Caca berjalan tergesa sambil membawa tumpukan buku di kedua tangannya. Tingginya hampir mencapai dagu cewek itu, tetapi Caca tidak tampak kesulitan. Olahraga setiap hari dan latihan bela diri beberapa kali seminggu membuat otot tubuhnya terlatih, masalah kecil jika hanya membawa beban segini.
Sarah yang berjalan dengan tumpukan buku yang tidak terlalu banyak saja tampak kewalahan dengan jalan ngebut Caca.
“Heh, tungguin, woy!” seru Sarah kesal. Kakinya hampir saja tersandung tadi.
“Sori, tapi gue bener-bener harus pergi habis ini.”
“Tugas asisten lagi?”
Caca menangguk lesu.
“Gue duluan, ya. Mau minta izin.”
Selesai bicara Caca langsung menambah kecepatannya, meninggalkan Sarah di belakang.
Tugas Caca sebagai Asisten OSIS langsung membuatnya kerepotan begitu MOS selesai dilaksanakan, ditambah Caca juga terkadang harus bekerja sama dengan pengurus MPK karena sebagian besar pekerjaan OSIS berhubungan dengan MPK. Namun, hal itu membuat Caca jadi mengenal Eugene, sang Ketua MPK yang ramah dan memiliki senyum yang memesona. Jelas Caca lebih suka bekerja di bawah Eugene daripada Irsyad, yang dari melihat tampangnya saja sudah membuat Caca ingin mendaratkan tinjunya.
Seperti pada saat ini.
Caca dan Sarah disuruh membawa buku pelajaran dari perpustakaan, ketika Irsyad tiba-tiba muncul dan menyuruhnya untuk pergi ke ruang sekretariat OSIS. Awalnya Caca menolak. Namun, dengan senyum miringnya Irsyad mengibaskan surat dispensasi yang telah disetujui tepat ke muka Caca. Akhirnya mau tidak mau Caca mengiyakan.
Dalam kepala, Caca terus membayangkan abangnya yang memohon ampun karena ditampar kanan kiri oleh Caca.
Ha … setidaknya Caca jadi lebih tenang walau hanya dalam bayangan saja.
***
“Anggi, gue serahin dia ke lo.”
Begitu masuk ke ruang sekretariat, Irsyad langsung menggiring Caca untuk mendekati Anggiana.
“Oh, udah datang? Sini duduk.” Anggiana tersenyum simpul sambil menepuk tempat kosong di sofa yang didudukinya.
Caca menurut. Raut wajahnya terlihat masam, tetapi ia langsung menormalkan ekspresinya begitu melihat Anggiana yang ramah.
“Irsyad kejam banget, ya?” kekeh Anggiana. Muka merengut Caca baginya sangat lucu. Dahinya yang berkerut dan pipinya yang sedikit menggembung mengingatkan Anggiana pada anak kucing yang sedang mengeong marah. Bukannya seram, tetapi malah terlihat menggemaskan.
Mendapat simpati Anggiana, membuat Caca seperti melihat malaikat.
‘Andai aja gue punya kakak cewek.’
“Gue tinggal dulu. Istirahat gue balik sini. Lagi ada kuis jadi gue gak bisa bolos.” Irsyad mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja Ketua OSIS lalu pergi keluar setelah mengacak rambut Caca gemas.
Irsyad tertawa puas melihat Caca yang misuh-misuh sambil membenarkan rambutnya, sebelum ia menutup pintu sekretariat.
Sepeninggal Irsyad, suasana kembali tenang. Anggiana yang sibuk mengetik, menggeserkan laptopnya ke depan Caca.
“Kamu bisa bikin power point?”
Caca mengangguk kecil. “Bisa, Kak.”
Anggiana membuka beberapa folder yang berbeda dan menunjukkannya pada Caca.
“Rangkum ini terus dibikin power point. Kakak udah bikin sebagian, jadi kamu tinggal nerusin.”
