Untuk wanita dewasa sepertiku hari berlalu sangat cepat tanpa kusadari. Sepertinya Yamaguchi sangat marah denganku akhir-akhir ini dan mempermainkanku dengan banyak pekerjaan tak wajar yang sangat melelahkan.
Malam minggu dan kembali ke malam minggu lagi. Tetap sama seperti sebelumnya, kali ini kuhabiskan dengan beristirahat membaca novel dan menghabiskan setengah botol port wine yang merupakan salah satu minuman favoritku. Tanpa kusadari minuman itu membuatku benar-benar sangat terlelap walaupun aku sudah menyetel alarm di ponsel untuk bangun sangat pagi.
Hari ini adalah hari penting untuk seorang sahabatku.
Kring.. Kring.. Kring..
Suara ponsel membangunku dari tidurku. Aku berpikir ini masih malam dan berniat untuk membentak siapa yang sudah dengan lancang membangunkanku dari tidur lelapku. Aku meraih ponselku secepat mungkin yang kuletakkan semalam diatas meja. Dengan penglihatan yang belum terlalu jelas, aku melihat nama yang terpampang beserta fotonya.
Dan dia adalah, KELLY
“Kel?”
Terdiam memandang jam dinding yang tergantung diruang tamu.
Aku mengusap-usap mata dengan kepala yang masih sedikit pengar. Semalam aku sangat ingat apa yang harus kulakukan tetapi pagi ini kenapa seperti ada sesuatu yang sudah kulewatkan?
“Ya Tuhan Laura.”
“ Apa Kau baru saja bangun tidur?”
Sedikit nada tinggi dalam suara Kelly bukan hal yang baik dan aku perlahan mengingat hal apa yang seharusnya aku lakukan itu.
Aku menarik tubuhku membangunkan diri melirik kearah jendela dan menemukan matahari sudah menampakkan sinarnya. Jam menunjukkan jarum pendek di angka delapan yang berarti ini sudah pagi menjelang siang karena sinar matahari sudah sedikit menyengat.
Aku menelan ludahku.
Tidak heran apa yang akan Kelly katakan dan aku berjanji aku tidak akan marah sekasar apapun dia mengatakan sesuatu karena aku memang layak mendapatkannya.
“ANGKAT p****t SIALANMU ITU DARI TEMPAT TIDUR SAAT INI JUGA DAN SEGERALAH MANDI! “
“ JANGAN SAMPAI KAU MENGHANCURKAN ACARAKU!”
Nutt-nutt-nutt
Kelly menutup sambungan teleponnya. Kali mungkin, dia sudah membanting ponselnya.
Ya Tuhan betapa menyebalkannya aku!
Aku bersiap dengan secepat kilat. Lima menit waktu mandi. Lima belas menit waktu berdandan yang tentu sebenarnya tidak akan cukup untuk merapikan secara keseluruhan penampilanku. Aku benar-benar khawatir penampilanku kali ini akan sangat kacau dan tebak siapa yang mengacaukannya?
AKU, tentu saja!
Setelah semuanya selesai aku meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci. Pakaian bridemaids ini membuat jalanku sedikit terhambat. Modelnya dan kainnya yang tidak elastis membuatku cukup kesusahan bahkan hanya untuk berjalan. Aku sudah menyiapkan sandal hak tinggi dari jauh-jauh hari dan sudah tidak mungkin untuk menggantinya. Lagipula itu sama saja membuang-buang uangku jika tidak memakainya.
Baiklah aku sedikit bersabar untuk berjalan menuju lobi apartemen dan memutuskan menggunakan taksi online yang sudah kupesan lewat aplikasi sepuluh menit yang lalu. Taksi itu sudah mengirimkan pesan kepadaku. Beruntung, ini Los Angeles dihari minggu dan biasanya, orang-orang akan bepergian keluar kota di weekend seperti ini. Aku menggunakan taksi karena tidak ingin merusak riasanku dan aku memiliki tambahan waktu ekstra untuk memperbaiki penampilanku ketika dalam perjalanan.
Aku melirik jam tanganku dan ini sudah menunjukkan pukul 08.20 dan waktu tempuh yang diperlukan adalah kurang lebih dua puluh menit yang artinya, aku akan terlambat empat puluh menit.
