Acara Kelly berjalan sangat lancar dan seperti biasa sangat menyenangkan bertemu kembali dengan teman kuliah. Kami mengulang cerita-cerita lama dimasa lalu kami membuatnya menjadi sebuah lelucon. Ethan sibuk dengan ponselnya walaupun itu memang bukan urusanku, aku merasa sedikit kehilangan karena tak banyak pembicaraan terjadi. Ya aku tahu dia pria yang berbeda sekarang hanya saja kenangan diantara kami membuatku sedikit merindukannya.
Hari ini Tuan Yamaguchi sedang tidak berada di kantor. Aku bisa sedikit bersantai dalam mengerjakan pekerjaanku. Ditemani segelas teh wild cherry hangat dengan sepotong dark chocolate kesukaanku, aku duduk di depan komputer untuk melihat email yang masuk.
Aku merasa cukup penasaran tentang kencan buta hingga kuputuskan untuk membuka emailku. Baiklah, ada beberapa email baru dan tiga diantaranya adalah alamat asing. Aku sedikit bersemangat dan segera memperhatikan detailnya. Beberapa diantaranya tidak sesuai dengan yang aku inginkan, jadi aku menyeleksi kembali. Aku membuka alamat f*******: yang tertera pada biodata mereka menciutkan pilihanku menjadi 5 orang. 3 orang diantaranya adalah eksekutif muda yang bekerja pada perusahaan terkenal di Los Angeles sedangkan salah satu diantaranya bekerja sebagai pemusik yang sukses dengan albumnya.
Ada satu orang misterius karena profilnya tidak terlalu lengkap dan hanya memajang foto pemandangan siluet dirinya di sebuah ruangan dengan kaca yang lebar. Semua tentangnya serba misterius yang membuatku justru sangat tertarik untuk bertemu dengannya. Jadi aku memutuskan untuk memasukkan dia ke daftar list.
Tidak ada salahnya mencoba. Jika tidak berakhir sebagai kekasih, kami mungkin akan menjadi relasi. Dunia jaman sekarang sangat membutuhkannya, percayalah.
Aku menghubungi mereka satu persatu melalui spam email dan yang pertama kali membalas adalah orang yang pertama kali akan pergi berkencan denganku.
It's sound fair.
Setelah selesai mengirimi spam ke semua pria aku menutup email dengan menekan tombol log out dan kembali mengerjakan pekerjaan kantor ditemani cemilan yang belum kuhabiskan tadi. Beberapa jam kemudian seseorang mendatangi mejaku. Seperti layaknya seorang sekretaris, aku memberinya sebuah senyuman hangat. Dia menggunakan kostum berwarna hijau dengan topi berwarna senada dan memegang sebuah buket bunga mawar merah yang cantik di tangan kirinya.
Ah pasti untuk Tuan Yamaguchi.
Pikirku cepat.
Ini bukan pertama kalinya. Bosku memiliki banyak penggemar. Entah apa yang menarik darinya selain wajahnya yang unik itu.
" Permisi, apa mau Nona Garcia?"
Tanyanya.
" betul itu aku."
Menjawab dengan tegas.
" Ini, kiriman bunga untukmu."
Pria itu menyodorkan buket cantik itu kepadaku dan aku hanya memberinya sebuah tatapan penuh kebingungan.
Bunga?
Mawar merah?
What is that mean?
Dia menyodorkanku nota tanda terima dan seolah terhipnotis, aku menandatanganinya.
" Kau tahu siapa yang mengirimnya?"
Tanyaku penuh penasaran.
" Aku hanya kurir, Nona."
Ucapnya sinis. Mungkin harinya sedang buruk.
Dia pergi begitu saja dan meninggalkanku dengan ratusan pertanyaan dikepala. Aku membolak-balikan buket bunga itu berharap menemukan identitas pengirimnya tetapi tidak menemukan apapun. Aku memutuskan untuk kembali mengerjakan tugas yang dibebankan padaku walaupun sebenarnya pengirim misterius itu masih saja membuatku penasaran.
