Beberapa tahun sebelumnya,
"Bagaimana dengan nilaimu? semester ini aku mendapatkan 3 merah dalam nilai rapotku." ucap Ellyora seorang gadis yang usianya terpaut 2 tahun diatas Allison
"Tidak buruk, aku mendapatkan ranking 8 untuk kelas tahun ini." jawab Allison dengan tersenyum bangga pada sahabatnya yang sudah menemaninya selama 3 tahun.
Ellyora adalah sahabat Allison sejak dibangku sekolah dasar. Ketertarikan Ellyora akan berita yang beredar tentang seorang gadis yang gemar membuat masalah di sekolahnya, mempertemukan mereka secara tidak sengaja di kantin disaat jam istirahat. Saat itu, Ellyora sudah berumur 10 tahun dan Allison baru berumur 8 tahun. Dengan rasa kagum Ellyora tidak menyangka bisa melihat atau bahkan menjadi sahabat dengan anak yang mendapat julukan "Rebel Princess" di lingkungan tersebut.
"Bagaimana bisa? apakah kamu menyontek selama ujian berlangsung?" tanya Ellyora keheranan, karena dia mengetahui dengan benar cara kerja otak Allison cukup dibilang lambat untuk mengerti sebuah materi, meski memang Allison anaknya cerdas, karena bisa mengikuti materi pelajaran di angkatan yang setingkat dengan Ellyora.
"Tidak, bukan kakakmu yang selalu meminta jawaban padaku saat ujian berlangsung? semua itu membutuhkan otak." Allison menjawab dengan menambah kapasitas kesombongannya, dan mengerti benar Ellyora akan segera menghabisi dia, jika percakapan ini tetap dilanjutkan.
Dengan segala pengertian yang tersisa dalam diri Allison, dia pun mencoba mengajak Ellyora untuk pergi ke kantin dengannya, walau dengan maksud tersembunyi. Ellyora tau bahwa Allison sedang berusaha untuk menghindar dari amukannya, meski masih terima dengan kesombongan Allison, dia tetap mengiyakan ajakan Allison.
Seperti biasa Allison membeli mi instan untuk menu makan pagi, siang, dan sorenya. Serta sebotol air mineral dingin yang bisa menyegarkan kerongkongan yang menjerit di musim panas yang mencoba untuk memanggang mereka. Kadang membuat Ellyora keheranan melihat apa yang dimakan oleh Allison, dan bertanya tanya apakah lambung ini anak baik baik saja dengan menu makanan 4 sehat 5 sekarat kesukaan Allison. Sementara itu, Ellyora membeli berbagai macam nasi dengan lauk yang berbeda beda, keripik pedas kesukaannya, dan segelas teh dingin manis untuk melegakan dahaga. Merekapun duduk di kursi dan meja yang berada diujung lorong sekolah, yang sebenarnya sudah terbengkalai. Beberapa dari kursinya bahkan sudah lapuk dan tidak layak untuk dipakai, namun hanya di sana tempat duduk ang disediakan oleh kantin sekolah.
Mereka sangat menikmati makanan mereka masing masing, dengan sesekali Allison mencuri curi makanan Ellyora, seperti potongan ayam pada nasi atau potongan keripiknya. Ellyora yang sudah terbiasa dengan tingkah laku Allison yang kekanakan tidak berkomentar apapun dan membiarkannya. Secara tidak langsung baginya sekarang, Allison sudah lebih dari sekedar sahabat, bahkan seperti adiknya sendiri.
Sekolah mereka tidak bisa dibilang sekolah berkelas, mesti letaknya ditengah bahkan pusat kota. oleh karena itu, banyak sekali tempat tempat terbengkalai, seperti kursi dan meja yang sudah lapuk, ataupun lorong-lorong gelap dan kumuh yang biasanya dipakai untuk uji nyali oleh murid murid, dan hanya ada satu kantin untuk semua angkatan yang ada. Bisa dibayangkan jika istirahat pada waktu yang bersamaan, akan sepenuh apa kantin tersebut, tak jarang banyak anak anak yang tak sempat membeli makanan karena antriannya yang cukup panjang dan berantakan.
"Jadi, kau lanjut disini atau tidak?" ucap seorang gadis dengan perawakan cukup besar seperti umumnya terpaut jauh dari Allison, terlihat tomboy, dengan memakai rompi berwarna hitam bercorak putih, memiliki rambut pendek seperti anak laki laki pada umumnya.
