Bagaimana memecahkan suasana yang luar biasa dingin ini?
Kami hanya terdiam sepanjang jalan dan tidak banyak celotehan yang terjadi. Ethan terlihat sangat serius mengemudi dan aku tidak terlalu berani mengganggunya dan memilih memainkan ponselku. Aku tak tahu apa permasalahan yang terjadi diantara kami. Seingatku, kami tidak punya masalah setelah kami berpisah selepas tamat kuliah. Entah mengapa aku merasa dia sekarang jauh lebih dingin dari terakhir kali kami menikmati masa-masa bersama.
Dia sahabat terbaikku, DULU.
Ada suatu tanya yang terus saja berputar dikepalaku. Apa memang seperti ini rasanya jika sudah lama tidak bertemu dengan seorang kawan lama?
Apakah secanggung ini?
Ini cukup menguras emosiku.
Mobil ini melaju menuju arah kota. Setelah sedikit lebih siang mulai banyak kendaraan lalu lalang. Kami menuju pusat kota melewati Staples Center menuju Figuora Street. Sepertinya ini menuju kearah bandara. Aku semakin penasaran tetapi tetap bungkam.
Untuk apa dia membawaku ke arah bandara?
Tanyaku berkali-kali dalam hati.
Hingga tanya itu hilang ketika mobil menuju arah ke barat dimana seharusnya jika ke bandara menuju arah timur. Aku lega karena sepertinya sebentar lagi kami akan tiba dan mobil berhenti di Los Angeles Casino dan Hotel yang terletak dipusat kota. Dia mematikan mesin mobilnya dan kupandang sekelilingku. Aku tahu Teddy pria yang luar biasa mapan tetapi tempat mewah ini mengejutkanku. Faktanya pasti Teddy benar-benar pria yang kaya raya.
Aku membuka sabuk pengaman dan pintu mobil. Sinar matahari membuatku silau. Ternyata setelah sibuk berusaha menghalau matahari itu dengan tangan, Ethan sudah berjalan menuju lobi. Aku berjalan seperti anjing yang mengikuti majikannya.
Bagaimana aku bisa buta dengan kota kelahiranku?
Gumamku kesal.
Ethan berjalan melewati resepsionis yang membuat kepalaku kembali terisi pertanyaan. Sepertinya kali ini aku harus membuka suaraku walaupun pasti benar-benar sangat canggung.
" Ethan, kau yakin ini tempat yang benar? "
Tanyaku.
Ethan diam dengan wajah dinginnya itu.
" Oh, itu ."
Akhirnya membuka mulut.
" Ini gedung yang sama tapi aku harus pergi ke kamarku untuk mengganti pakaianku."
Jawabnya.
Dan aku hanya mampu memutar kedua bola mataku. Berdua dengan Ethan dikamarnya? Entahlah apakah itu ide yang baik. Katakan saja aku munafik atau naif tetapi bersama seorang pria seksi dalam satu kamar itu bukankah?
Ah sial, kenapa pikiran kotor itu mencemari isi kepalaku.
" Laura, apa yang kau tunggu?"
Resepsionis sepertinya bekerja terlalu cepat. Apa mungkin otakku yang berpikir terlalu lambat?
Aku menarik sudut bibir untuk tetap tersenyum walaupun kini sepertinya aritmiaku kambuh. Telapak tanganku mulai basah dan langkah kaki ini menjadi amat sangat berat. Aku mengikutinya memasuki lift. Tidak terlalu besar tetapi cukup untuk menampung paling tidak sepuluh orang dewasa. Masih menjaga jarak dengannya dan keadaan semakin terasa canggung untukku.
Kenapa aku mau saja mengikutinya?
Seharusnya aku menolak dan tetap menggunakan kendaraan umum saja tadi. Sesalku.
Ketika pintu lift menutup dan hanya ada kami berdua didalamnya, jantungku berdetak kian kencang. Kakiku bahkan rasanya gak sanggup untuk melangkah.
Apa yang akan terjadi setelah ini?
Hanya itu yang ada didalam pikiranku.
" Tidak membawa baju ganti? "
Pertanyaan itu memecahkan keheningan diantara kami.
" Tidak, aku sudah cukup nyaman dengan gaun ini."
Balasku.
Ethan menekan tombol delapan yang berarti kamarnya berada di lantai tersebut. Ketika lift menunjukkan angka tiga, pintu kembali terbuka dan satu rombongan orang asia masuk kedalamnya. Keadaan dilift kini semakin sesak dan secara tak terduga, Ethan merangkulku karena kami hampir saja terpisah.