Dan empat puluh menit waktu Amerika adalah EMAS!
Kelly tidak lagi menghubungiku. Hanya satu kali itu saja. Dia pengantinnya tentu saja aku bukan satu-satunya yang harus dia urus.
Dua puluh menit kemudian aku tiba. Gereja sudah tampak ramai dengan mobil terparkir rapi didepannya. Para undangan terlihat sangat rapi dengan setelan jas dan gaun mereka. Aku membayarkan sejumlah uang kepada sopir taksi itu dan memberinya tips 20 dolar karena dia tidak mempunyai uang kembalian. Aku tidak bisa berdebat saat ini walaupun dua puluh dolar itu nilai yang lumayan tetapi berdebat dengannya seperti tidak worthed untuk dilakukan.
Berjalan dengan tergesa-gesa dan penuh rasa khawatir bahwa mungkin saja aku sudah melewatkan pernikahan salah satu sahabat terbaikku. Aku masih memandang dengan harap-harap cemas. Ketika memasuki pintu, ayah Kelly tampak sedang menunggu seseorang.
Ah, sial! Beliau menungguku.
Dia menuntunku menuju ruangan lain di gereja tersebut. Sebuah lorong dengan dua ruangan yang saling berhadapan. Ruangan disebelah kanan adalah ruangan untuk mempelai wanita dan jika kutebak ruangan satunya mungkin itu adalah ruangan mempelai laki-lakinya. Ketika kubuka pintu ruangan, aku menemukan Kelly yang tampak belum siap padahal waktu sudah menunjukkan pukul 08.45 waktu setempat.
Baiklah apa yang sebenarnya terjadi?
Aku tahu ini lebih dari sekadar bridemaids yang datang terlambat.
Aku menghampirinya dan duduk bersimpuh didepannya. Hanya ada kami berdua didalam ruangan itu. Bridemaids lain?
Entahlah dimana mereka.
" Jadi, apa ini semua tentangku, Kel?”
“ Apa yang terjadi? ".
Aku mulai bertanya dengan nada sedikit panik dan dia mulai menangis.
Baiklah, aku tahu bahwa ini tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang sudah terjadi dan entah tentang apa hal itu, aku jelas-jelas sudah melewatkannya.
Aku menggenggam kedua tangannya dengan erat ketika tangisan itu berubah seperti hujan yang tiada henti. Eye linernya bahkan ikut memudar hanyut bersama air mata tersebut. Aku merogoh selembar tisu dari tasku. Sedikit kesusahan mengingat aku membawa clutch kecil yang sangat pas dalam genggamanku. Dia menyeka air matanya dengan tisu itu. Walaupun aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk menunggu, aku hanya tidak ingin mendesaknya.
" Laura, katakan kepadaku, apakah keputusan yang kuambil ini sudah tepat? "
Aku menatapnya tak percaya.
Apa sebenarnya ynng sedang terjadi?
Kenapa tiba-tiba dia menjadi tidak yakin dengan keputusannya?
Ah, ini pasti krisis menjelang pernikahan.
Aku pernah membacanya.
Dia seperti menuntutku untuk segera memberinya sebuah jawaban. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kukatakan sejujurnya. Bagaimana bisa aku memberi sebuah pendapat pada hal yang belum pernah kulalui sebelumnya tetapi tatapan itu seperti terus memaksa. Baiklah kugunakan saja sudut pandangku. Semoga aku memperbaikinya bukan justru merusaknya.
Menarik nafas dalam-dalam.
" Kalian adalah pasangan terbaik, Kel."
Aku menatapnya dengan sungguh-sungguh.
" Kau selalu mencintainya dan begitupun dengan dirinya."
Kuletakkan kedua tanganku di pundaknya.
“ Kau harus yakin, Kel.”
