Dua jam berlalu, rapat panitia MOS akhirnya selesai. Para pengurus MPK sudah lebih dulu keluar, menyisakan beberapa pengurus inti OSIS yang masih membahas hasil rapat tadi.
Irsyad yang duduk di depan ruang rapat menutup map di atas meja, lalu menyerahkannya pada Anggiana yang masih mengetik kesimpulan hasil rapat tadi.
“Syad, lo yakin mau pilih dia jadi asisten OSIS?” Anggiana yang duduk di samping Irsyad menoleh pada sang ketua, tatapannya sedikit khawatir.
“Emangnya kenapa? Lo gak setuju?” Irsyad mengangkat satu alisnya. Karena tadi semua panitia telah setuju memilih siapa yang akan jadi asisten, Irsyad kira tidak akan ada lagi pertanyaan.
“Bukannya gitu,” Anggi menggeleng pelan, “tapi, bukannya dia benci lo, ya?”
Anggiana masih ingat ekspresi orang itu setiap kali melihat Irsyad. Tatapannya seperti ingin melahap orang hidup-hidup.
“Hahaha.”
Di luar dugaan, Irsyad malah tertawa. Anggiana mengernyitkan dahi, bingung apa yang lucu dari perkatannya.
“It’s okay. Dia gak bakal gigit gue.” Terdapat cengiran kecil khas Irsyad yang terukir di bibirnya.
Sebenarnya Anggiana masih belum mengerti kenapa orang itu bisa dipilih. Memang jika dilihat dari sepak terjangnya selama dua hari ini, dari kecakapan dan kecerdasannya, dia sangat pantas. Namun, Anggiana merasa bahwa orang itu tidak akan senang jika benar terpilih.
Anggiana melirik Gita, sang Bendahara I yang duduk di pojok depan kelas, sibuk dengan laptopnya.
Irsyad yang menyadari arah tatapan Anggiana tersenyum. “Mungkin aja dia bakal kaya Gita. Keliatan males dan cuek, tapi kalau sudah dikasih tugas, kerjanya cepet dan akurat.”
Anggiana mengangguk setuju. Tahun lalu saat Gita terpilih, raut wajah cewek itu seperti habis disiram air comberan, butek. Namun, lama-kelamaan dia terbiasa juga. Anggiana berharap kali ini orang yang terpilih juga akan seperti Gita.
“Kalau gitu gue pulang duluan. Ruang sekre jangan lupa dikunci. Masih ada anak OSIS yang jaga di gerbang, kalau ada apa-apa panggil aja mereka.” Irysad menepuk pundak Angiana sekilas lalu berjalan keluar ruang rapat.
“Eh, lo gak akan nginep?”
Irsyad berbalik lalu menggeleng. “Yang ikut demo buat inagurasi nanti semuanya pulang.”
“Oh,”
“Hati-hati nanti pulang jangan kesorean. Kita masih punya satu hari lagi,” ujar Irsyad melihat Anggiana dan para pengurus OSIS lain.
“Siap, Ketua.”
Anggiana melihat Irsyad kembali berbalik, menatap punggung lebar cowok itu sampai menghilang dari pandangannya.
***
“….”
“Syad?”
“Ha ….”
Irsyad menghela napas panjang melihat apa yang berada di hadapannya. Reynaldi yang tadi siang memasang tampang seram sekarang sudah lebih rileks, walaupun pemandangan di depannya sedikit membuat Reynaldi cemburu.
Caca dan Nauval tertidur pulas di ranjang Caca, tidak menyadari tatapan galak Irsyad pada mereka. Sudah berkali-kali Irsyad berusaha membangunkan kedua adiknya. Mulai dari menggoyang bahu mereka, menendang punggung Nauval, maupun menggelitiki kaki Caca. Namun, sepasang sepupu itu tetap bergeming.
“Mereka molor apa latihan mati, sih?!” keluah Irsyad kesal.
Tak tahan lagi, akhirnya Irsyad memakai cara terakhir. Dengan cepat ia membuka selimut yang menutupi Caca dan Nauval, lalu menarik masing-masing satu kaki mereka. Dengan satu hentakan, Caca dan Nauval pun meluncur ke ujung ranjang.
Oops.
Sepertinya Irsyad lupa untuk mengontrol kekuatannya.
Caca dan Nauval terus meluncur sampai melewati ujung, melayang selama sepersekian detik, lalu akhirnya mendarat mulus di lantai.
Buk!
“Aduh!” erang Caca dan Nauval bersamaan. Perlahan, kelopak mata mereka terbuka.
“Eh, abang udah pulang,” masih setengah sadar, Nauval menyengir lebar pada Irsyad.
Reynaldi yang melihat Caca kesakitan, langsung berjongkok lalu mengangkat tubuh mungil Caca kembali ke atas ranjang.
“Mana yang sakit?”
