Aku tidak benar-benar marah padanya. Setelah tiba dikamar aku merasa puas sudah mengerjainya. Tawaku pecah ketika mengingat bagaimana ekspresinya ketika kutolak untuk menjadi donor. Apa yang dia katakan itu sangat benar. Jika aku melakukan donor suatu hari nanti kandidat yang akan kupilih pasti pria semacam dirinya. Dia punya kualifikasi yang hampir semua wanita inginkan.
Hari ini benar-benar melelahkan. Nancy tidak menghubungiku sejak tadi entah apa yang terjadi padanya namun aku yakin dia baik-baik saja. Duduk ditempat tidur mengeringkan rambut dengan handuk. Hari ini benar-benar sangat melelahkan dan aku butuh beristirahat. Sempat terlintas dipikiranku tentang hasil rapat Yamaguchi. Entahlah angin apa yang membawanya tiba-tiba saja terlintas dipikiranku. Beberapa hari ini dia mempunyai mood yang buruk. Entah apa penyebabnya hanya saja letak kecurigaanku ada pada rapat besar tadi.
Kubaringkan tubuhku seusai mengeringkan rambut. Sangat membosankan memang berada dalam kamar seperti ini. Kuraih ponsel yang kuletakkan di nakas. Ada beberapa pesan yang masuk.
Nomor ponsel asing. Siapa lagi?
Bisakah kita bertemu sebelum aku kembali ke Newyork?
Bunyi pesan singkat itu.
Newyork? Siapakah dia?
Pikiranku menebak itu Ethan.
Ini Ethan?
Membalas pesan singkat itu.
Ya ini aku.
Balasnya cepat.
Aku tersenyum tipis memandang layar ponselku.
Tentu saja.
Kembali menjawab.
Kami saling membalas pesan singkat itu dan sepakat tentang tempat makan yang sedang hype dikalangan pekerja belakangan ini. Ethan memberikan idenya dan aku langsung saja menyetujuinya.
Kupejamkan mataku untuk hari esok.
Aku benar-benar butuh hiburan.
*
Cuaca sedikit mendung diluar sana. Mengintip dari balik tirai jendela, hujan tampak rintik-rintik terjatuh dari langit.
Aku sedang bersiap untuk makan malam dengan Ethan. Berdiri tegak didepan lemari pakaian selama beberapa menit membuat kakiku cukup merasa pegal. Dengan menggaruk-garuk kepala kupilah satu demi satu pakaian yang aku miliki. Setelah beberapa pertimbangan kuputuskan untuk menggunakan terusan kemeja dengan panjang sepaha bermotif garis vertikal berwarna hitam.
Kami berjanji satu jam lagi namun aku masih duduk didepan meja rias merasa bingung harus menggunakan lipstik apa hari ini. Moodku untuk menggunakan make up belakangan ini sangat berantakan. Entah mengapa pilihanku jatuh pada warna-warna pucat yang terkadang membuatku terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Kuputuskan menggunakan warna fuschia hari ini dan berangkat segera setelahnya. Entah kemana dia aku tidak bisa menemukan Elijah disemua sisi ruang tamu dan dapur. Dia pasti dikamar dan aku memutuskan untuk tidak berpamitan.
Aku memang sengaja meminimalisir kontak dengannya.
Perjalanan tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya dua puluh menit kurang lebih dengan taksi yang kupesan onlinetadi.
Well, Ethan memang sangat tipikal.
Restoran Italia memang selalu menjadi favoritnya. Tempat ini sedang ramai pengunjung dengan pencahayaan minim sedikit meredup. Lilin ditengah meja dengan sekuntum mawar putih didalam vas berwarna bening menjadikan suasana semakin romantis. Nuansanya seperti membawaku pergi ke Italia sana walaupun sebenarnya aku tidak pernah tahu Italia itu seperti apa.
Suasana sangat tenang dan nyaman dengan permainan musik jazz yang mengalun indah dari panggung kecil yang berada dipojok ruangan. Tempat yang sempurna untuk orang yang ingin menghabiskan waktu dengan orang tercinta. Aku berjalan menyusuri setiap meja mencari keberadaan Ethan. Mataku mengunci di meja paling pojok yang berbatasan dengan dinding kaca yang menghadap kejalan. Dia melambaikan tangan kirinya. Setelan cardigan biru laut dan celana berwarna senada. Dia punya selera berpakaian seperti seorang nerd yang seksi.
Senyum mengembang diwajahku.
Aku duduk tepat didepannya. Sebotol anggur merah sudah ada dimeja kami.
" Aku sudah memesankan makanan untukmu."
Ujarnya.
Aku hanya mampu tersenyum.
Dia mengingat semua makanan kesukaanku?
" Spaghetti Carbonara dan panacotta sebagai makanan penutup bukan?"
Berkata tanpa ragu.
" Huh, bagaimana kau masih bisa mengingatnya."
Ucapku takjub.
Suasana membuat kami kembali seperti ke masa-masa kuliah dimana kami saling akrab satu sama lain.
