Kelap-kelip lampu bar yang menerangi langkah kaki seorang pria berjas kecoklatan ini mengantarkannya duduk di salah satu kursi VIP bar tersebut. Ia menengok kanan-kiri, mencari keberadaan klien pentingnya yang berotak dangkal. Mengapa? Siapa yang tidak kesal kalau meeting penting ini diadakan ditengah-tengah hingar bingar kelab malam yang membisingka?! Belum lagi banyak sekali perempuan-perempuan berpakaian sudah tidak layak pakai karna minim sekali, seperti kekurangan bahan. Seorang pelayan mendekatinya, "Maaf tuan, apakah anda sudah memesan minuman? Kalau belum mau kah anda saya rekomendasikan wine terbaik milik club kami?" pelayan wanita itu bertanya ramah.
"Maaf nanti segera ku pesan, aku sedang menunggu orang." kata pria ini.
Pelayan itu tersenyum lebar, "Baik tuan, jika ingin memesan tinggal memencet bel yang berada di samping tuan." pia ini mengagguk seadanya, ia kembali mengedarkan pandangannya ke segala penjuru bar.
"Milles! Hei, bung! Lama tidak berjumpa!" seorang pria perut buncit mendekat pada pria ini, ya, dia adalah Milles Patheir. Si anak konglomerat yang tampan dan seksi. Milles berdiri menyambut klien tak berotaknya ini, ia memberikan senyuman palsu sebagai salamnya. Milles tahu orang yang sedang merangkul dua wanita itu sudah beristri bahkan memiliki cucu, tapi tampang brengseknya itu menguar kemana-mana. Ia jadi menyesal sudah menyetujui kerja sama sialan ini. Pria perut buncit itu duduk dan mulai mengalor ngidul entah kemana, tidak membicarakan masalah pekerjaan yang seperti Milles bayangkan. Sementara kedua wanita yang ia rangkul itu menatapnya dengan tatapan merayu, Milles malas sekali melihatnya.
"Pak Raghe bisa kita ke intinya saja? Saya masih ada peretemuan," Milles sebisa mungkin tidak mengambil gelas wine yang dibawa kliennya itu tadi ketika datang padanya, ia benar-benar muak dan gerah berada disini. Bukan karna wanita-wanita berpakain seksi itu, ia sudah terbiasa melihatnya bahkan banyak dari kliennya yang mengirimi wanita-wanita seperti itu, ia gerah karna melihat tampang tak bersalah pria tua ini.
"Hei, Milles. Rehatlah sebentar disini, kau ini gila kerja sekali. Kau tau tidak ayahmu itu sering kali membicarakanmu tentang masalah ini, kau itu terlalu gila kerja! Santai lah disini, cari-cari juga perempuan untukmu, lihat! aku bahkan sudah dapat dua! Hahahaha!" Raghe tertawa dan dua wanita itu juga tetawa, tapi Milles? Iya hanya diam tak menyahut sama sekali.
Melihat itu Raghe pun akhirnya menghentikan tawanya, Milles memang tipe pengusaha yang tak takut kehilangan klien karna baginya keseriusan dan kesungguhan diantara kedua perusahan yang sedang ingin menjalin kerjasama itu wajib dipertimbangkan olehnya, Raghe harusnya tidak bermain-main dengan Milles. "Baiklah anak muda, kau ini benar-benar ya tidak bisa bercanda barang sedikit! Nanti kalau kau punya istri jangan kaku-kaku! Apalagi pas malam pertama, malam pertama itu harus yang menggairahk--"
"Kalau Pak Raghe benar-benar tidak menginginkan kerja sama ini saya akan pergi,"
"Eeehh! Ya ampun anak ini! Ya! Ya! Aku akan serius!" pria perut buncit itu pun tersenyum masam lalu menoleh kepada dua wanita gandengannya.
"Cantik-cantik ku kalian kesana dulu ya, aku mau mengobrol dengan dia." setelahnya Raghe mencium kedua wanita gandengannya, Milles berdecih.
"Baik jadi kau ingin bagaimana anak muda, aku akan setuju saja apa yang kau minta." Raghe bersedekap d**a, menunggu jawaban panjang lebar dari Milles.
"Baik saya hanya ingin mengubah ketentuan mengenai pasal 3 tentang perpanjang kontrak yang menurut saya hanya menguntungkan pihak bapak, bagaimana kalau kita mengadakan meeting kembali jika masa kontrak akan habis, bagaimana?" Raghe mengangguk, ia sudah menebaknya. Milles benar-benar sangat teliti dan Raghe mengakui itu.
"Baik, saya tidak keberatan." Raghe berucap santai, ia yakin seratus persen dengan anak temannya ini, Milles memang pantas dijadikan partner dalam kerja sama dalam keuntungan perusahaan.
