagunya sendiri di telepon butut, headphone sebelah rusak, hanya satu telinga. Tapi yang satu telinga itu cukup.
Ia teringat sesi rekaman pertamanya dulu—bagaimana ia menangis di angkot pulang bukan karena haru, tapi karena ia mendengar suaranya sendiri dipelintir jadi sesuatu yang bukan dia. Bagaimana ia merasa kehilangan sepotong demi sepotong dirinya setiap kali Hendra menggeser satu nada. Lingkaran itu, yang dulu meninggalkan luka, kini ditutup dengan tangannya sendiri. Bukan dengan kemenangan besar di pengadilan, bukan dengan sorak ribuan orang. Tapi dengan satu kabin kaca berkarpet bekas, segelas teh, dan kalimat sederhana: itu hakmu, bukan hakku.
Ia menyandarkan kepala ke jendela. Lagunya berputar lagi dari awal. Dan untuk pertama kali sejak ia kenal apa itu studio, Ratri tertidur dengan suaranya sendiri di telinga, tanpa rasa kehilangan apa pun. Suara itu utuh. Sepenuhnya, akhirnya, miliknya.