Kupandang indahnya bintang di malam kota Los Angeles.
Sudah beberapa bulan sejak aku memutuskan untuk kembali ke kota ini, kota yang mengingatkanku pada pahitnya masa laluku. Kuhela sebuah nafas panjang. Semua ini membutuhkan keberanian yang cukup besar bahkan sepuluh tahun terasa seperti masih kemarin.
Dengan tekad, semua hutang itu harus kubayar lunas!
Perasaan ini, seperti sebuah perasaan antara rindu dan tidak.
Aku merindukan suasana kehidupan disini tetapi membenci semua kenangan buruk itu namun tawaran perusahaan kosmetik itu sungguh sangat menggiurkan. Perasaanku menolak tetapi logikaku tidak. Siapa yang akan melewatkan pekerjaan dengan bayaran dua kali lipat dari upah pada umumnya?
Aku pasti sudah gila jika menolaknya.
Aku masih berdiri dengan kedua mata yang tertuju pada indahnya bulan purnama yang kupandang dari jendela kamar studioku. Sebuah kamar studio sederhana yang ku dekorasi dengan sekedarnya. Hari ini aku memilih untuk bersantai dirumah walaupun Kelly memaksaku untuk pergi di hari-hari terakhirnya sebagai wanita lajang.
Hari sabtu mungkin adalah hari favoritku tetapi tidak untuk hari ini.
Yamaguchi itu sudah membuatku kewalahan dan lelah itu masih kurasakan hingga hari ini.
Tinggal di kota besar memang sangat menyenangkan. Berbagai hiburan malam, kota yang seolah-olah tak pernah tidur begitupun begitu banyak bakery shop yang bisa dikunjungi namun entah mengapa, terkadang aku masih saja merasa kesepian. Apakah mungkin karena sifat introvertku?
Inner circleku memang tidak besar.
Ah, seandainya saja Ibu masih ada, tidak ada sahabat yang lebih baik darinya.
Pikiran tentangnya membawaku ke masa lalu. Memori terbaik dalam hidupku adalah semua tentang dirinya.
Sisanya?
Hanya kenangan buruk yang sangat ingin kuenyahkan.
Setelah kupikir aku sudah bisa merelakannya, ternyata aku masih belum benar-benar bisa melepasnya. Sudah 10 tahun berlalu, semua terasa seperti baru terjadi kemarin. Kurasa tidak ada manusia yang benar-benar rela kehilangan seseorang yang sangat dicintai. Bagiku, mulut mungkin bisa berbohong tetapi telisiklah lebih dalam lagi. Memori otak manusia berbeda dengan flash disk tentu saja. Ingatanku tentang Ibu membuat pikiranku melayang kembali ke masa itu.
Ah, sial haruskah aku mengingat-ngingatnya kembali?
Damned, I missed you, mom!
***
10 Tahun yang lalu
Ini cerita tentang hidupku dimasa lalu. Cerita tentang sepuluh tahun terburuk didalam cerita kehidupanku. Tahun yang penuh dengan air mata dan kepedihan. Aku masih saja terbayang wajah kurus dengan pandangan yang semakin hari semakin memudar. Ibuku, terlihat sudah lelah, saat itu aku tahu dia ingin menyerah. Seoptimis apapun keinginanku, kata hatiku berkata pertemuan kami akan sangat singkat setelah ini.
" Bu.... Ibu harus bertahan untukku".
Ucapku merengut sedih.
Melihatnya terbaring lemah, aku hanya bisa menangisi keadaan kami.
Aku selalu menangisinya diruang tunggu Instalasi Gawat Darurat. Dalam bulan ini, sudah 3 kali Ibu harus dilarikan kerumah sakit karena penyakitnya. Dia mungkin saja akan meninggal besok tetapi rengekanku membuatnya sekuat tenaga bertahan. Aku tahu dia berusaha keras untuk melawan tetapi aku menyadari bahwa permintaanku jutsru yang sudah menyiksanya. Ketika termenung, aku tidak pernah bisa membayangkan hidup tanpanya. Dia satu-satunya keluarga yang kumiliki dan aku tidak bisa membayangkan hidup dalam kesendirian.
" Nona?”
Seorang perawat laki-laki dengan pakaian hijau dan masker diwajahnya menghampiriku. Sejujurnya, aku sedikit merasa terbiasa dengan mimik wajah mereka. Selalu sama. Selalu penuh iba. Aku meraih pena dan berkas yang dia sodorkan kepadaku. Kertas demi kertas, halaman demi halaman. Aku tidak peduli lagi dengan isinya.
