“NAUVAL!”
Sebuah teriakan membahana keluar dari mulut seorang cowok yang berlari kencang. Sekuat tenaga ia mengejar sosok yang berada jauh di depannya, napasnya memburu. Entah karena kecapekan terlalu lama berlari, atau karena perasaan kesal karena sosok yang dikejarnya tak kunjung berhenti kabur.
“Berhenti, woy!”
Namun, bukan Nauval kalau ia begitu saja menurut. Bukannya berhenti, ia malah semakin mempercepat larinya. Gerbang sekolah sudah terlihat di depan mata, dan Nauval memutuskan lebih cepat menerobos lewat gerbang daripada mengambil motornya di tempat parkir. Di sana pasti sudah ada beberapa pengurus OSIS yang siap menghadangnya.
“Tutup gerbangnya! Jangan biarin dia kabur!”
Teriakan dari si pengejar kembali membahana, membuat beberapa siswa dengan lencana OSIS di seragam mereka terlonjak kaget. Melihat Nauval yang semakin dekat, para pengurus OSIS yang memang sedang berjaga di gerbang dengan cepat menuruti perintah.
Sekali lagi, bukan Nauval namanya kalau ia akan membiarkan dirinya tertangkap begitu saja. Mengerahkan tenaganya pada telapak kaki, Nauval sekuat tenaga melompat, meraih bagian atas gerbang. Setelah berhasil mencengkeram lengkungan besi yang berada di atas gerbang, Nauval mengayunkan badannya ke depan. Angin semilir mengibarkan rambutnya, cengiran lebar menghiasi wajahnya. Para pengurus OSIS yang tidak berhasil menghentikan Nauval menganga lebar melihat kenekatan Nauval melompati gerbang yang tingginya mencapai 2,5 meter. Mustahil bagi orang biasa untuk bisa melompati pagar setinggi itu, tetapi Nauval bisa dengan mudah melewatinya.
Si pengejar yang terhenyak melihat Nauval seketika kembali sadar.
“Nauval! Balik sini lo!”
Mendarat dengan mulus di luar gerbang, Nauval berbalik dan menjulurkan lidahnya.
“Ogah wlee …”
Setelah itu sosok Nauval menghilang setelah menaiki ojek online yang sedang parkir tepat di depan sekolah.
“Sial! Udah direncanain ternyata.”
Tak ada lagi yang bisa dilakukan, si pengejar kembali masuk ke gedung kelas sambil menghentakkan kakinya kesal.
“Syad, dia kabur.”
Irsyad seketika menoleh. Ia beranjak dari sofa yang didudukinya, lalu berjalan ke kursi Ketua OSIS dan membuka laptopnya.
“Hm,” balas Irsyad tak acuh.
Siswa yang masih ngos-ngosan sisa dari adegan kejar-kejaran dengan Nauval tadi mengernyit.
“Lo mau biarin aja, gitu?” tanyanya heran.
“Hm.” Pandangan Irsyad terfokus pada layar laptop, sama sekali tidak mau repot menoleh pada lawan bicaranya.
“Dia Ketua Seksi II. Kita ada rapat sore ini. Belum lagi latihan buat inagurasi besok.”
“Dia udah ikut latihan. Dan soal rapat, dia ada tugas yang lebih penting dari sekedar ikut rapat tapi malah molor di pojokan.”
Cowok di depan Irsyad meringis kecil. Memang benar, hampir di setiap rapat Nauval tidur. Biasanya anak itu akan memilih duduk di pojokan agar bisa mencuri waktu untuk tidur diam-diam.
Namun, yang membuat heran adalah, walaupun selalu tidur hampir di setiap rapat, Nauval selalu melakukan tugasnya sebagai pengurus OSIS dengan baik. Nauval juga seperti tidak terbebani dengan jabatannya sebagai Ketua Seksi. Ditambah dengan predikatnya sebagai Kapten Futsal dan menduduki posisi penting di Paskibra, Nauval masih saja bisa menduduki ranking pertama di angkatannya.
Mungkin dia makhluk ajaib, pikir cowok itu.
“Ada lagi yang perlu dilaporin?” tanya Irsyad melihat cowok di depannya masih berdiri diam tanpa berkata apa pun.
Cowok itu menggeleng. “Gue mau bantu anak yang lain, buat persiapan evaluasi hari ini.”
Irsyad mengangguk sekilas sebelum kembali fokus ke laptop. Cowok itu pun berbalik, tak lupa menutup pintu sekretariat OSIS sebelum pergi ke ruang khusus rapat.
***
Hari ini Caca kembali pulang diantar oleh Sarah. Davira, ibu Sarah, setiap hari mengantar jemput putrinya setiap pulang ke rumah. Seperti kemarin dan hari ini.
“Gimana kabar Maria? Baik?” tanya Davira menoleh pada Caca lewat kaca spion tengah.
“Baik, Tante,” balas Caca tersenyum.
“Tante baru pulang?” tanya Caca. Sarah yang duduk di samping Caca sedang asyik memainkan ponselnya.
“Iya, beberapa hari lalu. Tante titip Sarah lagi, ya. Tante lagi sibuk akhir-akhir ini.”
Caca mengangguk. “Iya, Tante. Nanti Caca nginep di rumah.”
Davira tersenyum lewat kaca spion, lalu kembali melihat jalan.