*
Ini sudah tiga hari dan bunga terus berdatangan ke meja kerjaku. Awalnya, ini tidak terlalu menganggu tetapi buket terakhir menghabiskan tempat diseluruh meja kerjaku. Sebenarnya aku berniat membuangnya, hanya saja buket itu terlalu indah untuk disia-siakan begitu saja. Aku mendesak kurir itu untuk memberitahuku dan dia justru memberiku sebuah nomor ponsel. Baiklah mungkin itu nomor ponsel kantor tempatnya bekerja. Aku merasa agak senang.
Setelah aku menyimpan nomor ponsel itu, aku segera menghubunginya tetapi setelah beberapa kali sambungan tidak ada yang mengangkatnya. Mungkin kantor sedang sibuk jadi aku memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat saja. Hanya dalam hitungan menit pesanku dibalas. Entah apa yang salah dengan menghubunginya lewat sambungan langsung.
Hai, pengirimnya tinggal di Central Park Apartement dengan nomor kamar 666.
Aku merasa ada yang salah dengan jawaban itu tetapi aku memutuskan untuk mencari kebenarannya. Hal yang aku tanyakan hanya 'siapa' bukan dimana dia tinggal tetapi jika itu alamat, baiklah aku akan mencari kebenarannya.
Jam makan siang sudah hampir berakhir jadi aku memutuskan untuk menemuinya setelah jam pulang kerja. Jadi aku menyelesaikan sisa pekerjaanku dengan cepat dan meminta ijin untuk pulang lebih awal hari ini.
*
Pikiranku masih sangat penasaran akan pengirim misterius itu. Hampir menyita seluruh pikiranku belakangan ini. Itu perlakuan yang sungguh sangat romantis. Aku bahkan bertanya pada Kelly apa maksud dari buket bunga mawar merah itu. Jawaban darinya justru membuatku semakin menggila.
Seseorang sepertinya sedang jatuh cinta padamu! Mungkin dia pengagum rahasiamu.
Kelly tidak memberiku sebuah pencerahan berarti. It's suck!
Agenda Yamaguchi sudah tersusun rapi. Aku memandangnya dengan rasa puas. Dia seharusnya menaikkan gajiku untuk segala dedikasi yang sudah kuberikan. Jika tentang pekerjaan, akan kulakukan semua sepenuh hati. Setelah merapikan mejaku, aku meraih tas dan segera pergi dari kantor karena taksi yang kupesan sudah tiba di lobi. Dengan berjalan cepat aku pergi kearah lobi dan masuk ke dalam taksi. Alamat tadi sebetulnya tidak berada jauh dari kantor jadi aku memilih menggunakan kendaraan umum untuk tiba lebih cepat.
Aku sedang tidak dalam mood untuk berjalan kaki.
Aku memutuskan beristirahat sejenak di taksi. Minuman semalam membuatku pengar dan lemas hampir seharian ini. Ketika akan menutup mata, suara supir taksi itu membangunku.
Ya Tuhan, mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk bisa beristirahat dengan baik hari ini.
" Nona, tujuanmu sudah tiba."
Ujarnya.
Pria tua itu memberitahu nominal yang harus aku bayarkan. Aku meraih dompet dan memberinya selembar uang seratus dolar.
" Kembaliannya untukmu."
Ungkapku.
" Terima kasih."
Dan aku turun dari taksi itu.
Aku menatap gedung tinggi dihadapanku. Tak pernah aku sangka ternyata itu adalah salah satu gedung termewah di Los Angeles ini. Tidak terlalu tinggi tetapi hanya dengan melihatnya dari luar, aku bisa membayangkan betapa mewah interiordidalamnya. Aku merapikan pakaianku dengan berkaca di pintu masuk kaca yang memantulkan bayanganku. Apartemen itu bukan apartemen sibuk karena sejak tadi hanya aku yang berdiri didepan lobi ini.
