Arata menatap kuil yang sepi. Lentera sebagai teman menyala terang, sepanjang jalan sebagai alat bantu untuk siapa pun yang hendak pergi ke kuil.
Mereka telah selesai berdoa dan berbincang bersama. Saat pintu terbuka dan melamun, menatap satu sosok asing yang berdiri di halaman teras.
"Beritahu Saito secepatnya," bisik salah satu pemimpin yang gusar menatap Arata dari pintu masuk. "Orang yang dikirimkan ketua Kyoto sudah datang ke Asakusa."
"Apa dia pemuda itu?"
Semua orang bersiap dengan bendany. Arata masih diam, sama sekali tidak bergerak. Ketika satu-persatu pendekar muda yang mendukung pada keluarga bangsawan mulai mendekat, katana itu muncul seperti kilat petir lalu menepis mereka hingga yang terdengar hanya raungan singkat.
Arata belum menyentuh lebih jauh, hanya melepaskan sat