Balik ke kelas, Caca misuh-misuh. Sarah dan Nadia yang melihat Caca duduk di belakang mereka, pura-pura tidak tahu. Malas. Kalau sedang bad mood begini, mending jauhin dulu. Kalau dipancing, bisa ngamuk nanti.
“Duh, Sayang. Lagi marah pun tetep cantik!”
Begitu Caca mendaratkan p****t di kursi, sebuah suara menggelitik telinga Caca, membuat cewek itu seketika merinding.
“Diem!” sahut Caca ketus.
John yang mendapat respon pedas bukannya mundur, malah semakin mendekat lalu duduk di samping Caca. Victor belum datang ke kelas. Sejak meninggalkan Caca di lapangan, entah ke mana perginya cowok satu itu.
“Kenapa cemberut, hm? Sini cerita sama akang.” John mencoba merayu Caca dengan nada genit yang dibuat-buat.
Caca menatap jijik. Sarah diam-diam menahan tawanya, sedang Nadia tidak ragu-ragu mendaratkan buku catatannya di kepala John.
Plak!
“Akh!”
“Najis, Lu.”
John memanyunkan bibirnya lucu. Namun detik berikutnya, cengiran khas cowok berhidung mancung itu mengembang lebar.
John memang sudah kebal dengan sikap judes Caca, ledekan Sarah, maupun u*****n pedas Nadia. Sekelas selama tiga tahun di SMP bersama tiga serangkai itu mengasah mental John menjadi lebih kuat. John yang dulu culun, pendiam, dan sering di-bully, kini menjadi anak yang ceria dan percaya diri.
Juga genit.
Caca benar-benar tak habis pikir dengan yang terkahir ini. Bagaimana bisa John berubah sangat drastis? Apa kepalanya jadi korslet karena sering dipukul saat di-bully?
Caca memutuskan untuk tidak mempedulikan John yang sedang menatapnya intens.
“Ca ….”
Bisik John di telinga Caca. Bibir John begitu dekat, napasnya mengembus tepat ke telinga Caca. Bulu kuduk Caca seketika berdiri, hawa panas yang entah dari mana menjalar ke wajah Caca, membuat telinganya merona merah.
Caca menoleh pada John yang masih tersenyum tanpa dosa. Netra mereka bertemu, saling bertatapan dalam diam.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga det—
Dan singa betina yang sedang tidur pun bangun.
Caca dengan brutal memborbardir John dengan pukulan. John yang berhasil memancing respon Caca, berlari kabur sambil tertawa keras. Beberapa pukulan berhasil mendarat di punggung John, tetapi cowok itu masih tertawa seolah tidak merasakan sakit. John malah dengan sengaja terus menggoda Caca, membuat cewek itu tambah beringas mengejar John yang berlari ke luar kelas.
“Dasar masokis,” umpat Nadia pelan.
Sarah yang terhibur dengan keributan itu tak bisa lagi menahan tawanya.
***
“SINI LO!”
Reynaldi terlonjak kaget.
“Syad, itu suara Caca?”
Irsyad yang sedang fokus membaca buku ikut menghentikan langkahnya. Wajahnya langsung muram.
“Kenapa lagi itu anak.”
Seolah menjawab keluhan Irsyad, tak lama dari ujung koridor terlihat John yang berlari mendekat. Caca menyusul di belakang, dengan tangan yang mengacung mengancam John untuk berhenti kabur.
Wajah tampan Irsyad semakin terlihat muram. Baru juga dua hari masuk sekolah, sudah bikin masalah. Irsyad menatap tajam sepasang remaja yang sedang berlari ke arahnya, menunggu di tengah koridor.
Irsyad yang berdiri tegak menghalangi jalan otomatis membuat John berhenti. Caca yang tidak sadar dengan keberadaan kakaknya, tertawa puas begitu berhasil memiting leher John dan menjitak kepala cowok itu.
“Ekhem!”
Suara deheman seketika membuat Caca membeku. Dia sangat hapal suara itu.
