Bella hanya bisa meratapi apa yang sedang terjadi padanya. Dia tidak menyangka semuanya terjadi begitu cepat hingga kenyataan menjadi sangat pahit baginya. Dia harus dijodohkan dan menikah.
Papi maminya sudah bertolak ke Kanada dini hari tadi. Papinya mengatakan bahwa minggu depan mereka akan balik lagi untuk membicarakan perjodohan lebih lanjut lagi.
"Rena... Apa yang harus aku lakukan...? masa aku harus menikah?!" Bella berkeluh kesah kepada Renata yang saat itu khusus datang ke kediaman orangtuanya atas panggilan Bella. Bella masih berada di kediaman orang tuanya, sejak datang kemarin pagi dan tak berhasrat untuk melakukan apapun.
Bella sudah memilih menikah atas pilihan yang dibuat papinya, namun dia memilih itu mau tak mau karena hanya pilihan itu yang memungkinkannya untuk mendesain. Bella tetap saja kepikiran atas kelanjutan hidupnya karena harus menikah. Dia merasa tidak berdaya dan tak bersemangat.
"Bell aku juga sangat terkejut mendengar ceritamu..." Respons Rena. Rena sudah mendengar semua cerita Bella sejak kemarin lewat telepon karena Bella langsung menghubunginya. "...Aku ingin menyalahkanmu tapi aku tak bisa meyalahkanmu!" Rena gemas, Dia selama ini memang menilai Bella keras kepala, tapi untuk menyalahkan Bella pada saat ini Rena tak tega.
"Renaaa,, kenapa papiku seperti ini?" Bella mengeluh atas papinya pada sahabat satu satunya ini. Rena tau semua tentang cerita Bella.
"Bukan sepenuhnya salah papimu. Aku kan sudah bilang sebaiknya kamu fokus dulu menyelesaikan kuliahmu."
"Maksudku dia tidak suka aku mendesain! Kenapa?"
"Iya. Namanya juga orang tua. Wajar jika menentang anaknya karena mungkin khawatir anaknya salah. Tapi... seandainya kamu fokus dulu dengan kuliah, tidak akan ketahuan begini dan papimu takkan sesebal ini. Setidak tidak sukanya papimu dengan kamu mendesain, dia mungkin mengizinkanmu jika kuliahmu bagus, mungkin kamu bisa membujuk untuk diijinkan nanti. Tapi sekarang? Kuliahmu kacau, desainmu juga. Apa yang bisa menjadi pembelaanmu?" Rena memberi tanggapan panjang lebar.
"Lalu kenapa juga menikahkanku segala?!" Kesal Bella. Rena tetap berpikir positif tentang papinya, sementara dia menganggap papinya itu keterlaluan.
"Begitulah orangtua, selalu menggunakan pemikiran mereka untuk anak anak mereka. Mungkin papimu berpikir itu yang terbaik buatmu. Karena ini juga berhubungan dengan sahabatnya? Mungkin sahabatnya itu baik dan sangat dia percaya, tidak tau deh aku... Tapi kamu juga sih, coba kalau dengar saranku. Kalau saja desainmu tak ketahuan mungkin kamu masih bisa menolak untuk menikah jika memang papimu membawa kabar itu padamu."
Bella hanya diam membatin. 'Hu... sial! kenapa papiku harus tau tentang aku mendesain sekarang!!!' Bella berpikir Rena ada benarnya, jika dia tidak ketahuan papinya takkan semurka ini, dia mungkin masih bisa menolak jika disuruh menikah oleh papinya. Tapi Bella kesal pemikiran Renata benar, dan semua harus menjadi salahnya.
"Ren kenapa bukan kamu saja sih jadi anak papi aku?"
"Tch.." Rena mendecak karena Bella terlihat bete namun tetap sarkas, hal itu lucu bagi Rena.
"Ren... kalau kamu bicara dengan papiku apa dia akan mendengar mu atau tidak yah?" Bella tiba tiba mengeluarkan ide.
"Hah?! Aku tak mau berurusan dengan papimu." Rena langsung menolak.
"Kenapa? Apa papiku jahat?"
"Tidak. Papimu itu, baik, tapi... Tidak ah!"
"Hm... Aku yang tak baik ya? aku yang tak tertolong...?" Tebak Bella.
"Bella... Aku ini baik dimata papimu, aku, kepercayaan orangtuamu loh ingat? mamaku juga... please aku tak mau papimu menganggap aku tidak tidak." Secara tak langsung Rena menjawab 'iya' kepada Bella.
"Tch!" Bella mencebik.
"Bagus buatmu kalo aku tetap menjaga kepercayaan papimu loh! Jadi please baiknya kamu jangan minta yang aneh aneh, cukup deh minta saran dariku, minta kehadiranku untuk menghiburmu... yah?!" Hindar Rena.
"Cih..Kalau begitu apa yang harus ku lakukan sekarang?" Bella langsung menyerah.