" Nona, Nyonya Garcia membutuhkan operasi darurat "
Aku dengan mata menerawang menatapnya hampa.
" Operasi lagi? "
Menimpali.
Ini sudah yang ketiga kalinya.
" Sel kankernya menyebar dan kita harus mengangkatnya sebelum menyebar organ lainnya lagi"
Tubuhku gemetar, kakiku lemas dan pikiranku terguncang. Aku terduduk dikursi tunggu ruang itu. Dengan perasaan yang sungguh acak. Hanya aku yang dia punya dan hanya aku yang harus membuat keputusan.
Bagaimana kalau keputusanku itu salah?
Bagaimana jika itu justru membunuhnya?
Terkadang aku berpikir seperti itu.
Beberapa kali dia berpesan untuk membiarkan saja keadaannya. Dia selalu berkata, " Ibu sudah lelah ". Tetapi dengan egois aku tetap menandatanginya. Dia mungkin sudah siap untuk pergi tetapi aku yang belum siap untuk ditinggalkan walaupun itu jika aku harus merawatnya ditempat tidur seumur hidupnya.
Aku memaksakan diri untuk tersenyum pada pria tadi dan dibalik masker itu, aku tahu dia tersenyum mengisyaratkan diri untuk pergi. Dia berlalu berjalan menyusuri lorong itu. Mataku mengikuti kearah mana dia pergi.
" Kami akan lakukan sebaik yang kami bisa. "
Katanya sebelum pergi.
Dia menepuk pundakku dan meninggalkanku dalam kesendirian di lorong itu.
Aku tetap menunggu di depan ruangan Instalasi Gawat Darurat dengan waktu yang terasa sangat lambat. Mungkin sudah satu jam berlalu atau mungkin lebih dari itu. Seseorang kembali menghampiriku. Kali ini wanita dengan pakaian resmi berbeda denagn pria tadi.
Dia wanita dari bagian administrasi.
Dari raut wajahnya, sepertinya itu tidak sesuatu hal yang baik. Dia menyuruhku untuk mengikutinya ke ruangan Administrasi, aku mengikutinya berjalan dari belakang.
Baiklah,
Apa lagi yang lebih buruk?
Aku berjalan pelan menyusuri lorong demi lorong rumah sakit dengan pakaian sekolah yang masih kukenakan. Setibanya, tanpa basa-basi dia menjelaskan hal buruk lain. Rumah sakit menolak jaminan kesehatan kami yang sudah overlimit.
Apa lagi sekarang?
Apa yang harus kulakukan?
Kemana aku harus pergi?
Semua pertanyaan itu berputar dikepalaku.
Aku terdiam memandang wanita administrasi itu dengan tatapan kosong. Dia menyebutkan sebuah nominal fantastis yang harus dibayarkan dengan deposit awal lima puluh persen dimuka. Aku memberinya sebuah tawa kaku. Tatapan penuh iba lagi. Jika aku boleh jujur, aku mulai membenci tatapan semacam itu. Tatapan yang membuatku tampak lemah walaupun pada kenyataannya, aku memang tak berdaya.
Dia terlihat memikirkan sesuatu. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan apa yang ada dalam pikirannya. Pikiranku masih melayang jauh. Untuk pertama kalinya aku mengutuk pernah dilahirkan. Sekeras apapun aku berusaha, aku tetap hanya gadis miskin keturunan hispanic. Ya memang darah latin mengalir ditubuhku. Terlihat jelas dari warna rambut dan feature wajahku. Ibu berkata ayahku adalah seorang pria berkulit putih. Ya aku tidak bisa memungkiri mata amber ini mungkin kudapat dari dia.
Entahlah, aku tidak pernah bertemu dengannya dan setelah semuanya, aku bahkan membencinya.
" Aku rasa 'mungkin' bisa membantumu ".
Ucapnya.
Aku kembali menemukan sebuah semangat kecil. Kutatap dia penuh penasaran. Sejauh ini, Itu kata-kata terbaik untuk didengar. Semoga itu sebuah solusi. Dia memberikan selembar kartu nama berwarna putih dengan logo emas yang khas. Aku membolak-balikkan kartu nama yang setelah k****a, aku sadar itu adalah kartu nama sebuah yayasan kanker. Kutajamkan mataku pada alamat yang tertera jelas dan ternyata tidak jauh dari sini.