Anggiana menunjukkan bagian yang belum dikerjakan olehnya. Sesekali ia melirik jam dinding dengan raut gelisah.
“Kakak mau ada ulangan. Gak apa-apa ditinggal sendiri?”
Caca kembali mengangguk. Matanya sudah sibuk membaca file yang ditunjukkan Anggiana tadi.
“Kalau gitu, kakak pergi dulu, ya. Bye!”
Dengan tergesa Anggiana menyambar tasnya lalu pergi keluar.
“Ha ….”
Caca menghembuskan napas panjang. Dia tidak menyangka tugas asisten bisa sebanyak ini. Di hari-hari awal, Caca hanya mendapat tugas ringan, seperti mengantarkan berkas-berkas, menyusun arsip, ataupun membantu tugas pengurus lain yang tidak begitu berat.
Lah, ini? Membuat power point dari file sebanyak ini?
Entah memang Caca yang sudah dipercaya atau karena tidak ada pilihan lain, sepertinya para pengurus senang sekali menyuruh Caca ini itu. Jadinya mau tidak mau Caca harus menurut dan menyelesaikan pekerjaannya segera.
“Maaf, ya. Sekretaris dua masih di rumah sakit karena kecelakaan sebelum MOS. Jadi kakak terpaksa minta tolong sama kamu.”
Seketika ingatan Caca kembali pada beberapa hari lalu di mana pertama kalinya Anggiana memberi tugas padanya. Anggiana yang galaknya ampun-ampunan, persis Irsyad jika sedang dalam mode setan, ternyata orang yang ramah dan riang.
Tidak tega dengan tampang memelas Anggiana yang mirip seperti anak anjing yang tersesat, akhirnya membuat Caca dengan pasrah memulai pekerjaannya. Suasana di ruangan begitu tenang dan sepi, hanya suara jarum jam dinding dan ketikan keyboard yang menemani Caca.
“Sepi banget kaya warungnya Bi Laksmi.”
Bi Laksmi adalah pemilik warung dekat kompleks perumahan Caca yang akhir-akhir ini sepi karena rumor boraks di tahu jualannya.
“Heh! Sembarangan kalo ngomong.” Tiba-tiba Caca menepuk bibirnya sendiri.
Caca yang mulai bosan dengan keheningan, mengambil ponselnya di saku lalu menyetel musik anime kesukaannya. Tidak perlu repot pakai earphone, karena ruang sekretariat memiliki bangunan tersendiri yang agak jauh terpisah dari gedung kelas. Lagian, Caca lupa kalau earphone-nya ada di tas.
***
“Sarah, tunggu!”
John langsung berderap menyusul Sarah keluar kelas begitu bel istirahat berbunyi.
“Lo liat ayang gue, gak?”
Sarah memandang John dengan tampang jijik. “Najis, dih.”
Masa bodo dengan John. Sarah dengan cuek berjalan menyusuri koridor, pergi ke kelas Nadia.
“Jimmy ganteng, gue datang!”
Kali ini, John yang melihat Sarah dengan ekspresi jijik, sebelum dia berlari melewati Sarah dan melesat ke arah kantin.
Kelas Caca dan yang lain terpisah setelah MOS. Caca, Sarah, Victor dan John berada di kelas IPA, sedang Nadia dan sepupunya Jimmy yang tidak ikut masa orientasi, ada di kelas IPS. Namun, walau terpisah, Caca dan teman-temannya selalu bersama setiap ada kesempatan. Seperti jam istirahat sekarang, contohnya.
“Nadia!” seru Sarah riang, menyembulkan diri dari balik pintu kelas yang terbuka.
“Berisik!” balas Nadia dingin. Namun, kakinya melangkah mendekati sahabatnya tersebut.
“Caca?” tanya Nadia to the point.
“Biasa,” jawab Sarah singkat. Nadia lalu mengangguk mengerti.
“Halo, Sarah!” sapa Jimmy ramah tiba-tiba muncul dari belakang Nadia. Dia melambaikan tangan ringan sambil tersenyum, membuat pipi Sarah yang seputih s**u menjadi merona merah.