Caca sudah biasa dengan permintaan ini. Sejak SD Sarah sering ditinggal ibunya keluar kota untuk bekerja. Sebagai pengacara, Davira sering menerima klien yang mengharuskannya meninggalkan Sarah dalam waktu yang lama. Karena Caca akrab dengan Sarah, Davira sering menitipkan anaknya pada Maria, sesekali menginap di rumah Caca maupun di rumah Sarah. Davira sering merasa kasihan pada Sarah yang tidak mempunyai ayah dan dirinya yang sering bepergian. Namun, kehadiran Hendrick dan Maria, juga Caca membuat Davira sedikit lega. Sarah yang dulunya pemalu dan susah bergaul berubah jadi periang semenjak bersama Caca.
“Ca, jangan lupa, lho.”
Sarah tiba-tiba membuka suara di tengah keheningan.
“Hah?”
“Tanda tangan.”
“Oh,”
Caca langsung mengangguk mengerti. “Kita cuma butuh satu lagi, kan?”
Sarah mengangguk.
“Bang Syad doang cukup berarti.”
“Bang Aldi?”
“Gak janji. Kalau dia nginep gue pinta.”
“Emang beneran abang lo bakal pulang? Bukannya kemaren dia nginep di sekolah?”
Caca mengedikkan bahunya sekilas. “Dunno. Dia sempet chat gue sih kalo dia bakal pulang telat. Terus suruh gue pulang bareng lo.”
Sarah kembali mengangguk, lalu kembali memainkan ponselnya.
***
“Caca pulaaaanngggg!”
Setengah berlari Caca masuk rumah, melempar sepatunya asal ke rak, lalu melempar tasnya ke sofa. Sedikit melompat Caca merebahkan diri di sofa, menjadikan tasnya sebagai bantal.
“Ma?” panggil Caca. Ia merasa heran karena suasana rumah seperti sepi.
“Oh, Caca udah pulang.”
Tunggu. Itu bukan suara Maria, mama Caca. Namun, suaranya tetap familiar di telinga Caca. Seketika Caca menoleh begitu dia sadar siapa sang pemilik suara
“Bunda!” sahut Caca riang. Cewek itu langsung bangun lalu menyalami seorang wanita anggun yang sedang tersenyum padanya.
“Bunda ngapain di sini?”
“Ngambil berkas. Papa kamu minta tolong sama bunda.”
“Loh? Mama ke mana?”
Sandra, yang dipanggil bunda oleh Caca, sedikit meringis. Dia seperti tidak tahu harus menjawab apa pada keponakan jauhnya ini.
“Bunda?” tanya Caca heran.
“Hah? Oh, mama kamu juga pergi ke kantor. Bunda yang nganter berkas karena Maria udah terlanjur sampe sana.”
“Oh,” Caca mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sandra diam-diam menghela napas lega. Tidak mungkin dia mengatakan hal yang sebenarnya pada Caca. Belum saatnya.
“Ya udah, Caca ke kamar dulu, ya.”
Sandra hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu membiarkan Caca pergi naik ke lantai dua. Sandra lalu pergi dari rumah Caca sebelum mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Val, Bunda titip Caca.”
Sandra langsung memutuskan sambungan tanpa menunggu respon di seberang sana, lalu masuk ke mobilnya dan pergi dari rumah Caca.
***
Caca masuk ke kamarnya dan menaruh tasnya di atas meja belajar. Matanya menelusuri ruangan, menyadari pintu menuju balkon kamarnya terbuka.
Dahi Caca mengernyit. Tatapannya lalu jatuh ke atas ranjang, melihat selimutnya membentuk gundukan. Seketika tatapan Caca berubah datar. Namun, tak lama kemudian seringai kecil terbentuk di bibirnya.
Dengan langkah pelan, Caca mendekati ranjang. Caca berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, ketika dia tiba-tiba melompat lalu menjatuhkan dirinya ke atas ranjang.
Bugh!
“AKH!”
Suara jeritan seketika terdengar keras. Gundukan selimut yang tertindih badan Caca bergerak liar, seolah apa pun yang berada di dalam sedang berusaha keluar.
“KENCHRUTS!”
Caca tertawa puas mendengar hardikan dari seorang cowok yang menyembulkan kepalanya dari balik selimut.
Yups, itu adalah sepupu jauhnya, Nauval.
“Salah sendiri nerobos kamar gue,” ujar Caca tak acuh.
Nauval menggembungkan pipinya kesal. Wajahnya jadi terlihat imut, tetapi itu tidak bisa mempengaruhi Caca, tentu saja.
“Sana balik. Gue mau tidur.”
Caca merebahkan diri tanpa membuka seragamnya. Dia sudah terlalu malas untuk ganti baju.
“Ganti baju dulu.”
“Ogah.”
“Lu bau.”
“Ya udah minggat lo sana.”
Caca menendang Nauval tanpa ampun. Nauval otomatis mengelak dan malah mendekati Caca lalu memeluknya erat.
“Boong. Lu selalu wangi.”
“Ih, jijik! Lepasin!” Caca seketika berontak mendapat serangan tidak terduga itu.
“Diem, gue juga ngantuk.” Nauval melingkarkan kedua tangannya di punggung Caca, memaksa kepala cewek itu untuk menempel ke dadanya.
“Lepasin!” Caca memukul d**a Nauval berkali-kali, tetapi Nauval sama sekali bergeming. Tenaga Caca tidak cukup kuat untuk melepaskan diri. Apalagi dengan badannya yang relaitf kecil dibanding sepupunya itu, membuat Nauval dengan mudah memenjarakan Caca di pelukannya.
Capek memberontak, akhirnya Caca menyerah lalu tertidur di pelukan Nauval. Nauval tersenyum puas dan ikut tertidur, dagunya menempel di puncak kepala Caca.
“Hehe.”