Ini membuat bulu kudukku bergidik.
Apa dia seorang gipsy?
Apa dia assassinS?
Pikiranku berubah negatif dan berhasil menghentikan langkahku beberapa saat. Kuhela sebuah nafas panjang. Rasa penasaranku jauh lebih besar dari rasa takut ini. Aku harus mendapat kejelasan siapa dia. Apakah dia pria atau wanita, tua atau muda setidaknya itu yang sangat ingin kuketahui. Kulangkahkan kakiku dengan mantap. Tidak ada keraguan lagi. Suara heelsku menggema diruangan sepi dengan satu orang resepsionis dan satu orang penjaga. Kuberi mereka sebuah senyuman yang dibalas dengan sebuah senyuman juga.
Wanita resepsionis itu menyambutku dengan hangat.
" Ada yang bisa kubantu, Nona?"
Sapanya ramah.
" Ah tentu saja, begini seseorang memberikanku sebuah alamat tetapi aku tak tahu siapa dirinya."
Dia masih tersenyum kepadaku.
" Dia berkata kamarnya di kamar 666."
Ucapku sedikit ragu.
" Oh kau pasti Nona Garcia bukan?"
Tanyanya kembali.
Ucapannya membuatku terdiam mematung sejenak. Apa semua sudah dipersiapkan? Karena seolah semua seperti itu.
Aku menjawabnya dengan satu anggukan kecil dan ekspresi wajah yang aneh. Ini semua mengejutkan sekali. Bagaimana resepsionis itu bisa menebak dengan benar nama belakangku.
Apa dia seseorang yang aku kenal?
Pikiranku berkecamuk. Seribu tanya hadir dikepalaku.
Resepsionis itu mengantarku menuju sebuah lift yang terletak paling ujung. Lift itu sedikit agak horor karena letaknya di pojok mati tanpa pencahayaan dan sempat membuatku ragu-ragu untuk masuk kedalamnya. Rasanya seperti akan memasuki sebuah wahana supranatural. Bulu kudukku bergidik.Aku sempat melangkah mundur tetapi keberanian akhirnya timbul karena rasa penasaran yang tinggi. Baiklah seberapapun mengerikannya akan kuhadapi saja setidaknya untuk mengucapkan terima kasih atas buket-buket indah itu.
Setiap bunyi yang ditimbulkan lift itu membuat jantungku berdetak cepat. Detaknya kini sudah tidak beraturan. Aku seperti ingin muntah rasanya. Ketika bunyi ting terdengar dan pintu lift terbuka, nafasku serasa berhenti.
Kuedarkan pandangan keseluruhnya.
Tidak seperti umumnya lift, sepertinya lift ini adalah lift pribadi menuju apartemen seseorang. Kulangkahkan kakiku dengan ragu karena kali ini aku pasti sudah masuk ke properti pribadi seseorang. Aku melangkahkan kaki dengan sangat pelan memastikan suara high heelsku tidak terdengar sedikitpun tetapi mustahil. Suaranya tetap saja terdengar.
Berat badanku pasti bertambah hingga tumitku menekan heels itu lebih kuat.
Decakku kesal.
Sekilas tempat ini sangat mengesankan. Sewa apartemen di Los Angeles itu hampir semahal Newyork untuk sewanya. Apartemen biasa seperti milikku saja membutuhkan biaya tiga ribu dolar untuk kamar studio dan tempat ini, lokasi terbaik yang semua orang impikan. Luasnya, pemandangan dengan view Santa Monica yang indah, jendela mati di satu sisi dinding dengan design monochrome yang edgy. Siapapun dia, dia pasti memiliki uang yang banyak untuk membayarnya.
Kulangkahkan kaki menuruni anak tangga yang sepertinya mengarah menuju ruang tamu yang berhadapan langsung dengan jendela mati tersebut. Bayangkan saja ini seperti berjalan menuju kursi depan dari sebuah mini theater. Ketika kualihkan pandanganku ke arah kananku, sebuah bayangan pria bertubuh tegap dengan wajah tidak jelas dan setelan jas yang rapi. Entahlah bayangan itu seperti seseorang yang kukenal.
