Kabar itu datang lewat Yusuf, yang mendengarnya dari sopir truk yang sering bolak-balik antar-orkes. "Kontrak Topo sama Mursid habis bulan ini, Mbak," katanya. "Dia nggak diperpanjang. Atau dia yang nggak mau perpanjang. Nggak jelas."
Ratri tidak segera menanggapi. Ia teringat malam Topo pamit dulu—air mata lelaki itu yang jatuh di warung Cak Misnan, tangannya yang menggenggam tangan Ratri dan berkata maaf berkali-kali. Ia tidak pernah membenci Topo. Tidak pernah bisa. Lelaki itu pergi bukan karena khianat, tapi karena lapar; istrinya sakit, rumah sakit menahan obat, dan Mursid menawarkan uang di muka. Ratri tahu betul rasanya terjepit seperti itu—ia sendiri pernah menggadaikan gerobak bapaknya ke rentenir demi menyelamatkan istri Topo. Mereka berdua pernah tenggelam di air yang sama.
Maka ketika Topo datang ke rumah Ratri suatu sore, berdiri di depan pintu dengan kemeja lusuh dan tas plastik berisi pakaian, Ratri tidak terkejut. Ia hanya membuka pintu lebih lebar.
"Masuk, Cak," katanya.
Topo tidak masuk. Ia berdiri di ambang, menunduk, jemarinya yang dulu menari di atas kendang kini meremas tepi tas plastik. "Aku nggak tahu harus ngomong apa, Nduk," katanya pelan. "Aku pergi waktu kamu lagi susah-susahnya. Waktu kamu lagi nantang Hendra. Aku ninggalin orkes pas orkes butuh aku."
"Cak—"
"Biar aku selesain dulu." Suara Topo bergetar. "Di Mutiara Pantura aku dibayar layak. Cukup buat obat istriku. Dia sembuh sekarang, Nduk. Itu aku berterima kasih sama Mursid, mau nggak mau. Tapi..." Ia menelan ludah. "Tiap malam aku main lagu yang aku nggak suka. Main buat orkes yang nggak peduli sama personelnya. Cuma dianggap alat. Aku digebukin sama jadwal, dipindah sana-sini kayak barang. Dan tiap kali aku denger kabar kamu—menang sidang, lagu kamu diputer di angkot, kamu bikin sirkuit tanpa calo—aku..." Air matanya turun. "Aku malu, Nduk. Aku milih perut. Kamu milih harga diri. Dan ternyata kamu yang bener."
Ratri menarik napas. Ia bisa saja membiarkan lelaki itu menanggung rasa bersalahnya. Ia bisa saja berkata bahwa Topo memang salah, bahwa kepergiannya menyakitkan, bahwa orkes hampir bubar sebagian karenanya. Itu semua benar. Tapi Ratri tahu sesuatu yang lebih dalam: bahwa rasa bersalah Topo sudah cukup menghukumnya, dan bahwa idealisme yang tidak memaafkan kelaparan orang lain bukanlah idealisme, melainkan kesombongan.
"Cak Topo," katanya, dan ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Aku nggak milih harga diri karena aku lebih kuat dari sampeyan. Aku milih harga diri karena aku nggak punya istri yang sakit. Kalau aku di posisi sampeyan, mungkin aku juga pergi. Mungkin lebih cepet." Ia menatap mata lelaki itu. "Yang sampeyan lakuin itu bukan khianat. Itu sayang sama istri. Jangan dibalik jadi dosa."
Topo terisak, menutup wajahnya dengan tangan.
"Lagian," lanjut Ratri, suaranya melembut, "sampeyan nggak pernah bener-bener pergi, kan? Waktu di seberang, sampeyan masih ngabarin aku soal jaringan calo. Soal Hendra. Sampeyan jadi mata-mataku dari dalam, padahal kalau ketahuan, sampeyan yang celaka." Ia tersenyum tipis. "Orang yang khianat nggak begitu, Cak."
Topo mengangkat wajahnya, basah.
"Orkesnya beda sekarang," kata Ratri. "Lebih kecil. Tapi nggak ada calo. Bayaran utuh, dibagi rata, transparan. Paman Darto masih main keyboard tapi udah nggak mikul beban sendirian. Kita main lagu yang kita suka." Ia mengulurkan tangan. "Kursi kendang masih kosong, Cak. Belum ada yang bisa ngisi kayak sampeyan."
Topo menatap tangan itu lama sekali. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia menyambutnya. Tas plastik berisi pakaiannya jatuh ke lantai.
Malam itu, di gudang ikan tempat orkes berlatih, kabar bahwa Topo kembali disambut tanpa upacara. Tidak ada drama, tidak ada pidato. Bagas hanya menepuk punggungnya. Yusuf menyodorkan kendang yang sudah dibersihkan. Paman Darto, dari balik keyboard, hanya berkata, "Telat kamu, Po. Latihan udah mulai dari tadi," dan itu—gerutuan biasa, seolah Topo tak pernah pergi—adalah cara mereka berkata selamat datang.
Ketika kendang Topo masuk di lagu pertama, ada yang utuh kembali di tubuh orkes itu. Bukan cuma ritme yang lengkap—meski memang ritmenya kini penuh lagi, perkusi yang dulu bolong kini berdenyut benar—tapi sesuatu yang lebih dalam. Keluarga yang pernah pecah karena lapar kini bersatu lagi karena ada jalan yang manusiawi. Bukan karena salah satu mengalah, bukan karena luka dilupakan, tapi karena mereka menemukan cara hidup yang tak memaksa orang memilih antara perut dan martabat.
Istri Topo datang di akhir latihan, membawa rantang berisi nasi dan sambal teri. Ia sehat sekarang, pipinya berisi, tertawa saat menyalami Ratri. "Terima kasih, Nduk," bisiknya. "Dua kali kamu nyelametin aku. Yang pertama waktu aku sakit. Yang kedua, sekarang, waktu kamu suruh suamiku pulang."
Ratri menggeleng. "Bukan aku yang nyuruh, Mbak. Suara kendangnya yang manggil dia balik."
Malam itu mereka makan bersama di lantai gudang ikan yang dingin, di antara jaring-jaring tua dan bau garam, sebelas orang berbagi rantang dan tawa. Topo duduk di sebelah kendangnya, sesekali mengelusnya seperti orang yang baru pulang menemui kawan lama. Dan Ratri, memandang lingkaran itu—orkes yang pernah hampir mati, kini hidup lagi, berbeda dan lebih kuat—merasakan satu benang lagi tertutup. Bukan kembali ke yang dulu. Tapi tumbuh jadi sesuatu yang lebih baik dari yang dulu.