Dia menarik pinggangku dengan posesif hanya dengan satu tangan yang melingkar penuh dari satu sisi pinggangku menuju sisi lainnya. Jantungku semakin berdegup kencang ketika tubuh kami saling berhadapan dan bersentuhan satu sama lain. Aroma sandalwood begitu sangat melekat, setelah berulang kali menerka-nerka aku baru menyadarinya. Kami bertatapan entah sudah berapa lamanya hingga kepala seorang anak kecil tidak sengaja menyentuh kami.
Ethan kembali bersikap dingin dan aku bisa merasakan tanganku yang kini sudah dibasahi keringat. Dia tidak mengucapkan apapun hingga lift menunjukkan angka delapan dan terbuka. Ya kami berada di lantai yang kami tuju.
Dengan mengucapkan kata excuse me, mereka memberikan kami jalan untuk keluar dari lift. Keadaan kami memang cukup terdesak dibagian tengah tadi. Aku masih seperti seekor anjing mengikutinya dari belakang. Lorong tampak sepi dan hanya ada kami berdua yang berjalan menyusurinya. Ethan berhenti di depan kamar dengan nomor 808 dan aku masih tetap bungkam.
Aku menjadi ragu untuk pergi masuk kedalam.
Aku berpikiran negatif karena hanya ada kami berdua didalam kamar itu. Apapun bisa saja terjadi. Walaupun aku sudah pernah melihat Ethan shirtless karena kami pernah menjadi roommate yang tidak disengaja selama masa kuliah tetapi tetap saja.
Kuhela nafas panjang.
" Laura......”
Tanpa kusadari ternyata aku termenung dan mematung. Suaranya menyadarkanku dan aku tersenyum memaksa kepadanya. Dia menatapku dan seolah mampu membaca pikiranku.
" Apa kau akan tetap berdiri mematung seperti itu?."
Suaranya seperti Ethan yang kukenal dulu dan aku memberikan kepercayaanku. Dulu, dia pria yang bisa dipercaya. Tidak akan ada yang terjadi Laura, jadi relax. Pikiranku mungkin yang terlalu buruk. Diusia setua ini terkadang pemikiran tentang hubungan seks itu terlintas begitu saja. Ruangan gelap itu menjadi terang setelah Ethan meletakkan kartu di dinding. Aku tidak terlalu takjub dengan kamar hotelnya. Seperti kamar hotel pada umumnya hanya saja tentu bukan kamar studio. Ada ruang keluarga dan dapur kecil. Tidak ada kamar tidur sepanjang mataku memandang. Hanya satu ruangan besar lain yang sangat kuyakini bahwa itu adalah kamar utamanya. Aku merasa sangat lega dengan fakta itu. Berarti Ethan akan mandi dan berganti pakaian diruangan yang berbeda.
"Duduklah disini. Aku akan pergi mengganti bajuku dikamar."
Ucapnya.
Kuberi dia sebuah senyuman dan ekspresi bahwa aku mengerti.
" Baiklah...."
Ucapku membalas.
Ini benar-benar melegakan.
Aku melepas sepatu hak tinggi yang kugunakan. Hampir 7 hari dalam satu minggu aku menggunakan sepatu macam ini yang membuat kakiku terkadang mati rasa. Kuputuskan untuk duduk di sofa ruang tamu. Sofa berbahan beludru dengan warna cokelat muda. Hanya selang beberapa menit Ethan datang dari kamar lainnya.
Wait, apa yang dia lakukan?
Dia datang dengan kemeja yang tidak terkancing satupun. Aku melirik samar-samar otot menonjol yang terekspos dari celah diantara kemeja itu. Jantungku kembali berdebar kencang. Hatiku terus bertanya-tanya apa maksudnya. Dia datang dengan sebotol port wine dan dua gelas kaca bening.
Port wine lagi?
Helaku panjang.
" Ada yang salah dengan Port Wine itu? Bukankah itu merk kesukaanmu?."
Ethan sepertinya memperhatikan ekspresi wajahku.
Terkadang aku mengutuk diriku yang terlalu sangat ekspresif hingga orang lain dapat dengan mudah mengetahui apa isi dari otakku ini. Dia membuka tutup botol dan menuangkannya pada dua gelas tadi kemudian duduk di kursi yang berada diseberangku. Sejujurnya, aku cukup terharu dia masih mengingat minuman kesukaanku.
" Minuman ini hampir membuat Kelly membunuhku."
Ucapku jujur sembari meneguk.
