Ini sudah tiga hari sejak kejadian itu.
Aku berusaha untuk tidak mempedulikan Ethan yang terluka tetapi tetap saja membawanya pergi ke klinik terdekat. Dia membutuhkan satu jaritan dibibirnya. Sementara Elijah, aku meninggalkan dia begitu saja disana. Entah apa yang terjadi padanya aku tidak terlalu peduli. Perasaan kecewaku ini yang harus kupedulikan.
Sudah tiga malam juga aku tidak kembali ke apartement itu. Ethan seharusnya sudah kembali ke Newyork. Tidak ada dari mereka berdua yang menghubungiku. Kuputuskan untuk bermalam ditempat Gina beberapa malam terakhir. Gina adalah sahabatku yang lain. It's okay mendengarkan celotehannya setiap malam tentang bagaimana Troy melamarnya dibandingkan harus menatap wajah pria yang sudah mempermainkanku selama ini.
Hanya saja entah mengapa pikiranku masih saja tersita padanya.
Sial, apa yang sebenarnya terjadi denganku?
Kenapa susah sekali menyingkirkan apapun tentang dia dari pikiranku?
Tiga hari terakhir kondisi tubuhku memburuk. Flu membuatku meringkuk dibalik selimut. Gina merawatku dengan baik hanya saja akhirnya kuputuskan untuk pergi ke dokter. Yamaguchi terus menerus menghubungiku membuat istirahatku terganggu padahal semua yang dia butuhkan sudah aku persiapkan dengan baik. Tiga hari tanpa aktivitas memang sangat membosankan. Aku merindukan duduk di kursi kantor menyusun semua jadwal Bos menyebalkan itu. Aku merindukan pagi dimana bisa duduk bersantai di coffee shop menatap jalanan yang mulai padat pengunjung sembari barista menyiapkan kopi yang kupesan.
Dan entah apa yang salah.
Untukku ini terasa salah. Ada sebagian diriku merindukan percakapan tidak penting dengan Elijah. Ada waktu dimana aku berharap dia datang mendobrak pintu rumah Gina dan menjemputku untuk kembali ke apartement itu.
Kepalaku seperti terbentur batu yang besar. Kejadian kemarin tidak benar-benar membuat sudut pandangku berubah tentangnya.
Pertanyaan dikepalaku hanya satu.
Apa yang dimaksud Ethan dengan monster?
Mengapa dia menyebutnya monster?
Kata monster itu membuatku berimajinasi tentang sesuatu yang gelap, misterius, mengerikan namun membuat penasaran. Sebuah hal semacam itu.
Kosakata yang ambigu.
Aku membenci Ethan tetapi anehnya tidak pada Elijah. Pria itu justru membuatku penasaran entah mengapa. Kata monster justru membuatku semakin penasaran tentang sosok seorang Elijah.
Tok-tok-tok
Ini masih siang hari dan Gina sedang bekerja. Siapa yang sedang mencarinya di siang hari seperti ini membuatku penasaran. Kepalaku masih terasa pusing tetap kupaksakan diri untuk bangun. Kubuka pintu rumah dan itu adalah paket yang ditujukan untukku.
untukku?
Siapa pengirimnya?
Kutanda tangani surat terima yang disodorkan padaku oleh kurir. Kuterima barang itu dengan banyak tanda tanya. Masih dengan pakaian tidur yang kupinjam dari Gina. Duduk di sofa menatap paket berbentuk segi empat yang kuletakkan diatas meja.
Dengan ide monster yang masih berada dikepalaku membuatku ragu untuk membukanya. Ini rasanya seperti berada di scene dalam film horor dimana seseorang mengirimkan binatang atau organ berlumuran darah untuk memberi sebuah teror.
Sangat mengerikan bukan?
Hanya saja rasa penasaran ini rasanya jauh lebih membunuh dibandingkan rasa takut itu. Jadi kuputuskan untuk membuka kotak paket itu. Dengan gunting kubuka selotip yang menutupnya. Didalamnya ada satu botol multivitamin, dua pasang pakaian kasual dan satu pucuk surat.
Hal pertama yang kulakukan adalah membaca surat itu.
Apa itu monster sebenarnya?
Apa kau ingin mengetahuinya?