Caca hanya menggeleng kecil, tetapi tatapannya galak mengarah pada Irsyad.
“Salah sendiri susah dibangunin,” cibir Irsyad. Dia agak merasa bersalah karena sudah berlebihan, tetapi melihat Caca dan Nauval yang baik-baik saja membuat Irsyad segera menepis rasa itu.
“Mandi. Lo bau jigong.”
Ingin rasanya Caca mengumpat. Jika tidak melihat Reynaldi yang menatap khawatir padanya, mungkin Caca sudah melompat dan menjambak rambut Irsyad.
Untuk sekarang, Caca masih puas dengan hanya membayangkannya saja. Dengan gerakan malas, Caca akhirnya beranjak mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Perhatian Irsyad kini jatuh pada adik sepupunya. “Ngapain lo masih di sini?”
“Ya elah, Bang. Galak amat. Iya, iya, ini gue bangun.”
Nauval bangkit sambil mengusap pantatnya yang masih sedikit sakit. Kakinya melangkah menuju balkon, lalu memanjat pembatasnya sambil menguap lebar.
“Dah,”
Setelah melambai pada kedua abangnya, Nauval melompat dari balkon. Cowok itu mendarat tanpa kesusahan di balkon seberang, yang hanya berjarak 1 meter dari balkon kamar Caca. Balkon itu adalah balkon kamar Nauval.
Irsyad kembali ke kamarnya diikuti Reynaldi setelah berhasil mengusir Nauval kembali ke habitatnya.
“Pfft.”
Mendengar suara mencurigakan di belakangnya, Irsyad refleks menoleh.
“Kenapa lo ketawa?” Irsyad menatap Reynaldi aneh.
“Lo kaya siscon yang cemburu liat adeknya deket sama orang lain.” Tanpa ragu Reynaldi mengutarakan isi hatinya.
Tatapan Irsyad seketika berubah jadi datar.
“Bukannya lo yang tadi hampir ngamuk karna Caca meluk cowok lain?”
Mendengar itu, seketika tubuh Reynaldi menjadi kaku. Raut wajahnya keras, dan kedua tangannya mulai mengepal erat.
“Siscon kok nyebut orang lain siscon,” ledek Irsyad.
“Ck!” Termakan omongan sendiri, Reynaldi mengumpat dalam hati.
Irsyad melihat Reynaldi lalu menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini. Reynaldi adalah orang yang seperti mempunyai banyak tombol on-off di dalamnya. Kadang bersikap hangat, kadang kasar, kadang dingin, kadang ramah.
Namun, Irsyad tahu. Di depan Caca, Reynaldi tidak akan berani menunjukkan sisi gelapnya. Pernah sekali Caca melihat Reynaldi mengamuk. Dampaknya, Caca tidak mau berbicara dengan kakaknya itu selama seminggu.
Sejak saat itu Reynaldi selalu menyembunyikan sifat psycho-nya. Sejak awal Reynaldi memang orang yang ramah dan hangat para orang terdekatnya, jadi tidak masalah jika ia mematikan switch yang membuka sisi tergelapnya.
“Lo mau nginep di sini?” tanya Irsyad tiba-tiba. Melihat Reynaldi yang mengikutinya ke rumah, Irsyad merasa cowok itu mungkin akan sendirian di rumahnya malam ini.
Di luar dugaan, Reynaldi menggeleng sebagai jawaban. “Nggak, gue ke sini cuma mau liat Caca.”
“Siscon,” cebik Irsyad.
Reynaldi tidak membalas ejekan Iryad dan lebih memilih untuk diam. Sepertinya dia tidak keberatan dengan sebutan itu.
***
Selesai makan malam, Caca mengobrak-abrik isi tasnya.
“Duh, mana, sih?”
“Ah, ketemu!”
Dengan riang Caca pergi ke kamar kakaknya. Tanpa repot mengetuk pintu Caca langsung menerobos masuk, mendapati Irsyad yang sedang tengkurap di ranjang hanya memakai celana panjang.
“Hobi banget telanjang, sih. Heran,” cibir Caca.
“Bacot.”
Caca memutar bola matanya. Cewek itu tanpa ragu mendekati Irsyad, naik ke ranjang, lalu rebahan di atas punggung abangnya.
“Turun,” ucap Irsyad dingin.
Namun, Caca tidak peduli sama sekali, tentu saja. “Ogah.”
Irsyad menggerak-gerakkan badannya, berusaha membuat Caca jatuh. Dengan keras kepala Caca bertahan, membuat Irsyad akhirnya menyerah, membiarkan adiknya menindih tubuhnya.
Dari kecil Irsyad dan Caca terbiasa seperti ini, dan Irsyad sebenarnya tidak keberatan sama sekali. Jadi Irsyad lebih memilih untuk kembali pada laptop yang berada di depannya.
