Aku menunggu mas Akhtar di bilik ruang tamu dengan hati gundah. Duduk sendirian di sofa dan sesekali berjalan mondar-mandir. Rasa khawatirku membuat otakku buntu, kehilangan arah logikanya. Bingung, harus mempercayai apa yang aku lihat atau menunggu penjelasan dari suamiku sendiri.
Sesekali, ku pandangi gerbang besar rumah kami, tak ada tanda-tanda jika seseorang akan memasuki latar rumahku. Aku berjalan ke kamar anak-anak dan melihat mereka sedang tertidur pulas. Aku tutup kembali kamar itu dan berjalan menuju ruang tamu, lagi.
Mataku terfokus pada jam yang terus bergerak maju. Aku berdebar tak karuan. Juga, penasaran setengah mati.
Ddrrrrt...
Terdengar suara pagar besi yang digeser. Segera aku mengintip dari jendela rumah, mengibaskan sedikit horden abu-abu itu, dan memastikan bahwa itu adalah suamiku. Ternyata benar. Itu mas Akhtar. Aku lirik jam dinding di atas televisi. Pukul dua belas malam tepat.
Suamiku tidak berbohong. Dia pulang tepat waktu. Persis seperti yang ia katakan tadi pagi.
Ckliiikk
Mas Akhtar membuka pintu rumah yang sengaja tak aku kunci. Tangannya menjinjing tas hitam kerja yang biasa ia gunakan. Sedangkan sebelah tangannya masih memegang kunci mobil. Lalu, ia meletakkan kunci itu di rak yang sudah tersedia di sebelah meja televisi.
"Loh? Kamu belum tidur ?"
Aku mengurut dadaku karena ia berdebar sangat kencang. "Belum. Aku nungguin kamu pulang," jawabku sedikit datar.
Mas Akhtar memberikan tasnya padaku. Aku menerima tas itu dan membawakannya ke dalam kamar. Kemudian, aku bergegas ke dapur, mengambil secangkir air hangat dan memberikan gelas itu pada suamiku.
"Minum dulu. Kamu capek ya?"
Mas Akhtar sibuk memainkan ponselnya. Ia menjawab tanpa melihat padaku. "Iya. Capek banget. Tadi meeting di perusahaan kawan bos, lumayan lama sih."
Aku berusaha mengintip ponsel mas Akhtar. Namun sayang, ia buru-buru menyimpan ponsel itu.
"Aku mau mandi. Siapin air panas, yang."
Aku menghela nafas panjang. Jantungku masih berdebar tak karuan. Tetapi, aku berusaha menutupinya.
"Aku... boleh ikut mandi?" Pintaku dengan memasang wajah manja.
Mas Akhtar tampak kaget. "Tumben ? Biasanya juga kamu langsung tidur."
"Aku pengen berduaan sama kamu. Udah lama 'kan kita gak berduaan. Apalagi, sekarang kamu udah naik jabatan. Pekerjaan makin banyak. Aku juga sibuk urus catering, urus anak-anak. Jadi, kita jarang habiskan waktu bersama-sama lagi."
Ku pandangi wajah mas Akhtar yang tampak berpikir sambil mengangguk kecil. "Oke." Dia mendekatiku lalu mengecup kening. "Aku tunggu di kamar ya sayang. Nanti kalau udah selesai, panggil aku."
Bibir mas Akhtar menempel pada keningku. Namun, di saat tubuhnya mendekat, aku mencium bau parfum yang tak asing. Seperti wangi parfumku. Tanpa pikir panjang lagi, aku tanyakan langsung padanya.
"Kamu... pakai parfum aku ya mas ?"
Manik mas Akhtar terbelalak. Ia langsung membuang mukanya sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang aku rasa tak gatal. Dia sedang gugup. "Aah... iya. Aku minta sedikit tadi. Parfum aku habis."
Aku terdiam sejenak. Sungguh, firasatku semakin tak enak. Namun, aku tidak boleh terlihat mencurigai suamiku.
"Aku siapin air hangat untuk mandi dulu. Kamu nunggu di kamar aja."
Akhtar tersenyum. "Iya sayang. Panggil aku ya."
Lelaki itu berjalan menuju kamar kami. Aku hanya melihat punggungnya yang semakin jauh dan hilang dibalik pintu. Gelas yang tadi aku bawa, sudah dikembalikan padaku untuk dibawa kembali ke dapur.
Seberusaha apapun aku berpikir positif, rasanya, semakin besar pula kecurigaanku. Bagaimana bisa mobilnya ada di rumah baru itu sedangkan dia bilang, dia ada di perusahaan lain?
