Pria ini memang sudah diambang batas kewarasannya!
Hidupku benar-benar berubah drastis setelah pertemuan kami itu. Bagaimana tidak, ketika aku pulang dari kantor dan mendapati kamar studio kecil kesayanganku itu kosong benar-benar membuat jantungku hampir berhenti berdetak. Hal pertama yang kupikirkan adalah siapa pencuri yang sudah berani masuk ke dalam rumahku.
Hei ini Amerika! Apakah sekarang sudah tidak aman seperti ini?
Teriakku dalam hati.
Ini membuatku mendapatkan serangan panik.
Aku menenangkan diriku. Duduk bersimpuh diatas kedua kakiku menatap ke seluruh penjuru ruangan kecil itu. Aku berusaha keras untuk menggunakan logikaku ditengah emosi yang menguras perasaanku. Seingatku kemarin hidupku masih normal-normal saja. Tetapi kenapa hari ini kesialanku seolah-olah datang bertubi-tubi. Kuraih ponsel didalam tasku. Kucoba menghubungi pengelola gedung untuk mengadu tentang apa yang sudah terjadi. Aku membayar sewanya cukup mahal dan selalu teratur tetapi tidak ada jaminan keamanan yang kudapatkan?
Ini sudah benar-benar gila.
Terdengar suara sambungan. Dia mengangkatnya cukup lama membuatku sempat berperasangka buruk kepadanya. Apa dia sengaja tidak mengangkat ponselnya karena yang menghubunginya itu aku? Membawaku pada kesimpulan bahwa dia mengetahui sesuatu tentang ini.
Tak berapa dia mengangkat ponselnya. Pembicaraan kamipun dimulai.
" Selamat malam Tuan Franco."
Membuka pembicaraan dengan sopan.
" Selamat malam Nona Garcia, ada yang bisa kubantu?"
Menggigit kuku jari tanganku.
" Apa kau tahu apa yang terjadi dengan kamar yang kusewa?"
Tanyaku penasaran.
" Oh aku hampir saja lupa"
" Ya ada beberapa pria besar yang membawa keluar barang-barangmu dari kamar itu."
" Atas perintah pemilik baru gedung ini."
Pemilik baru? Apa hubungannya pemilik baru itu denganku?
" But how?"
" Aku sudah membayar semua sewa dengan teratur Tuan Franco!"
Hardikku dengan nada tinggi.
" Maaf, Nona tetapi pemilik baru memberiku perintah dan dia sudah menyiapkan tempat lain sebagai gantinya."
Aku terdiam sejenak.
Tempat baru?
Menghela nafas panjang.
Kuputuskan memutus sambungan telepon itu. Tuan Franco tidak bisa berbuat apapun dan dia hanya pengelola. Apa yang bisa kulakukan. Lima belas menit berlalu dan seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku berjalan dengan langkah gontai. Lututnya terasa lemas dan berat untuk melangkah. Hari sudah semakin malam dan seharusnya aku pergi istirahat tetapi apa yang terjadi?
Kubuka pintu kamarku dan.....
Elijah?
Apa yang dia lakukan disini?
Jantungku kembali berdebar kencang. Kututup pintu kamar dengan kasar tetapi kakinya sudah lebih dulu mengganjal pintu kamarku.
" Ah......!"
Teriaknya.
Well, itu pasti cukup menyakitkan.
Kubuka kembali pintu kamarku.
" Apa yang kau lakukan disini?"
Tanyaku kesal.
Kulipat kedua tangan didepan dadaku dan memutar kedua bola mataku. Kupastikan untuk tidak melakukan eye contact dengannya.
" Hmmm aku pemilik bangunan ini, jadi apa itu sebuah pertanyaan basa-basi?"
Tanyanya padaku.
Like what?
Apa aku tidak salah dengar?
" Oh, jadi semua ini?"
Tanyaku tak percaya.
Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Ini seperti sebuah misi balas dendam.
" Bisa kau jelaskan padaku?"
Kembali bertanya.
Dia hanya memberiku sebuah senyuman tipis. Aku terkesima sejenak mematung memandang wajahnya yang tampak sangat bersinar dengan kemilau disekelilingnya. Senyuman menyerupai seringaian itu membuat jantungku berdebar semakin cepat disetiap detiknya. Tak bisa kupungkiri pesonanya begitu memikat.
Tapi tidak, sadarlah!