Meskipun anak ini bisa dibilang sangatlah kaku dan mementingkan kerjaan sekali, tapi Raghe sangat kagum padanya. Bagaimanapun Milles memang pantas mendapatkan julukan pria matang dengan pola pikir yang siap. Raghe juga paham mengapa anak ini terlalu gila kerja, yang pasti anak ini kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Lihat saja Orado Patheir, sang ayah yang sama persis seperti putranya, gila kerja dan tak memikirkan keluarga. Ibunya? Ezena Miselt? Artis yang gila pujian, gila dengan yang namanya barang-barang branded dan mewah. sudah pasti anak mereka tidak ada yang mengurus kecuali nanny. Selama ini Milles hanya tau nama kedua orang tuanya saja, tapi tidak dengan kasih sayangnya.
"Baik, kalau begitu saya pamit. Seperti yang saya bilang tadi saya ada urusan lain, permisi." Milles bangkit, meninggalkan Raghe yang mendengus, biarlah anak rekannya itu pergi. Pati ia sudah tidak betah.
Milles berjalan dengan sedikit tergesa, lampu yang temaram dan bau menyengat alcohol membuatnya risih. Club ini bagus, tapi sayang tempat ini tak selaras dengan hatinya, masih banyak club-club yang lebih bagus dari ini, jadi dengan langkah yang mantap ia mulai menuju keluar, mencari-cari pintu mana yang benar.
"Hei bung, kau tersesat ya/'
Milles menoleh, di belakangnya ada seorang yang sepertinya seumuran dengannya, dan sama-sama mengenakan jas juga pula.
"Yeah, seperti yang kau lihat. Kalau boleh tunjukkan aku pintu keluar ini, aku masih ada urusan." Milles berkata sedikit lebih kencang, sepertinya musik di area dance floor sudah menggema.
"Oh ya tuhan! Kau Milles Patheir? Ya tuhan! Maafkan aku tuan! Maafkan aku karna tidak sopan tadi," tiba-tiba saja laki-laki itu meminta maaf, ia baru mengenali Milles karna laki-laki itu tadi membelakanginya, Milles sendiri mengira laki-laki itu pengusaha sepertinya tapi tampaknya bukan, sepertinya ia seorang bodyguard. Terbukti dari ia memegang walkie-talkie dan juga alat yang ditaruh dikupingnya yang Milles pun juga tidak tahu apa fungsinya.
"Tak apa, kau..."
"Aku Jo, aku bodyguard nona Leidy."
Milles mengangguk, sebetulnya itu tidak penting, tapi karna laki-laki ini sepertinya sangat menyeganinya Milles pun mau tak mau tersenyum, "Baik Jo, mungkin lain kali kalau ada waktu kita bisa berbincang banyak, tapi untuk sekarang aku sedang buru-buru, jadi bisa kah kau..."
"JO! YA TUHAN! KAU INI!" tiba-tiba suara galak dari seseorang lagi-lagi menginterupsinya. Tapi... seperti suara orang mabuk?
"Y-ya ada apa pak?" Jo menatap takut atasannya itu.
"Nona Leidy memanggilmu! Cepat kau kesana!"
Jo segera pergi tapi sebelumnya sempat izin dengan Milles yang hanya diberi anggukan sementara atasan Jo itu lah yang gantian memperkenalkan diri pada Milles. "K-kau benar tuan Milles? Ya tuhan mimpi apa aku semalam! Pak, kenalkan, saya Roberts, saya..."
"Baik Roberts, bisa kah anda memberitahu saya sekarang juga dimana pintu club ini?" Milles sudah tak tahan, benar-benar ya semua orang ini! Membuatnya marah saja!
"Hah... ohh pintu? Pintu ya? Dimana ya pintunya? Haduh dimana pintunya pak?' sial, Milles diberi ujian bertemu orang bodoh seperti ini. Ya tuhan! Pekerjaannya masih banyak di kantor dan manusia-manusia ini benar-benar membuatnya gila!
"Ah sudahlah, biar saya aja yang cari sendiri, anda sepertinya mabuk."
"Mabuk? Bukan saya yang mabuk, tapi dia pak! Hahaha." Roberts jatuh tertidur di salah satu bangku setelah menunjuk bosnya, Milles sendiri bergeridik, seberapa banyak wine yang pria itu minum? Lalu ia menoleh, melihat siapa yang laki-laki itu tunjuk tadi.
Seketika pandangan Milles terkunci, disana, tepatnya di dekat area dance floor, terdapat seorang perempuan. Satu-satunya perempuan yang bisa membuat hati seorang Milles Patheir terguncang. Bagai di film india, rambut kecoklatan itu tertiup angin dan menampakkan lebih elok parasnya, padahal perempuan itu tidak memakai pakaian yang seksi ataupun riasan yang memabukkan, tapi sudah dapat membangunkan sisi gila yang dipendam oleh Milles selama ini.
"S-siapa perempuan itu?" Milles tak mampu bergerak, seluruh pandangannya seolah terhipnotis di sana.
nona Leidy.
Perkataan Jo tadi terngiang di benaknya, "Jadi nama perempuan itu Leidy?"