Ah sudahlah. Aku tidak memiliki cukup bukti atas kecurigaanku.
***
Aku sudah menyiapkan air hangat di dalam bath up. Juga, membuat minuman hangat untuk kami nikmati selama kami berendam. Kebiasaan mas Akhtar adalah ia sering sekali melakukan ralaksasi dengan berendam berjam-jam dibak mandi sambil menikmati secangkir minuman hangat. Entah itu teh hijau atau pun kopi s**u.
"Sudah. Kayaknya suhunya udah pas."
Aku bergegas menuju kamar kami dan membuka pintu perlahan-lahan. Samar-samar, aku mendengar suamiku sedang berbicara dengan seseorang ditelepon.
"Kamu ini... harus banyak istirahat... bla bla bla," ucapnya sambil sedikit tertawa.
Aku mengernyitkan alis. Dengan siapa dia berbicara ? Kenapa nadanya santai sekali? Seperti sedang berbicara dengan lawan jenis.
"Mas..." panggilku tiba-tiba. Sengaja agar aku bisa melihat reaksinya.
Mas Akhtar melirikku dengan senyuman tertahan. Lalu, ia memberi kode untukku agar menunggu.
"Oke ... oke. Maaf tidak bisa berbicara banyak. Hahaha... aku ada urusan dikit dengan istriku," ujarnya dengan tertawa lepas.
Untuk sesaat, pikiran burukku hilang.
Akhtar meletakkan ponselnya di atas nakas, beranjak dari ranjang dan berjalan menuju arahku. Ia tak mengatakan apapun. Aku pun enggan bertanya. Biarkan saja dia sendiri yang mengatakannya.
Aku hanya menatap wajahnya dengan senyum tipis. Tetapi, sepertinya, mas Akhtar merasa dicurigai. Ia melirik dari ekor matanya sambil tersenyum tipis.
"Temenku. Dia kerja di perusahaan tempat aku presentasi tadi. Rupanya, dia bagian HR di perusahaan itu."
Lega.
Itulah hal pertama yang aku rasakan. Mas Akhtar mengatakannya dengan santai. Artinya, dia tidak menyembunyikan sesuatu.
Langkah kami berjalan beriringan menuju ke kamar mandi. Ia masuk terlebih dahulu. Lalu, aku menyusulnya. Aku duduk dipangkuan suamiku yang kakinya sudah berselonjor di dalam bak, bersandar di d**a bidangnya dan mengambil kedua tangan besar mas Akhtar untuk melingkar dipinggangku.
Aku memain-mainkan janggut tipis yang tumbuh didagu serta rahang mas Akhtar dan tertawa sesekali. Ia juga terus menggodaku. Memeluk erat dan meletakkan janggut tipisnya dibahuku agar aku merasa geli.
"Hahaha... geli tau!"
Mas Akhtar tertawa lepas. Pelukannya semakin erat. Senyumnya juga terlihat lebar.
"Aku senang. Kita udah bisa hidup enak. Udah punya rumah mewah, mobil bagus, pendidikan anak-anak terjamin, dan ... kamu juga. Aku beruntung memiliki istri mandiri seperti kamu."
Aku tersenyum. Mas Akhtar sedang memujiku. "Ini juga berkat kerja keras kamu mas. Aku percaya kalau kamu lelaki yang bertanggung jawab."
Mas Akhtar mencium keningku. "Aku sayang sama kamu. Sayaaang banget."
Sungguh, firasat burukku mengenai tadi pagi, hilang. Tidak ada yang berubah dari suamiku. Ia tetap romantis seperti biasanya. Dia memang hobi memberikan pujian untukku. Mungkin, karena dia berdarah campuran Indo-Pakistan, jadi, kebiasaan memuji dan menyenangi pasangan adalah tabiat orang sana.
Tetapi, aku hanya ingin memastikan saja. Aku beranikan diri untuk bertanya padanya. Walau sedikit ragu.
"Mas.. tadi, aku lihat mobil kamu di depan rumah baru blok J10. Kamu ngapain di sana?"
Deg
Untuk pertama kalinya, aku mendengar detak jantung mas Akhtar sangat cepat. Senyum merekahnya hilang seketika. Ekspresinya pun tak biasa.
Beberapa saat aku menunggu, ia tak jua menjawab.
Aku sendiri mulai merasa deg-degan. Berusaha menelan saliva yang terasa kering akibat kegugupanku.