" Nancy, apa kau yakin?"
Aku bertanya serius dan meyakinkannya.
Apa yang membuat kami dekat satu sama lain? Itu karena kami punya nasib yang sama dan cara pandang hidup yang berbeda.
Mungkin ini sedikit aneh didengar. Kami punya kesamaan untuk memiliki anak dengan donor s****a. Sedikit gila? Mungkin. Hanya saja jika kembali mengingat bagaimana ibu kami membesarkan kami sebagai single mother, kurasa memiliki mereka sendiri tidak masalah.
Dia menjemputku ke kantor dengan mobil honda miliknya.
" Saat ini juga? Apa kau tidak ingin menundanya sesaat? Bayi itu akan menyita seluruh waktumu."
" Pikirkanlah.”
Ucapku meyakinkan.
" Aku yakin dan amat sangat yakin!"
Ucapnya tanpa ragu.
Baiklah, apa yang bisa kulakukan?
Nancy mengemudikan mobil dengan kecepatan rata-rata. Beberapa pembicaraan tidak terarah terjadi hanya saja pikiranku masih stuck pada hal yang terjadi tadi pagi. Kulirik ponsel yang kugenggam sejak tadi. Mataku tak berhenti menatapnya selang beberapa menit.
Apa aku menunggu pesan singkat darinya?
Apa aku mulai menyukai permainan hide and seek ini?
Entahlah...
Ini seperti cukup merindukan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba karena letak klinik kesuburan itu berada dipusat kota. Klinik kecil dipertokoan dengan parkir untuk pengunjung didepannya. Nuansa putih sangat mencirikan bahwa itu adalah pusat layanan kesehatan. Bergelayut manja, Nancy menggiringku dengan memeluk tanganku.
Dia memang sangat manja.
Aku tahu dia pasti sangat gugup. Bisa kurasakan betapa dinginnya telapak tangannya. Menurutku seharusnya dia harus menundanya setidaknya dua tahun lagi. Ide membesarkan anak seorang diri itu tidak mudah. Baik secara finansial ataupun mental. Ketika aku sibuk dengan ponselku, Nancy menarikku. Dia terlihat tidak yakin dengan keputusannya. Wajahnya ragu. Benar-benar sangat ragu.
" Pikirkanlah jika itu memang meragukan untukmu."
Ucapku.
Wajahnya kini seperti memelas.
" Aku punya permintaan."
Ungkapnya dan aku menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi.
Wajah itu, ada sesuatu rencana buruk.
" Okay, aku punya firasat buruk."
Nancy tersenyum licik.
Dia mendorongku mendekati meja resepsionis.
" Hai....."
Nancy bersikap ramah dengan menyapa terlebih dahulu. Dia berdiri dibelakangku mendongakkan kepalanya di atas bahuku. Tingkahnya sangat aneh. Ini mencurigakan.
" Aku ingin mendaftarkan sahabatku untuk konsultasi dengan spesialis fertilitas."
" Bisakah kau membantuku?"
Ucapnya.
Mataku mendelik keras. Aku menatap Nancy karena semua ini seharusnya menjadi rencananya bukan rencanaku dan sahabat yang ingin dia daftarkan, apakah itu aku?
" Bisa kau beri namanya, Nona?"
" Laura Prinsloo Garcia.
Tegasnya tanpa ragu.
Like what? Me?
Tak terasa bibirku ternganga mendengarnya.
" What?"
" Itu......."
Nancy membekap bibirku dengan kedua tangannya menarikku dan berbisik.
" Kumohon tanyakan infonya saja."
" Kau tahu betul aku tidak pintar dalam mencerna penjelasan seseorang."
Kutatap dia tatapan aneh.
Nancy terkadang sangat kekanak-kanakan. Aku tidak bisa membayangkan jika seorang bayi sepertinya memiliki seorang bayi. Dia memang sudah gila. Ini sudah melewati batas.
Entah apa yang membuatku iba dan menuruti semua perkataannya. Tidak ada penolakan hanya sebuah decakan kesal karena ini memang sangat merepotkan dan aku bersedia masuk berpura-pura untuk berkonsultasi tentang donor s****a itu.
Baiklah, hanya sekali ini saja.
Aku menunggu dikursi tunggu dengan Nancy yang sangat excited disebelahku. Entah apa yang membuatnya sangat girang membuatku curiga akan sesuatu 'hal lainnya'. Aku meraih majalah harper bazzar yang berada dimeja membaca beberapa artikel fashion. Hal yang membuatku tertarik adalah fakta bahwa covernya adalah Gigi Hadid, model yang menjadi salah satu idolaku. Fakta lainnya adalah sebenarnya yang kuidolakan adalah pacarnya.