“Ngapain, Bang?” Caca berbalik jadi ikut tengkurap di atas punggung Irsyad. Kepalanya sedikit miring ke kanan, mengintip layar laptop yang sedang menampilkan adegan berdarah.
“Oh, Silent Hill lagi.” Tanpa menunggu jawaban Caca sudah tahu. Irsyad sedang asyik main game. Pantas saja tidak mau diganggu.
Namun, Caca punya rencana lain.
‘Mwehehehehe.’
Seringaian nakal terbentuk di bibir Caca.
“Bang.”
“….”
“Bang!”
“….”
Sudah diduga. Irsyad tidak akan menanggapi adiknya.
“Bang! Minta tanda tangan, dong!”
Saat Irsyad sedang sibuk bergelut dengan bos yang membuatnya berhasil mengeluarkan kata-kata mutiara, dengan kurang ajarnya Caca menyodorkan sebuah buku kecil tepat di muka Irsyad.
Sekali lagi, tepat di depan muka Irsyad.
Akibatnya tidak perlu ditanya lagi. Karena penglihatannya terhalang, karakter yang dimainkan Irsyad jadi tidak bisa menyerang. Adegan mengenaskan pun tak terelakkan. Karakter di layar tersabet pedang besar musuh dan langsung mati seketika.
“Ups, sengaja.”
“KENCHRUTS!”
Irsyad langsung melompat bangun, membuat Caca otomatis jatuh ke samping. Caca tertawa terbahak-bahak, kakinya menendang-nendang udara. Puas rasanya bisa membalas dendam yang sudah ditahannya sejak tadi siang.
“Bwahahahahaha.”
Mata Irsyad menyipit tajam, tangannya mengepal menahan emosi.
“Ha ….”
Namun, tak lama kemudian Irsyad menyerah. Melihat Caca yang begitu bahagia dengan tawanya, mengurungkan niat Irsyad untuk mengamuk. Irsyad kembali tengkurap di depan laptopnya, memutuskan untuk mengulangi permainan.
“Bang.”
Irsyad tidak mau menjawab. Walaupun dia tidak balas dendam, perasaan kesal masihlah ada.
“Bang, gue serius. Kurang satu lagi, nih,” rengek Caca pada akhirnya.
“Jangan sok imut. Najis.”
“Bang!”
“Diem. Gue mati lagi, giliran lu nanti yang mati,” ancam Irsyad.
“Pokoknya minta. Cuma satu ini, elah. Pelit amat kaya Mang Asep.”
Mang Asep adalah tukang cilok depan komplek yang terkenal pelit pada pembeli. Caca sering kali kesal dengan Mang Asep. Namun, karena ciloknya enak, Caca masih tidak kapok juga membeli di sana.
“Gak ada urusan sama gue,” balas Irsyad ketus.
“Dih, pelit pelit pelit pelit pelit pelit pelit pelit pelit pelit pelit pe—“
Bugh!
Dengan kesal Irsyad melempar bantal ke muka Caca.
“Jurig Leak!” Caca akhirnya kehilangan kesabaran.
Namun, Irsyad tetap bergeming. Matanya tetap terfokus pada layar laptop. Kalau Iryad keras kepala, Caca pun sama saja. Mengembungkan pipinya kesal, Caca kembali naik ke punggung Irsyad dan berbaring santai. Tangannya menarik selimut sampai ke d**a, lalu mengambil ponsel Irsyad yang tergeletak tak jauh dari tempatnya.
“Tidur di kamer. Jangan di sini.”
Kini gantian Caca yang menolak menjawab. Tak acuh, Caca bergerak-gerak mencari posisi yang enak, lalu membuka layar ponsel kakaknya.
Dikunci.
Tanpa ragu Caca berbalik, meraih tangan kanan Irsyad yang sedang memainkan mouse. Untung bagi Caca, Irsyad sedang tidak melawan musuh. Cowok itu membiarkan Caca mengarahkan telunjuknya pada sensor sidik jari di belakang ponsel. Setelah itu, tangannya kembali bermain.
Caca dan Irsyad bermain masing-masing dalam diam. hanya suara permainan dari laptop dan ponsel yang memenuhi udara. Beberapa jam berlalu, Irsyad menyadari suara di ponselnya berubah menjadi musik klasik.
“Cruts,” panggil Irsyad pelan.
Sudah diduga, tidak ada jawaban.
Dengan pelan, Irsyad membalikkan tubuhnya. Tangannya mehanan tubuh Caca yang tertidur agar tidah jatuh. Setelah Irsyad terbebas dari tindihan adiknya, Irsyad membenarkan posisi Caca dan menyelimutinya sampai dagu. Irsyad lalu mematikan musik di ponselnya, menaruhnya di atas nakas.
Malam itu, Irsyad kembali meneruskan permainannya sampai ia ikut tertidur di samping Caca yang begitu pulas sambil memeluk bantal guling milik kakaknya.