Kembali kemasa kini
Senin.
Satu kata yang bisa kugambarkan, traffic.
Jika bisa aku katakan aku cukup membenci hari ini. Mengapa? Situasi akhir pekan membuatku susah untuk menggerakkan lagi tubuhku. Tidak hanya berlaku untuk diriku. Hampir sebagian orang membenci hari senin, itu sebuah survey.
Ah, rasanya aku masih ingin berbaring dikasurku.
Duduk dikursi kantor ini sudah beberapa bulan kulakukan dengan jabatan sebagai seorang sekretaris.. Ya gadis setengah hispanik ini akhirnya lulus dengan baik dan mendapat pekerjaan yang layak sesuai pesan ibu. Selain itu, Aku hanya ingin menghilangkan streotype buruk tentang kami.
Bagaimana situasi tempat bekerjaku hari ini?
Well, sebagai sekretaris seorang direktur pekerjaanku adalah mengurus semua hal tentang dia dikantor. Schedule, memesan tiket pesawat hingga memesan kopi dan makanan favoritnya. Sebenarnya sangat timpang dengan gelar yang kumiliki . Tetapi, apa yang bisa kulakukan? Aku sangat membutuhkannya.
Awalnya, aku merasa malas untuk bekerja sebagai sekretaris. Aku benci dengan image mereka. Hanya saja seperti yang kukatakan sebelumnya. Tawaran gaji besar itu sungguh sangat menggiurkan. Semua ini kembali tentang kebutuhan kita tentang uang.
Baiklah direktur itu, seperti apa dia?
Jika kudeskripsikan kurang lebih seperti ini.
Dia mempunyai wajah yang cukup unik. Wajah yang dia dapat karena genetik, tentunya. Kau bisa menemukan orang seperti apapun di Amerika ini. Manusia dari segala penjuru dunia ada disini. Pria itu memiliki keturunan Jepang-Amerika. Perawakannya tinggi dengan aksen Asia pada matanya yang monolid. Ciri lainnya ada pada warna gelap rambut dan iris matanya.
Aku kenal beberapa campuran Asia Amerika. Sebagian besar dari mereka memang terlihat menarik.
Namanya, Darell Yamaguchi.
Diawal, aku merasa dia pria yang luar biasa atraktif namun, seiring berjalannya waktu sudut pandangku sedikit demi sedikit berubah. Kini aku mengerti mengapa cukup banyak sekretaris tidak berakhir menjalin hubungan dengan bosnya. Itu karena kami sudah tahu terlalu banyak.
Terlalu banyak tahu terkadang lebih buruk dibandingkan sama sekali tidak tahu.
Baiklah kembali ke hari ini.
Kuperiksa jadwal kegiatannya hari ini pada buku yang sudah kutempel beberapa memo. Tidak ada pekerjaan keluar dan hanya satu kali meeting staff mingguan biasanya. Jadi, hari ini pekerjaanku tidak terlalu banyak dan aku menutup buku bersampul kulit itu dengan sebuah senyuman lega. kuregangkan tubuhku dengan senyuman puas. Ini melegakan karena sejujurnya aku masih sangat mengantuk. Kurapikan laporan yang diserahkan kepadaku untuk Tuan Yamaguchi lalu kuletakkan dimejanya untuk dia periksa. Lengkap dengan satu gelas Americano hangat tanpa gula yang mungkin sudah dingin saat ini. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
Apa tujuannya membeli minuman hangat padahal dia sendiri tahu tidak akan datang tepat waktu ke kantor?
Itu membuatku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mengantri selama setengah jam untuk mendapatkan Americano hangat yang akhirnya menjadi dingin setelah dia datang ke kantor.Apa dia sedang mengerjaiku?
Pandanganku menyusuri keseluruh ruangan kantornya. Darell Yamaguchi adalah definisi dari kebersihan jadi tidak boleh ada satupun sampah di hadapannya. Jadi, aku memastikannya semuanya benar-benar bersih. Setelah pekerjaan sebagai 'housekeeping' itu selesai, dia bisa saja menyuruh cleaning service tetapi tetap saja mengharuskanku untuk melakukannya. Aku kembali ke mejaku dimana seseorang dari divisi lain sudah menungguku.
Apa aku bisa kembali keruangan tadi?
Jika saja dia tidak melihatku dengan wajah sumringah dan ekspresinya bukanlah sebuah kejutan lagi untukku. Aku tahu apa yang akan dia lakukan dimejaku sepagi ini.
" Hai .”
Ucapnya pelan. Dia menyapaku dengan sangat ramah dan baik.
