Ide itu lahir di warung kopi, seperti hampir semua hal penting dalam hidup orkes—di antara gelas kopi tubruk yang menghitam dan asap kretek yang menggantung di langit-langit seng. Tapi kali ini bukan calo yang menawar harga di meja itu. Kali ini para pemilik orkes sendiri yang duduk berhadapan, lima kepala dari lima orkes kecil yang dulu saling sikut berebut job hajatan.
Ratri yang mengumpulkan mereka. Bukan karena ia merasa berhak memimpin—ia masih merasa terlalu muda untuk itu—tapi karena setelah ia menang melawan Hendra, orkes-orkes kecil lain mulai melihatnya bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai bukti hidup bahwa melawan mesin yang memeras itu mungkin.
"Selama ini kita ribut sesama kita," kata Ratri, tangannya melingkari gelas kopi yang sudah dingin. "Rebutan job. Banting harga. Sampai-sampai bayaran kita tinggal receh karena saling jatuhin. Dan yang ketawa siapa? Calo. Mursid sama Karyo. Mereka untung dari kita yang ribut."
Pak Hari, pemilik Orkes Gelombang Biru yang sudah uzur, mengangguk pelan. "Bener, Nduk. Aku tiga puluh tahun di sirkuit ini. Tiga puluh tahun dipotong calo. Sampai sekarang gerobak rumahku belum kebeli."
"Lha, terus mau gimana?" tanya yang lain, lelaki bernama Cak Towi, suaranya skeptis. "Calo itu udah kayak bagian dari sistem. Tuan rumah nyari job ke calo, calo nyari orkes. Mau lewatin gimana?"
Ratri sudah memikirkan ini berhari-hari, di sela latihan dan mengupas nanas. "Kita bikin sistemnya sendiri," katanya. "Satu grup WhatsApp. Tiap ada yang dapet job, dibagi info ke yang lain. Yang lagi kosong, ambil. Tuan rumah bayar langsung ke orkes, nggak lewat calo. Harga kita sepakati bareng, biar nggak saling banting. Transparan. Siapa dapet apa, semua tahu."
Meja itu hening sejenak. Cak Towi mendengus. "Gampang ngomongnya. Calo punya kuasa. Mereka bisa intimidasi tuan rumah. Mursid udah pernah boikot kamu, kan?"
"Udah," jawab Ratri tenang. "Dan kami selamat. Karena kami nyari job langsung lewat kenalan kampung. Capek, jauh, bayaran kecil. Tapi utuh. Nggak dipotong." Ia menatap satu per satu wajah di meja itu. "Sendirian, kita gampang dipatahin. Tapi kalau lima orkes, sepuluh orkes, jalan bareng? Calo nggak bisa boikot semua. Mereka butuh kita lebih dari kita butuh mereka. Cuma selama ini mereka bikin kita lupa itu."
Pak Hari yang pertama setuju. Lelaki tua itu, yang sudah tiga puluh tahun menunduk pada calo, mengulurkan tangannya yang berkerut ke tengah meja. "Aku ikut, Nduk. Sisa umurku nggak banyak. Setidaknya mati nggak sambil ngutang ke lintah."
Satu per satu, tangan menyusul. Bahkan Cak Towi yang skeptis, setelah diam lama, akhirnya menumpuk tangannya di atas yang lain. "Kalau gagal, jangan salahin aku," gerutunya. Tapi ia ikut.
Membangunnya tidak semulus rapat di warung kopi. Minggu-minggu pertama berantakan. Ada orkes yang lupa membagi info job. Ada yang diam-diam masih menerima job lewat calo karena takut kehilangan langganan. Ada tuan rumah yang bingung harus memesan ke siapa tanpa perantara. Mursid, ketika kabar sampai ke telinganya, mendengus meremehkan—"Orkes melarat mau bikin koperasi," katanya pada Karyo, cukup keras agar terdengar.
Tapi pelan-pelan, sistem itu mulai bernapas. Seorang tuan rumah dari kampung sebelah, yang muak dipotong calo, memesan langsung lewat grup. Job itu jatuh ke Gelombang Biru yang sedang kosong. Pak Hari pulang malam itu membawa bayaran utuh untuk pertama kali dalam tiga puluh tahun. Esoknya ia datang ke warung dengan mata berkaca-kaca, menyodorkan rokok kretek satu bungkus untuk Ratri.
"Aku bisa beli ini sendiri sekarang," katanya. "Nggak ngutang. Nggak minta belas kasihan calo."
Kabar menyebar dari mulut ke mulut, sama seperti lagu Ratri. Tuan rumah yang puas bercerita ke tetangga. Orkes-orkes kecil lain yang dulu sungkan mulai bertanya bagaimana caranya ikut. Grup yang awalnya lima orkes membengkak jadi delapan, lalu dua belas. Mereka mulai punya kesepakatan harga minimum—agar tak ada yang membanting harga sampai personel kelaparan. Mereka mulai saling pinjam alat ketika ada yang rusak. Mereka mulai, untuk pertama kali, jadi sekutu alih-alih pesaing.
Ratri tahu ini bukan kemenangan total. Calo tidak mati. Mursid masih ada, masih menawar, masih memeras orkes-orkes yang belum berani ikut atau yang terlalu takut keluar. Ada kampung-kampung di mana intimidasi masih bekerja. Sistem yang adil ini masih ringkih, masih bisa pecah kalau salah satu orkes serakah atau salah satu calo cukup nekat. Ia menyaksikan sendiri bagaimana mesin lama mempertahankan dirinya, lentur, menyesuaikan, tidak pernah benar-benar mati.
Tapi sesuatu telah bergeser. Bukan cuma satu orkes yang lolos dari pemeras—itu yang dulu ia impikan, kecil dan personal. Yang terjadi sekarang lebih besar dari itu: sebuah cara baru yang menular. Bukan kemenangan satu Ratri, tapi perubahan pada cara seluruh kelasnya bekerja.
Suatu malam, Paman Darto yang masih lemah duduk mendengarkan Ratri bercerita soal grup yang membesar. Sang paman mengangguk pelan, lalu berkata, "Bapakku dulu mimpi yang kayak gini, Nduk. Orkes-orkes nggak saling makan. Tapi dia mati duluan sebelum kelihatan caranya." Ia menatap keponakannya. "Kamu nemuin caranya."
Ratri tidak merasa ia menemukan apa pun. Ia hanya menolak satu hal—menolak diperas—dan menemukan bahwa ketika cukup banyak orang menolak hal yang sama, mesin yang dulu tampak abadi ternyata bisa retak. Pelan. Tidak sempurna. Tapi retak.