Kelly, dia wanita Afro Amerika yang sangat luar biasa cantik. Kulit kecokelatan, rambut gelap dan kontur wajah Kaukasia itu membuatnya sangat sempurna. Ditunjang tubuhnya yang kurus walaupun tidak tinggi, dia cerminan wanita yang menjadi idaman rata-rata seorang pria. Teddy? Dia pria humoris yang sangat baik. Tidak ada yang lebih diinginkan seorang wanita selain pria loyal yang memiliki kelakuan seperti b***k cinta seperti dirinya. Aku kenal mereka sudah sangat lama jadi memang tidak ada yang lebih kenal Teddy dibandingkan diriku. Aku kenal mereka sejak kuliah. Cinta diantara mereka salah stu hal yang kukagumi walaupun tidak membuatku ingin merasakannyA.
" Ingatlah alasan mengapa kalian masih bersama sampai detik ini.”
*
Make up artist kembali mendadani Kelly. Tangisan itu membuat riasan wajahnya memudar dan itu sangat tidak baik. Setelah dia menggunakan tiaranya, aku menuntunnya melalui lorong yang terhubung dengan ruang gereja bagian pemberkatan. Dari kejauhan, aku bisa melihat wajah Teddy yang gugup dengan tatapan lega. Dia menatapku dari kejauhan dan mengucapkan terima kasih.. Kubalas dengan sebuah senyuman. Aku hanya bisa mengumbar senyum tulus dan berharap kebahagiaan dalam pernikahan mereka. Kehidupan sempurna yang tidak akan aku miliki. Seseorang untuk dicintai, orang tua yang utuh. Mereka membuatku merasa iri.
Betapa beruntungnya mereka.
Mereka masih menandatangi sesuatu di depan sana dan aku memilih untuk duduk manis di kursi paling belakang. Aku mendengus kecil dan seorang pria yang entah darimana datangnya tiba-tiba duduk di sampingku. Dia memiliki tubuh yang tinggi. Siluet dari samping membuatku sangat yakin dia memiliki tubuh yang lebih tinggi dariku. Hanya saja, aku tidak berniat mengalihkan pandanganku padanya.
“ Laura.”
Kualihkan pandanganku padanya.
Apa dia seseorang yang kukenal?
Wajahnya kini terlihat jelas. Rambut cokelat tua, mata biru muda dan wajah persegi panjang dengan dagu runcing. Deretan gigi putih yang rapi dengan setelan jas berwarna cokelat. Ya Tuhan, dia ETHAN!
Apakah aku tidak salah lihat?
Tenggorokanku serasa tercekat dan aku menatapnya penuh rasa tidak percaya.
Bagaimana dia bisa disini?
Aku bahkan tidak tahu bahwa Teddy dan Kelly masih berhubungan dengannya. Hampir empat tahun tidak bertemu dan dia terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya. Melihat wajahnya benar-benar membuatku sangat terkejut hingga tanpa kusadari detak jantungku meningkat dan nafasku memburu.Beberapa memori masa lalu kembali berputar dikepalaku seperti slide show dan sekarang aku tidak tahu harus berkata apa.
Bagaimana aku memulai sebuah pembicaraan setelah sekian tahun berlalu?
" Apa kabarmu, Laura?"
tersenyum tipis dan suara yang masih sama. Suara bariton dalam yang khas.
Kubalas dengan sebuah senyuman kaku. Aku tidak tahu harus bagaimana berekspresi. Hal yang terpikir di benakku hanyalah, bagaimana caranya kabur dari tempat ini.
" B-baik...... "
jawabku gugup.
" Bagaimana denganmu? "
dengan cepat berimprovisasi. Dia terlihat berpikir dengan menatap kebagian atas kanan.
" Tidak banyak yang berubah "
Memberiku sebuah senyuman dingin.
Ethan meletakkan tangannya di sandaran kursi bagian depan. Senyumnya masih saja manis seperti dulu. Dia seperti pria yang mempunyai kepribadian ganda. Di satu sisi aku melihatnya begitu sangat tegas dan dingin sedangkan disisi yang lain, dia begitu sangat hangat. Aku mengenalnya dengan baik.
Suasana menjadi sedikit dingin diantara kami. Ketika yang lain berbincang satu sama lain, kami justru merasa canggung untuk bersikap normal.
" Bagaimana dengan pekerjaanmu? "
Suasana dingin itu pecah. Dia kembali bertanya.