"Iya, aku masih bersekolah disini, lanjutkan 3 tahun yang suram kembali di sekolah yang neraka ini." Jawab anak laki laki, yang tingginya hampir mencapai 178 cm, dengan badan kurusnya seperti hanya tulang yang dibungkus kulit, memakai kaca mata hitam dan jaket berwarna coklat tua, yang sebenarnya hampir semua orang yang bersekolah di sana pasti memiliki jaket itu,
Allison pun mencoba untuk tidak menghiraukan obrolan kedua orang yang tak dia kenal tersebut, lalu melanjutkan menikmati makanannya yang tertunda. Dia hanya berpikir obrolan mereka tidak terlalu menarik untuk diikuti. Walau dia bertanya tanya, sudah 1 tahun Allison bersekolah disini tapi mengapa tidak pernah mengenal atau bahkan bertemu mereka.
Disisi lain, Ellyora ternyata ikut terlibat dengan obrolan mereka. Kenal tidak kenal, menarik tidak menarik, yang terpenting adalah menambah relasi. Terlihat Ellyora sangat menikmati waktu obrolannya dengan mereka sehingga melupakan Allison yang jelas jelas berada disebelah Ellyora.
"Jadi kalian berdua baru naik ke tingkat 2 sekolah menengah?" tanya gadis tomboy tersebut penasaran.
"Ya, kita baru aja naik hari ini, hahahaha." jawab Ellyora dengan antusias seperti itu adalah sebuah kebanggaan tiada tara.
"Wah, kalian masih terlalu dini untuk merasa bangga bersekolah disini. Selamat datang disekolah Tunas Harapan Bangsa, dimana kalian akan melewati berbagai macam problematik dan drama tiada akhir. Perkenalkan nama aku Faye, aku baru saja naik ketingkat 3 sekolah menengah hari ini. Senang berkenalan dengan kalian ber 2." Kata Faye sambil menjulurkan tangan dengan maksud untuk berjabat tangan
"Perkenalkan aku Ellyora dan ini temanku Allison, kami sudah bersama selama 3 tahun, dan memilih untuk berpindah ke sekolah yang sama ketika akan naik tingkat. Senang juga bisa berkenalan dengan kak Faye dan kakak..." bingung Ellyora sambil menjabat tangan Faye yang sudah terjulur sekitar 5 detik lamanya.
"Aku Allison dan aku temannya Ellyora." ucap Allison ketus karena merasa temannya direbut oleh kedua orang asing tersebut.
"Oh iya, dia adalah Deon, kakak kelas ku. Tahun ini dia naik tingkat 1 sekolah menengah atas, dan malangnya dia masuk sekolah ini lagi." Ucap Faye setengah mengejek Deon. Sebenarnya dia tau Deon tidak ingin bersekolah disini lagi, hanya karena keadaan ekonomi memaksa dia untuk bertahan 3 tahun disini.
"Salam kenal untuk kalian berdua." Sambutan ramah Deon kepada dua anak kecil yang baru dilihatnya hari ini. Meski begitu, yang membalas keramahan Deon hanya Ellyora, Allison lebih memilih membuang muka dan tidak mau menerima kehadiran Deon, atau bahkan mungkin akan membenci Deon.
"Nah, bagaimana jika kita merayakan pertemuan kita dan keberhasilan kita naik tingkat hari ini?" ajak Deon kepada 3 gadis didepannya, berharap bisa mencairkan suasana.
"Boleh juga, mau dirayakan dimana?" tanya Faye dengan antusias.
"Bagaimana kalo lapangan olah raga dekat alun alun kota? selain dekat dari sini, itu juga paling murah dan terjangkau untuk anak anak seperti kita." tawar Deon berharap mereka mengiyakan, karena memikirkan nasib finansialnya.
"Boleh boleh." Jawab Ellyora karena memang dia sangat menyukai basket.
"Aku ikut apa kata Ellyora saja." Kata Allison masih dengan ketusnya.
"Baiklah jika begitu, Kita habiskan dulu sarapan kita sekarang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 11. Akan sangat menyiksa jika kita ke sana tepat pada tengah hari, dan lagi itu adalah lapangan terbuka." celetuk Faye dengan sangat bijak, seperti seorang ibu yang sedang merawat 3 anak. '
"Baik mah." Jawab Deon seperti menggoda Faye untuk naik pitam.
Allison menyadari bahwa pasti ada sesuatu hubungan yang lebih dari sekedar teman diantara Faye dan Deon.