Pagi-pagi sekali Irsyad sudah bangun. Sejenak ia melirik Caca yang masih memejamkan mata di sampingnya sebelum bangkit lalu pergi mandi. Saat Irsyad keluar dengan handuk yang terlilit di pinggang, Caca masih terlelap.
“Dasar kebo.”
Irsyad menyadari bantal gulingnya terjatuh lalu mengambilnya, menyelipkanya kembali ke pelukan Caca.
Seperti menemukan kembali apa yang hilang, Caca tersenyum dalam tidurnya. Tanpa sadar, sudut bibir Irsyad sedikit tertarik ke atas. Melihat adiknya tertidur tanpa beban seperti ini, Irsyad sudah sangat bersyukur.
‘Semoga aja mimpi buruk itu gak datang lagi.’
Irsyad berdo’a dalam hatinya sambil membenarkan selimut Caca yang melorot sampai perut. Pandangan Irsyad lalu beralih ke ponselnya di atas nakas. Satu alis Irsyad terangkat melihat layarnya menyala sendiri, menunjukkan ada pesan baru di sana. Dari Reynaldi.
‘Gue ke rumah lo sekarang.’
Irsyad segera bersiap memakai seragamnya. Tak lupa ia juga mengemas seragamnya yang lain ke dalam tas. Saat akan memasang pin OSIS, Irsyad menyadari tiga buku kecil yang tergeletak di atas meja belajarnya.
Tangan Irsyad terulur begitu saja lalu mengambil salah satu buku itu. Di sampul bagian depan tertulis nama lengkap Caca.
Keisya Cleopatra W.H.
Irsyad tersenyum. Anak itu begitu penurut. Sampai sekarang, Caca selalu menyingkat nama belakangnya. Sebenarnya Irsyad juga sama. Namun, tidak seperti Caca yang tidak tahu alasan kenapa mereka harus menyingkat nama belakang keluarga mereka, Irsyad sudah mengetahui semuanya sejak dulu.
Membuka lembar demi lembar, Irsyad mengamati tulisan tangan Caca yang cukup rapi. Di bagian belakang buku, Irsyad baru ber-oh ria mengingat kenapa adiknya semangat sekali membuat rusuh semalam.
Irsyad bergerak untuk mengambil pulpennya ketika pintu kamarnya diketuk.
Tok, tok.
“Masuk.”
“Udah siap?” Kepala seorang cowok terlihat menyembul dari celah pintu.
“Ebuset. Lo baru chat tadi, kan?” kaget Irsyad. ia tidak menduga Reynaldi akan datang secepat ini.
“Gue chat lo pas udah sampe depan kompleks.”
“Oh,”
Perhatian Reynaldi langsung teralih pada Caca begitu ia masuk kamar.
“Caca tidur di sini semalem?”
Irsyad tidak menjawab. Cowok itu dengan cepat meneruskan niatnya yang sempat tertunda tadi.
“Lho? Tanda tangan Caca kurang?”
“Udah pas.” Irsyad menunjukkan kolom terakhir untuk membubuhkan tanda tangan yang sudah terisi dengan miliknya.
“Yah, padahal gue belum kasih.”
Namun, biarpun berkata begitu, Reynaldi tetap merebut bukunya dari Irsyad lalu membubuhkan tanda tangannya ke kolom tambahan.
“Nah, gini baru dibilang lengkap,” kata Reynaldi sambil mengangguk puas.
Irsyad memutar bola matanya. Tanpa kata ia lalu menyeret Reynaldi keluar kamar.
***
“Hehe.”
“Hehehe.”
“Hehehehehehe.”
Maria memandang anaknya dengan eksresi aneh. Sejak turun untuk sarapan tadi, Caca terus menyengir lebar. Entah apa yang sudah merasuki putrinya itu.
“Ca?”
“Eh, iya, Ma?” Caca terlonjak di kursinya lalu menoleh pada Maria dengan tatapan bertanya.
“Ngapain masih duduk di sini? Piring kamu udah kosong, Sayang.”
Caca menurunkan pandangannya. Piringnya memang sudah bersih tanpa sisa. Caca meringis malu. “Hehe.”
“Kamu lagi kesambet apa, hm?”
“Ih, Mama. Kok ngomongnya gitu, sih?” protes Caca. Pipinya menggembung kesal.
Maria hanya terkekeh melihat ekspresi lucu anaknya. “Udah sana berangkat. Papa lagi nungguin di depan.”
Caca meneguk habis s**u vanilla-nya sebelum menggeleng. “Caca mau bareng sama Sarah. Barusan dia chat Caca katanya udah nunggu di depan gerbang komplek.”
Maria mengangguk mengerti, membiarkan Caca berlari keluar setelah menyalami tangannya.
“Papa, Caca berangkat dulu!” Setengah berteriak Caca berpamitan.
“Eh, sun paginya mana?” Hendrick balas setengah teriak sambil merengut, melihat Caca sudah cukup jauh berlari ke gerbang.
“Gak mau. Sama abang aja,” seloroh Caca sebelum menghilang dari pandangan.
***
“Hatchi!”
Irsyad menggosok hidungnya yang entah kenapa terasa gatal.
“Kenapa, Syad? Pilek?” tanya Anggiana yang duduk di sampingnya.
“Hah? Oh, nggak. Gue juga gak tau kenapa bisa bersin.”
Anggiana hanya mengangguk kecil. Cewek itu meneruskan memberi instruksi pada murid lain.
