Siapa yang tidak mengenal Milles Patheir? Seorang anak konglo dan memiliki perusahaan yang berjaya yang ia bangun sendiri dengan kerja kerasnya. Leidy mematung sejenak, laki-laki yang menatapnya begitu aneh itu... Milles? Dan mengapa laki-laki itu terlihat seperti terhipnotis? Oh ya tuhan, apakah bar ini memiliki dukun atau seorang penghipnotis masuk dan menghipnotis laki-laki itu? Atau jangan-jangan... penampilannya lagi yang tidak beres makanya laki-laki itu menatapnya aneh sekali?
"Lio, sebentar. Aku ke sana sebentar."
Bartander bernama Lio itu mengikuti arah pandangan Leidy, "Hei, sejak kapan kau suka bersosialisasi dengan para pengusaha kaya raya itu, "Hei, ayolah kau memang kaya tapi bukannya kata kau, kau itu benci orang yang terlalu kaya atau kau..."
"Kau berisik sekali, Lio! Aku masih ada urusan, ingat pesan ku tadi ya!" Leidy segera beranjak, ia menyuruh Jo untuk langsung pergi ke mobilnya terlebih dahulu, ia berjalan mendekati Milles yang entah kenapa tidak kedip sekali, ugh, pria ini sakit atau mengapa?!
"H-hai! Kau kenapa? Apa kau mabuk? Atau kau.."
"Namaku Milles Patheir, kau?" Milles langsung saja memotong ucapan Leidy lalu tanpa tahu malu mendekat ke arah Leidy tanpa tanggung-tanggung. Kedua ujung hidung mereka bertemu, Leidy kaget bukan main. Huh, pesona pria itu kuat sekali.
Milles tersenyum samar, sial. kenapa perempuan ini gemas sekali? Dan mengapa ada perempuan semenggemaskan ini datang ke bar/ Mau apa dia? "Omong-omong kau wangi sekali, wangi vanila. Aku menyukainya." tanpa diduga Milles mencium lembut rambut Leidy.
"Apa y-yang kau lakukan?! Menjauhlah dariku sialan!" Leidy segera mendorong Milles, laki-laki itu hanya terkekeh, sialnya kekehannya itu kharismatik sekali!
"Namamu siapa? Aku dari tadi menanyakan itu, cantik-cantik kau budek ya?" Milles tersenyum lagi ketika Leidy menatapnya garang.
"Namaku Porry, sudah kan?! huh, dasar. Seharusnya aku tidak---"
"Namamu bukan Porry, kau berbohong ya padaku?"
Leidy gelagapan, tapi segera mungkin ia menormalkan ekspresi wajahnya. "Kau tidak percaya? Hei, itu namaku. P O R R Y, kalau kau sungguh tak mau percaya yasudah toh kita tak akan pernah bertemu lagi, kita itu---"
"Namamu Leidy, Leidy Rezar bukan? Kau mau mencoba berbohong padaku? Heumm?"
Sial, niat Leidy ke bar ini kan hanya ingin bertemu dengan teman lamanya yang kebetulan jadi bartander di club ini, tapi mengapa ia harus bertemu dengan si anak konglomerat ini? si Milles Patheir yang menurutnya agak... agak sedikit gila? Apa karna ini efek mabuk? Tapi sepertinya laki-laki itu sedang tidak mabuk, terbukti saat kedua hidung mereka bersinggungan tak ada barang sedikitpun bau alcohol yang tercium oleh Leidy, jadi apakah laki-laki itu dalam keadaan sadar?1 Dalam kadaan sadar saat menggoda Leidy?!
"Aku tidak mabuk, love."
Orang gila mana di pertemuan pertama sudah memanggilnya dengan sebutan love? Leidy rasa Milles ini sudah sangat mahir dalam merayu wanita, lihatlah sekarang. Dari perkataan manisnya, sikapnya juga tatapan mata yang ah apa itu! Sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki itu pemain yang handal! Leidy harus segera pergi atau dia yang akan menjadi permainan selanjutnya pria itu.
"Permisi, aku harus segera pergi," Leidy baru hendak pergi tapi Milles menahan pinggangnya, merangkulnya mesra.
"Kau ini benar-benar berbeda,"
Leidy geram, dasar pria b******k! "Lepaskan aku b******k! Kau ini tidak punya malu hah? Sudah berapa banyak wanita yang kau ajak hah? Sudah berapa banyak wanita yang kau buat bertekuk lutut? Asal kau tau, aku bukan seperti perempuan-perempuan itu, aku bukan jalang. Dan aku juga tidak tertarik padamu, meski kau--"
"Tapi aku yang tertarik padamu, Leidy." Milles mengatakannya begitu lembut, Leidy tak percaya. Apa-apaan ini, jadi dengan segera ia menendang bagian bawah laki-laki itu lalu kabur dan tak lupa membawa tasnya sekalian. Ia menengok, sial! Laki-laki itu mengejarnya! Dasar gila!