Bekalku sudah tidak banyak. Hari ini tentu saja tidak ada penghasilan dari mengantar koran. Naik bus membutuhkan biaya dan beruntung itu hanya beberapa blok dari rumah sakit.Aku merasa kembali optimis.Tak lupa aku mengucapkan terima kasih. Dia memberiku semangat dan memberiku sebuah doa keberuntungan. Aku tersentuh. Ternyata, masih ada yang peduli kepada manusia kelas dua sepertiku.
Dengan langkah kaki cepat aku berjalan menyusuri trotoar demi trotoar. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kuhabiskan. Hanya berjalan dan terus berjalan cepat. Setibanya didepan pintu aku merapikan pakaianku dan menyisir rambut cokelat yang tergerai dengan jemariku. Dalam hitungan detik, aku sudah berada didalam.
Kantor itu cukup mewah dengan aroma Lavender yang masih tercium jelas dihidungku. Aku mengingat dengan jelas aromanya yang sangat feminin. Ruangan yang sangat sepi tanpa pengunjung. Tentu saja siapa yang berharap untuk datang ke tempat semacam ini?
Aku memutar kedua mataku untuk membaca setiap tulisan yang tertempel rapi di depan meja. Satu meja kini menjadi fokusku yaitu sebuah meja dengan bacaan pusat informasi. Ya aku membutuhkan informasi untuk pengajuan. Berjalan cepat menuju bilik tersebut dimana seorang wanita paruh baya dengan senyumnya yang ramah kini berdiri dihadapanku. Tatapan sangat lembut dan bersahabat. Dia membuatku merasa nyaman ditempat ini walaupun dia terlihat ramah tetapi bicaranya singkat.
Pertanyaan demi pertanyaan terlewati dan respon akhirnya membuatku bertanya-tanya. Dia seperti menimbang-nimbang. Aku yang tadinya optimis merasakan firasat buruk. Dia berusaha merangkai kata. Aku tahu itu. Sikapnya membuatku gugup. Ya Tuhan sikap itu membunuhku. Aku sangat ingin berteriak sekencang-kencangnya.
" Aku tidak tahu harus mulai dari mana .”
Dia menghela nafas dan memainkan bibirnya.
Itu awal yang buruk.
Firasatku berkata, ini sebuah penolakan.
" Maafkan kami, Nona.”
Aku masih menyimak padahal tahu bahwa itu sebuah penolakan.
" Kau tahu, kami bukannya tidak ingin membantumu tetapi.... "
Menghela nafas kembali.
" kami mempunyai prosedur bahwa dana yayasan hanya diberikan pada pasien dengan tingkat hidup diatas 40 persen ".
Dia meraih tanganku yang sejak tadi kuletakkan di atas meja.
" Kau tahu sendiri kan berapa persentase yang dimiliki, ibumu? "
Tanyanya pelan.
Aku terdiam.
Entah kenapa, hari itu aku benar-benar benci dengan angka.
Aku mengangkat tubuhnya tanpa mengucapkan satu kata perpisahan. Pikiran ini benar-benar kosong dan membawa tubuhku kembali menyusuri trotoar. Cuaca sama buruknya dengan perasaanku. Kupandang langit yang suram seolah ikut menangis denganku. Semua perasaan itu bercampur aduk dan akupun terjatuh lemas tanpa peduli pada keadaan sekitar. Tangisku pecah sejadi-jadinya.
Air mata yang tidak bisa kubedakan dengan air hujan.
Duduk bersimpuh dengan hujan yang semakin detik semakin deras. Aku tidak peduli jika setelah ini aku sakit. Hal yang sangat ingin kulakukan hanyalah, menghilang.
Ketika aku larut dalam kesedihan itu, tiba-tiba air hujan berhenti membasahiku. Perhatianku teralihkan sejenak. Ketika kupandang kesekeliling, hujan disisi lain masih turun dengan deras, membuatku merasa heran. Ketika kupalingkan mataku pada sisi kananku, aku melihat kaki seseorang.
Dengan perlahan kualihkan pandanganku menuju sisi bagian atas.
Dia seorang pria.
Memayungiku dan membiarkan setelan jasnya basah.
Mata kami beradu saling bertatapan satu sama lain. Waktu menjadi sangat lambat ditengah derasnya hujan.
Pernahkah kau melihat malaikat?
Seperti itu kugambarkan.
Hanya saja hal yang menjadi perasaanku saat itu, Ada surga yang membuat hatiku hangat.