" Nona Garcia."
Panggil salah satu perawat menghampiriku. Aku memberinya sebuah senyuman dengan anggukan pelan dengan Nancy yang ternyata sudah lebih dahulu berdiri. Dia terlihat sangat excited, Ya Tuhan, sikapnya sangat mengganggu.
Aku melangkahkan kaki menuju ruang konsultasi dimana dokter sudah menunggu. Kami duduk dikursi yang berada dihadapan dokter itu. Dokter itu memalingkan wajahnya dan ternyata dia masih muda. Dia cukup menarik karena wajahnya cukup tampan dengan mata cokelat dibalik kacamata minusnya. Kulirik Nancy yang duduk disebelahku. Tatapannya pada dokter itu membuatku menyadari bahwa niatnya untuk berkonsultasi hanyalah sebuah modus.
Aku mendengus tak percaya.
Ya Tuhan apa dia sudah merencanakan ini semua?
Ternyata dia hanya ingin berkenalan dengan dokter itu.
Sial, ternyata dia menipuku.
*
Seharusnya ini menjadi sebuah sesi tanya jawab dokter dengan pasiennya. Aku tahu dokter itu pasti sangat risih dengan Nancy yang melempar pertanyaan padahal disini yang menjadi pasiennya itu adalah aku. Kuputuskan untuk pergi ke toilet yang berada dekat meja resepsionis tadi meninggalkan Nancy yang masih menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan dokter tadi. Aku masih tak percaya bahwa Nancy mengelabuiku.
Ini benar-benar sangat membuang waktu.
Berkali-kali kulirik ponselku.
Tidak ada pesan singkat, nihil panggilan tidak terjawab yang membuatku sedikit merasa jengkel. Entah kenapa perasaanku seperti sedang menunggu pesan singkat darinya. Tidak ada apapun dan ternyata dia tidak sehebat bayanganku. Aku masuk ke kamar mandi dengan kedua mata yang masih berada diponselku. Hingga sosok tinggi besar membuatku sangat sangat terkejut. Kupikir itu adalah penampakan tetapi dia justru, Elijah?
" Apa yang kau lakukan disini?"
Ucapku tak percaya.
Aku mencabut semua perkataanku tadi. Dia seperti jin yang ketika kusebut saja namanya dalam pikiranku akan segera hadir dihadapanku. Apa dia punya telepati hingga bisa menemukanku ditempat yang tidak umum seperti ini?
Setelan suit itu membuatku terpana sejenak. Ah, ketampanannya meningkat tujuh puluh persen. Setelan abu metalik itu sangat cocok dengan kulitnya. Kerah bagian atas yang dibiarkan terbuka itu menampilkan siluet dadanya yang penuh tonjolan.
Dia benar-benar sangat seksi dalam setelan suit itu.
Jantungku kembali berdebar ketika tatapan matanya mengunci padaku. Dia menghela nafas panjang dan bibirnya berdecak. Wajahnya tampak muram dan aku tahu ini bukan sebuah pertanda yang baik.
" Seharusnya aku yang bertanya."
" Apa yang kau lakukan ditempat seperti ini?"
Dia menjawabku denganpertanyaan lain.
Aku menyipitkan mataku. Ada ide yang tiba-tiba terlintas begitu saja dikepalaku. Apa aku harus mengerjainya?
Baiklah aku akan mengerjainya.
" Oh, ya sesuatu untuk kuurus, berkas-berkas dan konsultasi untuk perjanjian donor yang sudah kusepakati."
Ucapku lantang.
Sejujurnya, aku sangat ingin tertawa puas saat ini juga tetapi aku menahannya.
Dia berdecak kesal. Dahinya yang berkerut, nafasnya yang memburu dan gesture tubuhnya membuatku yakin bahwa dia pasti sedang sangat kesal padaku. Aku menggigit bibir bawahku karena hampir saja tidak bisa menahan tawa. Secara tiba-tiba dia menarik tanganku untuk pergi dari kamar mandi wanita itu dan membuat yang lain mengantri tertawa malu-malu memandang kami. Mereka pasti berpikiran kotor membuatku sangat ingin berteriak ditelinganya bahwa tidak ada apapun yang terjadi diantara kami dikamar mandi itu.
Genggamannya pada pergelangan tanganku sangat kuat membuatku kesusahan untuk melepaskan diri. Pria ini sangat semena-mena seolah-olah dia sudah memilikiku seperti sebuah properti.
Dia benar-benar sangat menyebalkan!
