Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di lapangan basket.
"Wah.. Ini lapangan basketnya?" kata Allison dengan terkejut.
"Iya, kata teman ku ini lapangan basketnya. Cukup adem bukan? walau kecil setidaknya cukuplah untuk membuat kalian kelelahan ketika bermain basket disini." Ucap Faye sambil menjelaskan.
"Kalian sajalah yang main, aku mau ngadem saja ditepi." Susul Deon ketika berhasil menyusul mereka bertiga dengan susah payah dan jalan menuju tempat duduk yang ada ditepi lapangan dan bawah pohon.
"Yah.. masa gtu aja nyerah, lihat dong kita masih bisa dan semangat untuk bermain." jawab Allison dengan sombong dan bertujuan untuk mengejek Deon yang sedang kesusahan untuk bernafas.
"Tersersah padamu sajalah aku gak peduli, aku ingin istirahat heh.. heh.. heh..." Lanjut deon dengan berusaha bernafas dan tahan untuk tidak tergoda dengan ejekannya Allison
"Baiklah kalo begitu, ayo Ellyora dan kak Faye kita main saja jangan hiraukan anak lemah itu." Ajak Allison kepada Faye dan Ellyora yang sedang tersenyum melihat peperangan mereka.
Akhirnya mereka bertiga pun bermain basket tanpa menghiraukan keberadaan Deon yang sedang duduk dibawah rindangnya pohon. Mereka bermain dengan sangat riang, gembira dan ceria. Seperti Allison bermain basket, melempar bola, mengoper bola tanpa mengikuti aturan permainan basket yang benar. Disisi lain Ellyora yang memang cukup mahir dalam permainan basket dan mengerti benar dengan aturan aturan tersebut, hanya bisa senyum melihat anak bocah yang menjadi sahabatnya itu. Karena dia tidak mau merusak kesenangannya Allison pada saat itu.
Ketika sedang asik bermain, tiba tiba ada seorang teman yang kebetulan seangkatan bahkan sekelas dengan Allison dan Ellyora.
"Hey! Allison hey! Ellyora" teriakan Hilda menyapa Allison dan Ellyora.
"Apakah kamu mendengar ada yang menyapa kita?" Tanya Allison kepada Ellyora sambil melihat kanan dan kiri.
"Itu di belakangmu." Jawab Ellyora sambil tertawa melihat kelambatan sistem kerja otak temannya ini.
"Eh.. Hilda.. Kok kamu enggak manggil sih?" Jawab Allison setelah menoleh ke belakang.
"Yang tadi aku lakukan itu apa? Apakah ada Allison lain disini?" Ucap Hilda sedikit emosi.
"Yasudah yasudah.. Sabar sabar lah sedikit. Kamu taukan teman sekelas kita yang ini agak berbeda dengan yang lainnya." Ucap Ellyora menegaskan perbedaan Allison.
"Disini bisa aku simpulkan bahwa Allison tidak sepintar ranking yang dia dapatkan." Kata Hilda yang mulai meragukan kepintaran Allison, bahkan dia berpikir apakah nilai nilainya selama ini adalah hasil hasil dari perbuatan curang alias menyontek, Karena dia yang dengan susah payah belajar pun masih kalah dengan Allison. Mungkin dia akan menanyakan tips dan trik bagaimana Allison belajar dalam sehari hari.
"Sudah sudah.. bagaimana jika teman kalian ikut bermain? semakin ramai akan semakin seru." Ajak Faye pada Hilda yang sedari tadi diam didepan lapangan karena tidak mempunyai akses untuk masuk.
"Oh iya.. Hilda sini masuk. Mari kita bermain bersama, aku dari tadi berhasil memasukkan bola basketnya ke ring loh.." Ajak Allison dengan menyombongkan keahliannya dalam bermain basket.
"Hehehe.. Iya, beruntunglah kamu ringnya tidak setinggi ring pada umumnya, itulah yang menyebabkan kamu bisa memasukkan bolanya secara terus menerus ke ring." Ucap Hilda menjatuhkan kesombongan Allison ketika dia sudah melihat ketinggian ringnya.