“E-eh, kakak. Hehe.” Caca tersenyum kikuk. Namun, diam-diam Caca mengumpat dalam hati. Kalau bukan di sekolah, Caca tidak akan sekalem ini pada kakaknya. Apalagi panggilan ‘kakak’ membuatnya geli.
Perlahan sudut bibir Irsyad melengkung ke atas. Senyum tipis yang menghiasi wajah Irsyad membuat Caca seketika merinding. Para gadis yang melihatnya pasti akan terpesona, tetapi tidak untuk Caca. Caca sangat hapal dengan senyum itu. Irsyad hanya mengeluarkan senyum itu jika sedang menahan amarahnya yang hampir meledak. Caca seolah bisa melihat kedua tanduk yang mencuat dari kepala Irsyad sekarang.
“Sedang apa kalian, hm?”
Caca langsung memasang wajah memelas pada Reynaldi yang berdiri di belakang Irsyad. Reynaldi balas tersenyum, tetapi dia tidak melakukan apa pun. Matanya terfokus pada lengan Caca yang masih memeluk leher John.
“Keisya, ikut kakak.” Tiba-tiba senyum di wajah Irsyad hilang. Tanpa menuggu respon dari Caca dia menarik tangan adiknya lalu membawanya pergi. John yang sempat bingung hendak menyusul, tetapi langkahnya terhenti oleh Reynaldi yang berdiri menjulang di depannya.
“Balik ke kelas.” Setelah melontarkan kalimat dingin pada John, Reynaldi berbalik lalu pergi menyusul Irsyad.
John terpaku di tempat. Entah kenapa mendengar ucapan Reynaldi membuatnya bergidik ngeri. Suaranya seolah mengandung ancaman. Tanpa sadar John mengusap belakang lehernya yang merinding.
***
Irsyad membawa Caca ke belakang bangunan Aula, salah satu tempat tersepi dan jarang dikunjungi. Ilalang setinggi betis yang tumbuh liar, rumor adanya hantu yang menghantui Aula, ditambah dengan pohon beringin besar yang menambah kesan suram, membuat para murid maupun guru enggan mampir. Bahkan petugas kebersihan sekolah pun hampir tidak pernah membersihkan tempat ini.
“Ngapain lu bawa gue ke sini, Bang?” Caca mendongak, menatap tidak suka pada Irsyad.
“Ngapain lu tadi?” Bukannya menjawab pertanyaan Caca, Irsyad malah balik bertanya.
“Bukan urusan lo.”
Irsyad memijat keningnya pelan.
“Kalau lo bikin masalah terus, gue juga yang kena nanti. Jadi bertingkah kaya manusia normal bisa, kan?”
“Lo pikir gue gak normal, gitu?”
Irsyad mengangkat satu alisnya. “Pikir aja sendiri.”
Caca mengepalkan tangannya kuat.
‘Tahan, Ca. Sabar. Ini di sekolah. Tunggu nanti kalau sampe rumah.’
“Sebenernya gue gak peduli lo mau bikin masalah apa pun. Tapi masalahnya—“
“Tenang aja. Gue gak akan ngaku sebagai adek lo.”
Irsyad langsung menutup mulutnya. Begitu membuka lagi, senyum miring terbentuk disertai dengan tatapan puas.
“Bukan gue, ya, yang ngomong.”
Ingin rasanya Caca menonjok Irsyad sekarang.
“Caca.”
Sesosok lelaki jangkung muncul dari balik tembok Aula, tersenyum lembut pada Caca.
“Abang!” Raut wajah Caca seketika menjadi cerah melihat siapa yang datang. Irsyad diam-diam mendecih melihat sikap Caca yang langsung berubah begitu melihat Reynaldi.
Reynaldi menatap Caca dan Irsyad bergantian. “Kalian lagi ngapain?”
Irsyad mengernyit menatap Reynaldi. Kini Caca yang menatap kedua kakaknya bergantian.
Kenapa Irsyad memandang Reynaldi seperti itu?
