Caca melempar tas sekolahnya begitu saja ke atas kasur, merebahkan diri di samping tas dengan kaki menggantung. Sepatunya belum Caca copot. Malas. Kegiatan MOS sudah menguras tenaganya, dan dia terlalu lelah untuk sekedar melepas sepatu dan ganti baju. Caca bersenandung lagu anime kesukaannya sambil memejamkan mata.
“Ca, bantu Mama masak, yuk!” Maria menyembulkan kepala dari balik pintu. Senandung Caca berhenti, netranya membuka lalu menatap Maria. “Siap. Caca mau mandi dulu.”
Maria tersenyum melihat Caca langsung bangun, melepas sepatu, lalu pergi ke kamar mandi yang berada di kamar. Hendrick dan Maria memang sengaja membuat kamar mandi di semua kamar, ditambah kamar mandi tersendiri di luar kamar. Biasanya untuk tamu yang berkunjung. Satu di lantai 2, di ujung koridor dekat pintu menuju balkon. Dan dua di lantai 1, di samping dapur dan di luar, dekat kolam renang.
Caca mandi dengan cepat, lalu bergegas turun membantu Maria memasak. Irsyad pulang tepat setelah Caca selesai menata makanan di meja makan. Caca tersenyum manis begitu melihat sosok jangkung melebihi Irsyad yang berdiri di belakang kakaknya itu.
“Tumben, Bang, tadi gak keliatan di sekolah,” Caca mempersilahkan dia duduk, dan meletakkan peralatan makan tambahan.
Reynaldi yang baru kelihatan wujudnya sekarang, mengusap kepala Caca lembut. “Abang sibuk sama urusan lain tadi. Caca kangen abang?”
Caca memicingkan mata aneh. “Plis, ya, Bang. Narsisnya dikurangin dikit. Bentar lagi overdosis.”
Reynaldi hanya terkekeh mendengar cibiran Caca. Pandangannya lalu mencari sosok Irsyad yang belum kelihatan sejak tadi ia naik ke kamarnya begitu Reynaldi mengobrol dengan Caca.
Tak lama, Maria datang dengan masakan yang sudah jadi. “Lho, ada Aldi ternyata. Makan malam di sini aja, ya. Kaila belum pulang, kan?”
Reynaldi tersenyum sopan, “Iya, Tan. Tau aja Aldi mau numpang makan di sini.”
Maria tertawa kecil sembari mengusap sayang puncak kepala Reynaldi. Abang Caca yang satu ini memang sudah dianggap bagian dari keluarga, walau Reynaldi masih memanggil dengan sebutan Om dan Tante, tetapi hubungan mereka layaknya orangtua dan anak kandung.
Tak lama Irsyad terlihat menuruni tangga dengan tas ransel yang cukup besar di punggungnya.
“Irsyad sama Aldi mau berangkat lagi, Ma.” Irsyad duduk di kursinya setelah menyimpan tas di bawah meja.
“Harus banget nginep, ya?” tanya Caca yang duduk di samping Irsyad. Reynaldi sudah sejak tadi duduk manis di samping Maria, tepat di hadapan Caca.
“Kenapa? Kangen gue?” sinis Irsyad.
“Dih, najis!” jawab Caca sembari memasang muka jijik.
“Caca!”
“Eh, maaf, Ma. Hehe,” cengir Caca. Maria hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan si bungsu.
Selepas makan malam Irsyad dan Reynaldi kembali ke sekolah. MOS masih dua hari lagi, semua pengurus OSIS dan MPK diwajibkan menginap, termasuk Nauval yang sempat merengek mau tidur di rumah.
Caca yang melihat sepupunya diseret ke dalam mobil cuma cekikikan sambil dadah-dadah. Tapi tak lama kemudian, ekspresinya langsung berubah.
“Lah? Gue kan mau minta tanda tangan!”
***
Hari kedua MOS ternyata jauh lebih berat dari hari pertama. Ada saja kelakuan kakak kelas yang menyebalkan. Sudah beri tugas yang aneh-aneh, ngamuk tidak jelas, sedikit-sedikit main hukum tidak peduli kesalahan sekecil apa pun, ditambah dengan para kakak kelas cowok yang hobi godain Sarah dan Nadia yang memang kelewat cantik. Caca? Entah kenapa setiap ada yang mau godain si cewek bar-bar, bulu kuduk para cowok modus itu langsung merinding, dan tiba-tiba kayak ada aura kegelapan yang menyelimuti mereka. Misterius, bukan?
Jadinya, sebelum godain Caca, mereka biasanya udah pada mengkeret duluan.
“Capek banget, asli.” Sarah mengibas-ngibas lehernya yang kegerahan. Booknote ia taruh di meja, duduk berhadapan dengan Caca yang memutar kursinya jadi menghadap belakang.
“Nih, minum.” Nadia tak lama datang membawa botol mineral. Ia menyodorkan satu pada Caca dan Sarah.
“Thanks,” sahut Caca langsung meneguk habis setengah botol.
“Gila, ya. Mereka kekurangan stok cewek cantik apa gimana, sih?” keluh Sarah bête. Sudah seharian ini dia digodain terus, bahkan oleh sesama peserta MOS.
“Tapi enak, kan? Kita jadi dapet banyak TTD. Mwehehe.” Dengan tidak tahu dirinya Caca malah nyengir.
“Enak matamu,” sungut Nadia ketus.