" Jadi, besok kau akan kembali ke Newyork?"
Tanyaku memulai pembicaraan. Dia menuangkan wine itu digelasku.
" Iya."
" Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dan setelahnya aku akan kembali ke Los Angeles."
Wajahnya terlihat tegang. Dia menghela nafas panjang dengan tangan yang diletakkan diatas meja memandangku dengan tatapan yang tidak biasa.
" Aku akan pindah kemari."
Ucapnya dan bagiku itu keputusan yang gegabah
" Apa Newyork tidak membuatmu betah?"
Tanyaku sembari meneguk minuman itu.
Wajahnya berubah menjadi serius. Dia mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras. Dia terlihat gugup kini.
Ada apa dengannya?
" Sebenarnya, ada sesuatu yang membuatku kurang betah disana."
Ucapnya terbata-bata.
Dia membersihkan tenggorokannya san bertingkah seperti seorang mahasiswa yang sedang ujian tahap akhir.
Ada apa dengannya?
Aku menyeruput wine itu yang akhirnya kutuangkan dan menggulung spaghetti yang membuatku tak sabar untuk menyantapnya karena aromanya yang betul-betul menggoda. Spaghetti itu adalah salah satu yang terbaik setelah aku memakannya.
" Kau."
Uhuk-uhuk-uhuk
Ada apa denganku?
Spaghetti itu tertelan begitu saja membuatku tersedak. Aku membutuhkan air, ya air karena rasanya seperti tenggelam kehabisan nafas. Kuteguk segelas air dimeja dan gelas lain milik Ethan. Kutenangkan diriku dan berharap apa yang baru saja kudengar adalah sebuah halusinasiku yang sedang kelaparan. Kutepuk-tepuk dadaku pelan.
" Maksudmu?"
Tanyaku serius.
" Kau, aku ingin selalu berada didekatmu."
" Aku jatuh cinta padamu, Garcia."
Begitu dia biasa memanggilku.
“Kau bercanda, bukan?"
Kutatap dia dengan tatapan mengintimidasi.
Dia bersikap tenang dan memberi sebuah tatapan balik dengan meyakinkan. Ethan selalu tenang. Dia bukan pria yang mudah gugup walaupun disituasi yang mengintimidasinya. Itu menimbulkan sebuah keraguan di kepalaku.
Bisa saja itu sebuah lelucon.
Tatapanku mungkin pada Ethan kini hanya saja pikiranku sangat kusut belakangan ini.
Apa yang terjadi pada duniaku?
Beberapa hari yang lalu seorang pria mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku dan hari ini pria lain mengatakan hal yang sama. Ini benar-benar sebuah joke yang lucu.
" Ethan, jangan bercanda."
Ucapku mencairkan suasana.
" Tidak ada kebohongan, Laura."
" Itu terjadi begitu saja."
Pernyataan itu membuat tenggorokanku tercekik.
" Ya katakan padanya bahwa itu hanya sebuah lelucon, Ethan."
Suara laki-laki dari arah belakangku membuat kami terkejut. Mata kami menatap secara bergantian lalu teralih menatap asal suara itu.
" Elijah?"
Ucapku tak percaya.
Dia berdiri dengan tegap dan wajah memerah. Penampilannya sangat kasual dengan celana panjang jeans, atasan t-shirtputih polos dan sepatu berwarna senada. Dia memasukkan tangan ke kantong celananya memandang tajam pada Ethan yang terlihat kesal.
Fakta lain yang tak kalah membuatku terkejut adalah, bagaimana mereka bisa saling kenal satu sama lain?
Sebuah tanda tanya besar hadir dikepalaku.
Elijah menarik tanganku membuatku setengah terbangun tetapi Ethan disisi lain menggenggam lenganku. Cengkeraman mereka sama kuat membuatku memandang mereka secara bergantian. Aura testosteron bertebaran disekeliling kami. Mereka bertukar pandang dengan tatapan saling membenci satu sama lain.
Aku benci berada diantara dua orang yang sedang berperang dingin seperti ini.
" Tarik kata-katamu pada Laura, Anak Haram!"
Hardik Elijah dengan nada yang tinggi.
Perkataan itu semakin membuatku bingung.
Ethan tertawa kaku lalu kembali menegang. Aku tahu dia menahan kekesalan itu dengan sangat kuat. Ethan sebenarnya pria yang cukup tempramental.
Tapi tunggu dulu, mereka memiliki sifat yang sama bukan?
" Kau tidak berhak menyuruhku, Kakak."
Perkataan Ethan membuatku terhenyak.
Kakak?
Mereka bersaudara, lelucon macam apa ini?
Elijah yang kini tertawa kaku. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Kau pengkhianat, Ethan."
" Kau sama saja seperti ibumu yang menginginkan semua yang dimiliki orang lain."
Ucapnya terkekeh.
Sikap Elijah seperti seorang psikopat. Bulu kudukku bergidik seolah sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi. Entah apa yang harus kulakukan tapi aku benar-benar tidak ingin terlibat dalam pertengkaran ini.
