"Ma, dimana roti adek...?"
"Sebentar ya sayang. Mama siapkan sarapan papa dulu. Kamu pakai sepatu, nanti mama buatkan roti isi."
"Ma!! Dasi kakak kok hilang?!"
"Kamu taro dimana kak? Coba di cari lagi. Lihat di atas meja belajar kamu."
Inilah keseharian seorang ibu rumah tangga. Setiap pagi sudah tergopoh-gopoh menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan juga memeriksa perlengkapan suami untuk berangkat kerja. Awalnya memang terasa berat menjadi istri dan juga seorang ibu. Tetapi, aku sudah terbiasa. Apalagi, melihat anak-anakku kini sudah tumbuh besar.
Anak pertamaku bernama Nayara Putria. Ku berikan nama itu agar ia menjadi putri yang membawa kedamaian dalam kehidupan kami. Sedangkan anak keduaku bernama Chasel Nugraha. Agar kelak ia bisa menjadi benteng pelindung keluarga ini dengan anugrah dari yang Maha Kuasa.
Nama mereka bagus bukan?
"Sayang, hari ini aku ada meeting dan harus buat laporan akhir bulan. Jadi aku bakal pulang telat."
Lelaki berpostur tubuh tinggi dan tegap, manik coklat tua, perawakan tampan bercampur Pakistan dan berbadan atletis ini adalah suamiku. Namanya Akhtar Farzhan.
Tanganku mengambil dasi yang sudah tersangkut dikerah bajunya dan mulai menyimpul dengan rapi.
"Jam berapa kamu pulang?" Tanyaku, santai.
"Mungkin, tengah malam."
Aku melihat wajah suamiku yang ditumbuhi brewok tipis di sekitar dagu dan tulang rahangnya. Lalu, kembali pada dasi yang masih berusaha aku simpul dengan sempurna.
"Yaudah. Kabari aku ya," ujarku dengan senyum tipis.
Akhtar hanya tersenyum, mengangguk kecil dan mencium keningku.
Aku kembali kepada anak-anakku yang sedang melahap sarapan mereka di atas meja makan. Sesekali si bungsu Chasel tampak mengoceh dengan kakaknya.
"Kak, aku di TK belajar baca tau!" Serunya dengan mulut penuh roti isi selai coklat kesukaannya.
Nayara mendengarkan dengan seksama. "Bohong ya kamu? Adek 'kan gak bisa baca."
Wajah Chasel mengerut. Ia tampak lucu sekali. Apalagi pipinya penuh akan roti isi yang belum selesai ia kunyah.
"Adek bisa kok! Ini... ini nama kakak pasti. Nayala Putliaa !!"
Kami tertawa bersama mendengar ocehan anakku yang sangat menggemaskan. Aku mencium pipinya karena merasa geram. Tak terasa kini mereka sudah beranjak memasuki usia sekolah. Nayara duduk di bangku sekolah dasar kelas empat dan Chasel di bangku taman kanak-kanak.
Seusai melahap sarapan, Akhtar mengajak mereka menuju garasi mobil. Biasanya, ia yang mengantar anak-anak jika tidak sedang terburu-buru. Dia sangat perhatian kepada anak-anak kami. Dia juga seorang lelaki yang bertanggungjawab. Itulah mengapa aku bisa mempercayainya dan berani menikah dengan lelaki ini.
"Salam dulu sama mama."
"Ma, kakak ke sekolah dulu ya," ujar Nayara sambil memain-mainkan tali tasnya. Lalu, tangannya yang lain mengambil tanganku untuk dicium.
"Iya sayang. Belajar yang bener ya." Aku beralih pada Chasel yang sudah kabur, masuk ke dalam mobil.
"Adek, sini dulu. Mama cium."
Chasel malas turun. Akhirnya akulah yang menghampirinya. Aku mncium pipinya yang tembam. Lalu, aku juga mencium pipi suamiku yang hendak pergi bekerja.
Aku berdiri di sebelah mobil dan melihat kepergian mereka dari depan pintu rumah. Akhtar juga mencium keningku sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Aku merasa sangat bahagia. Bahkan aku yakin, tidak ada keluarga lain yang akan sebahagia keluargaku. Tetapi, ekspentasiku mengkhianati diriku.
Satu jam setelah Akhtar mengantarkan anak-anak, aku melihat mobilnya terparkir di sebuah rumah berukuran sedang yang cukup mewah. Jaraknya hanya beberapa blok dari rumah kami.
Seingatku, itu rumah yang baru dibangun akhir-akhir ini. Tak menyangka jika sudah ditempati oleh si pemilik.
Aku berjalan mendekati mobil Akhtar. Ku lihat sedikit lebih dekat. Ada seseorang di dalam mobilnya. Tampaknya, itu seorang perempuan. Mataku jelas sekali melihat itu seorang perempuan dengan rambut panjangnya.
Mereka berdua ada di dalam mobilku. Dan aku terkejut bukan main dengan apa yang mereka lakukan.
"Hah!"
Aku melepaskan kantong belanjaanku di tanah saat melihat bahwa suamiku sedang berciuman dengan perempuan itu di dalam mobil kami. Akhtar juga tampak meraba-raba tubuh gadis itu dengan liar. Aku tak percaya ini.
Apa benar itu suamiku?
•••
Buka lapak dulu guys !
Rencana mau buat tema rumah tangga gitu. Kaya di Indosiar hahaha. Tapi kalau menurut kalian prolognya bagus, aku lanjutin haha.