“Hai, ganteng!”
Seketika tangan Nadia melayang mengenai bagian belakang Sarah.
Plak.
“Plis, jangan kumat di sini.”
Jimmy terkekeh melihat Sarah berubah merengut sambil mengusap kepalanya.
“Jahat.”
***
Karena kebanyakan drama, akhirnya Sarah, Nadia, dan Jimmy tidak kebagian tempat duduk saat memasuki kantin. Untung bagi mereka, dari kejauhan John melambaikan tangan menyuruh mereka datang. John memberikan kursi kosong pada ketiganya, yang langsung melotot tak percaya ketika melihat Victor sudah duduk anteng di tempatnya.
“Tumben lo bareng kita.”
Victor tidak menjawab rasa penasaran Sarah dan hanya diam mengunyah makanan di piringnya. Sarah sudah biasa dengan perlakuan seperti itu, jadi dia hanya mengedikkan bahu sekilas lalu pergi memesan makanan.
“Aneh. Gue gak liat Caca. Apa dia masih sibuk, ya?” John memanjangkan lehernya dan menengok ke sekeliling, mencari sosok Caca. Setelah yakin bahwa Caca memang tidak ada di kantin, John terduduk lesu sambil memakan nasi pecel yang tadi dipesannya.
Berbanding terbalik dengan para sahabatnya yang sedang makan enak, Caca masih tenggelam dalam pekerjaannya, sendirian di ruang sekretariat. Irsyad belum kembali lagi sejak pergi tadi, begitupun dengan Anggiana. Perut Caca sudah keroncongan, tetapi cewek itu masih enggan beranjak karena masih ada beberapa bagian lagi yang harus dibuat menjadi file power point.
“Pengen seblak,” rengek Caca memelas. Tadinya Caca mau menitip makanan pada Sarah, tetapi berpikir bahwa itu akan merepotkan, akhirnya Caca mengurungkan niatnya.
“Tapi laper,” keluh Caca. Tangannya mengusap perut yang sudah berbunyi.
Sementara itu, Irsyad sedang berdiri santai di kantin, mengantri untuk membeli makanan.
“Nasi goreng seafood satu. Pedesnya sedikit aja.”
Setelah menyelesaikan pesanannya Irsyad memandang sekitar. Netranya langsung berbinar senang ketika mendapati sesosok orang yang sejak tadi dicarinya.
“Nauval, sini!” Irsyad melambaikan tangan pada Nauval, menyuruhnya untuk mendekat.
“Napa, Bang?”
“Beliin s**u rasa vanila.”
Nauval memberengut tak suka. “Kenapa gak beli sendiri?”
“Gue lagi nunggu nasi.”
“Gue juga lagi nunggu siomay.”
Irsyad melirik pada kios pedagang siomay. Melihat banyaknya antrian di sana, membuat dahi Irsyad mengernyit.
“Lo udah pesen?”
“Udah. Kan gue bilang tadi, lagi nunggu.” Nauval ikutan melirik ke arah yang dilihat Irsyad. “Oh, udah kayaknya. Gue pergi dulu.”
Nauval berlari meninggalkan Irsyad tanpa menoleh kembali.
“Beliin s**u!” teriak Irsyad. Nauval hanya mengacungkan tangannya, memberi tanda ‘oke’.
Beberapa menit kemudian Irsyad keluar dari kantin sambil menenteng kotak nasi di kantung plastik. Sebagai tambahan, ada sebungkus roti rasa kelapa di dalamnya.
Irsyad langsung tersenyum kecil melihat Nauval yang berdiri menyender di tembok luar kantin, seperti sedang menunggunya keluar.
“Susu.”
Nauval mengacungkan tangannya yang memegang s**u kotak berukuran sedang. Irsyad menghampiri Nauval lalu menyodorkan kantung plastik di tangan setelah mengambil bungkusan rotinya.
“Anterin ke ruang sekre. Susunya juga.”