"Hmmmm..." Rena bernafas panjang. "...Dengan pilihan dari papimu versus dengan keinginanmu?... Aku speechless... Hehehe" Rena kebingungan.
"Hiks..." Ekspresi Bella kusut, tak ada harapan lagi, begitulah suara hatinya yang tak terdengar dari ekspresinya saat ini.
"Jalani saja Bell, separah parahnya ini kamu masih bisa mendesain. kamu kan cinta sekali dengan mendesain?..... Kamu juga tak begitu memperdulikan percintaan bukan?" Rena lalu menabahkan dan menghibur Bella.
"Aku..." Bella baru mau bicara tentang pikirannya tiba tiba terdiam menatap wajah Rena, " ...Umm?...Kamu...? Apa kamu sedang meledekku?!" Bella mengernyit curiga, perkataan Rena terdengar begitu baik dan positif, tapi entah kenapa Bella merasa terselip iblis Rena disana yang sedang meledeknya.
"Lah.. Tidak...!" Rena langsung terlonjak menolak, tapi dia sedikit tertawa. Rena ingin menyemangati Bella, tapi memang dia juga sedikit meledek Bella yang baginya selama ini sering keterlaluan terhadap cowok cowok.
"Ih.. Renata..." Teriak kesal Bella membuat Renata melepas tawa akhirnya. Bella kemudian hanya membiarkan sahabatnya ini karena Bella juga memaklumi dirinya sendiri. Bella hanya lanjut mengungkapkan pemikirannya."...Benar sih.. Aku juga berpikir seperti itu waktu aku diberi pilihan sama papiku... Aku sangat kesal dan tak mau, tapi keadaannya sudah seperti ini. Aku tak bisa rubah atau menghindar... Jika hanya itu pilihan buatku, Menikah bukanlah apa apa. Yang paling penting buatku aku bisa mendesain, akan aku tunjukkan nanti pada papiku!"
Rena hanya menatap Bella dalam, ada perasaan ragu dalam hati Rena 'Benarkah Bella sudah siap?...'
"Aku juga bisa bercerai. Iya kan?"
"Um!" Rena memberi anggukan mantap, meski kaget dengan pemikiran Bella. Rena mencoba menunjukkan dukungan kepada Bella, karena tahu Bella sedang menghibur diri Bella sendiri.
"Bell...?"
"Hm?"
"Kamu sudah tau laki laki itu belum? Sudah tau wajahnya? sifatnya?"
"Hm?" Bella tiba tiba berpikir panjang. 'Bagaimana jika lelaki itu jelek, tua, m***m, jahat?' Rena seakan menyadarkan Bella bahwa keadaan mungkin tak akan semudah pikirannya.
"Ini tak akan semudah pacaran yang bisa mudah kamu putuskan, tapi ini menikah, plus hal ini berhubungan dengan sahabat baik dari papimu kan?"
"Haaa.." Bella menghela nafas tak bisa menjawab Rena. Bella menjadi frustrasi lagi dan menatap Rena seakan protes,kenapa menurunkan moodnya lagi.
"I actually like your spirit right now, but i just wanna say, remember that and get ready..." Ucap Rena. Bella tau maksud Rena, Rena hanya ingin Bella berpikiran realistis, dan bersiap karena keadaan yang harus dilewati Bella akan sangat berat, jangan sampai Bella terlalu menyepelehkan keadaan.
"Benar benar kamu ini!" Rutuk Bella pasrah.
"You're welcome! Fighting..." Rena berkelakar. "...Bell Aku tidak menyangka, baru kemarin aku menyinggungmu tentang menikah, tau taunya kamu sudah mau menikah!"
"Selawak inilah hidupku memang!"
"Duluan kamu deh dari aku." Guyon Rena.
"Enak saja!"
"Hihihi. Namanya perjodohan Bell, percaya sama aku. Tidak akan lama lama, langsung itu. Memangnya mak comblang buat pacar pacaran. Lagian mau pacaran berapa lama, setahun? dua tahun? atau 4 tahun kayak aku? biasanya juga 3 bulan putus..." Rena terus menggoda.
"Ah tau ah."
"Hihihi... Eh iya, Sabtu ini pernikahannya Kian. Pergi kan?" Rena langsung mengganti topik.
"Tidak tau deh...menggambar saja aku belum berhasrat saat ini."
"Eh kamu jangan begitulah kasihan Kian, Kamu tamu kehormatannya, kamu nih sudah janji juga."
"Bukannya lebih kasihan aku yah?!"
"Masa? Bukannya yang terpenting mendesain jalan terus?" tanggap Rena"Kamu hanya syok, tapi kamu oke oke saja aku lihat loh."
"Mata mu!!"
"Hihihi... Ayo dong semangat, life must go on. Lagian kita harus pergi, supaya ada referensi pernikahan! Hahahha"
"Duh anak ini, kesal juga aku lama lama."
"Hahaha."
Beginilah mereka berdua. Rena memang iseng. Perasaan Bella benar benar naik turun dibuat Rena. Namun Bella merasa lebih baik jika bersama dengan Renata.