" Bangunlah, Nona "
Aku tahu ini merupakan sebuah dosa. Tetapi wajah itu mengalihkan sejenak pikiran jenuh itu.
" Ah,, maaf iya.”
Aku tersenyum dan berusaha menarik tubuhku untuk berdiri tetapi entah mengapa pandangan mataku tiba-tiba menjadi kabur. Aku berusaha menajamkan kembali penglihatanku padanya tetapi semua perlahan menjadi gelap dan hal terakhir yang kulihat hanyalah sepasang mata biru itu.
*
Kepalaku masih sakit. Mataku terasa sedikit kering. Aku tahu bagaimana rupaku kali ini. Mata sembab dan merah. Selalu seperti itu. Aku mengangkat tubuhku dan mendapati diriku berada di tempat yang sangat asing. Aku memutar kedua bola mataku.
" Apa aku masih bermimpi? "
Aku setengah yakin dengan perkataan itu dan untuk meyakinkannya, aku mencubit pipiku. Rasanya, cukup menyakitkan.
" Baiklah, aku tidak bermimpi ".
Aku menarik selimut yang menyelimuti tubuhku dan mendapat pakaianku sudah berganti dengan kemeja putih kebesaran yang merupakan kemeja laki-laki.
Seketika kupeluk tubuhku. Seseorang pasti sudah mengganti pakaianku. Aku berdecak kesal dengan menutup kedua wajahku. Bayangan laki-laki tak dikenal itu terus membayangi pikiranku. Diruangan itu tidak ada siapapun. Ruangan bernuansa monochrome itu tampak sepi.
Mungkinkah dia?
Tanyaku dalam hati berkali-kali.
Dan ketika disibukkan dengan semakin banyaknya pertanyaan dikepalaku, suara pintu terbuka mengalihkan pandanganku.
Pria itu kini dihadapanku.
Aku bisa melihatnya dengan jelas kali ini. Wajahnya membuat bibirku bungkam terdiam dan tubuhkupun tak berdaya.
Bagaimana Tuhan begitu tidak adil dalam mengukir umatnya?
Rahangnya yang kokoh, hidungnya yang mancung, sepasang mata biru muda yang berkilau dan bibir setipis kertas itu membuatku terpana. Dia menyisir rambut pirang gelapnya dengan membawa seluruh rambutnya kebelakang. Rambutnya yang sleek pasti basah akibat hujan tadi, tebakku.
Dia menggunakan pakaian yang rapi walaupun berada dirumah. Sweater abu itu pasti milik perancang terkenal dan jam tangannya, mungkin bernilai puluhan ribu dolar. Aku mungkin miskin tapi aku bisa membedakannya.
Dia berdiri dihadapanku dengan tatapan penuh pertanyaan.
" Pakaianku? "
Ungkapku.
" Aku menggantinya, kau basah kuyup.”
Perkataannya membuatku seketika tersipu. Aku bisa merasakan wajahku yang memanas.
" Tap-tapi, ka-kau sudah me..... ".
Tenggorokanku seperti tercekat untuk melanjutkannya. Aku diatas batas ambang maluku.
Dia terlihat biasa saja. Aku menyadari bahwa pasti ini bukan kali pertama dia melihat seorang perempuan telanjang. Aku tertawa geli sembari membatin, kau tidak ada apa-apanya.
Ponselku berdering.
Aku menatap layar kecil ponsel tua itu dan membuatku teringat ibu yang sedang dalam operasinya. Itu membuatku bangun dengan cepat dan terburu-buru. Aku keluar dari kamar itu dan berlarian mencari pintu keluar. Ketika aku menemukannya dan berjalan menuju kearah pintu itu, pria tanpa nama itu menarik pergelangan tanganku. Sikapnya kembali membuatku membeku.
Dia terlihat kesal.
" Maaf Tuan tapi aku harus kerumah sakit. Ib-ibuku.... ".
Aku tak mampu menahan tangisku dihadapannya. Entah mengapa aku yang terbiasa untuk selalu tampak tegar kini menjadi sangat lemah di hadapan pria asing ini.
Dia menarikku paksa menuju kamar itu kembali.
" Aku sudah menyiapkan baju untukmu.”
“ Ganti dan gunakan itu .”
Dia menunjuk kearah walk in closet didalam kamarnya.
" Aku akan mengantarmu ".
*
Kami berada dalam perjalanan kerumah sakit. Ini pertama kalinya dalam kehidupanku berkendara dengan mobil. Saat itu, aku tidak tahu bahwa mobil yang dia gunakan adalah mobil yang sangat mewah. Terkadang, deruan mesin mobil itu masih saja terngiang ditelingaku.