" Ya? "
Sedikit mendengus. Aku sudah tahu apa maksud kedatangannya.
" Tuan Yamaguchi ada diruangannya? "
Dia memberi sebuah tatapan penuh tanya yang kujawab dengan menggelengkan kepala.
" Eehmmm . "
Aku membersihkan tenggorokanku sembari merapikan barang berantakan dimejaku. Berpura-pura sibuk agar wanita ini cepat pergi dari mejaku.
" Untunglah.”
Aku meliriknya menatap bingung. Sejujurnya, itu bukan kata yang kuharap keluar dari mulutnya.
" Untunglah? "
Ungkapku penuh tanda tanya.
Mataku mendelik menatap tak percaya. Dia bukan wanita pada umumnya yang datang kekantor ini. Bersikap genit dan masuk ke dalam ruangannya. Entah apa yang sudah mereka lakukan didalam selama berjam-jam dan si wanita keluar dengan rambut acak-acakan dan lipstik yang sudah tidak benar tempatnya. Aku tahu apa yang terjadi tetapi aku berpura-pura naif.
Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyodorkan sebuah tas kecil dengan pita berwarna merah di bagian depan. Ada tulisan merk sebuah jam tangan yang membuatku benar-benar sangat shock.
" Kau serius? "
Ungkapku tak percaya. Dia mengangguk lemah menarik lenganku dan memberi isyarat menyuruhku untuk tidak berekspresi berlebihan.
" Kumohon jangan sampai yang lain tahu .”
Memberi sebuah tatapan memelas.
Dia membuatku iba. Yamaguchi tidak pantas mendapatkan hadiah itu. Andai mereka tahu kemana larinya barang-barang tersebut. Aku menatapnya penuh keyakinan. Dia terlalu polos dan lugu untuk dipermainkan. Jadi, aku bertekad bahwa Darell akan menerima hadiah itu.
Lagipula itu bukan hadiah biasa. Dia pasti tidak akan tega untuk membuangnya karena nilainya. Wanita itu pergi berlalu tanpa aku tahu siapa namanya. Dia pergi begitu saja setelah aku menerima telepon dari dewan direksi bahwa ada rapat mendadak jam sepuluh pagi ini. Aku mengatur ulang jadwalnya dengan menempatkan rapat mingguan itu di sore hari.
Melirik jam dinding. Ini sudah 10 menit dan tidak biasanya Tuan Yamaguchi datang seterlambat ini. Apa aku harus meneleponnya? Baiklah aku memang harus menghubunginya.
Tut-tut-tut-tut
Dia tidak merespon dan tidak biasanya.
Ini membuatku cemas.
Rapat 1 jam 20 menit lagi dan dia belum datang juga ke kantor. Apa yang harus kulakukan? Seingatku rumahnya tidak jauh dari kantor. Apa aku harus mencarinya?
Aku menghela nafas.
Baiklah mungkin aku harus mencarinya.
Kuraih tasku dan memasukkan ponselku ke dalamnya. Bergegas pergi menuju pintu keluar. Dengan tergesa-gesa aku berjalan cepat hingga tak sengaja aku menabrak seseorang.
" Maaf."
Ucapku.
Pandanganku masih pada sepatuku dan tak sekalipun melihat wajahnya.
" Nona Garcia? "
Pria itu menyebut namaku dan aku mengalihkan perhatianku kepada wajahku. Kata pertama yang ingin ku ucapkan ketika melihat wajahnya adalah, Terima kasih Tuhan!
" A, untunglahTuan Yamaguchi.”
Ucapku memberi sebuah senyuman penuh kelegaan. Dia terlihat agak kebingungan tetapi tak terlalu mengindahkannya.
" Kau mau pergi kesuatu tempat? "
Bertanya penasaran.
" Ya aku hendak mencarimu.”
“ Kau tidak mengangkat telepon dan membalas pesan singkat.”
Dia tampak mengingat sesuatu lalu meraih ponselnya dari saku celananya.
" Ah, silent.”
Ucapnya mengumpat.
“Tolong bacakan jadwalku hari ini ke ruanganku .”
Dia melewatiku dan berjalan menuju ruangan kantornya begitu saja dan aku kembali menuju mejaku meletakkan tasku lalu mengambil buku catatan itu.
*
Hari semakin siang. Suasana kantor sudah sedikit lenggang. Ini adalah jam istirahat dimana seharusnya aku pergi untuk makan siang tetapi aku memutuskan untuk delivery saja. Tuan Yamaguchi sedang berbaik hati tidak membawaku untuk ikut rapat diluar. Jadi sejak tadi, aku hanya bermain dengan komputer dihadapanku.