Datanglah ke alamat ini.
Sebuah surat anonim dengan dua kemungkinan suspect pengirimnya. Dia bisa saja Elijah ataupun Ethan. Surat itu menerangkan sebuah alamat yang letaknya berada di San Diego. Dua jam berkendara menuju selatan Los Angeles.
Awalnya isi surat itu tidak membuatku tertarik tetapi semakin lama kata monster itu menggangguku. Pusing dikepalaku perlahan hilang. Entah mengapa aku seperti mempunyai tenaga yang fit untuk memulai aktifitas setelah meminum multivitamin itu. Dengan tenaga yang berangsur pulih, kuputuskan mengganti pakaianku dengan pakaian yang diberikan tadi.
Pengirimnya membuatku takjub, sungguh. Dia mengetahui dengan baik ukuran celana dan atasanku. Semua benar-benar sangat pas dan terasa nyaman digunakan. Setelah merapikan rumah Gina, kuputuskan menghubungi Nancy untuk meminjam mobil. Dengan kendaraan umum akhirnya aku tiba di kantor Nancy.
" Apa ada masalah di San Diego?"
Tanya Nancy.
Dia menyodorkan kunci mobilnya.
" Tidak, hanya urusan kecil yang harus diselesaikan."
Ucap Nancy.
Aku pergi setelah berpamitan padanya. Nancy ada banyak pekerjaan untuk dikerjakan dan aku tidak ingin menganggunya terlalu lama.
Perjalanan menuju ke selatan cukup lenggang. Perjalanan yang kulakukan itu sendiri membawaku pada petualangan di sore hari yang menyenangkan. Sunset yang indah berada disebelah kananku. Jalanan dengan pemandangan fantastis west coast yang ikonik dengan matahari terbenamnya. Ini pertama kalinya aku pergi menuju ke arah selatan California. Walaupun aku besar di negara bagian ini tetapi hidupku hanya seputaran Los Angeles.
Suasana ini mengingatkanku pada ibuku. Aroma pantai menyeruak ketika kubuka jendela kaca mobil. Ingatanku melayang pada masa-masa dimana kami menghabiskan banyak waktu bersama. Membantunya menyiapkan makan malam, mendengarkan ceritanya tentang masa kecilnya, waktu-waktu berharga yang kuharap bisa terjadi kembali.
Kudengar San Diego punya pemandangan malam yang spektakuler. Entah sudah berapa tahun aku tidak pernah pergi berlibur. Tubuhku seperti terprogram untuk bekerja dan bekerja. Tentu saja aku tidak bisa kembali ke Los Angeles karena hari sudah semakin sore. Aku akan tiba di malam hari di alamat yang kucari lewat maps. Sepertinya malam ini aku akan bermalam di kota ini.
Akhirnya aku tiba di Encinitas, sebuah daerah di San Diego bagian selatan yang berbatasan langsung dengan Tijuana, Mexico. Mobil kuparkirkan didepan sebuah rumah dalam satu perumahan elite yang letaknya berada di ujung jalan. Rumah paling mewah dan besar dilingkungan tersebut. Rumah besar itu membuat bulu kudukku sedikit merinding.
Udara dimalam hari cukup lembab. Suhu pasti lebih rendah dibandingkan sore tadi. Aku lupa menggunakan jaket dan atasan berbahan tipis ini tidak melindungiku dari kedinginan. Setengah berlari menuju teras rumah. Kulirik ke arah samping menemukan kendaraan mahal yang asing dalam pemandangan mataku.
Dalam hati aku bertanya-tanya siapakah yang sudah memberikan paket tadi siang itu untukku? Keraguan muncul dalam benakku. Ada firasat mengatakan bahwa pengirim surat itu bukan salah satu dari mereka.
Sial kenapa keraguan itu baru muncul sekarang?
Kuputuskan menekan dengan ragu tombol di sebelah pintu dan beberapa saat kemudian pintu terbuka. Kutatap lekat pada siapa yang telah membuka pintu itu dengan sebagian hati yang berharap itu adalah Elijah. Entah mengapa aku sangat mengharapkan pria itu.
Do i missed him?
Sejak tadi aku mengharapkan dirinya.