" Berhenti!"
Teriakku dan menarik kuat kedua tanganku yang masih dalam genggaman mereka. Pengunjung lain memperhatikan kami, aku bisa merasakan hampir semua mata memandangku. Mungkin malam ini adalah malam pertama dan terakhirku mengunjungi restoran ini.
Jika baku hantam terjadi, kami bertiga akan masuk daftar black list mereka. Itu pasti.
" Aku memberimu tugas untuk mengawasi Laura dan kau justru jatuh cinta padanya?"
Berdecak dengan angkuh.
" Kau harus berhenti sampai disini."
Ucap Elijah mengancam.
" Bermimpilah, KAKAK."
Penekanan pada kata kakak.
Kepalaku seperti berputar saat ini.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mereka bersaudara saja sudah membuatku hampir gila. Dalam pikiranku kini hanyalah bagaimana aku merindukan kehidupanku sebelum ini yang baik-baik saja.
Ethan menarik tanganku dan menuntunku menuju pintu keluar restoran. Bodohnya aku membiarkan hal itu terjadi. Elijah tentu tidak diam saja menyusul kami dengan langkah cepat mengimbangi langkah Ethan hingga kami berada di parkir luar restoran. Sesuatu yang harus kusyukuri adalah tidak ada keributan yang terjadi didalam sana.
Dia menarik tanganku yang lain.
Suasana diluar tidak terlalu ramai hanya saja pengguna jalan memperhatikan kami bertiga yang sangat mencolok.
Kupandangi mereka secara bergantian dan diluar dari rasa kecewaku pada dua pria ini, mereka mempunyai banyak persamaan dari segi fisiknya.
Dadaku seperti tertancap belati.
Kupandang Ethan yang salah tingkah dengan pandangan menuntutku. Kami bersahabat bahkan berbagi kamar yang sama dan semua ini hanya karena untuk memata-mataiku?
Apakah Ted dan Kelly juga bagian dari rencananya?
Ini membuatku meragukan persahabatan yang sangat kuhargai. Persahabatan yang kupikir sangat tulus diantara kami. Ethan seperti mengetahui raut wajahku yang kecewa. Dia mendekatiku berusaha untuk memberi sebuah penjelasan. Hanya saja telingaku sudah kututup begitupun hatiku.
" Laura, kau harus mendengar penjelasanku!"
Ujarnya ketika aku mulai melangkahkan kaki untuk menyusuri jalan. Kubetulkan posisi tas selempangku diatas pundak.
" Kau memembuatku kecewa."
Ucapku lemas.
Aku tidak lagi mempedulikan Elijah.
Mereka mempermainkanku seolah aku hanya sebuah boneka untuk dimenangkan tanpa peduli bagaimana perasaanku terutama pada Ethan, dia sangat mengecewakan.
Kutatap wajah mereka satu persatu.
" Pernyataan cinta kalian berdua....."
" Itu juga permainan bukan?"
Kugelengkan kepalaku.
Elijah melangkah maju.
" BERHENTI DISANA!"
Ucapku berteriak.
" Tapi Laura, aku benar-benar jatuh cinta padamu!"
Seru Elijah membuat perutku sangat mual mendengarnya.
" Aku menunggu sepuluh tahun untuk bisa menyatakannya."
Sorot mata itu.
Bagaimana aku mencoba membohongi perasaanku bahwa itu semua kebohongan namun yang kulihat dari mata itu adalah sebuah kejujuran.
Hatiku menjadi ragu.
Entah mengapa ini benar-benar sangat menyakitkan ketika sempat kupikir untuk merubah sudut pandanganku pada seorang pria. Setelah sempat terlintas dikepalaku untuk memberinya sebuah kesempatan.
Permainan macam apa ini?
" Kalian mempermainkanku bukan?"
Ucapku dengan air mata disudut yang mulai menetes.
" Tidak ada permainan disini, Laura."
Ucap tegas Elijah. Dia memandang benci ke arah Ethan.
" Berhentilah dengan keinginanmu itu."
" Kau melakukan ini hanya untuk mendapatkan perhatianku, bukan?"
Ucap Elijah padanya.
Ethan sedang tertawa saat ini dan mengusap wajahnya. Apa kata itu sungguh menggelikan untuknya? Ethan menatapku kini. Tatapannya sangat mengintimidasi.
" Kau harus berhenti bahkan hanya untuk memberinya sebuah kesempatan berada dekat denganmu."
Ethan memandang Elijah dengan sedikit menyipitkan mata.
" Dia monster."
" Sebelum kau jatuh dalam jebakannya, hentikan niat itu sekarang juga."
" Dia seorang monster yang mengerikan!"
Tegasnya.
BUAK!!!
Suara pukulan melayang diwajah Ethan. Pukulan yang berasal dari Elijah yang kini benar-benar sangat emosional.
Monster?
Apa maksud dari kata-kata itu?