Aku teringat pada sebuah misi untuk dilakukan. Sebuah misi yang berawal
dari kesukaanku terhadap anak kecil. Tetapi keinginan itu semakin kuat semakin harinya dan trauma besar terhadap hubungan serius seperti pernikahan atau pun sekedar berkencan dengan seseorang membuatku yakin untuk menjadi seorang single parent.
Aku mulai mencari di website informasi tentang donor s****a dibeberapa klinik kesuburan. Ide itu terdengar bagus walaupun tidak dalam waktu dekat tentu saja. Setelah membaca beberapa hal aku sedikit tidak yakin. Akan lebih baik jika seorang anak besar dengan kenal siapa ayahnya dan opsi ini akan lebih sulit untuk dilakukan. Mencari kandidatnya saja akan sangat susah. Memiliki anak tanpa menikah?
Apakah Co-parenting itu mudah?
Aku pernah mengutarakan keinginan ini pada Kelly. Kelly memberi saran untuk mengikuti kencan buta yang diatur dalam sebuah situs online. Sepertinya, itu lebih baik. Pilihan itu lebih baik dari opsi pertama. Aku membuka halaman lain di browser itu. Baiklah jika harus dilakukan dengan segera, aku akan mendaftar saat ini juga. Kami butuh penjajakan bukan?
Pertama yang harus kulakukan adalah mengisi biodata pada situs itu.
Aku melirik kesekelilingku memastikan tidak ada satu orangpun yang melihat ataupun yang lewat. Tidak boleh ada satu orang pun yang tahu aku mendaftar pada kencan buta karena itu sedikit agak menyedihkan. Aku tenggelam pada kegiatanku itu dengan menulis kemudian menghapus lalu mengetik dan menghapus lagi.
" Baiklah, bersedia untuk co-parenting . "
Gumamku dengan jemari yang mengetik dengan cepat. Kugigit kukuku membaca kembali semua bio dengan sangat detail huruf demi-huruf. Tentu saja tidak bisa dilupakan foto terbaikku. Ada beberapa foto yang aku save di komputer itu.
Dalam seriusku terdengar suara tawa.
Ha-ha-ha-ha-ha
Tawa yang berasal dari arah belakangku. Kupalingkan pandanganku dengan cepat karena itu sangat sangat membuatku terkejut!
Dan hal yang paling parah adalah fakta bahwa dia adalah Tuan Yamaguchi!
Bagaimana aku harus berekspresi saat ini?
Aku bisa merasakan wajahku membeku kaku.
Dimana aku harus menyembunyikan wajah ini sekarang?
" Kencan buta? "
Aku menutup layar komputer dengan tubuhku yang menghalangi pandangannya. Apakah itu akan membantu karena aku tidak tahu sudah berapa lama dia berada di belakangku.
Dia menatapku tak percaya.
Baiklah, aku harus berimprovisasi.
" Ehemmm. "
Membersihkan tenggorokan.
" Ada yang kau butuhkan Tuan Yamaguchi?”
“ kau punya banyak pekerjaan untuk dilakukan. "
Aku bertanya dengan nada datar yang sedikit bergetar. Jantungku berdebar cepat dan sepasang mata ini bahkan terlalu malu untuk menatapnya. Berkali-kali kuketukan kakiku ke lantai. Aku berusaha keras untuk bersikap santai seolah-olah semua itu sesuatu yang 'normal'.
Dia tak bergeming. Pandangannya masih pada layar komputerku. Dia pasti benar-benar sangat penasaran dan parahnya, tubuhku mungkin tidak cukup lebar untuk menutupi layar besar komputer itu. Dia mendekatkan tubuhnya kepadaku. Sedikit merunduk seperti hendak memelukku. Satu tangannya berada di meja dan dengan posisinya sekarang, wajahnya berada benar-benar sangat dekat dengan wajahku.
Aku menelan ludahku berkali-kali. Tekanan darahku melonjak dan wajahku terasa sangat panas. Aku membuang wajahku ke arah yang berlawanan dengan wajahnya. Tanganku basah karena berkeringat. Usiaku mungkin 28 tahun tetapi berhadapan dengan pria secara langsung, sedekat ini tidak pernah ada dalam kamus hidupku. Hidupku hanya tentang kuliah dan bekerja. Sangat menyebalkan memang mengingat fakta itu diusiaku yang sekarang ini.