Saat ini Irsyad sedang sibuk mempersiapkan acara inagurasi nanti. Demonstrasi dari berbagai ekstrakulikuler akan menjadi penutup acara MOS sebelum upacara penutupan yang dilakukan nanti siang.
Irsyad mengamati seragam yang dikenakannya. Tangannya bergrak merapikan sepasang evolet PKS yang bertengger di pundak, lalu membenarkan manset biru-putihnya yang sedikit miring. Terakhir Irsyad memasukkan pluit yang tersambung pada kart ke dalam sakunya. Sedang pet berwarna putih sudah terselip rapi di seragam belakangnya. Irsyad masih enggan memakai topi karena rambutnya yang masih sedikit basah sehabis mandi tadi pagi.
“Widih, ganteng bener.” Seorang cowok tiba-tiba menepuk pundak Irsyad dari samping. Irsyad hanya melirik sekilas, tidak menjawab sahutan orang di sampingnya.
“Judes bener, Ketua.” Cowok itu kembali berusaha menarik perhatian Irsyad. Namun, dengan cuek Irsyad menepis tangan cowok itu dari pundaknya.
“Gimana persiapan?” tanya Irsyad tanpa menoleh.
“Semuanya udah siap. Nauval dan Reynaldi baru aja selesai briefing tadi.”
“Si Yogi, gimana?”
Cowok itu memutar bola matanya malas sebelum menjawab. “Lo tau sendiri lah. Pradana kita kan dinginnya udah kaya beruang kutub. Anggota yang lain udah pada rapi tanpa disuruh. Takut diamuk.”
Irsyad diam-diam mengulum senyum. Yogi memang luar biasa. Hanya dengan aura dan tatapannya saja sudah membuat orang lain langsung menurut.
“Bagus. Peserta udah di lapangan?” tanya Irsyad lagi.
Cowok itu mengangguk. “Eugene lagi ngurus mereka.”
“Oke. Kalau gitu kita mulai acaranya sekarang.”
Irsyad berderap mendekati para anak buahnya lalu memberi mereka instruksi terakhirnya.
Sementara itu, para peserta sudah duduk rapi di sepanjang pinggir lapangan membentuk formasi letter-U, menunggu acara dimulai.
“Duh, panas!” keluh Sarah sambil mengipasi lehernya dengan buku.
Caca yang duduk di antara Sarah dan Nadia hanya diam sambil memainkan rambutnya yang dikuncir dua. Melihat pita biru di kepala Caca sedikit miring, secara spontan Nadia membenarkan posisi pita.
“Thanks,” cengir Caca.
“Hm,”
“Lo, kok, bisa sih pitanya rapi terus? Heran gue.” Sarah yang menyadari pitanya juga sedikit miring, menarik ujung pita sampai lepas sebelum kembali mengikatkannya kembali ke rambut.
“Gue elegan. Gak kaya lu, barbar,” ujar Nadia pedas.
Muka Sarah dan Caca langsung tertekuk begitu dibilang barbar.
“Yang barbar dia, bukan gue!” protes Sarah sambil menunjuk Caca.
Tanpa ragu Caca mencubit pipi Sarah gemas. “Gue badass, bukan barbar.”
“Iya, bad-ass. p****t b***k,” celetuk Nadia.
“Sialan.”
Tawa Sarah langsung meledak. Walaupun kesal, mau tidak mau Caca pun ikut tertawa. Nadia yang menganggap dirinya punya selera humor tinggi, hanya menyengir kecil. Begitu-begitu Nadia juga tahu caranya untuk tersenyum.
Ya, walaupun seringkali dia memasang muka jutek, sih.
***
Acara inagurasi berlangsung dengan meriah. Berbagai demonstrasi dari semua ekstrakulikuler membuat para siswa menganga kagum. Tidak hanya dari ekstrakulikuler utama, bidang olahraga, seni, dan pengetahuan pun memperlihatkan demonstrasi dari kegiatan klub mereka.
Caca, Sarah dan Nadia memandang dengan mata berbinar setiap kali para kakak kelas menunjukkan keahliannya di tengah lapangan upacara.
“Wah, Ca! Liat abang lo! Keren abis gak ngerti lagi!” teriak Sarah heboh begitu melihat Irsyad yang terlihat gagah ketika sedang memerankan seorang polisi.
“Kyaa! Kak Aldi!”
Sorakan para siswi tak terkontrol begitu Reynaldi selaku ketua PMR, beraksi di tengah lapangan sebagai seorang dokter.
“Kak Nauval!”
Tak kalah meriah dari sebelumnya, sorakan kagum pun membahana begitu Nauval melangkah tegap dalam barisannya dengan anggota Paskibra yang lain.
“Kak Yogi!”
Begitu para anggota pramuka memasuki lapangan, para murid kembali riuh. Namun, Yogi yang terkenal dingin dan cuek mengabaikan keriuhan itu dengan tampang datarnya.
“Psst. Itu kakak kelas yang dikenal judes, kan?” bisik Sarah pada Caca. Walau dibilang bisikan, sebenarnya Sarah sedikit berteriak di telinga Caca karena suaranya teredam oleh teriakan di sekelilingnya.
“Hm, gak peduli juga gue,” balas Caca cuek.
Sarah mencebik pada sahabatnya itu sebelum kembali memandang ke tengah lapangan.
“Ini mah namanya festival cogan. Mwahahaha.”
Caca dan Nadia otomatis menoleh pada Sarah yang sedang tertawa dengan pandangan aneh.
“Dasar maniak cogan,” ucap keduanya berbarengan.