Selesai acara inagurasi, waktunya untuk memeriksa jumlah tanda tangan yang berhasil dikumpulkan oleh peserta. Di kelas masing-masing, para peserta dipanggil ke depan kelas satu-persatu oleh panitia.
“Thanks, ya, Ca. Sekarang kita malah punya lebih. Hehe.” Sarah tertawa bahagia melihat ada lebih dari 50 tanda tangan di bukunya.
Caca ikut melihat buku kecilnya. Tanda tangan Irsyad dan Reynaldi dengan jelas ada di antara tanda tangan yang lain, yang sebenarnya menjadi penyebab kenapa Caca terlihat begitu bahagia pagi tadi. Namun, melihat ia berhasil mengumpulkan beberapa lagi setelah inagurasi tadi, membuatnya tidak terlalu senang.
‘Tau gini gue gak perlu ngerusuh di kamar dia.’
“Gue denger, sih, ya. Tanda tangan dari pengurus inti ada nilai lebih, lho.”
Caca, Sarah dan Nadia tanpa sengaja mendengar pembicaraan dari peserta lain yang duduk tidak jauh dari bangku mereka. Otomatis ketiga cewek itu kembali memeriksa bukunya masing-masing.
“Wah, mantap. Kita dapet semua pengurus inti!” sahut Sarah girang. Tanda tangan semua pengurus inti dari MPK, OSIS, dan yang lainnya seolah terlihat lebih bersinar dari yang lain di buku miliknya.
“Emang kita bakal dapet apaan kalau dapet tanda tangan mereka?” Caca memiringkan kepalanya bingung.
“Asisten OSIS,” celetuk Nadia tiba-tiba.
“Hah?”
“Gue denger, peserta terbaik nanti bakal jadi asisten OSIS.” Nadia melanjutkan kalimatnya begitu melihat Caca dan Sarah memasanga muka bingung.
“Iyakah? Siapa, ya, yang bakal kepilih nanti?” tanya Sarah pada dirinya sendiri.
“Siapapun asal jangan gue.” Entah kenapa, mendengar jabatan kehormatan itu membuat mood Caca seketika turun.
“Keisya Cleopatra.”
Mendengar namanya dipanggil, Caca langsung berdiri. Ia berjalan ke depan kelas sambil membawa bukunya, menyerahkannya pada salah satu panitia yang duduk berjejer di depan kelas. Ada 3 panitia dari OSIS dan MPK yang sedang mengisi kelas Caca saat ini. Caca melirik ke samping, dan melihat seorang siswi yang berdiri gelisah, keringat bening terlihat mengilat di dahi cewek itu.
Caca yang tidak mempunyai kekurangan apa pun di buku miliknya segera mendapat cap lolos lalu disuruh duduk kembali.
Tepat sebelum berbalik, Caca tiba-tiba terlonjak kaget mendengar sentakan dari salah satu panitia.
“Kenapa tanda tangan kamu kurang!?”
Cewek yang tadi sempat mendapat perhatian Caca terlihat mengenaskan saat tubuhnya tersentak dan sedikit gemetar.
“I-itu … anu ….”
Brak!
Kali ini Caca melotot kaget. Ia masih terpaku di tempat, tidak tahu harus berbuat apa.
“Berdiri yang tegak! Udah SMA kok loyo. Ngomong yang jelas! Apa alasan kamu bisa kurang tanda tangan!?” bentak panitia itu kembali. Caca diam-diam melirik name-tag pada d**a panitia itu.
‘Anggiana Tri Lestari’.
Siswa yang duduk di samping panitia bernama Anggiana itu menyadari tatapan Caca. Matanya menatap Caca tajam. “Ngapain masih di sini? Mau kena bentak juga?”
Caca mengerjap beberapa kali sebelum kembali sadar. Ia mengangguk kecil pada siswa tadi lalu beranjak ke bangkunya.
Atau itulah yang Caca niatkan sebelumnya.
Kenyataannya, Caca masih berdiri di tempat, mengamati cewek mungil yang berdiri sambil meremas kedua tangannya takut.
“A-aku … Maaf kak. Itu—“
“Kak?”
Anggiana yang hendak menggebrak meja lagi karena kesal tidak kunjung mendapat jawaban langsung menoleh. Netranya mendapati sosok Caca yang mendekat padanya, menyodorkan sebuah buku kecil.