" Apa semua kurang jelas untukmu?"
Dia menjawab dengan pertanyaan lain. Langkah kakinya menggema diruangan kosong itu mendekatiku membuat tenggorokan tercekat hingga kakiku melangkah mundur perlahan mengikuti langkah kakinya.
Bisa kurasakan tanganku berkeringat begitupun punggung belakangku. Tubuhnya yang tinggi itu membuatku mendongak memandangnya. Dia punya bahu lebar seperti layaknya seorang pemain rugby.
" Mulai hari ini dan sampai kontrak itu berakhir aku akan mengawasi setiap gerak-gerikmu
Ucapnya sembari menyematkan rambutku yang terurai kedaun telingaku.
Wajahnya begitu sangat dekat. Bibirnya hanya berjarak beberapa centimeter yang seolah-olah bersiap untuk melayangkan sebuah ciuman kepadaku. Katakanlah aku terlalu percaya diri tetapi pada kenyataannya memang seperti itu.
Pria ini semakin membuatku berdebar.
Aku tak sanggup menatap kedua mata yang memandangku sejak tadi. Kuarahkan pandanganku ke sisi kanan atas langit-langit kamar. Kukepalkan kedua tanganku dan sensasi mulas ini terasa seperti sakit perut karena keracunan makanan.
" Mulai malam ini kau akan tinggal bersamaku."
Dia menarik tubuhnya dan menjauh.
Akhirnya aku bisa bernafas.
" Tapi? Apa kau sudah gila? "
Hardikku.
Dia memainkan kukunya.
" Kau tidak punya pilihan lain."
" Kau tahu apa yang bisa kulakukan, bukan?"
Dia terlihat sangat yakin.
Wajahnya menegang. Dia sama mengerikannya dengan psikopat.
" Pergilah kemanapun untuk mencari tempat tinggal."
" Aku akan dengan mudah menghalanginya."
Sautnya dengan nada datar.
Aku hanya mampu terdiam memandangnya dengan bibir ternganga dan kedua bola mata yang hampir saja keluar dari kelopaknya.
Dia sangat menguasaiku seolah-olah aku adalah miliknya.
" Lakukan apapun yang kau ingin lakukan karena...."
Dia menarik pergelangan tanganku dengan erat hingga membuatku tak mampu melanjutkan kata-kata. Elijah membawaku berjalan keluar dari kamar menyeretku memaksa mengikuti semua langkah kakinya.
" Hei, kau tidak bisa melakukan ini padaku!"
Teriakku marah.
Aku berusaha keras melepaskan cengkeraman kuat itu tetapi tak membuahkan hasil. Dia semakin kuat menggenggam pergelangan tanganku. Aku berusaha tetap meronta-ronta tetapi seperti usahaku sia-sia. Menuruni anak tangga di apartemen sederhana itu menuju mobil merah lain yang terparkir di sisi jalan.
Aku kembali tak percaya. Di keadaan genting ini kenapa masih saja bodoh memikirkan betapa kayanya dia.
Mobil mahal lain? Ya Tuhan dia benar-benar seorang milyuner muda kaya raya.
Dia membuka pintu penumpang mobil sedan itu dan menuntunku untuk masuk ke dalamnya. Aku duduk terdiam seperti keledai dengan mata yang menatap gerakannya menuju ke bagian kursi pengemudi. Mobil ini memang sangat mahal hanya saja entah mengapa tidak terlalu nyaman di gunakan. Sejujurnya, bis masih sedikit lebih nyaman walaupun tidak ada prestigenya tentu saja.
Dia menghidupkan mobil itu dengan voice control yang membawa kami menelusuri Los Angeles di malam hari. Aku hanya terdiam sepanjang jalan tidak mengucapkan apapun. Hal nekat sempat terlintas dipikiranku untuk terjun saja dari mobil saat ini juga. Tetapi entah mengapa nyaliku tidak sebesar itu. Aku berusaha mengingat hal-hal yang belum pernah kulakukan dan kuwujudkan.
Jika aku mati bagaimana semua hal itu akan terwujud?
Kulirik sedikit dirinya.
Diluar dari sikapnya itu paras tampannya itu membuaiku sejenak. Duduk disebelahnya mungkin impian banyak gadis diluar sana. Namun entahlah kenapa aku sangat membencinya. Mobil berhenti di persimpangan lampu yang menunjukkan warna merah. Dia menatapku ketika aku yang terlebih dahulu menatapnya.