Aku meliriknya dan dia masih dalam kegiatannya untuk membaca semua hal dalam browser itu. Raut wajah penasaran itu membuatku mual.
Apa itu benar-benar sangat memalukan?
Aku memalingkan tubuhku kini dan meraih mouse lalu menghapus browser dengan cepat.
" Ckckck .”
Decaknya.
" Apa kau serius dengan semua itu?”
“ Tipe pria itu seperti..."
Dia memotong pembicaraannya sebentar.
" Dia sepertiku. "
Ucapnya sembari menyodorkan berkas kepadaku dan akupun meraihnya.
Like what?
Aku tak percaya apa yang baru saja kudengar.
" Excuse me? ".
Aku menjawab dengan pertanyaan, menatap dan mentertawakannya.
Bolehkah aku berbicara non formal padanya hari ini?
Dia tertawa.
" Pria itu, kau tahu, itu mirip denganku. Semua kriteria itu .”
Tawanya kini menggema keseluruh ruangan.
Dia memberiku sebuah tatapan bangga dan betapa mengesankannya dirinya.
Aku tidak bisa memungkiri bahwa dia memang pria yang nyaris sempurna, sebenarnya. Tetapi semua hal baik tentangnya tidak membuat keinginanku melempar wajahnya dengan vas dihadapanku ini hilang.
Aku mendesis.
Bukan hanya ular derik saja yang bisa mendesis, benar?
Kuberi sebuah senyum kaku.
" Apa ada yang salah denganmu? Apa obatmu sudah habis? Apa perlu aku hubungi Dokter? "
Ucapku dengan nada meninggi.
Alasan terbesarku tidak menjadikannya seseorang untuk kusukai karena rasa percaya dirinya yang amat sangat tinggi itu. Terkadang, aku merasa kasihan pada gadis yang sudah menyukainya.
Mereka tak tahu betapa narsistiknya dia.
Aku mengangkat pantatku dari tempat duduk dengan langkah pasti menabraknya untuk pergi kedapur membuat kopi. Aku membutuhkan kopi untuk meredam emosiku hari ini dan menyadarkan aku dari mimpi buruk tetapi dia justru menarik lenganku dan membuat wajah ini memalingkan diri padanya.
" Nona Garcia..... "
Aku menatap wajah itu dengan tajam. Dia terlihat agak berbeda dengan ekspresi bingung.
" Berkencanlah denganku."
Aku mengenyitkan dahiku.
" Apa? Apa aku tidak salah dengar? "
Aku menajamkan mataku padanya dan cengkraman itu semakin kuat.
" Ya atau tidak? "
Dia bertanya dengan nada serius. Ketika aku mencoba berontak, dia menggenggamnya semakin kuat.
" Kau menyakitiku! "
Teriakku padanya.
" Jawab pertanyaanku."
Dia menarikku mendekatinya.
Kali ini aku benar-benar gemetar.
" Tidak.... Tentu saja tidak .”
Aku menjawab dengan tegas. Dia spontan melepas lenganku.
" Jadi kau menolakku? "
Tanyanya dengan berkacak pinggang.
" Ya.. Aku menolakmu. Kenapa? Kau tidak pernah di tolak? "
Dia tertawa kecil.
Aku sedikit gentar dengan keberanianku yang spontan itu. Kata itu tiba-tiba saja keluar dari bibir ini. Kata-kata yang mungkin mencederai harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
Aku hanya bersikap defensif. Jadi, jangan salahkan aku. Itu lebih baik dari pada spontan menamparnya.
" Kau bukan tipeku dan tidak akan pernah menjadi salah satunya.”
Menajamkan matanya padaku.
Dia pikir dirinya spesies superior?
Yang benar saja Tuhan!
" Apa kau kehilangan akal sehatmu? "
Ungkapku kesal.
" Aku hanya menggodamu saja. Jadi, bersikap biasa saja padaku besok.”
Ucapnya kemudian berlalu.
Aku hanya terdiam menatapnya hingga menghilang dari penglihatanku. Tidak bisa kupercaya apa yang sudah terjadi tadi. Sikapnya benar-benar sangat diluar nalar pikiranku. Apa maksud perbuatannya tadi? Tidak satupun clue aku dapatkan.
Apa dia sedang mempermainku?
Apa dia sedang mencoba-coba dan memandang rendah diriku?
Apa haknya meremas tanganku seperti itu?
Apa mungkin dia memang seperti itu?
Seperti games siapa tahu dia terjerat kailku.
Dia pikir dirinya tadi sedang memancing?
Sungguh aku benar-benar membencinya saat ini.
***