"Iya gak usah dibahas juga kali." Jawab Allison dengan cemberut merasa harga dirinya jatuh.
Hilda pun memasuki arena lapangan bola basket dan bermain bersama Allison, Ellyora dan Faye. Disisi lain Deon sedang sibuk memanjat pohon karena lapangan ini dikelilingi banyak pohon sehingga mudah untuk anak anak seperti mereka untuk memanjatnya didukung dengan dahan dahan pohon yang berada cukup rendah dari permukaan tanah.
"Kemana Deon? baru ku mau siram dia biar dia segar." Kata Faye dengan berapi api.
"Disini.." Kata Deon sambil makan es potong dengan posisi duduk santai diantara dahan pohon ditemani dengan angin sepoi sepoi sudah cocok untuk tidur di sana.
"Lah.. sejak kapan kamu naik ke sana? Terus kapan kamu beli es potong itu?" Tanya Faye dengan terkejut dan sedikit marah karena tidak diajak untuk membeli es potong bersama.
"Itu, bapak tukang es potongnya ada didepan, kamu hanya berjalan beberapa langkah dan memesan es potong dengan rasa yang kau inginkan. Jangan lupa bayar dan pesankan juga untuk adik adik kamu yang berada ditengah lapangan basket." Kata Deon yang menambah kekesalan Faye karena mengetahui Faye sudah kesal padanya dan gak bisa memanjat pohon karena memakai rok. Salah satu keuntungan Deon berada diatas pohon.
"Harusnya kau yang pesankan untuk kami, cowok macam apa kau." Jawab Faye dengan kekesalan yang sudah mencapai maksimal.
"Disini tidak membedakan gender, Disini membedakan umur, perlu diingat kamu kedua tertua setelah aku. Jadi, secara tidak langsung kamu juga ikut bertanggung jawab atas mereka bertiga. Karena aku sedang istirahat, ku serahkan mandat ini kepadamu." Kata Deon pada Faye dengan inisiatif memberikan beberapa lembar uang kertas kepada Faye untuk membeli es potong.
"Lihat saja nanti ketika kamu turun, ku pastikan akan memberikan karung yang berisi tangan dan kakimu yang sudah terpotong potong kepada orang tuamu." Kata Faye sambil jalan ke arah Allison, Ellyora dan Hilda.
"Yuk adik adik mari kita jajan es potong" Ajakan Faye kepada Allison, Ellyora dan Hilda yang sedang bermain basket ditengah lapangan.
"Ayo.. kak Faye" Jawab Ellyora dengan semangat
"Yey.. ayo jajan es potong.." Jawab Allison dengan girang dan melepaskan bola basket yang ada ditangannya begitu saja seakan terlupakan hanya karena sebuah es potong.
"Ayo, jalan." Kata Hilda karena bingung harus memanggil apa mengingat hilda baru bertemu dengan Faye dan Deon.
Mereka pun jalan ke bapak tukang es potong yang tidak jauh dari lapangan basket tersebut.
"Pak, ada rasa apa aja hari ini?" tanya Faye kepada bapak tukang es potong.
"Ada coklat, strawberry, vanilla, mocca, melon bahkan rasa cinta pun ada." Jawab bapak tukang es potong
"Ah bapak mah bisa aja, masa iya ada rasa cinta. berapa satu potong esnya?" tanya Faye ke bapak tukang es potong dengan tujuan ingin membeli es potong
"Ada dong, apalagi buat adik adik yang manis ini. ada yang seribuan dan ada juga yang dua ribuan dik. jadi mau rasa apa dan harga berapa?" jawab bapak tukang es potong
"Aku mau rasa vanilla yang seribuan, kalian mau yang rasa apa?" Kata Faye
"Aku coklat yang seribuan." Jawab Allison dengan antusias.
"Aku mocca yang seribuan." Jawab Ellyora menyusul Allison.
"Aku melon yang serbuan." Kata Hilda singkat.
Bapak tukang es potong pun memberikan potongan potongan es yang dipesan oleh mereka, tak lupa Faye pun membayar kepada tukang es potong. Setelahnya mereka pun kembali ke lapangan basket sambil menikmati es potongnya dibawah rindangnya pohon.