Baru saja Caca akan membuka mulutnya, Irsyad tiba-tiba menggerakkan tangannya mengusir Caca.
“Sana minggat.”
Akhirnya dengan kesal Caca pun pergi. Bel masuk sudah akan berbunyi, jadi Caca memutuskan untuk membalas kakaknya nanti.
Begitu langkah Caca tidak terdengar lagi, Irsyad baru kembali bersuara.
“Mau ngapain lo tadi?” tanya Irsyad datar. Matanya menatap tajam cowok yang berdiri santai di depannya.
“Emangnya gue ngapain?” tanya balik Reynaldi sambil mengedikkan bahu tak acuh.
Irsyad menghela napas panjang. Hampir saja ia terlambat menyadarinya.
Tadi saat mereka berdua melihat Caca dan cowok yang entah Irysad tidak tahu namanya (lagipula ia tidak peduli juga) dan melihat Caca yang tanpa ragu menyentuh lawan jenisnya, Irsyad bisa merasakan bahaya.
Di belakangnya ia bisa merasakan aura tidak enak. Punggung Irsyad seolah bisa merasakan ada angin dingin mengembus, dan tatapan membunuh yang memancar dari cowok yang berdiri di belakangnya.
Khawatir Reynaldi akan berbuat macam-macam, Irsyad akhirnya memisahkan Caca dan membawanya pergi.
Kini, Irsyad menunggu penjelasan Reynaldi, yang entah untuk keberapa kalinya.
“Bisa, gak, lo kendaliin diri lo.”
Reynaldi masih diam, membalas tatapan Irsyad tanpa dosa.
Reynaldi selalu berhasil menyingkirkan hama yang berusaha mendekati Caca, dan Irsyad tentu tahu itu. Irsyad selalu mengawasi Reynaldi, mencegahnya bersikap belerlebihan jika berkaitan dengan Caca. Irsyad masih ingat dengan bocah yang masuk rumah sakit satu tahun lalu karena dihajar habis-habisan oleh Reynaldi. Irsyad tidak mau kejadian itu berulang.
Tidak lagi. Yang sebelumnya, itu sudah yang kesekian kalinya.
“Rey, lain kali lo gak usah ikut campur, kalau lo masih bersikap kaya gitu.”
Reynaldi masih diam, ekspresinya datar, seperti tidak acuh dengan peringatan Irsyad.
“Atau Caca akan benci lo.”
Kali ini Irsyad bisa melihat jari Reynaldi sedikit menyentak. Sepertinya yang ini berhasil mempengaruhi cowok itu.
“Gue akan berusaha.”
“Lo udah ngomong begitu ratusan kali.”
“Gue akan berusaha,” ulang Reynaldi.
Irsyad menghela napas pasrah. Tidak ada gunanya memaksa Reynaldi sekarang. Mood-nya pasti masih buruk karena kejadian tadi.
“Caca gak suka lo bersikap posesif. Lo cukup ingat itu.”
Irsyad melangkah melewati Reynaldi lalu pergi meninggalkan cowok itu yang masih tak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri.
“Caca cuma milik gue,” balas Reynaldi.
Sayangnya, Irsyad sudah terlalu jauh melangkah untuk bisa mendengar ucapan Reynaldi.
***
“Caca sayangku, lo gak apa-apa, kan?”
Caca langsung berhadapan dengan John yang heboh begitu masuk kelas. John memutar tubuh Caca memeriksa apa ada luka atau bekas kekerasan di sana.
“Lo gak diapa-apain, kan, sama dia?”
Caca menepis tangan John yang hampir memeluknya. “Jangan grepe-grepe gue!”
Caca duduk di kursinya tanpa mempedulikan rengekan John. Victor sudah duduk di tempatnya, mencegah John untuk mendekati Caca lagi.
“Cacaaaa,”
“Diem!”
John menoleh pada Nadia. “Lo, mah, gitu, ih!”
Sarah kembali cekikikan mendengar John yang merengut begitu mendengar nada ketus Nadia.