Selesai istirahat pertama, peserta MOS kembali disibukkan dengan berbagai macam kegiatan. Caca, Sarah dan Nadia yang sekelas selalu bersama kemana pun mereka pergi. Termasuk di dalam kelas, di mana Sarah duduk dengan Nadia, dan Caca di belakang mereka sebangku dengan seorang cowok yang pendiam, jutek, dan dingin. Namanya Victor.
Caca tidak sengaja sebangku dengan Victor karena cowok itu yang datang terlambat masuk kelas. Caca yang kebetulan duduk di bangku paling belakang dan sendirian, jadi target Victor sebagai teman sebangku. Dan jadilah mereka cinlok, terus –
Gak, gak.
Bukan gitu!
Caca bukan duduk di belakang, tapi di baris kedua dekat jendela. Caca juga punya teman sebangku, cewek. Namanya siapa Caca lupa.
Lah, terus kenapa Caca bisa sebangku dengan Victor?
Jadi ceritanya, cewek teman sebangku Caca itu adalah gebetan dari teman sebangku Victor. Dia sampai mohon-mohon ke Caca buat tukeran bangku. Awalnya Caca menolak, eh tapi ternyata si cewek juga demen, ya sudah Caca sih bodo amat mau sebangku dengan siapa pun. Toh ada Sarah dan Nadia di depan. Akhirnya, Victor yang harus ngalah. Tanpa banyak omong Victor pindah ke bangku Caca.
Entah ini keputusan yang tepat atau bukan bagi Victor. Karena semenjak sebangku dengan Caca, hidup dia jadi tidak tenang. Ada aja kelakuan absurd Caca yang mengusik kedamaian. Misal, diam-diam seruput s**u pisang saat pengurus OSIS lagi ngomong di depan kelas, ledotin belek di bawah meja, sobekin kertas terus dilempar-lemparin ke Sarah atau Nadia (biasanya nanti Caca kena lempar pulpen pas di jidat oleh Nadia sebagai balasan), dan kelakuan aneh lain yang bikin Victor geleng-geleng p****t –eh– kepala.
Seperti siang ini. Gara-gara kelakuan Caca yang semena-mena akhirnya ia terpaksa menerima hukuman. Berdiri di tengah lapangan basket, panas-panasan, sendirian.
Sekali lagi. Semua ini gara-gara kelakuan aneh bin ajaibnya Caca.
“Eh, Ca. gara-gara lu, tuh!” toel Sarah pada Caca yang sedang menyeruput es tehnya, menunjuk dengan dagu ke tengah lapangan basket.
Caca otomatis menengok ke arah lapang. Tawa Caca hampir meledak jika saja tidak ingat bahwa itu adalah akibat perbuatannya.
“Ya, sori. Gue kan bermaksud baik.”
“Bermaksud baik gundulmu,” celetuk Nadia.
“Lu mah dari tadi sinis mulu ke gue.”
Nadia hanya mengedikkan bahu tak peduli.
“Ck! Ya udah, gue bakal tanggung jawab!” seru Caca kesal lalu meninggalkan kedua temannya.
Dia yang bikin kekacauan, dia juga yang marah. Sarah dan Nadia cuma bisa menghela napas dan menatap datar sahabat mereka yang kini sedang berjalan ke tengah lapang.
“Ciee yang lagi berfotosintetis,” cengir Caca tanpa dosa.
Victor langsung menatap Caca tajam, setajam silet.
“Santai, elah. Gue ceritanya mau minta maaf, nih.”
Victor masih menatap Caca tajam.
“Ya, lagian salah lu juga. Siapa suruh teriak ada kecoa,” Caca memainkan ujung rambutnya yang terkuncir dua, “kan gue naruhnya penghapus.”
Sekarang mulai terdengar geraman dari mulut Victor.
“Eh, eh, iya, iya. Nih, permintaan maaf gue.” Caca yang panik karena merasa Victor akan ngamuk, menjejalkan sebungkus roti ke genggaman cowok itu.
“Walaupun niat gue baik karena pengen bangunin lo yang gak nyahut-nyahut waktu dipanggil kakak OSIS, walaupun gue udah berbaik hati –iya, iya gak usah melotot juga, elah. Gue minta maaf karena udah masukin penghapus ke baju lo. Tuh, udah minta maafnya, bye!”
Caca langsung berbalik pergi lalu kabur. Namun, belum sempat kakinya melangkah tangannya dicekal oleh Victor.
“Tunggu.”
Baru kali ini Caca mendengar cowok itu buka mulut bukan untuk makan. Suaranya begitu dalam dan agak berat. Kayak suara abang Caca kalau lagi mode setan –eh, maksudnya– mode serius. Sumpah, baru kali ini Caca denger Victor ngomong.
“A-apa?”
Nah, kenapa jadi gagap, coba?
“Minum,” kata Victor pelan. Tatapannya jatuh ke tangan Caca yang sedang memegang gelas plastik isi es teh.
Netra Caca mengikuti arah pandang Victor. Dahinya mengernyit tak setuju. “Ini punya gu—eh, Woy!”
Belum sempat Caca menolak, Victor sudah keburu merebut es teh dari tangan Caca lalu menyeruputnya sampai habis. Caca hanya melongo melihat minumannya ludes tak bersisa.
Victor kemudian menyeringai kecil sebelum meninggalkan Caca sendirian di tengah lapang sambil menggigit rotinya.
“ES TEH GUEEEEE!”