Ethan tertawa. Deretan gigi putih yang rapi itu menambah poin ekstra pada ketampanan wajahnya. Dia mirip seseorang. Hanya saja, ah sudahlah mungkin hanya sebuah kebetulan.
" Kukira ini sudah waktunya, Ethan.”
“ Kelly dan Ted akan menunggu."
Ungkapku.
Tidak seharusnya dia bersantai-santai diwaktu yang sesingkat ini.Dia mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju arah yang berlawanan dengan kamar. Tentu saja dia tidak sedang akan mengganti pakaiannya. Dia pergi menuju dapur dan dalam sekejap mata membawa sekotak sereal fruit loop yang juga adalah salah satu kesukaan kami berdua. Dia melemparnya kearahku dan aku menangkapnya dengan sigap.
" Kau pasti tidak sempat sarapan tadi, makanlah."
Serunya.
Aku kembali terharu dan mengumbar sebuah senyuman. Ternyata dia masih sahabat terbaikku. Kami menyantapnya. Aku pergi ke dapur dan meraih dua potong pisang dan pisau kemudian kembali duduk dan memotongnya kecil-kecil didua mangkuk. Kemudian Ethan menuangkan cereal dan s**u yang terakhir. Entah apa yang terjadi dengan perpaduan wine dan s**u didalam perutku. Aku hanya ingin bernostalgia masa-masa kuliah kami.
Kami menyantapnya dengan beberapa pembicaraan yang akhirnya membawa kembali suasana 'lama'.
" Bekerja sebagai pengacara membuatmu lupa waktu.”
“ Aku sangat mengerti."
Dia meminta maaf padaku karena menyodorkanku wine di hari yang masih siang ini.
" Ini, sudah lama sekali.... ".
Ucapku.
" Ya, sudah lama sekali ".
Dia menjawab dan aku terpaku memandangnya.
Aku sudah semakin nyaman dan semakin yakin bahwa tidak ada apapun yang berubah dari persahabatan kami. Tidak dengan ekspresi menenangkan itu. Kami melanjutkan makan pagi kami hingga sereal dalam kotak itu habis. Kami seperti dua ekor anjing yang kelaparan hingga tidak ada yang tersisa satupun didalam mangkuk kami masing-masing.
" Ini sungguh sangat menyenangkan. Membawa kembali kenangan lama sesekali itu sangat menyenangkan."
Ujarku mengusap-usap perutku sembari bersandar pada bahu sofa. Ethan hampir tahu semua kebiasaan burukku.. Jadi aku tidak akan sungkan lagi. Semua sama seperti beberapa tahun yang lalu. Setelah membereskan semua dimeja, kami duduk bersama.
" Aku rasa kita harus bergegas, Ted dan Kelly pasti sudah bertanya-tanya dimana kita."
Ethan melirik jam tangannya.
" Oh ya tentu saja. Tunggu sebentar."
Dia beranjak dan bergegas menuju kamar tidurnya.
" Ok ."
Jawabku singkat.
Dia bergegas kembali kedalam kamar itu dengan aku yang menunggu duduk di sofa ini. Sebenarnya cukup malas untuk beranjak pergi. Sofa itu sudah membuatku sangat nyaman tetapi aku sedikit merindukan suasana kuliah dan datang ke pesta itu adalah salah satu cara untuk melepas kerinduan itu. Disana akan ada teman-teman kami yang lain.
Ponselku bergetar dan berbunyi. Kuraih dengan tanganku dan membuka pesan itu. Benar saja itu Kelly yang isinya membuatku kembali menghela nafas panjang. Kuputar kedua bola mataku. Gadis ini hanya punya wajah yang cantik tetapi tidak dengan cara bicaranya. Untung saja aku teman baiknya. Aku membalas pesan singkat itu dan mengatakan akan tiba lima belas menit lagi. Aku sengaja tidak mengatakan padanya bahwa aku akan datang dengan Ethan. Dunia akan sangat gempar jika itu terjadi.
Sepuluh menit berlalu. Ethan belum juga datang. Apakah aku harus lancang mengetuk pintunya dan masuk ke kamarnya karena itu sangat mengerikan. Seperti masuk ke dalam kandang harimau tanpa tahu isinya harimau atau kucing. Ethan tak bersuara dan bergerak. Aku tak dengar suara berisik didalam sana. Apa dia baik-baik saja?
Kebisuan itu membuatku sedikit agak khawatir hingga aku memutuskan untuk menghampirinya.