“Ini. Kalau perlu, apa aku bisa kasih beberapa tanda tangan buat dia?” tanya Caca hati-hati.
Walaupun Caca terkenal tomboy dan barbar, Caca tetap tahu sopan santun. Dia berusaha bersikap sesopan mungin, meskipun Caca tahu sifat galak para panitia saat ini sengaja dibuat-buat.
“Oh, ada pahlawan kesiangan, rupanya.” Panitia yang tadi menyuruh Caca duduk, memandang Caca sambil menyipitkan matanya. Bibirnya membentuk senyum sinis.
‘Yah, salah lagi deh, gue.’
Selanjutnya, Anggiana ganti menyerang Caca tanpa ampun. Sebisa mungkin Caca menahan diri untuk tidak memutar bola matanya atapun menyela dengan kata-kata yang kurang pantas. Sedang cewek yang berkuncir dua di samping Caca menundukkan kepalanya, badannya gemetar seperti sedang menahan tangis.
Sarah dan Nadia yang melihat sahabat mereka dibentak dan seolah dipermalukan di depan kelas, meringis kasihan.
“Semoga dia tahan. Kalau meledak bisa gawat nanti.”
“Hm, kalau dia ngamuk, seru pasti.”
Seketika Sarah menoleh pada Nadia dengan tatapan horor.
***
“Huwa, hampir aja gue kelepasan tadi.” Caca menjatuhkan dahinya ke atas meja dengan suara ‘duk’ yang cukup keras, buku kecil di tangannya ia lempar sembarangan. Sialnya, buku tersebut mengenai d**a Victor. Namun, cowok itu tetap diam menatap Caca tanpa ekspresi, menaruh buku Caca di samping kepala cewek itu.
“Lo, sih. Sok-sokan pake ngebelain orang lain,” cibir Sarah.
“Jahat dih.”
“Harus itu.”
Caca langsung mendongak dan menatap Nadia tajam.
“Apa?” tatap Nadia dingin.
“Bodo, ah!” Caca kembali menenggelamkan kepalanya di atas meja.
Saat Caca dimarahi habis-habisan oleh para panitia, Caca hampir tidak bisa mengontrol mulutnya. Namun, akhirnya ia bisa bertahan. Cewek yang berdiri gemetar di sampingnya membuat Caca bersimpati, dan rela ikut menjadi sasaran empuk para panitia yang kurang kerjaan itu.
“Sarah Yovanca.”
“Nadia Engelina.”
Sarah dan Nadia langsung berdiri mendengar nama mereka disebut.
“Gue pergi dulu. Jangan kangen.” Sarah menepuk kepala Caca sekilas dengan cengiran lebar di wajahnya. Caca menepis tangan Sarah sambil mengerang tak suka.
Sepeninggal kedua sahabatnya, Caca menolehkan kepalanya ke samping menghadap Victor. Netranya menelusuri wajah cowok itu dengan seksama. Rambut hitam dengan bagian depan agak berantakan, hidung mancung dan mulus, warna mata yang coklat bening menatap buku di tangannya, bibir berwarna kemerahan yang terkatup rapat, dan rahang tegas yang halus dan licin, antara memang belum ditumbuhi bulu atau cowok itu yang rajin mencukurnya.
Sedang asyik memandangi Victor sambil melamun, tanpa Caca duga tatapan cowok itu tiba-tiba jatuh ke arahnya. Selama beberapa detik mereka bertatapan dalam diam. Victor mengangkat satu alisnya, heran melihat Caca yang masih betah memandanginya tanpa berkedip. Biasanya orang lain tidak bisa menatapnya terlalu lama. Kalau tidak merasa malu sendiri karena telah ketahuan mencuri pandang, mereka juga biasanya akan salah tingkah.
“Kenapa natap gue kaya gitu?” tanya Victor datar.
Sumpah. Ini adalah kalimat terpanjang yang pernah didengar Caca dari mulut Victor.
Caca mengedikkan bahu sekilas, masih menatap Victor tanpa berkedip.
“Di kiri ada tembok. Pemandangannya gak bagus.”
Entah kenapa Victor merasakan perasaan aneh yang perlahan muncul di dadanya.
“Terus, gue pemandangan bagus, gitu?” tanya Victor pelan.