Astaga benar-benar memalukan!
Aku memalingkan wajah cepat dan menatap lurus kedepan.
"Apa kau sudah makan?"
Dia membuka pembicaraan.
Aku memilih diam dan melipat kedua tanganku di depan d**a.
Dia tidak bersuara lagi dan mengemudikan mobil dengan mesin yang meraung-raung itu pada kecepatan tinggi membuat jantungku berolahraga bersama getaran hebat mesin mobil itu.
Tanpa sadar, aku meremas tangannya yang berada di sisi sebelah kanannya. Kulirik kembali dirinya yang terkekeh kecil. Dia memang berniat mengerjaiku. Hanya saja, bagaimana sikapnya masih sangat santai ketika mobil itu berada dalam kecepatan yang sangat tinggi?
Baiklah, ini bukan jalanan menuju dalam kota. Entah kemana dia membawaku tetapi ini menuju luar kota Los Angeles. Aku sangat yakin
" Okay, bisa kau jelaskan kemana kau akan membawaku?"
" Karena sekarang ini sedikit creepy untukku."
Dia tersenyum.
Ya Tuhan senyumnya begitu, menggoda!
" Menuju restoran langgananku."
" Kau belum makan bukan?"
Kata-katanya itu menyadarkanku betapa laparnya aku sebenarnya. Konyol memang aku masih bisa memikirkan perutku ketika aku kehilangan tempat tinggal dan dikuasai oleh pria asing yang kutemui sepuluh tahun silam lalu.
Ada sebuah rasa penasaran tiba-tiba muncul.
" Boleh aku bertanya padamu?"
Aku bertanya tanpa ragu.
" Kenapa kau begitu sangat terobsesi pada kontrak itu?"
Tidak menunggu jawabannya.
Dia mengusap hidungnya yang tidak bisa aku mengerti apa artinya. Apa itu tanda dari seseorang yang gugup? Atau jangan-jangan dia pecandu heroin?
Dia terdiam sejenak dan aku masih menatapnya. Pertanyaanku itu sangat basic. Aku hanya ingin tahu apa alasannya dari semua kekonyolan ini karena untukku ini semua sangat konyol.
Dia membalasku dengan sikap diamnya. Baiklah mungkin dia belum mengenal baik diriku. Aku bukan wanita yang semudah itu menyerah.
Kami tiba di sebuah restoran yang terletak di Malibu. Terletak di pinggir pantai Malibu berhadapan langsung dengan laut. Ornamen kayu yang menjadi unsur dasar tata ruang itu membuatnya tampak sangat modern. Tempat ini sangat romantis terutama pada malam hari seperti ini.
Para pelayan tersenyum padanya seolah wajahnya sangat familiar. Mereka menuntun kami menuju sebuah meja yang berbatasan langsung dengan laut. Lilin yang menghiasi meja dan beberapa sisi menambah kesan yang sangat romantis.
" Kau belum menjawab pertanyaanku."
Ucapku sembari membaca menu yang berada diatas meja itu.
" Apa pertanyaan itu sangat penting untuk kujawab?"
Dia melemparku kembali dengan pertanyaan.
" Ya aku perlu sebuah jawaban karena ini semua sangat aneh!"
" Kau kaya dan mencari wanita perawan selama sepuluh tahun itu sangat mudah."
Ujarku dengan tawa yang coba kutahan.
Dia memberiku sebuah senyuman tipis yang dingin.
" Kau benar-benar ingin jawaban,bukan?"
Ucapnya.
" Karena apa yang kau baca dalam novel tentang pria kaya itu hampir seluruhnya benar."
Dia menyenderkan tubuhnya pada kursi.
" Aku jatuh cinta padamu ."
Aku terdiam lemas menatapnya.
Jatuh cinta?
Apa dia sudah tidak waras?
Kami hanya bertemu beberapa kali, bagaimana bisa?
Dia tersenyum tipis dan menarik tubuhnya dengan posisi tegap.
" Dan aku sangat terobsesi padamu."
" Kau tahu bagaimana pria dengan uang terobsesi pada sesuatu?"
" Dia harus mendapatkan apa yang dia mau."
" Karena kau yang aku mau, jadi aku harus mendapatkanmu."
" Karena kau membuatku terobsesi padamu dan sepuluh tahun membuat kesabaranku menipis."