" Siapa?"
Tanyaku berani.
Dia menarik satu langkah kakinya dan wajahnya kini terlihat jelas.
Seringainya, kedua mata biru yang dalam, rambutnya yang tersisir rapi dan senyuman dingin yang menusuk itu membuatku benar-benar kehilangan kata-kata.
" Ka-kau......"
Ucapanku tersendat.
Aku masih tak percaya.
Bagaimana bisa?
Setelah sepuluh tahun lamanya. Mataku menajam memandangnya. Didalam hati aku masih sangat berharap bahwa itu bukanlah dia, pria di hari menyedihkan itu. Tetapi seperti apapun aku mengejap-ngejapkan kedua mataku, dia tetap saja pria yang sama.
Satu hal yang akan aku lakukan adalah, berlari.
Seperti sebelum-sebelumnya.
Kulangkahan kaki perlahan mundur kebelakang pelan tapi pasti agar dia tidak menyadarinya dengan niatku untuk kabur. Aku memberinya senyuman kaku, sangat kaku. Bisa kurasakan betapa panasnya wajahku kini. Langkah kakiku terhenti. Dia menyadarinya dan menjadi lebih sigap. Dia melangkahkan kakinya lebih cepat dan menarik pinggangku untuk terjatuh dalam pelukannya.
Itu membuatku benar-benar terkejut.
Kini aku dalam pelukannya. Aroma parfum pria yang menyengat, aku menyukai sedikit aroma musk yang kurasakan dalam hidungku. Mata kami mengunci satu sama lain. Dia pria yang sangat menawan, sejujurnya. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar tetapi tidak ada yang berubah darinya.
Tetapi mengingat apa yang pernah kujanjikan padanya, itu membuatku gugup.
Semoga dia tidak mengingatnya, kumohon Tuhan.
Memelas dalam hati.
Aku berusaha untuk lepas dari cengkeraman itu tetapi tangannya mengunci kuat pinggangku membuatku kesusahan untuk melepaskan diri. Keringat dingin mulai membasahi punggungku dan aku benar-benar gugup saat ini.
" Kumohon lepaskan ak-"
Ucapku memelas sambil meronta tetapi dia tidak bereaksi dengan kata-kata memelas itu. Kuintip matanya dari balik bulu mataku dan dia masih menatapku sejak tadi.
Apa matanya tidak lelah menatapku?
" Aku merindukanmu, Laura."
Ucapnya setengah berbisik ditelingaku. Ucapan itu membuatku terhenyak. Aku mengepalkan tanganku yang dingin saat ini.
" Bag-bagaimana kau menemukanku?"
Tanyaku.
Dia terkekeh kecil.
" Bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan."
Balasnya.
Dia memelukku mengalungkan tanganku di perutnya. Bisa kurasakan perut itu pasti dipenuhi otot-otot. Aku menelan ludahku. Bagaimana jika dia menagihnya dan aku harus kehilangannya sore ini juga? Pikiran itu membuatku ingin mati saja.
Dia mengusap-usap punggungku dan desiran elektrik menghantarkan sensasi aneh yang tidak biasa keseluruh tubuhku. Aku semakin kebingungan.Sensasi ini membuatku merasa, menginginkannya.Dia meletakkan tangannya di atas pantatku menimbulkan dua perasaan yang berkecamuk dihatiku secara bersamaan. Disatu sisi, ini sebuah pelecehan. Disisi lain, ini sedikit menyenangkan. Dia meremasnya kuat dan itu membuat getaran itu semakin keras. Dia menarik wajahku dan menciumku paksa. Entahlah itu terasa salah tetapi nikmat.
Elijah, pria pertama yang menciumku.
Benar-benar kuno untuk seorang wanita Amerika yang berusia 28 tahun bukan?