Leidy terbirit-b***t keluar dari area club, ia menengok ke kanan-kiri ketika sudah sampai di halaman club, dimana si Jo itu! Ia kan sudah bilang tadi jangan parkir mobil jauh-jauh! Ah, sial sekali dirinya ini! Leidy menoleh ke belakang, rupa-rupanya si Milles-Milles itu masih mengjarnya, dan bahkan dengan tatapan yang... aneh?
"Demi dewi bulan, mau apa laki-laki gila itu hah?!" dengan amat sangat terpaksa Leidy kembali berlari, menyusuri troatar yang gelap dengan high heels lima centinya itu!
Disisi lain, Milles menggeram. Apa wanita itu sama gilanya dengan dirinya? Kenapa ia malah berlari dengan sepatu tinggi itu? Kalau ia terluka bagaimana, apa wanita itu tidsk punya otak? Ayolah, ia tidak akan memakan wanita itu, ia hanya ingin berkenalan dan... berniat mendekatinya, apa ia semenakutkan itu sampai-sampai wanita itu kabur darinya? Ahh apa wanita itu mengira dirinya ini penjahat? Atau lebih buruknya lagi penculik? Cih!
Jadi dengan keahliannya berlari jangka panjang, Milles dapat menyamai lari Leidy, lalu menarik lengan wanita itu sampai terdengan pekikkan kaget plus histeris. "KYAAA LEPASKAN AKU! JO! TOLONG, SIAPA PUN TOLONG AKUU!" Leidy berusaha terlepas dari cengkraman Milles, sedangkan Milles mengumpati wanita ini karna berani-beraninya ia takut f=dengannya, hei, Milles ini manusia bukan iblis!
"Hei, tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu ketika kau diam. Tenanglah!"
"Tidak! Kau pasti ingin apa-apa kan dari ku! Lepaskan aku! Tolongggg! Tolongg---"
"Dengar Leidy, aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin berkenalan, itu saja. Tapi kau takut seperti orang gila dan kabur dari ku."
Leidy menatap wajah Milles, ya memang tampang Milles ini bukanlah seperti penculik atau semacamnya, tapi mana ada yang tahu dibalik otak si anak konglomerat ini. Leidy kan hanya berjaga-jaga! "Baik! Aku tidak akan memberontak lagi tapi asal jangan pegang-pegang aku!" Milles mengalah, ia melepaskan cengkraman tangannya, wanita itu pun memberengut kesal. Milles terkekeh, Leidy ini lucu tapi sayang sangat pemarah dan sedikit... galak.
"Jadi kau ingin berkenalan denganku saja?" kata Leidy sedikit sengak, ia bahkan tak mau menatap wajah Milles.
"Hei, setidaknya tatap aku. Mana ada orang berkenalan tapi tidak saling tatap muka?"
Leidy mencebik, kebanyakan mau ya laki-laki ini!
"Aku sudah menghadapmu jadi tolong katakan dengan cepat, lagipun aku juga sudah tau siapa dirimu, kita tidak usah berkenalan secara personal pun aku sudah tau." Leidy menatap sinis lawan bicaranya, tapi Milles masoh mempertahankan senyum pepsodentnya itu. Menyebalkan.
"Ya aku tau pasti tidak mungkin tidak ada yang mengenal ku, secara aku ini kan terkenal dan..."
"Kalau kau masih mau berbangga diri, lebih baik aku pulang."
Giliran Milles yang mencebik, "Kau ini pemarah sekali, tapi tak apa aku suka perempuan pemarah." Leidy melotot. Berani sekali dia!
"Perkenalkan, aku Milles Patheir. Aku CEO di perusahaan Mizzerd. Aku suka makanan manis seperti popcorn, aku tidak suka matcha dan aku alergi buah nanas. Tipe perempuanku seperti mu, dan aku juga adalah calon papa dari anak-anakmu kelak. Bagaimana perkenalanku? Kau terkesan? Hem? Hem?"
Leidy menganga, tak habis pikir dengan jalan pikiran anak konglomerat ini, dan apa tadi? Tipe perempuannya itu seperti dirinya? Yang benar saja? Dan apa lagi tadi? Calon papa dari anak-anaknya? Heiiiiii tidakkah itu terlalu berterus terang? Perlu kah Leidy menonjoknya? Dimana citra yang bertebaran di berita-berita bahwa sikap pewaris satu-satunya anak konglomerat ibu kota ini yang kerap di cap sebagai si pria berhati dingin? Berhati kejam? Kemana kaburnya citra publik itu hah!
"Kau terkesan? Ayolah katakan sesuatu, kau pasti lagi terbang ke langit ke tujuh ya?"
Leidy ingin muntah rasanya, "Ya aku terkesan,"
"Kan! Sudah ku duga bahwa kau---"
"TERKESAN INGIN MUNTAH! HUEK!"