Kedatanganku disambut oleh seorang wanita dengan tubuh tinggi berambut panjang berwarna pirang. Wajahnya penuh dengan make up. Dia memiliki tubuh atletis yang bagus. Raut wajahnya ramah namun mengintimidasi.
" Kau pasti Laura, bukan?"
Ucapnya dengan nada.
Aku mengangguk sekali.
Kurogoh saku celana itu memberinya sebuah kertas yang kudapat dari kotak paket itu. Kusodorkan padanya.
" Apa kau yang mengirimkan surat ini?"
Tanyaku penasaran.
Bola mata cokelatnya melirik isi dari surat itu dan tersenyum licik. Aku bisa merasakan dia bukan perempuan yang baik. Ekspresi wajahnya, gesture tubuhnya dan auranya. Dia punya aura seorang pembunuh berdarah dingin.
" Ah, ya benar."
Ucapnya tanpa ragu.
" Tapi kupikir it-"
Dia menyela.
" Kau pikir itu Elijah?"
Tertawa terbahak-bahak.
" Katakan padaku, apa kau sudah jatuh cinta padanya?"
Mataku mendelik menatapnya.
Aku tidak punya jawabannya. Bagaimana aku akan menjawabnya?
" Nona, itu bukan urusanmu."
Ucapku kesal.
" Jika iya, kau harus urungkan niatmu untuk bersamanya."
Balasnya tanpa ragu.
Dia duduk di sofa yang berhadapan denganku. Sikap duduknya yang anggun sangat memikat. Dia wanita yang akan menjatuhkan lawannya dengan mudah.
" Kenapa? Berikan aku satu alasan"
Tanyaku penasaran.
Apakah karena aku hanya wanita yang berasal dari kelas menengah kebawah?
Fakta itu menyinggung perasaanku.
" Karena Elijah adalah milikku."
Ucapnya percaya diri.
" Karena kami bukan dua manusia yang normal sepertimu."
" Kami berbeda dan kau tidak tahu siapa yang berada di sampingmu selama ini."
Dia melangkah mendekatiku, perasaanku sangat berantakan. Dia mengintimidasiku dengan tatapannya. Entah apa yang sebenarnya dia inginkan dariku dan yang terpenting, siapa dia?
Kutatap dia dengan tajam. Dia memperlakukan seperti seorang musuh. Tidak ada kata ramah, tidak ada suguhan yang nikmat, hanya kata-kata dengan nada penuh ancaman.
" Apa yang sebenarnya kau inginkan, Nona?"
Tanyaku.
" Aku ingin Elijah!"
Balasnya setengah berteriak.
" Dan aku ingin kau menyingkir dari kami!"
Kembali berteriak.
Perkataan terakhirnya menerangkan sedikit tentang posisiku. Apakah dia kekasihnya? Entah mengapa aku seperti seseorang yang sudah merebut Elijah darinya. Tatapannya menjadi liar. Dia seperti wanita yang sebentar lagi akan hilang kendali membuat tubuhku gemetar.
" Dimana dia?"
" Kenapa dia tidak datang juga!"
Teriakannya menggema keseluruh penjuru ruangan megah itu. Kuputuskan untuk mundur selangkah demi selangkah mendekati pintu yang berada tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Hanya saja langkah kakinya lebih cepat ketika dia akhirnya menyadari niatku untuk kabur.
Dia menarik lenganku kasar untuk menghentikanku dengan tangan kiri yang ternyata menggenggam sepucuk pistol yang kini diarahkan ke kepalaku. Tenggorokan serasa tercekat hingga paru-paru ini terasa seperti kekurangan oksigen. Jantungku berdebar seperti akan keluar dari tulang dadaku. Keringat dingin mulai membasahiku.
Sangat menegangkan.
Sangat menakutkan.
Pikiranku melayang pada ibuku.
Apakah ini akhir dari hidupku? Mengapa hidupku menjadi tidak berarti seperti ini?
Tangiskupun pecah. Air mataku mengalir deras.
Brakkk
Seseorang mendobrak pintu rumah itu. Wanita ini pasti sudah mengunci rapat-rapat pintu masuk itu.
" ELIJAH?"
Ucapku spontan.