" Berjalan lancar seperti yang seharusnya.”
Balasku singkat.
" Dan kau? Bagaimana denganmu? "
Melontarkan pertanyaan yang sama kepadanya.
Entah mengapa aku merasa ini menjadi semakin canggung. Kami dulu sangat sangat dekat dan sekarang kami berdua bertingkah seperti orang asing.
" Sama denganmu, berjalan lancar seperti yang seharusnya ".
Aku melihat tatapannya yang sangat fokus kepada pasangan pengantin kami. Dia tidak bergeming sedikitpun. Aku tahu karena aku mencoba meliriknya dengan sengaja. Tanpa kusadari semua prosesi sudah terlewati. Satu hal yang ada dalam benakku hanyalah berbaring di kamar tidurku dan membaca beberapa novel yang belum sempat kuselesaikan untuk dibaca. Dan entah apa itu bisa disebut kebetulan atau tidak. Aku bukan orang yang mudah percaya dengan yang namanya kebetulan. Hanya saja, semalam, aku membaca salah satu Novel yang pernah Ethan berikan kepadaku. Aku masih menyimpannya dan membacanya setelah empat tahun lamanya tersimpan di laci. Teddy dan Kelly kini berjalan menuju pintu keluar gereja dimana mobil mereka sudah menunggu. Sebelumnya tentu saja Teddy sudah menyapa Ethan dengan memeluknya dan Ethan mencium pipi Kelly dan memberikan ucapan selamat. Ketika kupikir aku sudah terselamatkan dari situasi canggung yang entah sudah berapa lama terjadi diantara kami, Kelly menghampiriku.
" Kalian wajib datang tanpa kecuali nanti!"
perintahnya pada kami.
Baiklah ini hari miliknya, akan kubiarkan telinganya dingin untuk sementara waktu.
" Entah kau "
Menunjuk Ethan.
" Ataupun kau, Laura.”
menatap kami bergantian.
Apa dia minum banyak sebelum acara tadi?
Aku bahkan tidak sempat bertanya kepadanya. Ethan memberi sebuah senyum dengan tangan yang dia masukkan kedalam kantong celana.
"tentu saja Kelly, sampai jumpa.”
Dia mengiyakan dan aku tidak mungkin tidak hadir karena dia sahabatku.
Apa yang harus kulakukan?
Teddy dan Kelly terburu-buru sebelum sempat berbicara banyak pada kami. Mereka diburu waktu dan akupun sangat mengerti dengan situasinya. Satu-persatu undangan kini memasuki mobil mereka untuk pergi ketempat lain dimana resepsi diadakan. Begitupun Ethan yang entah dimana keberadaannya, aku sedikit mencarinya. Aku meraih ponselku yang kuletakkan didalam clutch sembari menarik-narik gaun ketat yang sedikit terlipat keatas. Hanya tinggal aku sendiri di gereja itu. Memesan kembali taksi dengan aplikasi yang ternyata membutuhkan waktu karena lokasiku yang berada dipinggiran kota.
" Laura! ".
seorang pria memanggilku dan mataku mulai mencari darimana asal suara itu yang ternyata asalnya dari mobil Audi hitam yang kini terparkir didepanku.
" Cepat naik! ".
perintahnya.
Kenapa semua orang jadi suka memerintah hari ini?
" Aku bisa dengan taksi, Ethan.”
“ Terima Kasih.”
Bersamanya dalam satu mobil? Ini akan sangat canggung.
Aku memperlihatkan aplikasi yang sedang kugunakan kepadanya tetapi yang dilakukan selanjutnya justru membuat benar-benar sangat terkejut. Dia turun dari mobil dan membiarkan mobil dalam keadaan hidup. Aku masih bisa mendengar suara mesinnya. Ethan menghampiriku dengan alisnya yang menekuk seperti dulu.
" Kau benar-benar wanita yang keras kepala!".
Menyeretku dengan menarik tanganku digenggamnya menuntunku menuju kursi penumpang. Aku memberinya sebuah tatapan penuh kebingungan. Raungan mesin mengantarkan kami menuju jalan raya dan semua ini mengingatkanku pada masa-masa saat kami kuliah dulu.
***