Aku mencoba berkali-kali melepaskan diri dari genggaman tetapi hasilnya tetap saja nihil. Tenaganya berpuluh kali lipat dariku membuatku pasrah mengikutinya memasuki mobil. Entah apa yang akan terjadi pada Nancy, aku akan menghubunginya nanti.
Dia kembali mengemudikan mobil yang sama. Kami hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju tempat yang tidak kuketahui. Sebenarnya aku sudah cukup terbiasa. Ketakutanku seperti pertama kali sudah hilang begitu saja.
Dan ternyata dia membawaku kembali ke apartementnya. Dia membuatku duduk di kursi sofa berhadap-hadapan dengannya. Wajahnya masih kesal. Dia masih belum mengetahui bahwa semua itu hanya sebuah sandiwara.
" Hentikan ide konyol itu."
Ucapnya membuka pembicaraan.
" Konyol? Bagaimana mungkin itu kau sebut kekonyolan."
" Itu hak asasiku sebagai warga sipil."
Ucapku dengan nada meninggi.
" Okay, aku tidak menginginkan bayi dalam waktu dekat tetapi jika itu yang kau inginkan."
" Aku adalah pendonor yang paling potensial."
Ucapnya dengan wajah yang mencoba berpikir keras.
" Ide happy family ever after maksudmu?"
" Itu lelucon bukan?"
Jawabku sarkas.
" Kau wanita yang cerdas dengan nilai kelulusan terbaik, bagaimana pola pikirmu bisa seegois itu?"
Jawabannya membuatku terhenyak.
Bagaimana dia tahu bahwa aku lulus dengan gelar c*m laude di universitas?
Dia mendekati duduk di sebelahku menatapku dengan mata yang berbinar-binar yang entah apa maksud semua ekspresi wajahnya.
" Kita bisa melakukannya tanpa prosedur inseminasi."
" Aku bisa membuahimu dengan cara alami bahkan disaat pertama kali kita melakukannya."
Dahinya berkenyit.
Dia mendekatiku satu jengkal lagi. Posisi kami saling berdekatan dengan wajah yang berjarak sekian centimeter saja. Persis sama dengan kejadian kemarin hanya berbeda posisi. Dia merangkul pinggangku dengan erat hingga tubuh kami saling bersatu sama lain membuat nafasku hampir saja berhenti. Mataku memandangnya dengan kuat ketika bisa kurasakan tubuhnya gemetar seolah menahan sesuatu yang belum terlampiaskan. Sorotnya matanya berubah liar dan membuatku merasa ketakutan.
Dia seperti singa yang siap melahapku.
Kudorong tubuhnya dengan kasar dan berdiri secepat mungkin membetulkan kemeja yang kugunakan. Entah apa yang membuatnya begitu sangat agresif dan mengingkari janjinya diawal bahwa dia akan menungguku begitu aku siap.
Dia membuatku kesal dengan sikap hilang akalnya.
" Kau tahu aku akan lebih memilih selaput daraku dirobek untuk inseminasi nanti dibandingkan harus melakukannya bersama denganmu."
Ucapku kasar. Kulangkahkan kaki dengan cepat menuju kamar.
Dia berteriak.
" Laura, semua ini hanya tentang waktu."
Kuhentikan langkahku.
" Itu harapanmu yang tidak akan pernah terjadi."
Balasku.
" Ya itu akan terjadi dan kau akan memohon disetiap malamnya kepadaku."
Dia menyusulku.
" Kau akan jatuh kepelukanku."
Mengelus pipiku.
" Kau akan memberikan semuanya padaku suatu hari nanti."
" Hatimu, jiwamu dan tubuhmu akan menjadi milikku selamanya."
Mendekatkan bibirnya.
" Berhentilah mempermainkanku karena kau tidak tahu betul siapa aku dan apa yang bisa kulakukan."
Aku tersenyum tipis.
Apa itu sebuah ancaman? Dia mengancamku dengan sanksi dari kontrak itu? Apa dia tahu bahwa itu tidak membuatku gentar sedikitpun.
" Lakukan saja apa yang kau mau karena tidak akan ada yang berubah, Elijah."
Memberinya sebuah senyuman selamat malam dan berjalan membelakanginya. Namun dia tiba-tiba memelukku dari arah belakang. Mengalungkan tangannya dipinggangku dan memainkan bibirnya ditelingaku.
Perasaan aneh itu kembali mendera tubuhku.
Desiran aneh yang menjalar keseluruh tubuh.
" Apa kau tahu bahkan saat sedang marah seperti inipun aku benar-benar sangat menginginkanmu."
Dia membalikkan tubuhku dan mencium bibirku.