Tanpa ragu Caca mengangguk. Pupil mata Victor seketika melebar, tidak menduga akan jawaban Caca.
“Di samping gue cuma ada lo. Jadi mau liatin siapa lagi?” ujar Caca dengan nada polos.
“Kalo lo gak suka, ya udah gue merem,” ujar Caca lagi.
Begitu memejamkan mata, Caca baru menyadari rasa lelah dan kaku di tubuhnya karena efek dibentak tadi.
‘Masih agak lama sebelum uapacara dimulai. Mending tidur dulu.’
Victor yang masih termangu karena jawaban Caca, hanya bisa menatap wajah cewek di sampingnya yang terlihat begitu tenang seperti tanpa beban. Seolah kalimat yang diucapkannya tadi tidak berarti apa-apa.
“Lho? Dia tidur?” Sarah yang baru datang bertanya dengan heran pada Victor. Mengerjap kaget, Victor menoleh pada Sarah lalu mengangguk kecil.
“Kebiasaan,” ucap Nadia memutar bola matanya. Meskipun begitu, dengan lembut dia mengangkat kepala Caca dan menyelipkan beberapa buku di sana. Kini posisi Caca terlihat lebih nyaman dari sebelumnya.
“Cie, perhatian.”
“Bacot.”
Sarah terkikik melihat Nadia yang kembali memasang muka jutek.
***
Upacara penutupan Masa Orientasi Siswa dimulai pada jam 1 siang. Terdengar keluhan dari sana-sini oleh para peserta. Namun, panitia seperti menutup telingan mereka. Bodo amat dengan anak-anak manja itu, begitu pikir para panitia. Akibatnya, para pengurus dari PMR yang kerepotan. Mereka jadi sibuk mengangkat para murid yang pingsan, tidak kuat menahan panas matahari yang menyengat.
“Kita kejam gak, sih? Mungkin harusnya agak sorean.” Eugene berbisik pada Irsyad dari pinggir lapangan. Ia menatap khawatir pada para peserta yang basah dipenuhi peluh.
“Kemah nanti bakal lebih parah. Segini gak ada apa-apanya.”
Belum sempat Irsyad menjawab, Yogi sudah lebih dulu menimpali. Eugene meringis kecil melihat raut wajah datar sang Pradana. Sudah diduga dari si beruang kutub. Tidak ada ampun.
“Ya, kan, beda MOS sama kemah.”
“Terserah. Tapi gue gak butuh orang lemah.”
“Waw. Mantap sekali.” Nauval yang tiba-tiba muncul dari belakang Yogi bertepuk tangan mendengar kalimat tanpa perasaan yang dilontarkan cowok itu. Cowok jangkung berkulit pucat persis seperti beruang kutub itu memutar bola matanya malas.
“Ketua, semuanya udah siap.”
Salah satu panitia berlari menuju Irsyad sambil menyerahkan sebuah map. Irsyad membuka map tersebut lalu tersenyum puas melihat isinya.
“Oke. Mulai upacaranya.”
Upacara berlangsung dengan tertib. Walaupun ekspresi para peserta terlihat seperti sudah kerja rodi, tidak terdengar lagi keluhan yang keluar dari mulut mereka. Caca yang tidak tahan panas, mengeratkan kepalan tangan untuk menjaga kesadarannya. Sudah cukup ia pingsan saat upacara di SMP, kali ini ia tidak mau kejadian dulu terulang.
“Ca, lo gak apa-apa?” tanya Sarah khawatir. Muka Caca sudah pucat seperti kapas, bibirnya juga seperti kehilangan warna.
Caca menggeleng. “Gue baik-baik aja. Gini doang gak ada apa-apanya.”
“Jangan sok kuat,” sindir Nadia dingin.
Tersenyum, Caca menaruh pandangannya lurus ke depan. Caca tahu, biarpun Nadia berkata seperti itu, sebenarnya ia khawatir terhadap Caca.
“Thanks.”
“Gue gak muji lo.”
Kekehan kecil lolos dari bibir Caca.
Namun, kekehan itu dengan segera menghilang begitu ia mendengar namanya disebut sebagai peserta MOS terbaik.
Itu artinya, Caca akan menjadi Asisten OSIS selama satu semester.
“Sial. Pasti kerjaan si jurig leak.”