Aku diliputi suasana khawatir yang besar. Pihak rumah sakit memintaku untuk datang dengan cepat. Pikiranku yang sempat teralihkan kini kembali rumit. Kenapa aku harus berada di mobil ini dengan pria asing yang tidak kukenal disaat seharusnya aku mengerahkan seluruh kemampuan bahkan seluruh nyawaku untuk membayar deposit itu.
Kebiasaan menggigit jari ketika panik sepertinya menganggunya. Dia melirikku ketika tak sengaja mata kami saling bertemu pandang.
Dalam beberapa puluh menit kami tiba dan tanpa mengucapkan apapun aku turun dilobi dan berlari menuju kearah ruang pemulihan. Disana, dokter yang menangani ibu sudah menunggu. Dia masih dengan setelan operasinya sedang menandatangani dokumen. Aku menghampirinya dengan nafas terengah-engah.
Kami pergi keruangannya sementara aku menyempatkan diri mengintip ibu yang sedang berada di ruangan pemulihan melalui jendela pintu. Aku tidak perkenankan untuk masuk keruangan tersebut.
*
Entah mengapa aku berada di titik lelahku. Dokter kembali menjelaskan kemungkinan terburuk yang mengharuskanku untuk mempersiapkan diri. Operasi mungkin berhasil untuk mengangkat sel itu tetapi tidak menjamin semua. Keadaannya sudah sangat parah dan dia masih koma saat ini.
Aku duduk di depan lobi rumah sakit. Sejenak aku sempat lupa pada pria asing itu dan aku melupakan manner untuk mengucapkan terima kasih.
Aku menatap rumput yang tumbuh disekitar tanaman. Kanker ditubuh ibu pasti seperti rumput itu. Dia akan terus tumbuh bagaimanapun kita berusaha untuk memangkasnya. Anggap saja kanker itu adalah rumput hama liar pengganggu.. Pikiran itu membuatku frustasi. Aku memeluk kedua kaki dengan tanganku. Membenamnya kepala kedalam paha menangis setenang yang aku bisa.
Dan kembali suara seorang pria memanggilku dari dalam mobil. Deruan mesin itu mengingatkanku pada Pria Tanpa Nama, begitu aku menyebutnya. Aku melirik ke arah mobil itu dan memang benar itu dia. Dia memanggilku untuk masuk kedalam mobilnya dan entah untuk kedua kalinya, aku menurut. Dia seperti penyihir yang menghipnotis.
Kami dalam perjalanan.
" Kau sudah makan malam? "
Dengan tatapan kearah jalan raya, dia bertanya. Dia melirikku dan sedang menunggu jawabanku. Aku tertunduk menggelengkan kepala.
" Saya tidak lapar, Tuan "
Dia tersenyum.
" Ok kita makan sekarang "
Dia memacu mobilnya lebih cepat dari sebelumnya dan seperti tadi, kami hanya terdiam sepanjang jalan.
Sebuah ide terlintas di otakku. Ide yang sangat buruk hingga sangat buruknya tidak pantas untuk diucapkan. Masih sangat terbayang dikepalaku bagaimana pihak administrasi tadi meyakinkanku untuk masalah deposit. Itu memperumit pikiranku.
" Tuan Tanpa Nama ".
Ucapku setengah ragu.
Aku terdiam sejenak. Perasaan ragu itu begitu dalam tetapi ini seperti sebuah takdir. Tenggorokanku kembali tercekat. Norma dalam ajaran ibu terus menghantuiku tetapi otakku buntu. Tak bisa memikirkan hal lain selain itu.
Aku memberanikan diri untuk berbicara. Secara kebetulan kami kini berada di traffic light. Mobil berhenti dan aku merasa ini saat yang tepat. Menjaga segala kemungkinan, lebih baik kukatakan niatku saat mobil tidak sedang melaju.
" Ini mungkin terdengar aneh dan lancang
Aku terdiam sejenak merangkai kata agar terdengar baik walaupun sebenarnya tidak ada yang baik pada hal yang akan kuucapkan.
" Tetapi, maukah kau membantu? ".
Tersenyum menatapku. Matanya lagi-lagi menghipnotis.
" Aku akan membantu sebisaku, Nona Tak Bertuan "
Jawabnya dan akupun tersenyum kaku.
" Maukah kau membeli keperawananku? "
***