Dia menyesap bibirku, melumatnya dan memainkan lidahnya memasuki bagian dalam bibirku. Ini semakin gila karena keinginan untuk kabur itu memudar digantikan oleh keinginan untuk tenggelam bersamanya.
Laura, kau harus waras!
Aku menarik bibirku dan melepaskan cengkeramannya ketika kutahu itu sudah melemah. Aku mengusap bibirku dan membenarkan posisi rok yang sedang kugunakan.
Dia terlihat kesal mengusap bibirnya. Dia bahkan sangat tampan ketika kesal! Arghh aku sangat ingin menggigitnya.
" I'd to go."
Ucapku.
Dia tidak banyak berkata-kata tetapi pergi menuju meja yang letaknya berada tidak jauh dari tempat kami berdiri membawa sebuah map berwarna cokelat membuat mataku mendelik keras. Aku tahu betul apa isinya tanpa dia harus membukanya.
" Ini kontrak sepuluh tahun yang lalu."
Aku menatap tak percaya.
" Pengacaraku sebagai saksinya."
Lanjutnya dengan yakin.
" Kau sudah memahaminya, bukan?"
" Apa yang terjadi jika kau melanggarnya?"
Tanyanya dengan wajah penuh kemenangan.
" Aku harus membayar kembali biaya yang pernah kau berikan padaku, benar bukan?"
Jawabku sinis.
Kuhela nafas panjang.
" Kau sudah menjaganya dengan baik, bukan?"
Tanyanya kembali.
Aku tertawa kecil.
" Sepuluh tahun dan kau berharap itu masih utuh?"
" Are you lost your mind?"
Menimpali dengan kebohongan.
Aku berbohong.
Dia mendekatiku kembali dan menarikku kesal. Wajahnya benar-benar sangat marah saat ini dan sejujurnya, semudah itukah menipunya?
Dia membawaku menuju lift tadi. Aku benar-benar merasa sangat superior karena tiba-tiba saja ide itu muncul. Hanya saja dia terus menarik tanganku dan berjalan cepat melewati lobi menuju parkiran tempat taksi menurunkan aku tadi dan sebuah lambhorgini abu-abu terparkir dihadapan kami. Dia membuka pintu menyeretku untuk memasuki mobil itu lalu mengemudikan mobil itu dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia pasti benar-benar marah dan aku menahan tawa puasku akan hal itu.
" Kemana kau akan membawaku?"
Tanyaku santai.
" Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk pemeriksaan."
Mataku mendelik tajam.
Mengapa pria ini selalu satu langkah di didepanku?
Hardikku didalam hati. Aku meremehkannya.
Aku melempar tubuhku ke kursi penumpang yang empuk itu. Apa yang harus kulakukan?
Semua terjadi begitu cepat dan aku memutuskan untuk pasrah. Seharusnya aku serahkan saat itu juga. Apakah satu kali melakukannya sudah membuatmu benar-benar tidak perawan?
Hanya satu kali saja bukan?
Gumamku pasrah.
" Hasilnya membuktikan bahwa Nona Garcia masih perawan, Tuan Eastwood."
Ucap dokter tersebut.
Aku ketahuan.
Dia menatapku tajam dan kami berpamitan pada dokter yang memandang kami aneh.
" kenapa kau berbohong padaku?"
Ucapnya kesal.
Kami sudah dalam perjalanan entah kemana.
" Karena aku tidak ingin melakukannya."
Dia menghela nafas panjang dan ketika kulirik, dia seperti sedang berpikir keras. Aku hanya diam memandang hamparan toko-toko yang kami lewati.
" Baiklah, aku tidak akan memaksamu."
Terdengar seperti sebuah solusi yang bagus.
" Benarkah?"
Ucapku girang.
Kami berhenti dilampu merah.
Mata kami mengunci satu sama lain.
" Aku tidak akan memaksamu sekarang."
Aku masih mendengarkan.
"........ aku akan menunggumu sampai kau siap."