Kuketuk pintu kamar itu. Dalam sekali tidak ada respon dan membuatku semakin khawatir hingga kuputuskan untuk mengetuk kembali. Berdiri didepan pintu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi itu hampir membunuhku. Keketuk berkali- kali dengan keras dan semakin keras. Dalam pikiranku, mungkin pintu itu harus di dobrak. Baiklah, aku memundurkan langkahku untuk mendapatkan ruang berlari.
Ketika kurobek gaun panjang yang sedikit sempit ini, kurobek dibagian lutut kebawah, pintu itu terbuka dengan Ethan yang keluar tanpa busana bagian atasnya. Aku hanya mampu membalas dengan senyuman dingin membeku memalukan. Sial aku pasti tampak konyol saat ini.hanya saja sikapnya tadi benar-benar sangat menyebalkan. Apa dia tidak sadar bagaimana aku mengkhawatirkannya. Apa dia tahu aku sampai harus merobek gaunku yang fix tidak akan bisa kugunakan lagi setelah ini.
Apa dia tahu sikapnya itu membuat jantungku luar bisa berdebar kencang?
" Kau tahu, kau benar-benar membuatku ketakutan!"
Ungkapku marah walaupun sebenarnya aku tidak benar-benar marah. Bagaimana aku bisa marah sementara tonjolan-tonjolan otot di d**a dan perutnya itu membuat konsentrasiku cukup terusik. Sesekali kulirik lalu memalingkan lagi pandangan ini. Sungguh dosa kecil yang indah. Ethan tertawa melihatku. Aku tahu aku pasti tampak sangat konyol saat ini. Dia menghampiriku dan berlutut dihadapanku. Sejujurnya, aku benar-benar sangat malu. Malu jika aku ketahuan sempat memandangi tubuhnya yang terpahat rapi itu.
" Ethan! Kupikir kau sudah mati tadi."
Ucapku setengah marah.
" Apa semudah itu aku akan mati? Itu hanya asam lambung dan belum tentu akan membunuhku, kecuali aku benar-benar tidak makan."
Balasnya terkekeh.
Tentu saja aku ingat bagaimana mendapatinya terbaring lemas saat kuliah dulu. Dengan keadaan panik kupapah dia menuju klinik yang berada tidak jauh dari dorm. Saat itu, kupikir dia benar-benar akan mati.
" Tapi Ethan....."
Helaku.
Dia bersimpuh di hadapanku dan merobek sisa kain tadi. Gaunku kini menjadi gaun tiga perempat yang membuatnya menjadi gaun yang berbeda. Aku meraba sisi bagian yang dirobek tadi, robekannya simetris dan benar-benar sangat rapi.
" Sudah."
Dia menyodorkan sisa kain itu dan aku meraihnya.
" Aku tidak tahu kau sangat berbakat dalam hal merobek."
Tuturku.
Diapun tertawa.
" Aku punya keahlian dalam hal merobek apapun."
Ucapnya dengan wajah menggoda.
Aku menatapnya serius.
Apa itu sarkasme?
Dia kembali ke kamarnya untuk mengenakan pakaiannya. Seperti kebanyakan pesta formal, laki-laki menggunakan pakaian lengkap seperti kemeja, jas dan dasi. Dia menghampiriku dengan dasi yang setengah terpasang. Baiklah aku mengerti dia mungkin memang mahasiswa terpintar dikampus tetapi hal terbodohnya adalah dalam menggunakan dasi.
Kugelengkan kepalaku.
" Kau seharusnya belajar, Ethan."
Ucapku berdecak.
" Biasanya pacarku yang melakukannya."
Tanganku seperti membeku.
Apa baru saja dia bilang pacar?
Tenggorokanku tercekat dan detak jantungku seperti berhenti.
Apa ini semacam permainan?
Karena aku seperti sedang dipermainkan.
Akupun memberinya sebuah tawa renyah yang sangat kuyakini itu akan terdengar konyol. Tetapi hanya itu yang bisa kulakukan untuk memecahkan suasana kaku yang tiba-tiba terjadi. Kenapa aku harus marah?
Aku tidak berhak untuk marah padanya karena dia bukan milikku. Kami hanya teman terbaik semasa kuliah dan tidak lebih dari itu.
“ Bercanda!”
Ucapnya kembali.
Sial dia mengerjaiku.
" Sudah!"
Ucapku sedikit berteriak. Dia sudah mengguncangku dengan sikapnya tadi dan masih sempat untuk menggodaku. itu membuatku kesal.
" Ok, ini waktunya."
Balasnya tersenyum.
Dia terlihat sangat tampan seperti biasanya dan kamipun pergi ke after party sahabat kami.