Kebun miliknya terlihat sepi. Izumi memandang sekitar yang sunyi sebelum matanya bertemu satu sosok yang sedikit menghindari sinar matahari dan sibuk sendiri.
Izumi tidak tahu yang Arata lakukan secara sembunyi pagi ini. Saat langkahnya mendekat, bau anyir menyapa hidungnya. Sama seperti ketika Izumi menangkap basah dirinya terhadap beberapa pendekar muda di kala hujan.
Ember itu penuh dengan warna merah, menyatu dengan air yang bening. Arata masih berusaha keras mencuci tangan, membersihkan sisa yang menempel dari telapak tangannya.
"Kau melakukannya lagi."
Suara Izumi terdengar pelan, nyaris seperti gumaman. Arata berpaling untuk menatapnya sesaat sebelum menunduk. "Jangan terlibat apa pun denganku."
"Mau sampai kapan kau seperti ini?"
Gerakan tangan itu belum berhenti. Seakan yang