Dia datang dengan setelan suit lengkap. Wajahnya panik penuh kekhawatiran. Rasa takutku sedikit memudar dengan kedatangannya. Dia membuatku merasa lebih tenang. Kualihkan pandanganku pada wanita yang masih menggenggam lenganku kuat dan menodongkan pistol itu dikepalaku.
Dia tersenyum senang.
Entah mengapa aku merasa seperti umpan. Apa maksudnya menjadikanku semacam umpan untuk membuat Elijah datang kemari?
" Ah yang kutunggu akhirnya datang juga."
Ucapnya lantang.
" Apa harus seperti ini caraku untuk mendapatkan perhatianmu, Elijah?"
Tanyanya.
" Apa dengan menodongkan pistol ini baru kau mau menemuiku?"
Kembali bertanya.
Elijah berusaha menenangkan diri. Aku melihatnya menahan amarah dan kekesalannya. Terlihat nyata dari ekspresi rahangnya yang menegang.
" Hentikan, Claudia."
" Tidak harus seperti ini."
Merayu wanita yang ternyata bernama Claudia itu.
" Apa kau ingin bersamaku? Menghabiskan waktu diruangan kenikmatan itu?"
Ucap Elijah pada Claudia.
Ruangan kenikmatan?
Ruangan apakah itu?
Sejenak perasaan tentang ketakutanku itu menghilang. Aku membenci wanita ini. Diluar dari hal yang dia lakukan padaku, aku benci mendengar Elijah menawarkannya sesuatu.
Wanita yang menangis itu terlihat gembira.
" Tentu saja. Bisakah kita pergi sekarang?"
Ucap Claudia.
Ada perasaan tidak rela melihat mereka bersama.
" Pertama, kau harus menjatuhkan pistol itu dan menendangnya kearahku."
Berkata dengan detail.
" Kedua, kau harus menyerahkan wanita itu untuk kuusir pergi dan tidak ada yang bisa mengganggu malam kita berdua."
Kutatap Elijah yang berusaha sangat kuat menenangkan Claudia. Entah apa yang terjadi dimasa lalu dengan mereka berdua, semua ini pasti ada kaitannya.
Wanita itu menurut.
Dia menurunkan pistol itu, menaruhnya diatas lantai dan menendangnya kearah Elijah. Elijah terlihat sangat lega lalu wanita itu perlahan melepaskan genggaman erat pada lenganku dan melemparku ke arah Elijah yang sudah dengan sigap menangkapku.
" Kau baik-baik saja?"
Tanya Elijah khawatir.
Dia membetulkan rambutku dan mengaitkannya didaun telingaku. Kujawab dengan anggukan pelan.
" Hubungi 911, sekarang juga."
*
Polisi daerah datang hanya dalam kurun waktu sepuluh menit membawa Claudia dengan borgol ditangannya. Sebelum dia pergi, dia meneriaki beberapa kalimat racauan. Aku tidak terlalu mengindahkannya tetapi ada beberapa yang membuatku memikirkannya.
Ketika menyadari bahwa polisi sudah mengepung rumah itu, Claudia berlari menuju televisi yang berada di ruang tamu itu. Dia menarik sesuatu dari samping televisi dan memberiku sebuah flashdisk.
" Kau harus menjauh darinya sebelum dia berhasil memanipulasimu."
Bisiknya sebelum polisi membawanya.
Setelah semua urusan yang harus diselesaikan di kantor polisi, Elijah membawaku untuk pergi ke sebuah hotel. Ada keterangan yang harus kuberi keesokan hari dan tidak memungkinkan kami untuk kembali malam ini juga.
Pikiranku masih pada perkataan Claudia tadi. Dibalik kenekatan yang dia lakukan, ada rasa iba untukku padanya. Kulirik Elijah yang berekspresi dingin. Dia sedang sibuk mengemudikan kendaraannya. Entah kenapa aku tidak lagi bertanya bagaimana dia bisa mengetahui keberadaanku di San Diego. Mungkin karena aku sudah mulai terbiasa.
Flashdisk itu membuatku sangat penasaran dengan apa isinya.
Haruskah aku bertanya pada Elijah?
Apakah sebenarnya isi dari flashdisk itu.
Memikirkannya, membuat pikiranku menjadi rumit. Entah mengapa perasaanku menjadi tidak menentu. Sanggupkah aku mengetahui apa isinya?